Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Marco Vs Andini


__ADS_3

Sesampainya di kantor Barley sudah di tunggu oleh Arief.


Arief melirik kearah jam tangannya, ia sudah lama menunggu di depan pintu masuk ruangan Barley.


Tuan muda terlambat lagi.


"Selamat pagi tuan, " ucap Anggi ketika Barley ada di hadapannya.


"Selamat pagi. "jawab Barley tanpa menoleh ke arah wanita cantik dan seksi itu.


"Anggi ikut aku ke ruangan ku,"titah Barley


Keduanya pun masuk mengikuti Barley.


Arief mendengus mencium aroma tak biasa dari tubuh Barley, ia pun tersenyum.


Sejak menikah kau semakin aneh saja tuan.


Barley duduk duduk di kursi kebesarannya, sementara keduanya berdiri di hadapan Barley


"Ada apa Tuan?"tanya Anggi.


"Anggi mulai sekarang Arief yang akan menempati ruangan ini dan memimpin perusahaan, itu berarti kau adalah sekertaris Arief, aku percaya kepada kalian berdua untuk bekerja sama dalam membantu ku, jangan coba-coba berkhianat karna kalian tahu sendiri apa akibatnya," ancam Barley.


Anggi melirik ke arah Arief yang terlihat serius menatap Barley.


Yah kesempatan ku untuk mendekati tuan muda semakin sulit, tapi tak apalah, siapa pak Arief lebih gampang di rayu.


"Baik Tuan," ucap Anggi seraya menyimpul senyumnya.


"Baiklah, silahkan lanjutkan pekerjaan mu," Barley.


Anggi mengganguk kemudian meninggalkan kedua pria tampan yang sama-sama punya kharismatik tinggi tersebut.


"Arief duduklah, " titah Barley.


Arief menarik kursi untuk duduk di hadapan Barley.


"Ada apa Tuan?" tanya Arief.


Barley menatap Arief beberapa saat sebelum bicara padanya, "Aku dan pengacara ku sedang mengupayakan tuntutan hukuman maksimal untuk ketiga orang yang terlibat dalam sabotase mobilku," ucap Barley seraya menakup kedua tangan dan meletakan di atas meja.


Barley melirik ke arah Arief, karna ingin melihat reaksinya.


"Itu terserah pada mu Tuan, setiap orang berhak mendapat bantuan hukum, aku tahu dan sadar jika adik ku bersalah, tapi sebagai keluarganya, aku juga akan mengupayakan pembelaan terhadap Aldo," ucap Arief tegas.


Barley menyunggingkan senyum tipis.


"Kalau gitu di persidangan nanti kita menjadi rival," Barley


"Tak masalah tuan, yang benar-tetap akan benar dan yang salah tetaplah salah, setidaknya aku berusaha mengupayakan hukum untuk adikku,semoga hakim dapat meringankan tuntutan jaksa." Arief.


Barley tersenyum, "Aku harap semua tak berpenguh dengan hubungan kerja kita."


"Tentu Tuan, aku tahu di mana menempatkan keduanya."


Baeley tersenyum puas, ia tahu seperti apa karakter Arief.


Tak beberapa lama Anggi kembali masuk ke ruangan Barley.


"Permisi Tuan! tuan Marco sedang menunggu di luar," ucap Anggi.


"Silahkan saja masuk."Barley

__ADS_1


"Arief, tuan Marco berniat untuk menjalin kerja sama dengan kita, tapi aku tak tahu dalam bidang apa, kau ikut aku, kita temui dia, sebenarnya aku kurang menyukainya, dia sepertinya licik."Barley


Arief menyeritkan dahi melirik ke arah Barley dengan posisi menyimak tanpa banyak bertanya.


"Kita lihat sebernarnya apa yang di inginkannya, jangan mudah tertipu dengan mulut manisnya." Barley.


"Baik Tuan." Arief.


Marco dan asistennya pun masuk, Arief dan Barley berdiri menyambut kedatangan mereka.


Baru saja masuk Marco sudah kagum dengan arsitektur ruangan Barley


Dia semakin mirip dengan ku,Batin Marco ia pun tersenyum puas.


"Silahkan duduk tuan Marco, "ucap Barley sambil menjabat tangannya.


"Terima kasih Tuan Barley."


Marco menyambut jabatan tangan Barley seraya tersenyum menatap mata indah milik pria tampan yang tinggi yang ada di hadapannya.


Aku semakin yakin jika Barley itu putra ku.


Barley melepaskan jabatan tangannya, ia tak menyukai senyum dan tatapan mata Marco, meski ia merasa ada desiran aneh yang mengalir saat kedua nya bertentang mata, mata yang sama.


Barley melihat bayangan dirinya pada pupil dari iris kecoklatan dari tuan Marco yang mirip dengannya.


"Ada apa Tuan, kenapa kau menatap ku demikian?"tanya Barley merasa insecure.


"Oh tidak, melihat mu, aku seperti melihat putra ku, kau sangat mirip dengannya,"ucap tuan Marco seraya melempar senyum simpul.


"Tapi aku putra mu Tuan," sahut Barley tegas, ia semakin tak menyukai Marco.


"Silahkan duduk," ucap Barley.


"Jadi anda ingin menawarkan kontrak kerja sama dalam bidang apa?"tanya Barley langsung tanpa berbasa-basi.


"Apa saja, aku dengar kau sedang mengembangkan hotel mu, aku berniat menjadi investor dalam proyek tersebut."


tuan Marco.


"Ehm, anda berani menjadi investor, tapi anda belum melihat prosfek keuntungannya?"


"Bahkan saya belum menyerahkan propsal dan anda yang menawarkannya langsung, ada apa ini tuan Marco?" tanya Barley.


"Ha ha ha, saya tahu siapa anda tuan Barley, dan saya percaya sepenuhnya kepada anda, kirim saja proposalnya dan tinggal bilang berapa yang anda butuhkan." tuan Marco.


Barley dan Arief tercengang dengan pernyataan tuan Marco, mereka tak saling mengenal tapi kenapa tuan Marco begitu percaya.


Arief dan Barley saling memandang.


"Bagaimana?"tanya Marco lagi.


"Baiklah, nanti biar Arief yang mengurus proposalnya untuk anda, setelah itu nanti kita bicarakan langkah selanjutnya," Barley.


"Oke, kalau begitu kami permisi, karna sepertinya anda sibuk."tuan Marco.


"Silahkan," ucap Barley.


Keduanya berdiri untuk mengantar tuan Marco keluar dari ruangan tersebut.


"Senang berbisnis dengan anda tuan," ucap tuan Marco seraya menjabat tangan Barley.


"Sama-sama tuan."Barley.

__ADS_1


Marco dan asistennya meninggalkan ruangan tersebut.


Barley dan Arief menatap kepergian Marco, kemudian keduanya saling memandang.


"Aku curiga padanya, baru pertama kenal, ia sudah percaya untuk menamakan modalnya di proyek kita,"papar Barley.


"Ehm, kalau aku sih melihat ketulusan dari matanya, "ucap Arief.


Keduanya punya argumen yang berbeda.


***


Marco dan Asistenya berjalan menuju menuju loby, dan di sana ia bertemu dengan Andini.


Melihat Marco, langkah Andini tercekak.


Marco pun menghampiri Andini yang menatapnya tajam.


"Selamat pagi Nyonya, " ucap Marco seraya menyunggingkan senyum menyeringai.


"Apa yang kau ingin kan Marco?" tanya Andini ketus.


" Oh sayang kau masih saja galak sama seperti dulu, tapi aku bukan Marco yang dulu, aku harap kau masih ingat dengan apa yang sudah kau lakukan terhadapku,"


Andini menatap lekat kearah Marco, rasa was-was muncul dalam hatinya, namun ia tak ingin menampakan kelemahannya.


Justru Andini bersikaf seolah menantang Marco.


"Puluhan tahun aku menunggu kesempatan ini sayang, lihat lah saja apa yang akan kulakukan padamu!"


"Bagaimana kalau aku kasih tahu Barley jika aku adalah ayahnya?"cetus Marco


Andini membelalak kaget, mendengar penuturan Marco.


"Beraninya kau bicara begitu, Barley itu putra ku dan suami ku!" sangkalnya.


"Oh begitu, lihat saja nanti aku atau aku yang benar," ucap Marco dengan penuh keyakinan.


Andini mendengus diafragmanya turun naik, sedangkan Marco ia kembali tersenyum menyeringai.


Rasa sakit hati dan dendam selama puluhan tahun tersebut sebentar lagi akan terbalaskan, ia berencana menghancurkan Andini dengan memamfaatkan Barley.


"Kenapa sayang, kenapa kau menatap ku seperti itu? Apa karna aku sudah tahu semua kebusukan mu?"tanya Marco dengan senyum mengejeknya.


Andini memebelalakan matanya, seraya mengepal tangannya manatap tajam kearah Marco.


He he he, tawa Marco mengejek.


"Dan satu lagi sayang, kau harus tahu jika saat ini aku sudah cukup bukti untuk menjerat mu atas kasus pencucian uang yang kau lakukan di perusahaan ku, sepertinya kau harus siap-siap menghabiskan masa tuamu di penjara," ucap Marco dengan senyum smirknya.


Mereka pun meninggalkan andini yang mematung.


Andini menatap ke pergian Marco.


Oh tidak, apa yang akan terjadi jika Barley tahu semuanya, lagi pula aku tak ingin di penjara.


Andini berfikir bagaimana caranya agar Marco tak melaporkannya dan tak memberi tahu kebenarannya tetang Barley.


Andini menyeritkan dahi karna ia terpikir sebuah rencana.


Hm satu-satunya cara agar semua tak terjadi ialah dengan menghabisi Marco.


Bersambung, mumpung hari senin, siapa tahu mau sedekah vote untuk author

__ADS_1


Iya,


__ADS_2