
Setelah berberes barang-barangnya Asyia,Andhra dan juga bu Riska membawa barang-barang mereka. Rencananya mereka akan berkeliling kota menggunakan bis pariwisata yang sudah di siapkan oleh panitia.
Double A itu berjalan melewati koridor dengan mendorong koper. Di belakang mereka selalu ada bu Riska yang selalu mengawasi dua sejoli tersebut.
Karna mengobrol panjang lebar, tak terasa mereka kini sampai di depan gedung beberapa buah bis pun menunggu mereka.
Keduanya pun mulai naik bis bersama peserta dari negara lain.
Asyia hendak naik tangga bis, tapi ia kesulitan karna tangga bis yang terlalu tinggi.
Seorang siswa berniat membantu Asyia dengan mengulurkan tangannya.
"Hold on. Give me your hand."
Asyia pun hendak mengulurkan tangannya,tapi Andhra menahan." Biar aku naik dulu." Andhra.
Andhra pun naik terlebih dahulu kemudian ia mengulurkan tangannya agar Asyia bisa naik.
Setelah Asyia naik, Andhra pun meninggakan pintu.
Bu Risaka menatap Andhra kesal.
"Andhra! Mentang-mentang Asyia sudah naik! Ibu kamu biarkan di bawah sini Ya! " Omel bu Riska.
Andhra pun berbalik ke depan pintu bis kembali.
"Ha ha iya Bu.Maaf," ucap Andhra dengan tawa terkekeh.
Andhra pun membantu bu Riska untuk naik ke dalam bis.
Setelah berada di dalam bis, mereka pun mencari kursi kosong.
"Ndra di sana saja kita duduk yuk."Asyia.
Hm.
Andhra pun ikut kemana Asyia membawanya.
Mereka pun berjalan melewati beberapa siswa-siswi yang menatapnya. Wajah tampan Andhra jadi pusat perhatian para siswi-siswi yang ada di bis tersebut.Namun, perhatian Andhra hanya tertuju pada gadis yang ada di hadapannya.
Setelah memastikan kursinya, Andhra membantu Asyia menyimpan koper pada bagasi yang di sediakan di atas tempat duduk mereka.
"Ndra aku duduk di tepi jendela ya." Asyia.
"Iya apa sih yang Ngak untuk tuan putriku," ucap Andhra sambil mengedip ngedipkan matanya.
"Ihs," Asyia mencubit mesra perut Andhra.
"Mulai lagi gombalnya Ndra! @cetus bu Riska sambil mengkerucutkan bibirnya ketika mendengar obrolan mereka.
Andhra tersenyum.
"Namanya juga usaha Bu." Andhra.
"Hm dasar modus."
Mereka pun duduk tenang di dalam mobil.
Sambil menunggu mobil berangkat, Andhra memutar lagu lewat handphonenya.
"Asyia mau dengar lagu ngak?" tanya Andhra seraya memasang salah satu headset di telinga Asyia, dan satunya di pasang di telinganya sendiri.
__ADS_1
Andhra tak pernah berbagi barang-barang pribadi dengan orang lain. Tapi kali ini ia berbagia apa saja dengan Asyia.
Mereka pun menikmati musik, bernyanyi bersama meski dengan suara yang lirih dan hanya terdengar untuk diri sendiri saja.
Dunia serasa milik berdua, keduanya tak hirau dengan apa yang terjadi,mereka terlihat asik sendiri.
Sebenarnya Asyia dan Andhra adalah type anak yang pendiam. Bicara hanya seperlunya saja. Karna itu meski duduk bersama sepanjang hari di bis pun tak banyak obrolan yang terjadi di antara mereka.
Setelah bis terisi penuh. Bis pun berangkat menuju suatu tempat.
Suasana di dalam bis sedikit berisik, kebanyakan mereka saling berinteraksi dengan peserta lainnya.Saling memperkenalkan diri dan saling berbagi pengalaman.
Tapi tidak Asyia dan Andhra. Keduanya tak pernah terlibat obolan dari peserta yang lain.
Apalagi Asyia yang selalu malu untuk memulai obolan dengan orang yang tak di kenal.Ia hanya tersenyum ketika berpapasan atau bertemu dengan peserta lain. Berbeda dengan Andhra yang tetap memasang muka juteknya, jadi tak ada yang berani menyapa Asyia karna selalu bersama Andhra.
Sekitar satu jam mereka pun tiba di kawasan the Royale plece sebuah museum yang dulunya di gunakan sebagai istana oleh kerajan Thailand.
Para peserta tersebut begitu antusias melihat istana dari peninggalan raja Thailand yang megah. Namun sayang saat itu wisata tersebut di tutup.
Setelah batal mengunjungi Royale place, mereka pun berjalan kaki menyusuri trotor di sepanjang pagar istana royale place.
Jalanan yang asri dan bersih membuat para peserta menikati perjalanan mereka, ada yang secara berkelompok karna sudah saling mengenal dengan para peserta lainya.
Begitu pun bu Riska yang juga asik mengobol sembari berjalan kaki menyusuru trotoar dengan para mentor lainnya.
Cuaca cukup cerah saat itu. Namun , tak menyengat. Andhra mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya yakni sebuah topi hitam yang terukir inisial namanya A.
Ia pun memakaikan topi tersebut pada Asyia. Karna Andhra sendiri tahu. Asyia tak boleh terkena panas terlalu lama.
"Pakai topi Sya."
Asyia memang tak boleh terlalu lama terkena sinar matahri, jtulah sebabnya Andhra memberi gelar pada Asyia sebagai gadis vampire.
Beberapa menit berjalan Asyia pun berhenti. Ia merasa begitu lelah dengan keringat yang mengucur deras pada tubuhnya.
"Kenapa Asyia?" tanya Andhra.
"Aku lemas Ndra," ucap Asyia, Ia pun duduk di tepi trotoar.
"Ya sudah istirahat saja," ucap Andhra seraya duduk di samping Asyia.
Bu Riska menghampiri Asyia dan Andhra dengan cemas.
"Asyia kenapa Ndra?" tanya bu Riska.
"Kelelahan saja Bu." Andhra.
"Ya sudah kita tunggu Asyia baik kan baru kita menyusul mereka." Bu Riska.
Asyia merasa tak enak dengan kedua orang itu. Ia pun menguatkan diri untuk menuju destinasi selanjutnya. Yakni Wat Pho atau lebih di kenal dengan patung Budha berbaring.
Setelah beberapa kali menarik napasnya, Asyia hendak bangkit.
"Sudah yuk Ndra,ucap Asyia. Ia pun berdiri.
"Kamu yakin? " tanya Andhra.
"Kalau ngak kuat, kita istirahat di bis saja." Andhra.
"Ngak, aku kuat kok kita jalannya pelan-pelan saja." Asyia.
__ADS_1
"Ya sudah." Andhra pun menarik tangan Asyia, kemudian menggenggam tangannya.
Mereka bertiga kembali jalan beriringan.
Tak lama mereka pun sampai di kuil tersebut. Rasa lelah Asyia seolah terbayar lunas ketika melihat komplek kuil yang megah dan indah tersebut. Baru tiba saja mereka sudah di sambut dengan ramah oleh juru kunci kuil tersebut.
Asyia menatap kagum pahatan beberapa patung Budha yang berderet di salah satu.kuil. Ada juga pelancong yang ikut berdoa di salah satu kuil lainnya.
Di Wat Pho mereka bebas kemana saja, asal tetap berada di kawasan kuil.
"Ndra, aku ngak sabar lihat patung Budha berbaring Ndra." Asyia.
"Aku juga," Andhra.
"Yuk Ndra langsung saja kita lihat patungnya."
Mereka pun berjalan menuju kuil utama.
Rombongan mereka ternyata telah berkumpul di kuil tersebut. Asyia bersemangat sekali ia begitu ingin melihat patung budha raksasa yang berbaring. dengan panjang 26 meter tersebut
"Wah, amazing. Akhirnya aku sampai juga di tempat ini."Asyia.
Andhra hanya terseyum melihat reaksi Asyia
Momen yang sangat langkah, Asyia pun meraih smartphonenya yang ada di tas selempangnya.
"Ndra !kita foto Ndra!" Serunya.
Ehm Andhra semakin mendekati Asyia.
Mereka pun berselfi ria. dengan berbagai fose romantisnya, Tak hanya Andhra dan.Asyia tapi juga bu Risaka.
Mereka benar-benar menikmati waktu tersebut.
Setelah berjam-jam menikmati wisata di kuil, mereka pun bersiap untuk pulang.
Sebelumnya Asyia memang terlihat lelah. Namun, ia terus memaksakan dirinya.
Untuk pulang mereka harus kembali berjalan kaki menyusuri trotoar.
Andhra dan Asyia berjalan beriringan.xi tengah jalan, ia merasakan sakit pada bagian dadanya.
Asyia terus memaksakan diri, meski dadanya terasa sakit.Ia tak ingin merepotkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia pun terus berjalan melangkah bersama Andhra.
Setelah memaksakan diri, akhirnya mereka sampai juga di dalam bis.
Mereka pun berbondong-bondong masuk ke dalam bis.
Mereka pun membiarkan peserta lainya mencafi bangku.
Asyia sudah berjalan sempoyongan, dengan memegang dadanya yang terasa sakit. Padahal tinggal sedikit lagi mereka akan sampai di bis
Sesampainya di bis, ia melepas genggaman tangan Andhra, seketika ia merasa tubuhnya terasa ringan dengan detak jantung yang kencang , Asyia pun tumbang di hadapan Andhra ,beruntung Andhra segera menyambar tubuhnya yang sudah tak sadarkan diri.
"Asyia !" Andhra.
Hm apa yang terjadi selanjutnya ya?
Bersambung dulu ya guys. Maaf author cuma bisa up dikit. In shaa Allah besok up.lagi.๐
Berhubung sebentar lagi idul fitri author mohon maaf lahir batin ya. Maaf jika episodenya tak se sweet yang kemarin. Yah namanya hidup pasti ada suka dukanya dong. ๐Nantikan terus ya episode selanjutnya. ๐
__ADS_1