Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Patah Hati


__ADS_3

Anggi dan Chandra tiba di rumah Arief.


Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi keduanya pun langsung menuju pintu.


"Eh Chan, kira-kira pak Arief jam segini lagi ngapain ya? " tanya Anggi seraya jalan beriringan.


"Jualan gorengan Ngi, " sahut Chandra asal.


Anggi mendelik ke arah Chandra.


"Habis loh nanya ke gue pak Arief ngapain jam segini , ya mana gue tahu. Emang gue mak-nya? " Chandra.


Anggi semakin kesal, ia pun melirik tajam kearah Chandra.


"loh makin hari makin ngeselin Chan, Pantesan saja jabatan loh ngak naik-naik, " dengus Anggi.


"Biarin ngak naik jabatan , yang penting gaji gue naik kok, gue juga sering dapat bonus lagi dari tuan Barley setiap bulannya," sahut Chandra sedikit membanggakan diri.


"Ih udalah ngak usah songong loh, kembali ke topik awal, kira-kira pak Arief merasa terganggu nggak ya dengan kehadiran kita? " tanya Anggi lagi.


"Kalau kehadiran gue sih Nggak kayak nya, tapi ngak tahu juga kalau kehadiran lo," sahut Chandra.


"Is, Emang apa bedanya kita? " tanya Anggi seraya mengkerucutkan bibirnya.


"Yah kalau gue kan tulus memang mau melihat keponakannya pak Arief , kalau loh kan ada niat nggak baik , mau godaain pak Arief. " cetus Chandra dengan santai.


" Is Emang kenapa, gue ngak godain pak Arief cuma cari perhatian saja he he ? namanya juga usaha Chan,? " Anggi.


"Iya kali ya. Usaha loh sudah maksimal banget! dari cara normal sampai cara abnormal sampai ke dukun segala, " cetus Chandra.


"Is suka-suka gue." Anggi.


Mereka pun tiba di depan pintu rumah Arief.


Setelah menekan bell, beberapa saat kemudian pintu rumah Arief terbuka.


Seorang wanita paruh baya menyambut ramah kedatangan mereka.


"Ehm selamat sore, sapa Chandra."


"Iya mau cari siapa ya? "tanya bik Sumi.


"Kami rekan kerja pak Arief, pak Arief ada?" Chandra


"Oh ada.Silahkan masuk, "ucap bik Sumi.


Keduanya pun masuk kedalam rumah, saat itu Dinar tengah menggendong Asyia di ruang tamu .


Melihat kedatangan kedua orang tersebut , Dinar bermaksud masuk ke dalam rumah.Namun di cegah oleh Anggi.


"Ehm dek!" seru Anggi kepada Dinar karena Dinar memang terlihat masih polos.


"Iya? "


Dinar menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Anggi menghampiri gadis tersebut.


"Ini keponakannya pak Arief? "tanya Anggi seraya mengintip wajah Asyia yang sedang tertidur dalam dekapan Dinar.


"Iya Mbak."


"Kalau begitu bisa saya gendong? "tanya Anggi.


"Ehm nggak bisa mbak, nanti Asyia bangun, Ntar saja kalau dia sudah bangun,' ucap Dinar.


"Oh iya ngga apa, tapi kamu jangan pergi ya, aku mau lihat bayi-nya. " Anggi.


"Iya Mbak. "


Anggi dan Dinar duduk bersebelahan, begipun Chandra yang duduk berhadapan dengan mereka.


Tak lama berselang, Arief keluar menemui mereka.


"Eh Chan, Ngi. Dari mana?," sapa Arief.


"Ehm dari rumah, kita hanya ingin melihat keponakannya pak Arief." Chandra.


"Iya Pak aku dan Chandra juga bawa hadiah untuk keponakan Bapak," ucap Anggi seraya meletakan goodie bag di atas meja.


"Alhamdulillah, Asyia kamu dapat hadiah lagi." Arief.


Baru saja mereka ngobrol, tiba -tiba saja sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumah Arief.


Arief dan Chandra menoleh ke arah mobil yang baru saja tiba tersebut, tentu nya mereka tahu siapa yang datang.


Begitu pun sosok yang ada di belakang mereka.


Glek,


Keduanya menelan ludahnya ketika melihat Barley dan Santi perlahan memasuki rumah Arief.


Pasalnya suasana akan terasa kaku jika ada tuan muda mereka.


Arief tersenyum kemudian ia berdiri menyambut tamu istimewa tersebut.


"Assalamualaikum," sapa Barley.


"Waalaikum salam, Tuan." Arief.


Mereka pun masuk kedalam rumah.


Chandra, Anggi dan Dinar pun ikut berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Silahkan duduk, Tuan-nyonya ",Arief mempersilakan mereka.


Mereka pun duduk pada posisi masing masing.


Barley tersenyum ketika melihat Anggi dan Chandra yang kebetulan juga datang di saat hampir bersamaan.


"Wah kebetulan ada kalian berdua ,"cetus Barley.

__ADS_1


Barley meletakan satu tas besar pakaian dan peralatan bayi yang beberapa waktu yang lalu ia beli.


"Ada apa Tuan? "tanya Chandra.


"Begini Rif kedatangan ku kesini selain ingin melihat keadaan Asyia, aku juga ingin mengajak mu untuk ikut serta dalam acara lamaran Daddy ku. Kau tahu sendiri, kami tak punya keluarga dekat saat ini," jelas Barley.


"Begitu pun kau Chandra dan Anggi, aku juga mengundang kalian untuk ikut acara lamaran Daddy ku." Barley.


"Kapan itu Tuan? "tanya Arief.


"Minggu nanti Rif, "sahut Barley.


Arief pun tersenyum simpul." Maaf Tuan, bukannya saya tidak mau, tapi minggu ini rencananya, saya juga akan pulang kampung untuk melamar Dinar," ucap Arief seraya tersenyum melirik ke arah Dinar.


Gubrak ...kreak... break.., bagai tersambar petir saat itu hati Anggi hancur seketika.


Anggi berusaha menahan air matanya, ia pun melirik ke arah gadis manis nan ayu yang ada di sampingnya.


'Apa? pak Arief malah memilih gadis kampungan ini, dari pada aku,'batin Anggi, seketika ia menatap sinis kearah gadis tersebut.


Dinar merasa jengah karena kini dirinya jadi pusat perhatian orang-orang yang melihat ke arahnya.


Chandra tersenyum miris melihat Anggi yang terlihat terluka dan patah hati.


Semua mata tertuju pada Dinar saat itu, mereka tersenyum seraya melirik ke arah gadis yang sedang menggendong Asyia.


"Wah kebetulan sekali Rif, tapi kenapa sebelumnya kau tak memberi tahuku? sepertinya mendadak," tanya Barley yang terlihat bahagia menyambut berita bahagia tersebut.


"Ehm panjangnya cerinya tuan," ucap Arief yang tersipu.


Tuan Marco dan Wati saling melempar senyum.


"Benar Nak Arief jika sudah merasa cocok untuk apa menunda waktu, ha ha," cetus tuan Marco yang seperti menyindir dirinya sendiri.


"Iya Tuan, dari pada terjadi fitnah." Arief.


Anggi berusaha menahan rasa sesak di dadanya, Chandra yang duduk di sampingnya mengusap punggung Anggi untuk menenangkannya.


Ingin rasanya ia pergi dari tempat tersebut. Namun akan terlihat tidak sopan, mengingan ada tuan dan yg tuan muda-nya ada di sana.


"Ya sudah Rif, kamu lanjutkan saja rencana kamu, semoga sukses dengan acara lamarannya. " Barley.


"Terima kasih Tuan," ucap Arief .


"Chandra dan Anggi kalian bisa ikut kami kan? "tanya Barley sambil melirik ke arah keduanya.


"In shaa Allah Tuan," Chandra.


Setelah itu mereka pun ngobrol sambil bersantai, berbicara tentang hal ringan jauh dari masalah bisnis, Chandra terlihat asik mendengar para bos tersebut bicara, sementara Anggi merasa bete, ia juga tak menyukai hadirnya Santi yang di rasanya telah merebut Barley.


Kini harapan Anggi untuk menikahi salah satu dari bosnya tersebut hanya tinggal mimpi.


Bersambung, reader. Terima kasih atas doa dan dukungan reader tersayang, maaf ya aku belum sempat balas, in shaa Allah hari ini aq crazy up lagi, mohon dukungannya, dengan like, komen saran, hadia dan votenya.


Terima kasih, semoga kita selalu di karuniai kesehatan selalu Aamiin

__ADS_1


__ADS_2