
Siapa Ayah kandung Barley? Tuan Hasta mengulangi pertanyaan-nya ketika melihat Andini yang mematung.
"Daddy kenapa kau tanyakan hal itu?tentu saja dia adalah putra kandung mu," ucap Andini berbohong.
Meski mencoba untuk tenang namun Andini tetap saja terlihat gugup, apalagi kini tuan Hasta menatapnya tajam seraya menyeritkan dahi.
Tuan Hasta tersenyum menyeringai," Sampai berapa lama kau ingin berbohong Andini? Tidak kah kau lihat, tak ada sedikit pun kemiripan antara aku dan Barley."
Tatapan tuan Hasta tak beranjak dari wajah Andini yang semakin pucat dengan bibir yang gemetar karna gugup, bola matanya berpendar mencari alasan untuk jawaban yang tepat.
"Daddy kau ini bagaimana? Ayah dan anak itu biasa tak mirip, mungkin dia lebih mirip dengan ku."
Andini masih memungkiri, ia mengusap bahu tuan Hasta agar kembali terbuai bujuk rayunya.
"Daddy jangan seperti itu, apa kau tak percaya pada ku, sudah dua puluh tujuh tahun aku menjadi istri mu dan aku selalu setia dan mengikuti mu kemana saja, lalu kenapa tiba-tiba kau tanyakan hal tak masuk akan seperti itu."
Andini masih berdalih berusaha berbohong.
Tuan Hasta menepis tangan Andini dan menjauhinya beberapa langkah kemudian duduk untuk meredakan emosinya.
"Baiklah jika kau tak mau mengakuinya, aku akan memecat mu sebagai direktur perusahaan ini, menendang mu keluar dari rumah ku, seperti kau menendang istri-istri ku yang lain, karna aku punya bukti dari tes DNA Barley ketika dia masih bayi" ucap tuan Hasta dengan suara yang halus namun penuh penekanan.
Bola mata Andini membulat dengan sempurna, seketika ia menangis.
"Jadi kau sudah mengetahuinya sejak lama Daddy?"
__ADS_1
Antara syok dan takut Andini menanyakan hal tersebut.
Tuan Hasta berdiri kembali," Baik lah jika tak mau mengaku, aku tidak masalah, ku rasa kita inpas,terima kasih telah mendampingi ku selama dua puluh tujuh tahun, meski selama itu aku harus menahan rasa sakit hati karna di bohongi oleh mu." ucap tuan Hasta tegas.
" Tidak Daddy jangan usir aku, baiklah aku mengakui jika Barley bukan darah dagingmu, dia adalah anak dari mantan suami ku terdahulu, aku juga tak mengetahui jika saat itu aku hamil, aku berusaha melarikan diri darinya, hingga aku kabur ke Indonesia kembali, saat itu aku bertemu Veronica sahabat ku, awalnya aku mendatangi rumahnya untuk menumpang dan menginap sambil mencari pekerjaan, tapi dia malah mencemburui ku, akhirnya dia menyuruhku untuk tinggal dan menjadi pembantu di rumah mu, dia juga yang menyuruh ku untuk merayu mu.
Setelah dua bulan, aku baru tahu jika aku hamil, aku binggung apa yang harus ku lakukan, aku tak punya tempat tinggal, juga tak punya uang, belum lagi jika aku melahirkan, setelah memikirkan berbagai cara,... akhirnya aku tahu bagaimana agar aku bisa menyelamatkan hidup ku dan janin yang ada di kandungan ku". Andini menjeda kata-katanya untuk melihat reaksi dari tuan Hasta.
Tuan Hasta menatapnya datar, ia pun melajutkan pengkuannya.
"Malam itu, aku sengaja memberi minuman perangsang, menggoda mu dan melakukan percintaan satu malam dengan mu, setelah itu aku mengakui jika aku hamil anak mu," papar Andini.
Deg.
Tuan Hasta menghempas nafas beratnya dan membuang wajahnya, ia sendiri malu mendengar penuturan tersebut.
"Lalu apa kau juga yang memfitnah istri-istri ku? Hingga kau mengusirnya."
"Kau bilang mereka semua tak berguna karna tak bisa memberi keturunan pada ku benar begitu?!" tanya tuan Hasta dengan emosi.
Andini terdiam, Oh Tuhan apakah aku harus membokar semua rahasia ku selama ini.
" Kau memfitnah mereka dan mengatakan bahwa mereka bersekongkol untuk mencelakai mu? karna kau merasa hanya kau yang bisa mengandung keturunan ku, begitu bukan?!" bentak tuan Hasta.
Andini semakin tertunduk menyembunyikan wajahnya.
__ADS_1
" Oh aku tak percaya, aku sebodoh itu," dengus tuan Hasta sambil mengusap rambutnya dengan kasar.
Andini masih tertunduk membisu.
" Asal kau tahu Andini! saat itu ketika aku mengetahui kebenarannya, aku sudah akan mengusir kau dan Barley, aku datang penuh kemarahan, penuh kebencian ingin menuimu, namun saat itu ketika aku sampai di depan pintu rumah, Barley berjalan tertatih menghampiri ku dan memanggil ku, kemudian di tengah jalan ia jatuh lagi dan bangkit lagi, kemudian berjalan dan jatuh lagi dan begitu seterusnya karna saat itu ia baru belajar berjakan, karna merasa lelah berjalan ia pun merangkak mendekat ke arah ku, senyumnya, tawanya, ia selalu datang menyambut ku, aku mematung memperhatikan Barley, ketika sampai di kaki ku, Barley berdiri memeluk kaki ku, aku tak bisa menahan air mata saat ia datang pada ku dan memanggil ku dengan panggilan Daddy, seketika amarah ku luruh, sudah lama aku menginginkan seorang anak yang memanggil ku dengan panggilan Daddy, hati ku terenyuh dan meneteskan air mata, aku mengangkat tubuh kecilnya menggendongnya dan membawanya dalam pelukaannya, aku kembali di buatnya menangis haru ketika mulut mungilnya mengucapkan 'Daddy i love you' tepat di depan daun telinga ku, aku pun semakin memeluknya hangat, aku katakan padanya I love you too baby,sembari menangis."
Air mata tuan Hasta mengalir sempurna ketika memaparkan hal tersebut pada Andini.
Andini tercengan ia pun sedikit mengangkat kepalanya.
"Karna Barley aku tak jadi mengusir mu, aku berusaha melupakan kekecewaan ku pada mu, selain itu aku juga merasa kesepian jika jauh dari Barley, aku juga menyadari jika aku seorang pria mandul dan Tuhan telah berbaik hati mengirimkan ku seorang putra tampan meski itu bukan darah daging ku, itulah sebabnya aku mencintai Barley, aku tak peduli siapa ayah kandungnya, bagiku dia adalah putra ku selamanya," ucap tuan Hasta.
Andini kembali menundukkan kepalanya, ia sendiri tak menyadari jika sudah puluhan tahun suaminya mengetahui rahasianya,ia bukan membohongi suaminya tapi telah membohongi dirinya sendiri.
Andini menatap kepergian tuan Hasta, tubuhnya terasa lemas, ia pun mendaratkan bokongnya pada sebuah kursi.
"Oh Tuhan apa yang harus ku lakukan sekarang?" Andini menghempaskan tubuhnya bersandar pada sandaran sofa.
"Tidak, aku harus meminta maaf padanya dan kembali merayunya, aku tak ingin Barley juga mengetahui rahasia ini bisa-bisa ia membenci ku," guman Andini.
Andini menguatkan hatinya ia pun berdiri kembali, ia siap untuk menunduk dan memohon pada tuan Hasta agar kembali menerimanya dan yang terpenting jangan sampai Barley mengetahui yang sebenarnya.
"Barely jangan sampai tahu,.bisa-bisa ia mendesak ku dan bertanya siapa ayah kandungnya." Andini.
Bersambung ya genks, terima kasih atas doa kalian, jujur saya terharu, maaf belum sempat membalas komentar kalian satu persatu, semoga kita semua selalu sehat dan berbahagia juga anggota keluarga kita Aamin.
__ADS_1