
Barley mengutus seseorang untuk mengikuti Arief. Dan melihat apakah yang dikatakan Arief tersebut benar adanya.
Sebenarnya Barley terkesan dengan aklak yang di miliki oleh Arief.Dan ia memang membutuhkan seseorang yang bisa ia percaya untuk mendampinginya.
Sesampainya di rumah sakit. Arief terburu-buru menghampiri kasir rumah sakit. Sebelum itu, ia membuka amplop coklat yang di berikan oleh Barley sebagai imbalan dari gajinya.
Setelah di hitung, uang tersebut berjumlah lima juta, jauh dari perkiraannya.
Karna tugasnya hanya menyemir sepatu pada pagi dan sore hari jika di akumulasikan waktunya bekerja hanya dua sampai tiga jam.
"Alhamdulilah." gumanya sambil memasukan kembali uang tersebut kedalam amplop.
Meski tak mencukupi untuk biaya operasi sepenuhnya, setidaknya ia bisa membayar Dp, agar sang ibunda segera mendapat penangganan.
Di belakanya sudah ada pria yang menggunakan kamera tersembunyi ntuk mengawasi Arief.
"Mbak, saya bayar DPnya dulu ya untuk operasi ibu saya. Yang terpenting ibu saya saat ini bisa segera di tangani. ," Arief menyodorkan uang lima juta tersebut.
Kasir tersebut menginput nama pasien di komputernya.
" Ehm, tidak bisa Pak, Minimal Harus dua puluh persen dari total biaya keselurahan. Dan ini masih kurang lima juta lagi.Bapak juga belum membayar biaya rawat inap ibu anda." Kasir tersebut.
"Iya Suster saya tahu. Nanti saya usaha lagi. Mungkin sore ini saya bisa membayar sisa DPnya. "Arief.
"Sebentar Pak, saya lihat dulu," ucap suster tersebut sambil mengutak-katik laptopnya.
"Tolonglah Mbak,! Ibu saya harus segera di operasi. Saya janji akan mengusahakan sisa pembayarannya," ucap Arief dengan sedikit memelas.
Ibu Arief menderita kanker getah bening, dimana bagian ketiak nya terdapat benjolan besar. Dan tak ada cara lain kecuali dengan jalan operasi
Kulit ibunya pun seperti melepuh pada bagian yang sakit, Itu sebabnya Arief harus mencari uang untuk biaya operasi.
"Baiklah Pak. Tanda tanggani dulu surat perjanjian pembayarannya, kemudian tanda tanggani juga surat persetujuan operasi ini. " Kasir.
Arief pun menandatangani surat persetujuan operasi tersebut.
"Sudah! "Arief menyodorkan dua berkas tersebut pada kasir.
"Iya, pendaftaran jadwal operasinya sudah saya masukkan Ya Pak, silahkan tunggu saja.Ibu anda akan menjalani serangkain tes sebelum operasi. "
"Terima kasih Mbak, "ucap Arief sambil mengusap Dadanya.
***
Ibunda Arief sudah masuk di kamar operasi.
Arief bisa bernapas lega. Namun ia kembali binggung untuk mencari tambahan biaya operasi.
Mereka sudah tak memiliki rumah kini hanya tinggal sepada motor yang ia miliki. Jika di jual pun tak bisa menutupi biaya operasi dan perawatan ibunya pasca operasi.
__ADS_1
Dalam kebingungannya Arief. Ia berdoa dalam hati yang lirih. Bulir bening menetes di pipinya.
"Ya Allah, seperti yang engkau janjikan jika di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Aku sudah tak berdaya, aku memohon dan mengiba padamu. Ketika seorang hamba di landa musibah, dan ia tak lagi sanggup menyelesaikannya, maka aku kembalilan semuanya kepadamu, Aku lah yang lemah dan tak berdaya. Sedang engkau Maha kuasa lagi maha mengetahui. " Doa Arief dalam sujudnya.
Setelah melakukan kewajibanua sebagai seorang hamba, Arief melipat sajadahnya kemudian kembali ke ruang operasi.
Wajah Arief terlihat senduh dengan bola mata memerah, selain mengkhawatirkan kondisi sang Bunda. sampai saat ini belum ada kabar dari Aldo yang menjual motornya. Ia pun kembali ke ruang operasi.
Arief menghempas napas dengan berat seraya mengusap wajahnya dengan kasar, wajahnya tertunduk lesu.
***
Aldo kembali dengan wajah yang sayu.
Dilihat dari gelagatnya sepertinya Aldo tak berhasil menjual motor mereka.
Aldo menghempaskan bokongnya di atas kursi tunggu ruang operasi.
"Pak Husien tak jadi membelinya Bang. "
Seketika tubuh Arief terasa lemas, ia sudah berjanji untuk membayar operasi ibunya sore ini.
"Ya sudah Do. Abang coba usaha lagi. Kamu jaga ibu. " Arief.
Ehm, Aldo mengangguk.
Ia berjalan menuju koridor untuk keluar.Namun dari kejauhan ia melihat Barley dan beberapa orang pengawalnya.
"Tuan! Ada perlu apa tuan muda datang kemari. Apa aku ada salah hingga ia menghampiri ku kemari," guman Arief.
Berley memang datang menghampiri Arief.
Mereka pun berpapasan." Tuan ada apa anda kemari?" tanya Arief, ia takut jika dirinya berbuat salah. Maklum saja pikiran Arief saat itu sedang kacau.
"Aku mencari mu Arief. "Barley.
Deg.
"Ehm, Apa saya melakukan kesalahan? " tanya Arief.
"Aku bermaksud untuk membayar semua operasi ibumu dan biaya perawatannya selama di ruma sakit. "
Seketika air mata Arief tak mampu di bendung, mendengar penuturan dari Barkey, ia pun menangis haru.
"Hiks hiks hiks, terima kasih Tuan. Saya janji akan membayar semuanya. Anda bisa memotong gaji saya setiap bulannya. "Hiks hiks hiks. Arief menangis haru.
Padahal ia sudah hampir putus asa saat itu.
"Saya tak tahu bagaimana caranya berterima kasih Tuan. Ternyata anda orang yang sangat baik hati,di samping sifat Arogan anda. hiks hiks hiks."
__ADS_1
Barley tersenyum sambil menepuk pundak Arief.
"Tenang Rif. Bukan itu saja. Aku telah memutuskan untuk mengangkatmu sebagai asisten pribadi ku. Apa kau mau? " tanya Barley.
Arief menyambut berita tersebut dengan bahagia.
"Tentu Tua!. Saya tak akan pernah bisa membalas segala kebaikan tuan ini, hiks hiks. "
"Sudalah Rif, Ayo kita ke kasir untuk membayar biaya operasi ibumu. "
"Iya Tuan."
Mereka berdua pun menuju kasir. Barley membayar semua biaya operasi biaya serta biaya perawatan ibunda Barley.
Tak hanya itu, setelah operasi ibunda Arief akan di rawat di ruang kelas VVIP.
Sejak itu hubungan ia dan Barley pun membaik, bahkan mereka terlihat seperti sahabat.
Barley sangat mempercayai Arief di segala urusannya. Bahkan ketika ia kecelakaan. Ia menyerahkan kepemimpinan perusahaannya pada Arief.
Arief sangat bersyukur, di saat kesulitan, Tuhan mengiriminya seseorang yang tak di sangka-sangka. Karna itu ia akan menolong siapa pun yang membutuhkan pertolongan darinya.
Flasback off.
" Karna itu, Niat ku itu hanya menolong Delia. Tanpa bermaksud apa pun." Arief.
"Semua tergantung niatnya. Jika niat kita menolong seseorang.Buang jauh perasaan tersebut. " Arief.
"Tak perlu mengkhawatirkan Delia. Pelakor itu ada di mana-mana. Tergantung dari niat kita saja. Yang terpenting kau doakan saja yang baik-baik untuk suamimu ini, " ucap Arief sambil mencolet hidung Dinar.
"Tentu Mas, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kita dan keluarga ini, " ucap Dinar sambil tersenyum menatap wajah suaminya.
"Gitu dong itu baru namanya istri Arief . Istri yang soleha itu selalu mendoakan kebaikan keluarganya dan suami,'ucap Arief sambil mencium kening istrinya.
Ehm, Dinar semakin erat memeluk suaminya.Ia bahagia bisa memiliki suami yang bijaksana tersebut.
Bersambung. mohon dukungannya ya.
🍎Like
🍎Komentar
🍎Saran
🍎vote
🍎dan hadiahnya.
Terima kasih.
__ADS_1