
Setelah mandi bersama tersebut, Barley membawa Santi kembali ke atas tempat tidurnya.
Seorang suster datang untuk memeriksa tensi darah dan mengantar obat untuk Santi.
Suster tersebut tersenyum melihat pasangan muda yang terlihat mesra itu.
Barley meletakan Santi dengan hati-hati di atas tempat tidur, kemudian ia menuju laci untuk mengambil sesuatu.
"Nyonya, saya periksa tekanan darah anda dulu ya," ucap suster tersebut kepada Santi.
Sesuter pun memulai pemeriksaannya.
"Ehm Nyonya tekanan darah anda normal, 100/80, untuk sementara beristirahat lah, minum vitamin dan obat yang saya bawa, sebaiknya hindari stres dan gerakan berlebihan." Suster memberi saran.
"Iya terima kasih Suster,"ucap Santi.
"Baiklah Nyonya itu saya yang ingin saya sampaikan , saya permisi," ucap suster
Santi menyunggikan senyum tipisnya mentap kepergian suster tersebut dari hadapannya.
Lagi-lagi aku di ingatkan untuk tidak stress tapi bagaimana aku menghindari semua itu jika aku hidup satu atap dengan orang yang tak menyukai ku, belum lagi perlakuan tuan muda itu yang suka memaksa dan mengatur ku.
Tatapan mata Santi beralih pada pria di sampingnya meliriknya dengan sinis, kemudian membuang wajahnya.
Barley menyimak semua pemaparan dari suster tersebut.
"Dengar itu Santi, kau tidak boleh stress," cetus Barley mendekatinya.
Huh bukannya dia dan ibunya itu yang membuat ku selalu tertekan.
Santi melirik kearah Barley yang menghampirinya.
Barley mendekat kearah Santi dan menyisir rambutnya dengan hati-hati, saat itu jarak Barley begitu dekat denganya, hingga detak jantung terdengar di telinga Santi, bahkan helaan nafas Barley terasa menyapu hangat permukaan kulit wajahnya.
Hah aku tak percaya tuan Barley melakukannya untuk ku, Huh tak usah ge-er kau Santi semua ini ia lakukan karna kau tengan mengandung anak untuknya.
Santi melirik ke arah Barley, tatapan matanya melirik pria dengan iris berwarna coklat tersebut.
Kenapa semakin hari tuan Barley semakin terlihat tampan ya, oh Tuhan jangan sampai aku jatuh cinta padanya.
Santi menelan ludahnya, mencoba untuk menepis rasa yang akan membuatnya merasa sakit.
Saat cinta itu belum tumbuh di hati ku saja, aku sudah merasa sakit, apalagi jika aku benar-benar mencintainya, bukankah cinta akan membuat orang terlihat bodoh dan mau melakukan apa saja, lagi pula sudah tak ada tempat di hatinya untuk orang lain selain kakak ku.
Santi hanya bisa bicara pada dirinya sendiri, karna tak ada seorang pun di sana yang bisa di ajaknya untuk bicara.
__ADS_1
Yang ada hanya Barley di sana, dan setiap kali mereka memulai obrolan pasti akan di akhiri dengan perdebatan, dan mau tak mau dia yang harus mengalah.
"Santi apa kau ingin sesuatu? "tanya Barley seraya duduk di sisinya setelah menyisir rambutnya.
Santi menoleh ke arah Barley.
Jujur saja ia bosan, karna tak ada sesuatu apapun yang bisa ia lakukan, handphonenya ketinggalan, jadi sepanjang hari ia hanya duduk melamun, apalagi orang yang menemaninya saat itu adalah orang yang paling membosankan.
"Tuan, bisa kah kau menelpon orang tua ku dan mengabarinya jika aku sedang berada di tempat ini?"tanya Santi.
"Baiklah, apalagi? kau ingin makan sesuatu?" tanya Barley antusias.
"Ehm, ku rasa tidak, aku hanya ingin makan sup ayam jamur buatan ibuku," ucapnya.
Barley menggangguk, menuruti permintaan Santi.
Barley meraih handphonenya, iya pun menelpon mertuanya.
Sambungan terlpon langsung tersambung.
"Hallo, " sapa Asti.
"Hallo Bu." Barley.
"Ngak bu saya hanya ingin menyampaikan berita baik tapi juga kurang meng enakan." Barley.
"Hah, ada apa dengan Santi Barley?"Asti langsung curiga.
"Santi tidak apa-apa hanya saja ia mengalami cedera otot bagian perutnya, karna ia sedang hamil muda, jadi dokter menyarankan nya untuk bed rest di rumah sakit"Barley sedikit hati-hati berbicara ia tak ingin ibu mertuanya tersebut tak mempercainya dan akan meminta Santi kembali tinggal di rumah mereka
"Apa Santi hamil Barley?" Asti seketika menitikan air matanya, begitu senangnya Asti mendengar berita baik tersebut.
"Iya Bu, dan katanya ia ingin makan sop ayam jamur buatan ibu," papar Barley.
Asti semakin senang mendengar permintaan dari putrinya tersebut.
"Oh i-iya i-ya Nak, ibu akan memasak untuk Santi sekarang ya, tapi Barley ibu ingin kau menjaga Santi dengan baik," ucap Asti memperingati, karna ia tahu sendiri perangai Barley seperti apa.
"Ha ha ibu ini bicara apa Bu, tentu saja aku akan menjaganya dengan sangat baik, Santi itu istri ku, dan anak yang di kandungnya adalah anak ku, mana bisa aku menyakitinya," papar Barley dengan tawa kecilnya.
"Iya, syukur lah Barley." Asti menutup telponnya.
"Bagaimana?"tanya Santi.
" Ibu mu bahagia mendengar kehamilan mu, katanya dengan senang hati ia akan memasak untuk mu." Barley.
__ADS_1
Santi pun tersenyum, sudah lama ia tak merasakan masakan ibunya.
***
Hasta Raja Prawira berada di ruangannya sedang merenungkan sesuatu.
" Hah, andai saja Barley itu darah daging ku, aku pasti lebih merasa bahagia dengan kehamilan istrinya," gumannya.
Tuan Hasta mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, selembar foto jadul seorang wanita yang ia cintai dari masa lalunya.
Setelah menatap foto wanita itu, ia kembali memasukan kedalam dompetnya.
Wanita tersebut adalah istri pertama tuan Hasta, yang ia ceraikan karna selama bertahun-tahun menikah wanita tersebut tak memberinyanya anak.
Kemudian ia menikah lagi dengan beberapa wanita yang lain dan hasilnya tetap sama, keempat istrinya tak bisa mengandung anak untuknya, hanya Andini yang bisa mengandung.
Ia pun menceraikan semua istrinya, atas permintaan Andini.
Karna merasa curiga, dengan kehamilan Andini yang lebih cepat dari pernikahan mereka, diam-diam tuan hasta mengambil samplel air liur dan rambut Barley untuk mencocokan DNA mereka.
Dan betapa kaget dan kecewanya ia, ternyata hasil DNA menunjukan jika Barley bukan lah darah dagingnya.
Tuan Hasta menjadi curiga, akan dirinya.
Diam-diam ia memeriksakan kesuburannya, dan hasilnya lebih mengejutkan, ternyata bukan ke empat istrinya yang salah tapi dirinya yang mandul.
Menyesal, tentu saja tuan hasta saat itu menyesal, namun sikaf angkuh dan sombongnya, ia berusaha menutupi kekurangannya dengan menerima Andini dan Barley agar bisa menutupi aibnya sebagai pria yang mandul.
Tentu ada harga yang harus ia bayar untuk semua itu, ia kehilangan semua istri yang mencintainya dengan tulus, dan harus menerima Andini sebagai satu-satunya istrinya.
Tak ada masah bagi tuan Hasta terhadap Barley, karna ia terlajur menyayangi Barley, begitu pun Barley yang menyayanginya.
Memiliki harta yang melimpah namun tak memiliki keturunan membuat hidupnya terasa hampa, karna ia merasa kebahagian nya kurang lengkap
Karna kesehatannya membaik rencananya, Aldo akan pulan hari ini juga.
Arief menyiapkan segala keperluan Aldo, sebuah kursi Roda sudah siap di dalam kamarnya, sebagai alat gerak Aldo untuk sementara.
Setelah semua siap mereka pun keluar dari kamar perawatan tersebut.
Arif mendorong kursi roda tersebut melewati lorong-lorong rumah sakit, setibanya mereka di lift mereka malah berpapasan dengan Barley.
"Arief?"guman Barley.
Bersambung
__ADS_1