
Andini berguman dengan suara yang lirih, "Aku memang sengaja mencari jodoh untuk putra ku seorang wanita kaya, agar suatu saat, jika suami ku tahu jika Barley bukan anaknya, kehidupan kami tak akan kembali seperti dulu jadi gelandangan! bisa jadi suami ku akan mengusir ku dan putra ku, dan menarik semua fasiltas yang di berikannya selama ini, sama seperti aku mengusir istri-istrinya yang tak memberinya keturunan, karna selama puluhan tahun ini aku telah menipunya."
Andini merasa takut jika Hasta tau bahwa Barley bukan lah putranya.
Andini mengejar suaminya, mencoba untuk bersikaf manis, di depan sang suami.
"Daddy, kalau memang kau ingin menjenguk Santi, ayo kita pergi setelah makan siang, Maafkan aku, harusnya sikaf ku tak begitu, bagaimana pun anak yang di kandung Santi adalah darah daging dari Hasta Raja Prawira, salah satu sultan di negri ini," ucap Andini lembut untuk membujuk tuan Hasta.
Tuan Hasta mencibir, Aku sudah tahu jika garis keturunan keluarga Radja Prawira akan terputus, karna Barley bukan darah dagingku.
Mereka menuju restoran mewah, setelah menikmati makan siangnya, tuan Hasta memesan salah satu menu untuk Santi dan Barley di rumah sakit.
Mereka pun menuju rumah sakit di mana Santi di rawat.
***
Setelah selesai dengan urusannya,Barley kembali ke rumah sakit.
Di depan pintu kamar perawatan Santi, terdapat dua orang lelaki bertubuh kekar, yang menjaga kamar tersebut.
"Selamat siang Tuan," ucap kedua pengawal tersebut.
"Selamat siang, apa ada tamu yang mencurigakan?"tanya Barley.
"Tidak ada Tuan, semuanya aman terkendali," jawab mereka.
"Bagus, kalian tetap berjaga, jika ada sesuatu yang mencurigakan, awasi dan laporkan pada ku," titah Barley.
"Siap Tuan muda!"
Barley menemui Santi dan kedua mertuanya.
Melihat kedatangan Barley, Asti menghampiri Barley.
"Barley, sebenarnya ada apa ini?"tanya Asti khawatir.
"Benarkah, ada yang coba meracuni Santi?"tambahnya.
Barley melirik kearah Santi yang terlelap.
"Ibu tenang saja Bu, pelakunya sudah di tangkap dan di penjara, saya akan menyewa pengacara untuk menjebloskan Amora di penjara dalam waktu yang lama," papar Barley.
"Oh, jadi itu benar."Asti menangis karna tak sanggup membayangkan sesuatu yang buruk menimpa putri tercintanya.
"Bu, tenanglah," semua tak akan terulang kembali, saya akan mengerah penjagaan yang ketat untuk Santi, "ucap Barley menenangkan Asti.
"Jangan beri tahu Santi Bu, keadaannya sedang tak memungkinkan."Barley.
__ADS_1
Tapi Santi sudah terlanjur mendengar semua," Jadi Tuan pelakunya adalah Amora?!"tanya Santi, ia menjadi syok.
Santi menitikan air matanya, karna membayangkan betapa ngerinya jika ia sempat memakan bubur tersebut.
Tak hanya bayi yang ada di dalam rahimnya bahkan nyawanya juga akan ikut melayang.
Barley menghampiri Santi, ia meraih dan menggenggam tangan Santi, "Kau tenang saja, jangan di pikirkan, aku akan melindungi mu dan anak kita," ucap Barley seraya mencium punggung tangan Santi.
Santi melirik kearah Barley, "Tapi Tuan, kenapa dia bisa setega itu terhadapku? apa dia mengira aku telah merebutmu darinya?" hiks hiks hiks, Santi merasa sedih.
Tidak Santi, kau tak merebut apa-apa dari nya, justru dialah yang ingin merebutku dari mu, kau tenang saja, jangan pikirkan macam-macam, ingat ada janin yang sedang tumbuh di rahimmu," ucap Barley seraya menyentuh perut Santi.
Santi melirik ke arah Barley yang sedang menatapnya.
"Ingat Santi tugas kita sebagai orang tua adalah menjaganya agar ia tumbuh dengan nyaman di rahim mu, kau tak perlu mengkhawatirkan keselamatan mu, karna aku tak akan membiarkan seseorang menyakiti mu," papar Barley dengan Netra yang menatap lekat netra Santi.
Hiks, hiks Santi menikan air mata harunya, "Terima kasih Tuan, karna telah menjaga ku dan janin ku," ucap Santi.
"Kau ini bicara apa Santi, bukannya anak yang kau kandung itu darah daging ku, mana mungkin aku membiarkan seseorang mencelakai mu, " papar Barley.
"Sudah kau harus banyak istirahat, jangan berpikir macam-macam," ucap Barley serata mengusap punggung Santi.
Asti terharu melihat Barley yang bersikaf lembut terhadap putrinya.
Ya Tuhan semoga saja, Barley bisa menerima dan mencintai Santi seperti ia mencintai Sania.
"Ada apa ini?! kenapa kalian melarang saya masuk, saya ingin menemui putra saya!" Andini
"Maaf Nyonya, anda tidak bisa masuk sebelum dapat ijin dari tuan muda, saya konfirmasi ke tuan muda dahulu, silahkan anda tunggu di sini," jawab bodyguard tersebut sopan.
"Kalian mau aku pecat?! berani sekali melarang ku masuk?!"cecar Andini.
Tuan Hasta menghela nafas beratnya melihat kelakuan istrinya tersebut.
"Maaf Nyonya, anda tidak bisa memecat saya karna saya bekerja pada tuan muda, bukan bekerja pada anda,"sahut salah satu bodyguard tersebut.
"Apa kata mu?!" mata Andini melotot.
"Sudalah Mommy, mungkin Barley punya alasan di balik semua ini."tuan Hasta.
"Sekarang bilang pada Barley jika Daddy dan Mommy nya ada di sini, "ucap tuan Hasta.
"Baik Tuan," ucap salah satu bodyguard.
Selang berapa lama mereka pun membukakan pintu untuk keduanya, Andini dengan angkuhnya melewati kedua bodyguard tersebut seraya mendongkakkan kepala.
Keduanya masuk dan langsung di sambut oleh Barley.
__ADS_1
"Daddy Mommy silahkan masuk," ucap Barley.
Mereka pun duduk di sofa.
Andini melirik ke arah Asti dan Harjo dengan tatapan sinis dan merendahkan.
"Huh, besan miskin ku ada di sini rupanya," dengusnya.
"Barley ada apa ini? kenapa penjagaan kamar Santi ketat sekali?"tanya tuan Hasta.
"Semua ini akibat ulah calon menantu yang Mommy bangga-banggakan itu Daddy," dengus Barley.
Andi melirik kearah Barley, "Maksud mu Amora, kenapa dengan Amora?" tanya Andini ketus.
"Mommy, Amora mencoba untuk meracuni Santi dengan menyuruh seseorang untuk menyamar jadi petugas pengantar makanan dan mengantar bubur yang sudah di campur sianida," papar Barley dengan serius dengan menatap lekat pad Andini.
Andini menyeritkan dahi," Kau pasti salah Barley, mana mungkin Amora melakukannya,"Andini coba untuk mengelak.
"Huh, salah apanya sekarang Amora sudah di penjara, tapi Mommy masih membelanya, apa mommy masih berniat ingin menjodohkan ku dengan wanita seperti Amora?!"tanya Barley.
Andini menelan ludahnya, seketika tenggorokannya terasa kering.
Gawat,.jika Barley dan Amora tak jadi menikah, bisa-bisa Veronica lebih dahulu membeberkan rahasia ku selama ini, padahal aku belum terpikirkan rencana apa yang bisa membungkam mulut Veronica.
***
Di penjara,
Amora merasa mual-mual karna dirinya ngidam, biasanya untuk mengurangi rasa mualnya ia akan minum-minuman beralkohol serta merokok, namun di penjara tak ada apa pun.
Amora berlari menuju kamar mandi yang bau dan kotor tersebut, kemudian muntah-muntah di sana.
Setelah puas ia kembali lagi ke sel.
Viora menatap sinis kearah Amora.
"Kau bunting rupanya ?!" tanya Viora ketus mulutnya nya pun mencibir.
"Bukan urusan mu!" Amora.
"Aduh Mami kenapa lama sekali datangnya? aku sudah tidak tahan, jadi pingin muntah-muntah terus," dengus Amora kesal.
Uek, uek, Amora kembali ke kamar mandi dan muntah, ia pun kembali ke sel tahanannya.
Tak ada bekal apapun saat di penjara, semua barang-barangnya tertinggal di mobil Barley.
Amora sudah merasa lemas, ia pun merebahkan dirinya di lantai ubin yang dingin, tubuhnya pun menggigil karna kedinginan.
__ADS_1
Bersambung guys, karna banyak yg minta up lagi author up lagi nih semoga kalian tetap suka, oh ya guys mohon doa dukungannya karna novel ini sedang mengikiti lomba, berikan dukungan kalian insya Allah di akhir cerita akan ada giveaways." Terima kasih"