Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Bertahan


__ADS_3

Setelah berdiskusi bersama Barley. Arief pun setuju jika perawatan Asyia di pindahkan ke Amerika.


Untuk itu ia segera menghubungi keluarganya.


***


Aldo dan Delia menunggu kabar tentang Asyia dengan gelisah. Setiap jam mereka menelpon Arief.


Ingin menyusul, mereka sendiri tak tahu secara pasti keberadaan Asyia.


Aldo duduk dengan gelisah, kemudian sebentar-bentar berdiri dan duduk lagi. Ia pun berjalan mondar mandir menunggu kabar terakhir dari Arief.


Setelah lama menanti, akhirnya hand phonenya berbunyi juga.


Aldo mengangkat telpon tersebut dengan tangan yang gemetar. Takut jika yang di bawa oleh Arief adalah berita buruk.


"Hallo Bang, bagaimana keadaan Asyia Bang? "Aldo segera.


Terdengar suara panik Aldo.


"Hallo Do, kamu tenang dulu ya. Abang dan tuan Barley ingin mengupayakan operasi jantung Asyia sesegera mungkin, untuk itu kami akan membawanya langsung ke Amerika. bagaimana menurut mu Do?"


Hiks hiks hiks , terdengar suara tangis Aldo tubuhnya pun gemetar.


"Do, kau baik-baik saja kan hiks?" tanya Arief yang juga ikut menangis.


Semua keputusan terasa berat untuk di ambil. Tapi hanya itulah satu-satunya cara agar penderitaan Asyia segera berakhir.


Bearkhir dengan selamat, atau pergi dengan tenang untuk selamanya.


Hiks hiks hiks , untuk sementara kedua saudara tersebut menangis di dua belahan dunia yang berbeda.


Arief masih menunggu keputusan Aldo, sambil menenangkan dirinya sendiri.


Setelah menimbang dengan seksama. Keputusan pun akhirnya di ambil.


"Iya Bang, lakukan apa saja untuk kebaikan Asyia hiks. Aku dan Delia akan menyusul Asyia jika seandainya dia berada di rumah sakit di Amerika."

__ADS_1


Tubuh Aldo kembali terguncang menahan tangisnya. Membayangkan putri tercinta berada di belahan bumi yang berbeda, begitu jauh, Namun dalam keadaan sekarat dan mereka sendiri hanya bisa menunggu dan berdoa.


Setelah menutup telpon dari Arief. Aldo kembali menangis meringkuk.


"Hiks hiks hiks, Ya Tuhan tolong jaga dan lindungi anak hamba, hiks hiks hiks."


Melihat suaminya yang menangis, Delia pun menghampirinya.


"Ada apa Bang? " tanya Delia seraya memeluk Aldo.


"Hiks, Asyia Dek. Ia sedang sekarat. Tuan Barley bermaksud memindahkan perawatannya ke Amerika agar secepatnya ia mendapat donor jantung. "


"Iya Bang. semoga saja Asyia mendapat donor jantung segera. Kasihan jika ia harus menderita, hiks." Delia.


"Kita bersiap-siap saja Dek. Setelah Asyia secara pasti di rawat di rumah sakit di Amerika. Kita susul mereka di sana. " Aldo.


"Iya bang. " Delia.


***


Mereka langsung menuju kamar perawatan Asyia, setelah menghubungi petugas.


Sesampainya di sana Arief langsung meneteskan air matanya melihat Asyia yang terbaring tak berdaya dengan sejumlah alat bantu medis yang terpasang pada tubuhnya.


Langsung saja ia menghampiri Asyia kemudian mencium keningnya.


"Asyia ini paman mu Nak, Paman ada di sini untuk kamu, hiks."


Andhra mengangkat kepalanya ketika mendengar suara Arief, tubuhnya begitu lemah. Selain syok, sudah seharian ia tak makan. Ia Tak pernah melepas genggaman tangan nya dari Asyia.


Barley menghampiri Andhra kemudian memeluk putranya tersebut dari belakang.


Andhra pun langsung menangis memeluk Barley.


"Daddy, tolong Asyia Daddy. Carilah cara agar Asyia segera mendapatkan donor jantung nya, hiks. " Andhra.


"Ia Nak, Daddy sudah punya rencana untuk membawa Asyia ke Amerika. Di sana ia akan di rawat secara intensif sebelum operasi di lakukan. Daddy pilihkan dokter terbaik di seluruh dunia dengan pengalaman yang mumpuni. Tenang saja kita sudah berusaha memberikan yang terbaik. Sisanya tinggal menunggu keputusan yang Maha Kuasa." Barley.

__ADS_1


Arief kembali mengusap kepala Asyia.


"Asyia sayang. Bangun Nak, Paman mu ada di sini. Mana medali yang kau janji kan untuk paman? Hiks. "


Ucap Arief seraya membisikan sesuatu pada Asyia.


" Asyia sayang. Asyia sudah janji pada paman untuk tak sakit lagikan? Kali ini paman mohon Asyia bertahan sebentar saja. Masih ada ikhtiar yang belum kita lakukan. Mari Nak, kita berjuang bersama. Kita lawan penyakit mu. Kami di sini ada untuk mu, " ucap Arief lirih di telinga Asyia.


Andhra, Barley dan bu Riska, sudah berderai air mata. Melihat Asyia yang terlihat tersiksa dengan penyakit nya.


Barley juga menghampiri Asyia. Ia pun mengusap kepala Asyia.


"Asyia, Kami datang jauh-jauh untuk menjemput mu. Kau datang kemari dalam keadaan baik-baik saja. Kau juga harus pulang dengan keadaan baik-baik pula. Lihatlah kami semua menyayangi mu, ada paman, paman Arief, ibu guru dan Andhra sahabat mu. Kami semua di sini untuk mendukung mu. "


Andhra semakin erat menggenggam tangan Asyia yang semakin lemah dan tak berdaya.


"Sekali ini saja paman minta Nak, Bertahan lah. Ini ikhtiar paman yang terakhir. Setelah itu paman tak akan memaksa mu lagi.Kau bisa ambil jalan yang kau inginkan. Paman akan iklas. Tapi berilah paman kesempatan untuk yang terakhir kalinya. Agar paman tak menyesal, hiks hiks hiks. Maaf jika paman sedikit memaksa, itu karena Paman begitu mencintai mu, begitu menyayangi mu hiks hiks hiks. "


"Janji ya pada paman kau akan menguatkan dirimu, bertahan semampu mu, "ucap Arief seraya meletakan jari telunjuk nya pada salah satu telapak tangan Asyia.


Karena setiap Asyia sembuh dari sakitnya, biasanya Arief akan membujuknya untuk tak sakit lagi, dengan berjanji yakni dengan menggenggam jemari Arief. Dan itu di lakukan Asyia sejak ia masih bayi ketika pertama kalinya Asyia operasi.( lihat episode pulang)


"Janji lah pada paman Nak. Kau akan menguatkan dirimu untuk bertahan semampu mu," ucap Arief lagi dengan air mata yang sudah berlinang.


Beberapa saat mereka semua tegang, melihat reaksi Asyia.


Arief langsung menangis ketika Asyia menggenggam jari kelingking nya.Itu berarti Asyia setuju.


" Hiks hiks hiks, iya Nak. Terima kasih karena mau bertahan," ucap Arief dengan tubuh yang berguncang. Ia pun menangis memeluk Asyia.


" Paman yakin kau pasti kuat hiks hiks," ucap Arief dengan tubuh yang berguncang memeluk Asyia.


Mereka yang ada di sana, ikut menangis melihat Asyia yang tak menyerah begitu saja.


Mereka pun menghampiri Asyia dan memeluknya.


Bersambung para readers. Mumpung masih suasana lebaran author ucapkan minal Aidin walfaidzin mohon maaf lahir batin.

__ADS_1


__ADS_2