Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Apa Kau Hamil!


__ADS_3

Sinar mentari pagi yang perlahan masuk kecela-cela jendela, membuat Santi beranjak dari tempat duduknya.


Santi menyingkap tabir yang menutupi jendela kamarnya.


Hingga membuat sinar matahari tersebut masuk dan memenuhi seluruh ruangan kamarnya.


Barely menerjab-nerjabkan matanya karna merasa silau akan sinar mentari.


Pandangan matanya mengedar ke sekeliling ruangan tersebut dan melihat Santi yang berdiri di balkon kamar mereka sedang melakukan senam ringan.


Barley menyibak selimut yang menutupi tubuhnya saat itu dia baru sadar jika tubuhnya dalam keadaan bugil.


Barley coba mengingat apa yang terjadi tadi malam, meski kepalanya masih terasa pening.


"Jadi semalam aku dan Santi_"


Barley terdiam tak melanjutkan kata-katanya, ia merasa yakin jika semalam mereka melakukan penyatuan.


Setelah melakukan gerakan pereganggan beberapa saat Barley beranjak menuju kamar mandi, kemudian mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk menghilangkan rasa sakit kepalanya.


Beberapa saat menghabis waktu di kamar mandi, Barley keluar dan masih melihat Santi melakukan senam ringan di balkon kamar mereka.


Ketika akan melakukan gerakan kayang, tiba-tiba saja Santi merasa kram di daerah perut.


"Akh!" teriak Santi tertahan, membuat Barley mengalihkan pandangannya kearahnya.


Barley berjalan menghampiri Santi, yang sedang meringkuk.


"Kau kenapa?"tanya Barley.


"Ngak apa-apa tapi tiba-tiba perut ku sakit," sahut Santi seraya mengremas kaos yang ia kenakan pada bagian perut.


Barley menarik tangan Santi untuk membantunya berdiri.


Setelah itu ia menuntun Santi menuju tempat tidur mereka.


"Istirahat saja," ucap Barley.


Untuk mengakhiri senamnya agar tak cedera lebih parah Santi berselonjor dan melakukan gerakan pendinginan.


"Apa masih sakit? jika masih sakit akan ku panggilkan dokter Yosep?" tanyanya seraya menatap wajah Santi lekat.


"Tida perlu tuan, mungkin kurang pemanasan saja," sahut Santi tanpa berani menoleh kearah pria tampan yang ada di hadapannya.


Keduanya hening beberapa saat, Barley masih menatap lekat wajah Santi yang seolah menghindari tatapannya.


Barley kembali memakai pakainnya satu persatu, setelah memakai pakaian rapi ia kembali mendekati Santi.


"Bagaimana? masih sakit?"tanya Barley kembali.


Santi menggelengkan kepala dengan lemah.


"Kalau gitu ayo kita turun untuk sarapan." Barley

__ADS_1


"Nanti saja tuan, aku masih tidak lapar," sahut Santi datar.


Barley menatapnya sekilas kemudian keluar dari kamar tersebut.


Barley menghampiri Wati yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.


"Wati, tolong kau antarkan sarapan untuk istri ku, selama aku tak ada, kau jaga dia karna baru saja ia cedera dan mengalami kram di perutnya." Barley.


"Baik Tuan." Wati.


Barley menemui keluarganya di meja makan.


"Mana istrimu Barley?"tanya Hasta.


"Dia baru saja mengalami cedera pada perutnya, jadi aku suruh Wati mengantar sarapan untuknya." Barley.


"Huh, sudah merasa jadi Nyonya besar rupanya, segala sesuatu harus di layani," rungut Andini.


"Aku rasa dia sengaja mencari perhatian mu Barley, agar kau tak jadi menceraikannya," imbuhnya kembali.


Barley menatap sinis ke arah Andini, begitupun Tuan Hasta.


Mereka melanjutkan sarapan mereka.


"Oh ya Barley tahun ini Daddy ingin kamu mewakili penghargaan bergensi pada ajang penghargaan produk terbaik yang akan di selenggarakan minggu depan," papar Hasta.


"Ehm, boleh Daddy, bagaimana dengan tahun ini, apa produk kita kembali menyabet penghargaan sebagai best brand produk dan top brand product lagi?"Barley.


"Alex Sujana? saingan terbesar kita, semoga tahun ini kita kembali bisa meraih perhanggaan bergensi tersebut, " papar Barley.


"Kamu sendiri bagaimana dengan usaha perhotelan kamu?"tanya Hasta.


"Lumayan, kenaikan keuntungan 20 % perbulan setelah hotel kita di promosikan, aku berencana menambah fasilatas hotel dan menambah jumlah kamar jika keuntungan meninggkat pada tahun depan." Barley.


"Hm, Barley Daddy harap kamu punya anak yang banyak untuk meneruskan perusahan kita," ungkap Tuan Hasta.


Barley hanya menyunggingkan senyum tipisnya.


***


Arief tertidur di atas kursi, dengan kepala berada di atas tempat tidur Aldo.


Aldo membuka matanya ketika merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Akh," rintih tulang-tulangnya terasa remuk redam, ia pun eringis kesakitan.


Mendengar adiknya meringis, Arief membuka matanya karna tersadar.


"Aldo, kau kenapa?"tanya Arief khawatir.


"Akh, tubuhku terasa sakit, dengan tulang terasa remuk di sekujur tubuh ku,"ucapnya seraya meringis.


"Tentu saja, tulang-tulang mu ada beberapa yang retak, salah satu pergelangan tangan mu juga ada patah, keadaan mu persis seperti tuan muda Barley saja."Arief

__ADS_1


Aldo terhenyak mendengar penuturan Arief.


Seperti tuan muda? oh tidak apa aku akan mengalami cacat, aku tak memiliki uang sebanyak tuan muda yang bisa berobat ke luar negri, apa aku akan cacat ?"batin Aldo.


Aldo menitikan air mata, Apa ini karma dari perbuatan ku sendiri?gumannya.


Arief melihat Aldo menitikan air matanya, ia pun menyapunya dengan tisu, "Sudahlah Aldo, kau lelaki dan lelaki harus kuat, ini hanya cobaan dari Tuhan, agar kau bersikaf lebih hati-hati dan tak ugal-ugalan di jalan, karna jika tidak dirimu, maka orang lain yang akan celaka karna mu," papar Arief bermaksud menasehati adiknya.


Mendengar kata-kata Arief Aldo jadi teringat dengan apa yang telah dilakukannya terhadap Barley dan Sania.


Aldo kembali menangis pilu, Tuhan sepertinya memberi kesempatan ku untuk bertobat. batinnya


***


Amora bangun ketika merasa sesuatu yang bergejolak di perutnya.


Seketika ia berlari ke kamar mandi dan memuntah kan seluruh isi perutnya.


Uwek, Uek,


Keringat mulai mengucur membasahi keningnya, Amora menarik nafas panjang kemudian mencuci wajahnya pada wastafel.


"Amora!Amora! Kau sudah bangun?"tanya Veronica sambil mengetuk pintu kamar Amora.


Ternyata pintu tersebut tak terkunci, Veronica langsung masuk ke kamar karna mendengar derap langkah kaki seseorang yang berlari menuju kamar mandi.


Setelah membuka pintu kamarnya Veronica mencari keberadaan Amora.


"Amora di mana kamu?!" tanya Veronica.


Karna mendengar suara Amora yang muntah-muntah Veronica buru-buru menghampirinya.


Uek, Uek, Amora kembali muntah, tubuhnya lemas karna meski isi dalam perutnya habis, tetap saja ia tak berhenti muntah.


"Amora! kau kenapa?"tanya Veronica khawatir ketika melihat wajah Amora yang telihat pucat pasi.


"Ngak tahu Mami, bangun tidur perutku terasa bergejolak, rasanya ingin muntah-muntah saja," sahutnya sambil menyapu keringat dingin yang mengucur di keningnya.


Veronica membelalakan matanya, dengan langkah teratur ia mendekati Amora.


"Amora katakan pada ku, apa kau pernah melakukan hubungan intim bersama Barley?"tanya Veronica sedikit berbisik, matanya terus menatap Amora.


Amora tak kalah syok ketika pertanyaan tersebut terlontar dari mulut ibunya sendiri.


"Ehm Ngak pernah Mami,"sahut Amora seraya menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Apa?!" jika kau tak pernah melakukannya dengan Barley, lalu siapa yang menghamilimu hah?!" tanya Veronica dengan suara yang lebih tinggi.


Bagai tersambar petir, Amora terdiam beberapa saat, ketika melihat kemarahan di wajah ibunya.


"Apa Hamil?" guman Amora, berkali-kali ia menelan salivanya.


Bersambung dulu ya guys, terus dukung author agar author up lagi, jalan lupa like, rate bintang lima dan kasi komentar saran dan kritiknya, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2