Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Malam Pernikahan


__ADS_3

Malam hari pada pukul delapan malam keluarga dan beberapa tetangga sekitar menghadiri acara akad nikah dadakan yang di selenggarakan oleh keluarga Dinar.


Dinar tampak cantik dengan stelan muslimah bewarna putih brokat, membuat nya tampak semakin ayu.


Dinar merias sendiri wajahnya, tanpa menggunakan jasa MUA, setelah selesai berhias ia menghampiri Asyia, bayi tersebut tampak tidur nyenyak di dalam ayunannya.


Dinar tersenyum seraya mengusap pipi mulus bayi tersebut.


"Terima kasih Asyia, karna mengasuhmu aku menemukan jodoh yang terbaik untuk ku," ucap nya sambil mencium pipi Asyia.


Bayi itu Tetap tenang tidur terlelap.


Asyia memang bayi perempuan lucu yang tak rewel, hingga banyak orang yang menyukainya.Namun, tak semua orang bisa menggendongnya, Asyia bisa menangis jika di gendong orang yang tak di kenalnya.


Tamu undangan telah memenuhi ruang tamu, tempat di mana akan di adakan akad nikah.


Arief terlihat tampan dengan baju koko putih dan peci putih.


Ibunda Dinar menghampiri Dinar yang tengah menggendong Asyia yang terbangun tiba-tiba.


" Dinar! "seru ibunya yang terharu melihat putri sulungnya menikah.


Air mata sang ibunda seketika luluh melihat gadis kecilnya yang dulu kini sudah beranjak dewasa, dan sebentar lagi akan di persunting seorang pria mapan.


Padahal baru satu tahun ini mereka bertemu, setelah bertahun-tahun berpusah, itu karna sang ibunda bertahun-tahun bekerja sebagai TKW di luar negeri.


"Dinar!" sapa Ningsih sang ibunda lirih.


Dinar menoleh dan heran melihat sang bunda yang menitikan air mata.


"Ibu kenapa menangis? "tanya Dinar.


Tanpa bisa menahan haru, Ningsih langsung memeluk Dinar erat, kemudian menangis.


Hiks hiks hiks, tubuh Ningsih terguncang memeluk sang putri tercinta.


"Dinar maafkan ibu yang tak bisa memberikan mu apa-apa di hari pernikahan mu Nak, hiks hiks hiks, tutur Ningsih dengan haru dan sedih.


Dinar ikut menangis mendengar sang ibunda yang bicara dengan tubuh yang terguncang.

__ADS_1


"Hiks hiks hiks, iya Bu.Dinar ngak minta apa - apa. Harusnya Dinar minta maaf baru beberapa bulan bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga,kini Dinar malah memutuskan untuk menikah. Tapi Dinar sudah sepakat sama pak Arief, Pak Arief berjanji akan menanggung kebutuhan ibu dan adik-adik di kampung. Bahkan dia berniat untuk mengajak ibu dan adik-adik tinggal bersama kami di kota hiks hiks hiks." Dinar begitu sedih, karna sibuknya ia sampai lupa memberi tahu tentang kesepakatan yang sudah diambil antara ia dan Arief.


"Tidak Nak, terima kasih. Ibu harus menjaga rumah peninggalan bapak mu ini, doa ibu selalu menyertaimu, Semoga kau bahagia dalam menjalani rumah tangga mu,"ucap Ningsih.


Mereka pun mengurai pelukan, Ningsih meraih tisu dan menyapu lembut sisa-sisa air mata yang menempel di pipi Dinar.


"Sudah Nak sebentar lagi kamu akan menikahi, sini biar ibu gendong Asyia, kamu rapikan riasan kamu," ucap Ningsih seraya meraih Asyia Dari pelukan Dinar.


Di luar ruangan seorang penghulu kampung, ketua Rt dan pihak terkait dan beberapa orang saksi duduk mengelilingi meja kecil tempat di mana Arief akan melakukan ikrar ijab qabul.


Beberapa tetangga juga ingin menyaksikan akad nikah Dinar si kembang desa mereka dengan seorang pria sukses dari ibu kota.


Mereka pun memesan catring dadakan sebagai santapan para tamu di akhir acara.


Ada kesedihan di hati Arief, ia pun menitikan air matanya, saudara satu-satunya yang ia miliki, kini tak bisa menyaksikan salah satu dari hari bahagianya saat ini.


"Bagaimana saudara Arief sudah siap?"tanya penghulu.


"In sha Allah, sudah pak. "Arief.


"Kalau begitu akad nikah sebentar lagi akan di mulai, hadirin di harapkan bertenang agar ijab qabul yang di lakuman saudra Arief pada malam ini berlangsung khidmat, " ucap ketua RT setempat yang menenangkan suasana.


"Pak Firman, bagaimana anda sudah bersedia?"tanya penghulu kepada paman Dinar.


Pak Firman pun menjabat tangan Arief.


"Saudara Arief safwan, saya nikah dan kawinkan kamu dengan keponakan saya yang bernama Dinar Fitriana dengan mas kawin seperangkat sholat di bayar tunai." Firman.


Arief langsung menghentakkan tangannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya saudara Dianar Fitriana dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai. " Arief.


Keadaan hening beberapa saat, "Bagaimana para saksi sah? " tanya penghulu.


"Sah! " serempak saksi pun menjawab.


"Alhamdulillah."


Mereka pun membaca doa selamat.

__ADS_1


Dinar dan Ningsih menangis haru, kini ia sudah sah menjadi istri lelaki yang ia dambakan.


Hiks hiks, Dinar menangis haru dalam pelukan Ningsih.


"Alhamdulillah, "ucap Ningsih seraya mengusap kepala Dinar yang menggunakan kerudung tersebut.


Setelah akad nikah Dinar di persilahkan untuk menghampiri Arief yang sudah resmi menjadi suaminya tersebut.


Dinar menghampiri Arief kemudian menyodorkan kan tangannya kepada Arief kemudian mencium tangan lelaki yang kini telah resmi menjadi suaminya tersebut, bulir bening menetes hingga jatuh di atas telapak tangan Arief.


Arief tersenyum kemudian mencium kening istri kecilnya tersebut.


Itulah pertama kalinya mereka bersentuhan dan dalam keadaan halal.


Setelah itu, kedua nya menghampiri ibunda Dinar, untuk sungkeman.


Arief sungkeman seraya mencium punggung tangan mertuanya.


"Bu, saya mohon restu dan doa kepada agar rumah tangga kami bisa sakina mawardha warohma. " Arief


"Iya Nak, Ibu hanya minta satu hal, tolong jaga Dinar, jika ia salah ingatkan dia dengan cara yang baik baik. Jika suatu saat kamu tak lagi menyukainya, kamu kembali kan pada kami dengan cara yang baik-baik, hiks hiks ," ucap Ningsih dengan terguncang, antara sedih dan haru.


"In shaa Allah saya akan menjaga Dinar, menafkahinya dan bertanggung jawab dan berbuat baik terhadapnya, " tutur Arief yang juga ikut menangis.


Semua yang hadir ikut haru, bu Ningsih yang dulunya seorang TKW berkehidupan serba kekurangan, kini malah mendapatkan menantu yang kaya, seorang direktur di sebuah perusahaan jasa kontruksi terbesar di negri ini.


Setelah Arief kini giliran Dinar yang memohon restu kepada sang ibunda.


Belum pun ia menyentuh lutut sang ibunda, Dinar sudah tak mampu menahan air matanya.


"Hiks hiks, ibu Dinar mohon doa restu dan doa, semoga Dinar bisa jadi istri yang soleha dan ibu yang baik untuk anak-anak Dinar nantinya, maafkan Dinar jika Dinar belum bisa jadi anak yang berbakti pada ibu. hiks hiks Dinar mohon ke iklasan ibu melepas Dinar untuk mengikuti suami Dinar seumur hidup Dinar, hik hiks hiks," ucap Dinar seraya menangis haru.


Arief yang mendengar ikut menangis haru.


"Ibu selalu iklas dan ridho Nak, jadilah istri yang baik dan soleha, ibu pasti bahagia melihat kamu bahagia. Semoga rumah tangga kamu langgeng dan bahagia hingga maut yang memisahkan, Aamiin," ucap Ningsih sambil memeluk putrinya.


Arief dan Dinar pun tersenyum bahagia.


Setelah sungkeman dan pembacaan doa, para tamu perlahan meninggalkan rumah tersebut. Dinar dan Arief juga segera mempersiapkan malam pertama mereka.

__ADS_1


Aw aw aw udah mau malam pertama saja, gimana nih lanjut up lagi ngak? kira-kira apa yang terjadi pada Wati dan tuan Marco ya.


Bersambung reader, terima kasih atas dukungannya, semoga sukses dan keselamatan menyertsi kita semua, Aamiin.


__ADS_2