
Matahari belum pun terbit yang terdengar hanya suara azan subuh dan suara orang yang seperti muntah-muntah di kamar mandi.
Santi menerjabkan matanya beberapa kali kemudian mengedar pandangannya ke sekeliling, suara Azan berhenti namun suara seseorang yang muntah masih terdengar lirih di telinganya.
"Hm, siapa yang di kamar mandi?"guman Santi, ia pun melirik kearah samping.
"Ah, tuan, kenapa ia muntah-muntah."
Santi kaget dan langsung menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya yang masih polos.
Ia pun berjalan menuju tempat ia menggantungkan bathrobes nya.
Santi berjalan lemah menuju kamar mandi.
Huek, Barley kembali muntah, tapi tak mengeluarkan sesuatu apa pun dari dalam mulutnya.
"Sayang kau kenapa?"tanya Santi sambil memijat tengkuk Barley.
"Aku merasa mual dan ingin muntah, tapi aku tak memuntah kan apa pun," ucap Barley .
"Yah sudah ayo kembali ke kamar, biar aku kerok dengan minyak angin." Santi.
"Apa? aku tak suka mencium bau minyak angin,seperti bau nenek-nenek," dengus Barley.
"Sayang sekarang tuh minyak angin ada yang ber aroma therapy, jadi ngak usah khawatir."
"Ayo!" ajaknya, Santi pun menarik tangan suaminya dan menuntunnya menuju tempat tidur.
Sesampainya di tempat tidur, Santi meminta Barley untuk tengkurap.
"Berbaring lah sayang, "ucap Santi sementara ia menuju laci obat ya g ada di meja riasnya.
Santi mengambil uang koin dan salah satu minyak angin beraroma teraphy.
Santi pun mengerok tubuh Barley dengan menulis diatas tubuh Barley, 'Aku cantik sedangkan kamu jelek.'
Ia pun terkekeh sendiri dengan ke usilannya.
"Sayang kenapa cara kamu ngerok beda sih?"gumannya dengan mata yang terpejam.
"Ah ini cara yang ampuh sayang, sudah kau tidur saja," ucap Santi dengan semyum mengulum melihat tulisan merah di tubuh Barley.
Barley pun kembali terlelap setelah di pijit pelan oleh istrinya, sementara Santi ia kembali melanjutkan ritual mandinya.
Santi membuka jendela dari kamarnya kemudian menuju balkon untuk menghirup udara segar.
Tiba-tiba ia merasa lapar.
Ia pun turun dari lantai atas menuju dapur, ketika melewati kamar mertuanya, Santi melihat Andini mengendap-ngendap menuju ruang kerja tuan Hasta.
"Kenapa Mommy mengendap-ngendap ke ruangan Daddy,mencurigakan."guman Santi.
ia pun berjalan pelan untuk membuntuti nenek sihir tersebut untuk melihat apa yang di lakukannya.
Andini membuka pintu dari ruang kerja tuan Hasta.
"Aku harus dapatkan berkas tersebut dan mengubahnya ini tak boleh di biarkan, Santi tak boleh mendapatkan bagian harta dari suami ku."
Andini menggeledah dan membongkar beberapa berkas.
__ADS_1
Akhirnya ia pun mendapatkan apa yang ia mau.
Andini membaca daftaar penerima warisan tuan Hasta dan melihat memang namanya tak tertera dalam surat wasiat itu.
Seketika matanya membulat sempurna dengan urat mata yang bertonjolan, dan
yang lebih membuatnya kaget adalah kepemilikan rumah ini jatuh pada santi dan anak yang ada dikandungnya.
"Sialan apa maksud Daddy dengan semua ini, kenapa ia lebih memilih Santi dan anaknya yang mewariskan rumah ini dari pada diriku."
"Andini mendengus, tidak bisa di biarkan, perempuan miskin itu sudah merebut putra ku dan sekarang ia merebut hati suami ku, atau jangan-jangan di belakang ku Santi malah merayu suami ku agar mendapatkan harta dari suami ku."
Bola mata Andini berpendar melihat kesekeliling.
Andini kembali lagi menuju kamarnya,ia bernaksud untuk melayangkan protes kepada suaminya.
Santi tak mendengar apa pun yang di ucapkan Andini.
"Apa yang di lakukan Mommy,"santi mengangkat kedua bahunya.
Ia pun menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Barley.
Beberapa potong roti tersedia di atas piring dengan dua gelas minuman hangat.
Santi membawa nampan tersebut menuju kamarnya, rencananya ia akan sarapan bersama Barley.
Sebelum itu ia menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Santi mendekat kearah Barley sedang terlelap.
"Sayang bangun,"ucap Santi seraya mengguncang pelan tubuh Barley.
Barley menerjab-nerjabkan matanya dan melihat Santi yang ada di sampingnya.
"Hm,agak mendingan," ucap Barley.
"Aku bawakan kau sarapan," Santi meraih nampan dan memangkunya, kemudian ia memotong roti dan menyuapkan ke mulut Barley.
Ďengan senang hati Barley membuka mulutnya,Santi bergantian menyuap dirinya dan Barley.
Sarapan sudah selesai, sepiring roti lapis dan dua gelas minuman hangat tandas.
"Sayang kau mandilah, air hangat mu sudah ku siapkan, aku juga sudah menyiapkan pakaianmu" ucap Santi.
"Ehm sayang,kau baik sekali hari ini,"ucap Barley seraya memeluk mengecup perut ramping Santi.
Barley merebah kan kepalanya di atas pangkuan Santi.
Santi tersenyum seraya mengusap rambut suaminya.
Kenapa suami ku jadi manja seperti ini.
"Ayolah sayang, nanti kau terlambat,"ucap Santi.
Barley bangkit dan menuju kamar mandi,setengah jam kemudian ia keluar.
Sementara Santi mempersiapkan pakaian suaminya.
Barley menuju meja rias dan meraih hand body khusus pria, tapi lagi-lagi ia merasa mual.
__ADS_1
Uek, ia pun berlari kekamar mandi.
Santi yang membereskan tepat tidurnya lansung menghampiri Barley.
"Sayang kau kenapa?"tanya Santi.
"Uek, entalah kenapa aku merasa mual saat mencium hand body itu," sahutnya seraya mencuci wajahnya.
Santi mengulum senyumnya melihat tulisan merah di tubuh sang suami.
Walau saat itu ia khawatir, tapi rasa geli menggeliknya melihat hasil kerokannya.
Setelah merasa baikan, ia pun kembali ke kamar.
Barley meraih deodoran tapi kali ini ia tak menggunakan miliknya, tapi menggunakan milik Santi, begitupun dengan hand body, kali ini ia menggunakan hand body milik Santi dan tak terjadi sesuatu, justru ia menikmati wanginya yang lembut dan feminim itu.
Santi masih sibuk membereskan tempat tidurnya, tiba-tiba saja aroma lembut dari bunga orchids tercium semerbak di kamar tersebut.
Hidung Santi mendengus, ia pun melirik ke arah Barley yang sedang menyemprot farpum miliknya.
"Sayang, kenapa kau gunakan parfum milik ku?"tanya Santi seraya menghampiri Barley.
"Ehm entalah sayang, kenapa aku sepertinya menyukai wangi parfummu justru aku mual mencium bau parfum ku sendiri, "ucap Barley.
Deg,
Ada apa suami ku.
Wati masuk ke kamar dan tanpa sengaja membaca tulisan di tubuh Barley.
Rasanya ia ingin tertawa melihat keisengan Santi.
Shut... Santi
jari telunjuk Santi berdiri vertikal di bibirnya seraya melirik Barley.
Wati hanya bisa mengulum senyumnya.
"Sayang kau yakin akan ke kantor dengan aroma parfum seperti ini?"tanya Santi seraya membantu Barley mengenakan kemejanya.
"Memangnya kenapa sayang?"tanya Barley balik.
"Hm, kau semakin hari kenapa semakin aneh saja," dengus Santi seraya menyimpul dasi suaminya.
"Aneh? kenapa?"tanya Barley seraya mengenakan jam tangan.
"Ehm,kenapa kau malah menyukai aroma parfum ku dan memakainya? jangan-jangan kau_?
"Aku ini jantan, kau sudah bukti kan sendirikan?" dengus Barley.
"Aku pergi dulu, jaga diri mu," ucap Barley.
Ia pun mengecup kening, bibir dan pipi Santi.
Santi menatap kepergian suaminya dengan tersenyum.
"Ada apa dengan suami ku Ya?"
Wah Barley kenapa ya, maaf Ya author belum bisa up banyak nih ada kesibukan sedikit, moga masih setia, Nah yang suka bucin-bucin, nih mampir di novel berikut ya, dengan judul : Anak sultan milik Ceo
__ADS_1