
Sambungan episode sebelumnya .
Masih flashback
Perang dingin tersebut berlangsung selama setahun. Kini Arief sudah tamat dari sekolah tersebut.
Ia pun mengambil kuliah di jurusan tekhik sipil.
Sebuah musibah menimpa keluarganya.Ketika Arief berada di semester akhir kuliahnya.
Ibunda Arief tiba-tiba mengalami stroke ringan dan tak bisa bekerja.
Sebagai anak tertua, Arief merasa mempunyai untuk menanggung biaya hidup ibu dan juga adiknya.
Saat itu ia tengah menjalani sidang skripsi.
Arief mencoba mencari pekerjaan di kantor-kantor swasta. meski nilainya cukup memuaskan.namun, tak satu pun perusahaan yang menerima dirinya. Mereka menolak dengan alasan tak jelas.
Arief tak putus asa, ia tetap mencari kerja, bahkan Arief bersedia menjual koran dan menjadi tukang sol sepatu, apapun di lakukannya demi menyambung hidup keluarganya. .
Suatu ketika Arief perlu dana besar untuk pengobatan ibunya. Hutangnya pun sudah bertumpuk.
Arief terpaksa menjual aset satu-satunya yang mereka miliki ya nih rumah orang tuanya tersebut.
Setelah berbulan-bulan mencari kerja. Namun, tak ada satu pun perusahaan swasta yang ia datangi menerima dirinya sebagai karyawan.
Hanya ada satu perusahaan yang belum ia datangi yaitu perusahan Hasta Raja Prawira. Group. Namun karna ia kuliah di bidang teknik sipil ia hanya masukan ijasah SMAnya untuk melamar sebagai OB.
***
Barley adalah pewaris tunggal Ayahnya. Sejak ia remaja ia sudah di ajari berbisnis dan cara memimpin perusahaan.
Di waktu libur sekolah, ia kerap ikut berbagai rapat atau pun pertemua bersama para pengusaha .Dengan bangga tuan Hasta memperkenalkan Barley sebagai penerusnya perusahaannya.
Barley jadi kenal dan bermitra dengan beberapa relasi bisnis dari tuan Hasta.
Bahkan ia sudah memulai bisnisnya sejak ia tamat dari sekolah menengah atasnya. Meski berada di luar negri untuk kuliah, Barley masih bisa mengontrol usahanya tersebut.
***
Hari ini hari pertama Arief bekerja sebagai OB di perusahaan tersebut, setelah di tolak di berbagai perusahaan.Dan siapa lagi penyebab semua itu terkecuali Barley.
Hari ini juga kembalinya Barley ke perusahaan Ayahnya tersebut.
Arief sedang mengantar minuman ke ruangan tuan Hasta. Kebetulan saat itu Barley dan Andini juga berada di sana.
Mereka tengah mengobrol hangat ketika Arief masuk.
"Permisi, minumanya Tuan!"seru Arief dengan wajah tertunduk.
Barley menoleh kearah Arief.
"Kau!" seru Barley. ia pun berdiri.
Arief kaget melihat ada Barley di hadapannya.
__ADS_1
"Siapa yang memerima mu bekerja di sini?! " Tanya Barley dengan membentak.
Barley coba memblacklist nama Arief di berbagai perusahaan mitranya.Namun blacklist tersebut tak terjadi di perusahaan Daddynya.
"Barley! Ada apa?! Memangnya kenapa jika ia bekerja di sini? " sahut tuan Hasta.
"Tapi Daddy. Aku punya dendam masa lalu terhadapnya! Dan sekarang ia muncul di hadapan ku dan bekerja di perusahaan ku?! "
"Sekarang juga kau ku pecat! " teriak Barley.
"Barley!" teriak tuan Hasta membentak.
"Daddy. Aku membencinya! " Barley.
"Itu urusan pribadi! dan kau tak boleh mencampur adukan antara urusan pribadi dan pekerjaan.Lagi pula dia sekarang karyawan Daddy.Biarkan dia bekerja!"
Arief tertunduk. Ia tak tahu lagi bagaimana jadinya jika ia di pecat.Ibunya butuh obat-obatan setiap bulannya, begitupun dengan kontrakan. Bahkan setelah bekerja menjadi OB. Sore harinya Arief harus nongkrong di pangkalan ojek hingga malam, mencoba mencari tambahan.
"Jangan pecat saya Tuan." kata-kata tersebut keluar bersamaan dengan bulir air mata yang menetes di pipi Arief.
"Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, karna ibu saya sedang sakit.Saya mohon tuan. Sulit sekali mencari kerjaan, sementara saya sangat butuh uang dan penghasilan tetap untuk ibu dan juga adik saya. " ucap Arif dengan mata yang memerah.
"Air mata buaya," dengus Barley.
Tuan Hasta merasa iba melihat Arief.
''Iya kamu boleh tetap bekerja di sini. sudah lanjutkan pekerjaan kamu. " tuan Hasta.
"Terima kasih Tuan.Saya permisi. " Arief.
Tiba-tiba tercetus ide Barley untuk mengerjai Arief.
"Tunggu! aku tawarkan pekerjaan untuk kamu.Dengan gaji dua kali lipat dari gajimu saat ini."
Arief tertunduk.ia memang butuh uang yang banyak untuk perawatan ibu dan biaya hidup mereka.
"Baik Tuan. Yang penting halal. Saya akan lakukan apapun. "
Barley menyeringai, ia merasa bisa membalas dendam Arief.
"Ayo ikut ke ruangku! " Barley pergi dari ruangan tersebut.
Arief pun mengikutinya.
Mereka sampai di sebuah gedung yang tak terlalu besar.Gedung tersebut seperti baru di bangun.
Barley duduk diatas sofanya.
"Siapa nama kamu? " tanya Barley seolah-olah interview.
"Arief," sahut Arief.
"Ehm, tugas kamu hanya mengsol sepatu ku setiap pagi dan sore," dan ucap Barley sambil menunjuk sepatunya.
"Apa maksud Tuan memberi saya pekerjaan ini hanya untuk menghina saya? " tanya Arief.
__ADS_1
"Hm, tidak saya membuat kamu sadar.Siapa kamu dan siapa saya."Barley.
"Ehm, Baiklah kalau begitu. Apa anda menyiapkan sol sepatu?"
"Tidak. gunakan baju mu!" titah Barley.
Arief tak punya pilihan. ini hanya sebuah pekerjaan. Tak ada manusia yang terlihat rendah karna pekerjaan yang ia lakukan, jika memang itu halal.
Ia membuka kemejanya dan mengesol sepatu Barley.
Setiap hari ia hanya melakukan hal tersebut. Pada pagi hari dan sore hari.
Dan Arief bebas melakukan apapun setelah pekerjaan solnya selesai. Di sela-sela waktunya Arief bisa ngojek untuk menambah penghasilan bagi dirinya.
Sudah sebulan Arief bekerja. Dirinya selalu tepat waktu. Dan Barley mulai menyukai Arief.Karna Arief tak pernah mengeluh. Bahkan beberapa kali Barley coba menjebaknya dengan meletakan barang-barang berharga miliknya.Dan meninggalkan Arief sendiri di kantornya untuk membersihkan ruanganya, Arief tak pernah berniat menggambil barang tersebut. Bahkan selembar cek kosong yang sudah ia tanda tangani tergeletak begitu saja.Jika saja Arief mau ia bisa mengisi nominalnya dengan nilai berapa pun. Tapi Arief tak tergiur meski saat itu ia butuh uang.
Maksud Barley sebenarnya ingin menangkap basah Arief, tapi hal itu tak pernah terhadi. Bahkan beberapa kali ia menguji Arief untuk berbelanja dengan uang pecahan yang besar, Arief selalu mengembalikan kembalian uangnya. Tak pernah kurang sepeser pun. Barley yang tak menyukai Arief sudah kehabisan cara untuk menjebak rivalnya tersebut, tetapi justru semakin di jebak, ia semakin menyadari sifat Arief sesungguhnya.
Barley belum pernah melihat sesorang yang jujur dan amanah seperti Arief.
Hari ini tepat hari gajian. Namun pegawainya tersebut belum datang setelah setengah jam.
"Kupikir dia berbeda ternyata sama saja. Aku pecat saja dia, " dengus Barley.
Tiba-tiba bruk... pintu terbuka.
Arief masuk dan mengucap permisi.
Barley menatapnya dengan sinis.
"Maaf tuan saya terlambat. Bolehkah saya meminta gaji saja. saat ini saya butuh uang tersebut untuk operasi ibu saya, " ucap Arief dengan napas yang terengah-engah.
Barley melempar amplok di atas meja.
"Ini gaji mu. Dan ini sepatu ku.Hari ini sepatu ku menunggu untuk di sol. "
Barley menunjuk ke arah sepatunya yang masih mengkilap.
"Maaf tuan, saya buru-buru. Ibu saya sedang menjalani operasi.Saya baru bisa bekerja jika keadaan ibu saya membaik, saat ini beliau membutuhkan saya."
"Hm, kalau begitu kamu saya pecat! " Barley.
"Ehm, tak apa tuan. Maaf saya harus kembali kerumah sakit secepatnya. . "Arief.
"Silahkan!", tunjuk Barley dengan keempat tanganya ke arah pintu.
"Terima kasih. "Arief.
Arief bergegas menuju pintu.
Barley menelpon seseorang." Ikuti dia !apa benar jika ibunya sedang sakit, "ucap Barley dalam sambungan telponnya.
Bersambung.
Maaf ya reader, karna cerita ini terlalu panjang Author bagi jadi tiga bab ya.
__ADS_1
Karna minggu ini aku harus up date tiga bab sehari.Berikan terus dukungannya ya. Terima kasih.