Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Aku Juga Ingin Bahagia


__ADS_3

Setelah menenangkan pikirannya, Barley kembali ke kamar mereka.


Santi saat itu masih meringis pada bagian perutnya.


Melihat Santi yang seperti kesakitan, Barley menghampirinya.


"Santi, apa kau masih merasa sakit?"tanya Barley.


Santi tak menjawab, malah memalingkan wajahnya.


"Sini aku periksa," cetus Barley.


"Tidak perlu tuan! jangan urusi urusan ku, karna selamanya aku tak kan pernah jadi istri yang berguna untukmu," seraya menepis tangan Barley yang menyentuh perutnya.


Santi begitu tersinggung, dengan ucapan Barley yang merendahkannya.


"Maaf Santi, aku tak sengaja, aku emosi, sini biar ku periksa," ucap Barley seraya menyentuh kembali perut Santi.


"Tidak perlu tuan, urusi saja urusan mu, kenapa kau masih tak mau melepaskan diriku yang tak berguna ini!, apa kau tak sadar Tuan, bukan hanya hatiku yang kau sakiti, tapi kau juga sudah menghancurkan hidup ku, aku tak mau lagi tersiksa seperti ini," papar Santi seraya menitikan air mata.


Barley tertunduk.


"Aku sudah minta maaf Santi, lalu apa masalahnya lagi?"tanya Barley.


"Tak masalah bagi mu tapi sangat bermasalah untuk ku," ungkap Santi.


Santi merebah kan tubuhnya kembali, mencoba untuk memejamkan mata.


Karna tak ingin berdebat Barley mengalah, ia pun diam dan kembali tidur di atas ranjangnya.


Barley sengaja membujuk Santi agar ia tak lagi marah, ia pun memeluk Santi hingga terlelap.


Meski merasa kesal, Santi tetap memilih diam karna saat itu ia juga sedang merasakan sakit pada perut bagian bawahnya.


Setelah beberapa lama larut dalam keheningan, mereka pun terlelap hingga pagi hari.


Santi terbangun ketika merasa hendak buang air kecil, Karna merasa tak lagi mampu menahan, ia pun sedikit tergesa-gesa turun dari ranjang hingga mengakibatkan gerakan yang tiba-tiba, Santi merasa perutnya kembali keram.


"Akh, "ringisnya, namun karna begitu tidak tahannya hendak buang air kecil, ia tetap memaksakan diri.


Santi ke kamar mandi sambil membungkuk, menahan sakit, sesampainya di kamar mandi ia kaget karna ada bercak darah di pakaian dalamnya.


Santi syok, ia buru-buru menuntaskan panggilan alamnya tersebut.


Santi merasa semakin sakit,ia semakin membungkukan tubuhnya menuju tempat tidur.


Barley tersadar dari tidurnya, ia melirik ke arah samping guna menemukan keberadaan Santi.


Setelah mengedar pandanganya, Barley mendapati Santi yang meringkuk dengan menahan sakit pada bagian perut bawahnya.


"Santi!" seketika Barley bangkit dan berjalan cepat kearah Barley.


"Santi kau kenapa?"tanya Barley.


Santi tak menjawab, wajahnya memucat menahan sakit.


Melihat istrinya seperti kesakitan, Barley mengangkat tubuh Santi dan membawanya menuju tempat tidur.

__ADS_1


Barley meletakan tubuh Santi, kemudian ia duduk di sisi tempat tidur.


"Santi, apa masih sakit?"tanyanya.


Santi hanya menggangguk.


Barley menghempaskan nafas berat.


Ia menuju lemari dan menarik beberapa potong pakai untuk Santi.


"Ganti baju mu, kita kedokter sekarang," ucap Barley seraya melepas gaun tidur yang di kenakan oleh istrinya.


Barley memakaikan Santi baju terusan, karna mudah untuk di kenakan, setelah itu ia meraih handphone kemudian menghungi seseorang.


"Pak Iwan, siapkan mobil, aku akan membawa istriku kerumah sakit," ucap Barley pada sambungan telponya.


"Baik Tuan," sahut pak Iwan.


Setelah mencuci mukanya, Barley mengganti pakaiannya, kemudian ia mengangkat tubuh Santi dari atas ranjang.


"Kita ke rumah sakit sekarang Santi, "ucap Barley sambil menganggkat tubuh Santi.


Barely menggunakan lift untuk sampai di lantai bawah.


Saat pintu lift terbuka, saat itu ia berpapasan dengan Andini.


"Barley, kenapa lagi istri mu?!"tanya Andini.


"Santi mengalami kram perut Mommy , aku harus membawanya kerumah sakit," tukas Barley yang tetap berjalan menuju mobil.


Andini memperhatikan Barley dari kejauhan.


Barely membawa Santi masuk ke dalam mobil, mobil mereka langsung meninggalkan rumah mewah tersebut.


Barley menyandarkan tubuh Santi pada tubuhnya dengan kaki yang di biarkan berselonjor.


"Santi, apa masih sakit?"tanya Barley.


Santi menggangguk lemah.


Kurang dari setengah jam, mereka pun sampai di rumah sakit.


Santi langsung di periksa secara intensif.


di ruang perawatan super ekslusifnya.


Setelah melakukan pemeriksaan oleh dokter Barley menanyakan keadaan Santi.


" Bagaimana keadaan istri saya Dokter?"


"Istri anda di duga mengalami trauma otot bagian perut, sebenarnya tidak bahaya, namun karna ia sedang mengandung, ia harus menjalani bed rest minimal tiga hari." Dokter.


"Hamil? istri saya hamil Dokter?"tanya Barley syok sekaligus senang.


"Ia usia kandungannya berkisar tiga minggu, dan di usia tersebut sangat rentan, apalagi istri anda pernah mengalami trauma pada bagian otot perutnya," papar dokter tersebut.


Bukan main senangnya hati Barley saat itu.

__ADS_1


"Lalu bagaimana cara agar tidak terjadi sesuatu yang membahayakan janin dan istri saya dokter?" tanya Barley antusias.


"Untuk sementara jaga pola makan istri anda, hindari stres dan pekerjaan berat, karna ini kehamilan pertamanya bisa saja terjadi perubahan sikaf atau pun moodnya, karna terjadi perubahan hormon di dalam dirinya saat ini " Dokter tersebut menjelaskan.


"Iya Dokter, saya mengerti, saya akan jaga istri saya dengan baik," ujar Barley.


Setelah dari ruangan dokter Barley tak sabar menemui Santi.


Saat itu Santi tengah terlelap, di tatapapnya wajah pucat Santi, dengan lembut ia menyentuh perut Santi, seolah ingin merasakan kehadiran janin tersebut dalam rahim istrinya.


Barley duduk di atas kursi seraya meraih tangan Santi yang telah terpasang impus.


Telapak tangannya mengusap lembut permukaan kulit Santi kemudian ia mencium punggung tangan Santi.


Gerakan Barley tersebut meski pelan tetap saja membangunkan Santi.


Santi langsung menoleh kearah Barley.


"Tuan," seru Santi lirih.


"Santi aku punya berita baik untuk mu," ujar Barley dengan semangat.


"Berita apa Tuan?"tanya Santi lirih.


"Santi, sekarang kau tengah mengandung," ucap Barley.


"Hah, jadi Tuan sudah tau?" Santi balik bertanya.


Barley menyeritkan dahinya, "Bearti kau sudah tahu jika sebelumnya kau hamil Santi, lalu kenapa kau tak memberi tahu ku?"tanya Barley dengan bola mata yang berpendar menatap Santi.


Santi tertunduk, ia meneteskan air matanya.


"Katakan Santi, kenapa kau menutupinya dari ku?" tanya Barley.


Santi diam beberapa saat.


"Santi! kenapa tak menjawab pertanyaan ku?!"tanya Barley dengan nada tinggi.


Santi menatap sinis ke arah Barley, "Karna aku tak ingin terjebak di dalam pernikahan ini bersama mu selamanya, jujur saja Tuan, aku tak sanggup menjalani pernikahan ini lebih lama lagi bersama mu, aku ingin bebas dan memulai hidupku yang baru, terbebas dari tekanan-tekanan yang mengharuskan ku menuruti semua perintah mu Tuan!"cecar Santi.


Hiks hiks hiks, Santi menangis hingga tubuhnya ikut terguncang.


"Lepaskan saja diriku Tuan, aku akan menjaga dan merawat anak ini, jujur saja aku juga ingin hidup bahagia Tuan,"ucap Santi secara gamblang.


"Aku mohon Tuan, lepaskan saja diriku, kau punya segalanya, pasti banyak sekali yang menginginkan jadi istrimu,


tapi bukan aku," paparnya seraya menangis.


Barley menatap lekat Santi beberapa saat, kemudian memeluknya.


"Tidak Santi, aku tak ingin kehilangan mu untuk kedua kalinya," ucap Barley lirih meneluk Santi.


Santi kembali terperangah mendengar ucapan Barley, seketika itu ia mendorong tubuh Barley hingga pelukannya terlepas.


"Kau tak pernah kehilangan ku sebelumnya Tuan, karna aku Santi bukan Sania," cetus Santi, seketika Barley tersadar.


"Sadarlah Tuan! aku Santi ,bukan Sania, aku dan kakak ku dua orang yang berbeda, jadi jangan pernah berharap aku akan menjadi seperti yang kau inginkan!" cecar Santi.

__ADS_1


Barley terdiam menatap Santi dengan mata berpendar perlahan bulir bening menetes di bola matanya yang memerah.


Bersambung, dukung author terus ya, dengan bintang lima, like dan komennya.


__ADS_2