
Arief dan rombongannya telah selesai menikmati hidangan makan malam.setelah beberapa saat ngobol mereka pun memutuskan untuk pulang.
Ketika akan keluar dari pintu ia melihat Barley yang di dorong oleh seorang pria, karna tak terima Barley pun memukul pria tersebut.
Arief tahu jika Barley emosi, ia bisa kebablasan. Tak ingin terjadi,sesuatu pada bosnya Arief berlari menghampiri Barley.
Sementara Asyia yang baru keluar dari pintu melihat pamannya seperti hendak berkelahi dengan tuan Barley.
Karna Asyia terlalu mrenyayangi pamannya ia takut seseorang memukul Arief.
Asyia berlari, meski dadanya terasa sakit,
"Ada apa paman?" tanya Asyia dengan.napas memburu dan detak jantung bertetak kencang.
Arief merangkul Asyia yang hendak pingsan. Matanya menatap ke arah Amora.
"Amora?!" guman Arief ketika baru menyadari wanita tersebut adalah Amora.
Amora terus menatap ke arah Asyia.
'Siapa gadis itu? Apakah dia putri ku? Tapi tak mungkin putri ku pasti sudah lama mati Karna penyakit jantung.'
Aldo pun ikut menghampiri mereka.
"Amora? Kau bikin ulah lagi?! Baru saja kau menggoda ku di kamar mandi dan sekarang kau bikin ulah di sini " cecar Aldo.tanpa sengaja. Ia begitu geram melihat Amora, hingga membuat reaksi pada Asyia yang mendengarnya
Asyia melihat ke arah Aldo dan Amora secara bergantian.
Sementara melihat semua musuhnya berkumpul, Amora pun segera membantu lelaki tersebut dan membawanya kabur.
Amora tak berani berkutik, maklum saja ia tak punya kekuasaan, lagi pula ia tak ingin di penjara kembali.
Tak hanya Delia, Dinar syok mendengar suaminya tersebut menyebut nama Amora.
__ADS_1
Pasalnya Dinar lebih tahu tetang siapa Amora dari cerita Arief.
Barley menghampiri Arief." Sepertinya kita akan kembali punya musuh Rif."
"Iya Tuan. Aku tak menyangka ia bisa bebas secepat ini. Tapi aku tak akan membiarkan ia merusak kehidupan adik ku lagi." Arief.
Setelah keadaan tenang, mereka semua kembali menuju mobil masing-masing.
Di dalam mobil Asyia terlihat diam, seribu pertanyanyaan seolah menghampirinya.
'Siapa wanita itu, apa hubungan wanita itu dengan ayah ku, apa wanita itu adalah mantan dari ayah atau wanita tersebut adalah....ibuku?'
Asyia tersentak kaget, seketika lamunannya buyar. Mobil mereka hampir saja menabrak seorang pengendara motor.
Kreak, mobil tersebut pun berhenti tiba-tiba.
"Hah untung saja," Aldo menggusap dadanya dengan jantung yang berdetak kencang.
Mereka pun langsung menatap ke arah Aldo.
Aldo menggeleng lemah, "Hampir saja ayah menabrak pengendara sepeda motor," ucap Aldo.
Konsentrasi Aldo terbagi karna memikirkan Amora. Ia tak ingin kehidupannya yang tenang sepuluh tahun terakhir, menjadi terganggu karna kehadiran Amora.
Meski penasaran tentang wanita yang baru saja ia temui, Asyia masih menahan diri untuk bertanya tentang siapa wanita tersebut.
Hal yang sama terjadi pada Amora. Meski.ia tak pernah mengingikan putrinya tersebut.Namun, tetap saja ada hal yang tak biasa yang ia rasakan ketika melihat Asyia.
Sepanjang jalan ia melamun, memikirkan siapa sebenarnya gadis itu.
Amora memijit pelipisnya. Sejujurnya pikirannya kacau setelah melihat gadis cantik dengan mata dan hidung sepertinya.
Asyia juga terlihat seperti gadis blasteran sama seperti dirinya. Kulitnya yang putih tak seperti kulit pada orang indonesia umumnya.
__ADS_1
'Apakah aku harus peduli dengan gadis itu?' batin Amora menyunggingkan senyum tipisnya.
"Sepertinya aku memang harus peduli. Jika dia memang putri ku, itu bearti aku bisa memanfaatkannya. Untuk merebut Aldo, kami akan hidup bertiga dengan bahagia. Ehm." Amora kembali menyunggingkan senyum menyeringai.
***
Keesokan paginya Asyia keluar dari kamarnya. Karna rumah mereka berbentuk ruko, lantai pertama di gunakan untuk rumah makan sedangkan lantai kedua mereka gunakan sebagai tempat tinggal.
Karna ruko tersebut tak terlalu besar, hanya ada beberapa kamar, sedikit ruang untuk kumpul keluarga dan dapur yang menyatu dengan meja makan yang hanya di sekat-Sekat dengan menggunakan lemari.
Ketika hendak menuju meja makan, tanpa sengaja Asyia mendengar percakapan antara Aldo dan Delia di meja makan.
"Ayah belum siap mengatakannya pada Asyia Bu. Kasihan dia jika mengetahui jika ibu kandungnya tak menginginkan kehadirannya di dunia ini. Apalagi jika ia tahu jika ayah dan ibunya pernah merencanakan pembunuhan seseorang hiks hik hiks," Aldo begitu sedih hingga meneteskan air mata kemudian menangis tergugu.
Delia mengusap punggung Aldo.
"Iya Yah, ibu ngerti. Ibu juga ngak tega mengatakannya hal tersebut pada Asyia. ibu takut hal itu kembali berdampak buruk pada kesehatan Asyia."
Aldo menangis menyesali semua yang pernah ia lakukan.
"Sudahlah Yah, Nyatanya ayah sekarang sudah berubah dan bertaubat, Ayah adalah kepala keluarga yang baik, "ucap Delia seraya mengusap punggung Aldo.
Bruk...
Tiba-tiba mereka mendengar suara yang mencurigakan.
Delia dan Aldo pun menghampiri kearah suara dan alangkah kagetnya ketika mereka melihat tubuh Asyia tergeletak di atas lantai.
Asyia!
Bersambung dulu ya reader tersayang.maaf author baru bisa up lagi, berikan dukungannya pada karya ini.
Ada kejutan di episode berikutnya.😍😘
__ADS_1
Assalammualaikum warahmat ullah wabarakatu.