Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Kecolongan


__ADS_3

Makan malam yang dingin dimana tak ada sedikit pun kata yang keluar dari bibir kedua pasangan suami istri tersebut, hanya terdengar denting sendok dan garpu yang menyentuh piring keramik.


Andini tertunduk sambil sesekali melirik ke arah suaminya yang sedari tadi mengacukannya.


"Daddy, aku sudah minta maaf pada mu kenapa kau masih mendiami ku?"


Akhirnya kata-kata tersebut terlontar dari bibir Andini, karna ia merasa tidak nyaman dengan sikap tuan Hasta yang seolah menganggapnya tak ada.


Dan yang terpenting, ia sangat takut jika tuan Hasta tiba-tiba mengusirnya dari rumah ini, karna suaminya tersebut punya alasan yang kuat untuk melakukan hal itu.


Tuan Hasta tetap bergeming tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.


"Daddy!" rengek Andini.


"Aku sudah memesan tiket untuk perjalanan umbroh, jika kau ingin ikut dengan ku silahkan saja, tapi jika kau tak mau ikut, aku juga tak keberatan."


Ucap tuan Hasta dingin tanpa menoleh ke arah Andini.


Ehm, Andini sedikit kaget dengan penuturan suaminya tersebut.


"Tapi Daddy, jika aku pergi dan kau juga pergi, siapa yang akan mengurusi perusahaan kita.?" kilahnya memberi alasan padahal ia tak ingin jabatannya sebagai direktur kembali lengser.


"Terserah pada mu saja Mommy, aku mengajakmu menuju jalan kebaikan, tapi kau lebih memikirkan dunia."


"Ingatlah, sebanyak apa pun harta yang kau kumpulkan di dunia ini, kau hanya akan membawa kain putih saja jika tubuhmu masuk ke liang lahat."


" Jika kau hanya memikirkan dunia saja, kapan kau memikirkan akhirat mu, sampai berapa lama lagi kau tetap akan hidup di dunia ini, ingat sekarang kau sudah memasuki usia senja, kau tak akan menungkat dunia ini Mommy," ujar tuan Hasta.


Andini membelalakan matanya mendengar nasehat tuan Hasta.


Cuih menasehati ku, kau saja yang sudah tua, aku masih ingin menikmati kesenangan ku, memiliki kekuasaan, semua yang aku ingin semua ada di genggaman ku.


Hasta kembali melirik ke arah Andini yang sepertinya tak tertarik dengan tawarannya ia pun menggelengkan kepala.


"Yang penting aku sudah menasehati mu," ucap tuan Hasta sembari melanjutkan makan malamnya.


Andini melirik ke arah tuan Hasta kembali


Bukannya bagus jika kau pergi, maka kekuasaan akan berada di tangan ku.


Andini tersenyum menyeringai, dengan kepergian tuan Hasta dirinya bisa Lebih berkuasa.


***


Pertempuran sengit telah usai,


Namun sepertinya Santi masih terlihat acu terhadapnya.


Barley kembali menarik tubuh Santi dalam dekapannya.


"Kau kenapa masih marah?"tanya Barley seraya menyapu keringat yang mengalir pada kening Santi.


Santi hanya diam seraya mengkerucutkan bibirnya.


"Aku kan sudah minta maaf dan berjanji tak akan mengulanginya lagi, apa itu masih belum cukup?" tanya Barley.


"Jika kau bisa menerima kesalahan orang lain dan memaafkannya, kenapa kau tak bisa memaafkan kesalahan ku?"protes Barley.


"Seseorang yang dengan mudah di maafkan, pasti akan mudah mengulangi kesalahan yang sama," dengus Santi dengan cemberut, ia pun berusaha melepaskan lengan Barley yang melingkar di tubuhnya.


Santi beranjak ia merasa begitu gerah.


"Kau mau kemana?" tanya Barley yang ikut beranjak.


"Aku mau mandi, aku merasa kotor dan gerah," ucap Santi yang menggeser tubuhnya untuk turun dari ranjang.


"Kau disini saja biar aku yang menyiapkan air hangat untuk mu mandi,"


Barley turun dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi.


Beberapa saat kemudian ia kembali.

__ADS_1


" Mandilah Nyonya," ucap Barley mengulurukan tanganya ke arah Santi


Barley menarik pelan tangan Santi dan menuntunnya menuju kamar mandi, sesampainya di kamar mandi, Santi menutup pintu kamarnya.


Dor, bunyi pintu tertutup dengan kencang.


Barley kaget hampir saja wajahnya terkena dan menghantam daun pintu yang di tutup rapat oleh santi.


"Hai sayang! biarkan aku masuk!"


Barley mengetuk pintu kamar mandi sebenarna ia ingin mandi bersama.


"Kau mandinya nanti saja!"seru Santi dari dalam kamar mandi.


"Tapi kamar mandinya jangan di kunci! bagaimana kalau kau pingsan lagi?!"


"Is, Aku tak apa-apa!" teriak Santi kembali.


Wajar saja Barley khawatir, karna sebelumnya Santi pernah pingsan di dalam bathtub setelah mereka melakukan hubungan suami istri.


Barley menunggu dengan gelisah sembari mendengarkan pergerakan Santi di depan kamar mandi.


Setengah jam Santi keluar dengan bathrobe-nya dan handuk yang menutupi kepala.


Barely pun masuk kembali menuju kamar mandi.


Santi menarik sprey dan menyingkirkannya, ia pun menggantinya dengan sprey yang baru.


Krekk, suara perut Santi berbunyi, setelah di gempur sang suami barulah ia merasa lapar, tubuhnya juga terasa lemas.


"Aku lupa belum makan malam, huh mau turun tapi malas," keluhnya.


Barley yang baru keluar dari kamar mandi mendengar keluhan istrinya.


Perut terasa lapar tapi matanya mengantuk tubuhnya lelah juga dan ia lebih memilih untuk tidur dari pada turun untuk makan malam.


Santi merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, meski merasa mengantuk tapi matanya tak mau terlelap karna lapar.


"Tuan, apa yang kau lakukan di dapur?"tanya Santi.


"Kau duduk saja, aku sedang memasak untuk mu," sahut Barley.


Santi menyilangkan dadanya melihat Barley yang terlihat lihai memotong dan meracik bumbu.


"Kau bisa masak?"Santi meremehkan.


"Aku pernah kuliah di luar negri selama lima tahun, dan selama itu aku memasak sendiri," sahut Barley.


Santi tersenyum, "Hm apa benar kata orang ,salah satu ciri lelaki romantis ialah ia bisa memasak untuk pasangannya.


"Sudah selesai!" ucap Barley seraya menuang makan tersebut ke atas piring.


"Apa ini?" tanya Santi ketika melihat aneka sayuran dan potongan daging ayam dan sosis seperti capcai.


"Sudalah kau cicipi dulu, jika tidak enak kau bisa ludahkan makan itu ke wajah ku," ucap Barley yakin


"Wah aku tak sabar untuk meludahkan makanan tersebut ke wajah mu," sahut Santi sambil mengulum senyumnya.


"Tapi jika masakan ini enak, satu ronde tambahan untuk ku, " ucap Barley berbisik di tepi telinga Santi kemudian mencium pipinya.


Santi tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya


Hm


Mereka pun duduk di meja makan, Barley mengaut sepiring nasi untuk mereka, kemudian menyendoki sayuran tersebut dan menyuapi ke mulut Santi.


Santi mencicipi hidangan yang di sajikan oleh suaminya.


"Bagaimana enak?"tanya Barley.


"Ngak enak," ucap Santi seraya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya, sudah kau boleh ludahkan makan itu ke wajah ku, " ucap Barley seraya menyodorkan wajahnya mendekat ke wajah Santi.


Santi mengulum senyumnya ia pun mengusap wajah tampan suaminya tersebut, kemudian menciumnya.


"Aku kasih kecupan saja, wajah setampan ini tak pantas untuk di ludahi,"ucap Santi setelah memberi kecupan pada pipi suaminya.


Barley tersenyum dan merangkul Santi dari belakang"Apa itu bearti satu ronde tambahan untuk ku?" bisiknya kemudian mencium ceruk leher Santi hingga membuatnya merinding manja.


Barley menyatukan kening mereka kemudian mengesek hidung Santi ke hidungnya dan terakhir mengucup keningnya.


"Terima kasih karna telah memberi kesempan untuk ku, aku janji tak akan mengecewakan mu lagi," ucapnya seraya mengecup punggung tangan Santi.


Santi tersenyum.


"Ayo cepat habiskan makanan mu,"ucapnya seolah tak sabar.


Barley menyendok makanan ke mulut Santi hingga makanan tersebut hampir habis.


Santi pun merasa kekenyangan, hingga bersandar pada sandaran kursi.


"Sesendok lagi sayang," cetus Barley.


"Sudah Tuan aku kenyang, mata ku jadi ngantuk," ucapnya menutup mulut sambil menguap.


"Tidak bisa! aku tak bisa menerima alasan," ucap Barley, ia pun mengangkat tubuh istrinya ala bridal style.


"Sayang! perut ku begah beri waktu untuk mencernanya," Santi berusaha meronta dengan memukul dada bidang Barley.


"Aku punya cara lebih ampuh agar makanan tersebut bisa di cerna dengan cepat."


Barley tetap menggendong Santi membawanya melewati anak tangga.


Pria perkasa sepertinya tak merasa kewalahan menggendong tubuh mungil sang istri meski harus melewati anak tangga.


Santi menatap wajah tampan sang suami yang tersenyum ke arahnya, tak pernah terbayangkan sebelumnya jika ia bisa memiliki suami sesempurna Barley.


Sesampainya di kamar ia meletakan tubuh Santi dengan hati-hati dan membaringkannya dengan pelan.


Barley merayap perlahan di atas tubuhnya membuat Santi sedikit mengelinjang ia pun menahan tubuh sang suami dengan mendorong telapak tanganya agar tak menindih tubuhnya langsung.


"Sayang! aku ngantuk sekali, bisakan kita melakukannya esok hari?" Santi coba menawar.


"Hm, baiklah, tidurlah, " ucap Barley kemudian menarik tubuhnya.


Santi merasa lega, karna saat itu ia benar-benar mengantuk.


Santi menarik selimut kemudian memiringkan tubuhnya, seketika matanya terpejam dan terlelap tak sadar lagi.


***


Sinar mentari pagi masuk ke celah jendela, menyilaukan Santi ketika seseorang menyimbak gorden kamarnya.


Santi menerjab-nerjabkan matanya karna merasa silau, ia pun membuka mata dengan perlahan dan melihat Barley yang tengah duduk di sisi tempat tidur dengan lilitan handuk di pinggangnya.


" Selamat pagi sayang, ayo bangun karna kau harus mendampingi ku menghadiri acara penghargaan dari Ikatan Pengusaha Indinesia." Barley.


Ehm, Santi menyibak selimutnya dan mendapati tubuhnya yang bugil serta bagian bawahnya yang terasa basah.


"Kau_?" Santi melototkan matanya ke arah Barley yang tersenyum nakal ke arahnya.


"Kenapa? kau kecolongan lagi?"tanya Barley.


"Huh, dasar ngak mau rugi, aku pikir itu hanya mimpi," dengus Santi seraya menarik handuk yang melilit pada pinggang Barley, hingga membuat belalainya kelihatan.


Kemudian Barley dengan segera menutupi tubuhnya dengan handuk tersebut.


"Hey, itu handuk ku!" seru Barley seraya menarik selimut untuk menutupi belalainya.


Santi tersenyum, "Kenapa di tutupi, ternyata kau punya malu juga," cetus Santi ia pun menuju kamar mandi.


Bersambung ya guys. terima kasih karna masih setia

__ADS_1


__ADS_2