Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Sore Yang Hangat


__ADS_3

"Rief, mumpung lewat jalan ini, bagaimana jika kita singgah ke Lapas, sudah dua minggu aku tak menemui mommy, " ucap Barley sedih.


"Iya Tuan, aku juga mau menemui Aldo, ia begitu ingin bertemu dengan putrinya, sayangnya keadaan Asyia masih belum memungkinkan untuk di bawa," papar Arief.


"Entalahlah Rif, saat ini posisi ku begitu berat, di satu sisi aku mengutuk perbuatan mommy, tapi satu sisi aku menyayanginya, bagaimana pun juga dia adalah ibu yang melahirkan ku, meski pun dia telah menyakiti Daddy ku, selama ini ia menyembunyikan kebenarannya dari Daddy, dia juga ingin mencelakai Dady Marco, aku membecinya tapi aku juga merasa iba terhadapnya." Barley.


"Kau tak boleh membenci ibumu Tuan, kau boleh benci perbuatannya tapi jangan membencinya, ingat meski kau beri hartamu seisi dunia tak akan setara dengan setetes darah yang ia keluarkan karna melahirkan mu,"papar Arief


"Ehm, iya Rif, aku tak tahu harus bagaimana, aku kesal dengan mommy, tapi aku juga kasihan terhadapnya,"keluh Barley.


"Biarkan hukum yang menganjar perbuatanya tuan, sebagai anak kau tetap harus berbakti, setiap harinya kau kirimi dia makanan enak, penuhi kebutuhannya, bukan kah apa yang kau dapat nikmati saat ini adalah karna jasanya juga,"nasehat Arief.


Arief memang seorang yang bijaksana dan mengerti hukum agama, meski ia hanya seorang bawahan dari Barley, tapi ia tak sungkan untuk menyuarakan kebenaran pada atasannya tersebut.


"Iya Rif, terkadang kalau aku makan enak aku merasa sedih memikirkan mommy, begitupun jika aku tidur di kasur empuk aku juga terpikir bagaimana ia menjalani hidupnya di penjara, tapi aku pikir lagi, setiap perbuatan pasti harus di pertanggung jawabkan dan mommy memang harus mendapat ganjaran dari perbuatanya, demi tegaknya keadilan."


Sesampainya di penjara Barley langsung menemui Andini, dari kejauhan saja ia merasa muak karna setiap kali mengunjungi Andini, ia selalu bertemu dengan dua orang bekicot tersebut.


Andini sumringah ketika melihat pria tampan yang tinggi dan terlihat gagah menghampirinya, siapa lagi jika bukan putranya tercinta.


"Barley, hiks hiks, Andini menangis haru melihat sang putra yang baru menjenguknya.


"Barley! hiks hiks hiks, mommy pikir kau sudah melupakan mommy, Hiks hiks," ia pun merentakan tanganya hendak memeluk tubuh pria kekar tersebut.


"Tenang lah mommy, aku tak akan melupakan mu, ini aku bawa perlengkapan dan makanan untuk mu." ucap Barley seraya menyerahkan bungkusan yang di tentengnya ia kemudian memeluk Andini.


Amora dan Veronica menatap sinis kepada keduanya, tapi Barley tak mengindahkan kedua orang tersebut yang hanya akan membuang-buang waktunya saja.


***


Melihat kedatangan Arief, Aldo begitu senang, seperti halnya Barley, Arief juga bawa kebutuhan dan makanan ringan dan beberapa minuman untuk stok Aldo seminggu, mengingat ia juga sibuk.


"Bang, " sapa Arief senang, ketika melihat kedatangan Arief.


"Aldo bagaimana keadaan kamu?" tanya Arief.


"Ehm baik Bang,Abang sendiri? bagaimana keadaan Asyia juga ?" tanya Aldo dengan mata yang berembun.


"Alhamdulillah Aldo, berat badannya semakin naik, hanya saja dia masih belum bisa abang bawa ke mari, karna memang Asyia tipe bayi yang sensitiv, tapi kamu kamu tenang saja, Abang sudah menyewa jasa babysitter untuk mengurusnya,"papar Arief.


Perlahan bulir bening menetes di pipi Aldo, "Padahal aku ingin sekali menciumnya Bang, aku gemes melihat foto-fotonya, setiap malam aku bermimpi tentangnya, Ya Allah kapan aku bisa keluar, aku ingin melihat putriku tumbuh menggendongnya, hiks hiks, " tutur Aldo sedih ia pun menangis hingga tubuhnya berguncang.


Dengan lembut Arief mengusap punggung Aldo untuk membuatnya tenang.


"Iya Nanti setelah umurnya beberapa bulan akan abang bawa dia untuk menemui mu," ucap arief.


"Terima kasih Bang, karna telah mengurus dan membiayai putri ku, dia tak punya siapa-siapa selain dirimu, " tutur Arief sedih.


"Iya Do! tenang saja, aku menyayangi Asyia seperti menyayangi anak ku sendiri, kau berdoa saja agar Asyia sehat selalu, akan ku bawa dia menemui mu nanti."


"Em semoga setelah aku bebas dia mau menerima kehadiran ku, dia tidak malu punya ayah cacat dan mantan narapinadana ini,"ungkap Aldo sedih.


Ehm, aku akan berusaha mendidik Asyia jadi anak yang baik Do! semoga saja ia bisa menerima kehadiran mu kelak," ujar Arief.


"Iya Bang, hiks hiks aku menyesal Bang! hiks hiks, sekarang bertahun-tahun aku harus menghabiskan waktu di penjara menjadi orang cacat, hiks hiks hiks," tutur Aldo dengan air mata berlinang tanda penyesalan yang begitu dalam.


Arief perlahan meneteskan air matanya, ia begitu haru melihat Aldo dengan penyesalannya.

__ADS_1


Iya Ado masih ada waktu untuk memperbaiki diri, kau tenang saja kesempatan selalu ada untuk orang-orang yang ingin berubah jadi lebih baik." Arief


"Iya terima kasih Bang,"ucap Aldo sedih.


"Kalau gitu, Abang pulang Do."


"Terima kasih Bang, hati-hati," ucap Aldo.


Karna keterbatasan waktu setelah berbincang beberapa saat mereka pun memutuskan untuk pulang.


***


Santi dan tuan Marco duduk di balkon apartmentnya, sikaf Santi yang selalu hangat, membuat Marco nyaman untuk bercerita tentang apa saja, kehadiran santi membuatnya tak lagi merasa kesepian, mereka pun bersantai sore sambil berbincang.


Sebelumnya Santi meminta Wati untuk membawakan segelas susu untuk dirinya dan secangkir teh untuk tuan Marco, tentu dengan biskuit untuk menemani mereka ngobrol.


Sementara Munir sang asisten terbaring duduk di sofa, karna semua kebutuhan tuan Marco sudah ada yang memenuhi, ia pun hanya absen tanpa melakukan sesuatu.


"Daddy, Jadi selama ini kerjaan Daddy keliling dunia gitu, enak dong?" tanya Santi ketika tuan Marco menceritakaan kegiatannya sehari-hari.


"Iya, keling dunia dalam rangka bisnis, di otak Daddy hanya bisnis-bisnis, sekarang Daddy merasa lelah Santi, untuk apa kesuksesan, uang banyak toh sebentar lagi Daddy akan mati,"ucapnya dengan sedih.


Santi tersenyum seraya menyentuh telapak tangan orang tua itu.


"Aduh Daddy kenapa jadi putus asa gitu sih, ayolah Daddy bangkit lagi, hidup cuma sekali loh Daddy, Daddy masih punya kesempatan untuk memiliki keluarga, menikalah Daddy, siapa tahu Daddy bisa memberi ku adik ipar,"ucap Santi dengan lembut.


"Ha ha ada-ada saja kau Santi, tua bangka seperti ku, sudah mau punya cucu, masih mau punya anak lagi, nanti anak mu mau panggil apa sama anak ku? ha ha ha." tuan Marco tertawa lepas.


Santi pun tersenyum melihat tuan Marco yang tertawa lepas.


Ketika sedang ngobrol tiba-tiba saja terdengar suara Barley memanggil-manggil Santi.


"Ehm suami ku sudah pulang Daddy."


"Iya Sayang! aku di sini Sayang!"sahut Santi.


Mendengar seruan dari balkon, Barley pun menghampirinya.


"Sayang kau sudah pulang?"tanya Santi melihat suaminya yang menghampirinya.


"Hai Daddy, bagaimana keadaan Daddy, setelah di jaga Charlies angel?"canda Barley.


Tuan Marco tertawa kecil.


"Sayang! kau tak lihat wajah Daddy yang begitu ceria itu,"sahut Santi seraya melirik kearah tuan Marco yang tersenyum.


"Oh syukurlah sayang, terima kasih telah menjaga Daddy ku," ucap Barley seraya mencium pipi kiri Santi.


Santi melirik sekilas ke arah Barley.


"Sayang kau terlihat lelah," ucapnya seraya meraba wajah tampan suaminya.


"Iya aku lelah sekali hari ini Sayang!" keluhnya, Barley pun merebahkan kepalanya pada pangkuan Santi membuat tuan Marco semakin iri.


Dengan lembut Santi mengusap dan membelai kepala Barley.


"Jadi bagaimana Barley dengan tuan Alex ? kau sudah menemuinya?" tanya tuan Marco.

__ADS_1


Barley pun bangkit, "Iya Daddy, dia meminta kita untuk membayar sahamnya sebesar dua puluh persen, aku ngak setuju! aku bilang saja jika aku mau enam puluh persen saham-nya, aku yakin dia cuma punya enam puluh sampai tujuh puluh persen saja sahamnya, dengan begitu kita bisa mengambil alih perusahaan nya tuan Alex," sahut Barley ia pun baring kembali.


"Hati-hati Nak, Alex itu licik, dia begitu membenci mu, dan ingin menghancurkan mu!" papar tuan Marco.


"Hm telanglah Daddy, aku bisa melihat kebenci pada seseorang, meski ia bertutur kata lembut dan tersenyum manis di depan ku, kita lihat saja, siapa yang akan hancur," sahut Barley masih dalam keadaan terletang dengan kepala di atas pangkuan Santi.


Wati datang dengan membawa minuman untuk mereka, tak biasanya kali ini, Wati terlihat gerogi begitupun tuan Marco, keduanya terlihat malu.


Barley menangkap hal yang tak biasa tersebut.


"Silahkan di minum Tuan-Nyonya," ucap Wati.


"Terima kasih, Mbak," ucap Santi.


"Ehm, Wati kamu temani Daddy ku ngobrol ya, aku mau kangen-kangenan sama istri ku di kamar," perintah Barley.


Wati semakin tersipu, keduanya pun tertunduk malu-malu, seketika wajah keduanya merona, sepertinya bunga-bunga asmara akan merekah di antara mereka.


Barley menuntun istrinya untuk masuk ke dalam kamar, meninggalkan kedua insan tersebut.


Sesampainya di kamar mereka pun duduk diatas tempat tidur.


Santi menyandarkan tubuhnya pada tubuh Barley, sementara kepala Barley langsung masuk ke ceruk leher Santi.


Baginya aroma yang paling membuatnya rileks dan tenang adalah aroma yang keluar dari tubuh Santi, karna itu setiap pulang kerja Barley menyempatkan diri untuk bermanja-manja dengan istri, sebagai pengobat rindu setelah seharian tak bertemu.


"Sayang kau yakin ingin menjodohkan Daddy dengan Mbak Wati?" tanya Santi yang merasa sedikit geli ketika Barley mengendus-ngendus lehernya.


"Tentu sayang memang kenapa?"tanya Barley yang sudah terbakar gairah.


"Aku kira kau cuma main-main, aku tak ingin Wati kecewa," ungkapnya sambil bergidik merasa geli.


"Ehm, aku tak suka main-main, terkecuali bermain dengan mu," ucap Barley sambil merebahkan tubuh istrinya.


"Ha ha ha, Sayang kau nakal," tepis Santi ketika tanpa permisi ia melepas pakaian Santi.


"Iya aku memang nakal, tapi hanya dengan mu, "ucapnya sambil menggerayangi tubuh sang istri.


"Sayang, kau tak sabaran sekali, kenapa tak tunggu malam saja sih?"


"Ehm, kau sudah tahu aku orangnya tak sabaran," sahut Barley yang dengan segera menyerang istrinya tanpa ampun.


Suara lengkuhan terdengar lirih, saling sahut menyahut di iringi dengan guncangan tempat tidur yang ikut bergetar akibat gempa lokal karna tenaga Barley yang perkasa.


Pertempuran hangat pun terjadi di ranjang empuk di sore hari itu.


Sementara tuan Marco memulai aksi pendekatannya pada Wati, dengan tersipu Wati menjawab setiap pertanyaan tuan Marco.


Keduanya sama-sama terlihat sungkan, seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.


Inem yang mengintip hanya bisa gigit jari, "Wati! beruntung nian nasib mu," guman Inem.


Bersambung nantikan episode selanjutnya ya reader, tekan ikon ♡ biar dapat notifikasinya, ketika author up lagi, in shaa Allah up setiap hari, terima kasih ya atas support dan dukungan reader selama ini kepada author sampai titik ini, author ucapkan ribuan terima kasih atas semangat dan dukungan kalian, meski kadang author belum sempat membalas komentar kalian satu per satu, terus semangat selalu dan jaga kesehatan, semoga kita selalu sehat dan selamat di mana pun kita berada Aamiin.


Ej jangan skip, author punya recomendasi novel yg bagus untuk mu.mampir guys


__ADS_1



__ADS_2