
Setelah mengantar suaminya di depan pintu, Santi menghampiri tuan Marco yang sedang bersantai di ruang tengah dengan membawa obat dan beberapa vitamin.
"Daddy, minum obat dan vitaminnya dulu," ucap Santi seraya meletakan nampan di atas meja, Santi pun memberi beberapa obat kepada tuan Marco.
Dengan senang hati, ia meraih dan meminumnya langsung.
Segelas air putih pun tandas, hanya menyisakan gelas kosong.
Santi tersenyum melihat mertuanya tersebut.
"Wah Daddy, semangat sekali minum obatnya," goda Santi dengan mengunggingkan senyum.
"Semangat dong, karna yang merawat Daddy suster cantik,"sahut tuan Marco membalas menggoda Santi.
Keduanya pun saling melempar senyum
"Ah masa' iya karna Santi, bukan karna mbak Wati ya?" cetus Santi seraya tersenyum menggoda tuan Marco lagi, ia pun tersenyum.
Seketika pipi tuan Marco merona, ia pun terlihat jengah dengan wajah yang tersipu malu, seperti seorang remaja yang sedang di landa asmara.
Santi tersenyum, "Ah Daddy! lihatlah pipimu merona, kau sedang jatuh cinta ya?" ledeknya dengan bercanda.
"Ha ha ha, Santi, Santi. Pria tua seperti ku ini, mana bisa jatuh cinta, sudah kadar luasa! ha ha," sahut tuan Marco dengan tawa renyahnya.
Santi pun tertawa kecil melihat kebahagian orang tua yang begitu merindukan hangatnya kasih sayang keluarga tersebut.
"Jangan bicara seperti itu Daddy, cinta hadir kapan saja dan dimana saja, apa lagi Daddy masih terlihat tampan dan gagah, pasti masih bayak wanita yang mencintai Daddy dengan tulus," tutur Santi memberi semangat.
"Ehm benarkah begitu Santi?"tanya tuan Marco dengan semangat.
"Iya Daddy, percayalah. Pria baik seperti Daddy pasti dapat pendamping hidup yang baik juga, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk Daddy semua akan indah pada waktunya."Santi.
Tuan Marco sumringah, ia memang mendambakan pendamping hidup yang setia dan mencintainya, bukan hanya sekedar mengejar hartanya.
Wati yang sedang mencuci piring tersenyum mendengar obrolan keduanya, Inem pun menghampiri.
"Wah Wati, mujur banget nasib kamu kalau bisa sampe menikah dengan Tuan Marco, kamu bisa jadi ibu sambung dari tuan muda, selain itu kamu juga jadi ratu ngak jadi babu lagi," ucap Inem seraya menghayal.
Wati hanya tersenyum,' Seandainya saja itu benar, pasti aku bahagia sekali,'batin Wati senyum pun tak lekang dari wajahnya.
"Aduh, sayangnya tuan muda cuma punya dua ayah, coba kalau punya satu lagi, aku pasti mengantri lebih dulu untuk jadi ibu sambungnya, ha ha ha," ucapnya sambil tertawa lepas.
Wati pun tersenyum penuh harap.
***
Barley dan Arief berjalan perlahan menuju loby, kedua eksetutif muda yang penuh karisma tersebut berjalan dengan tegak hingga menjadi pusat perhatian.
Barley melihat senyum menyeringai dari tuan Alex, namun hanya di tertawai olehnya.
"Rif lihatlah mereka, apa kau memikirkan hal yang sama dengan ku?"tanya Arief.
"Sepertinya begitu Tuan, lalu apa yang akan Tuan lakukan?" tanya Arief seraya melirik ke arah Barley.
"Kita ikuti saja permainan mereka Rif, bersikaf manislah, aku ingin tahu trik seperti apa yang mereka mainkan," guman Barley.
Arief hanya tersenyum, keduanya pun mulai berakting layaknya pengusaha yang bodoh dan tolol.
"Selamat pagi tuan Alex," sapa Barley sok ramah.
__ADS_1
Begitupun Arief yang bersikaf ramah, di hadapan tuan Alex.
"Selamat pagi Tuan-Tuan, sapa Alex," mereka pun menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
Keduanya pun menyambut baik uluran tangan tuan Marco.
Cintya melirik ke arah Barley dengan tatapan berbinar, ' Wah dia lebih tampan dari yang kusangka, bertubuh tegap dan gagah, sungguh aku seperti mendapat jackpot jika bisa memilikinya,'batin Cintya yang tersenyum menatap Barley.
"Ehm Tuan-Tuan perkenalkan ini putri saya Cintya, baru saja pulang dari negri Belanda rencananya Cintya akan belajar berbisnis jadi saya akan bawa dia di beberapa kesempatan agar ia bisa segera terjun di dunia bisnis." tuan Alex.
Barley menoleh ke arah Cintya tersenyum manis di hadapan wanita tersebut, membuat Cintya semakin percaya diri jika Barley tertarik padanya.
"Wah tuan Alex, putrimu cantik sekali, sayang sekali aku sudah menikah, jika tidak, mungkin saja aku mempersuntingnya sebagai istri, iya kan Rief?" tanya Barley memancing.
Arief hanya tersenyu.
"Ha ha ha, Tuan. Pria sepertimu jangankan punya satu istri, dua tiga juga tak masalah," sambung tuan Alex yang coba memancing.
Mendengar ucapan Alex, Barley dan Arief saling memandang, mereka pun saling melempar senyum, karna sudah tahu trik apa yang akan di gunakan Alex untuk memperdayanya.
"Baiklah Tuan Alex kita langsung saja, aku kesini sekedar mewakili Daddy ku, aku ingin mendengar tawaran anda tentang saham tersebut." Barley.
"Eh kalau begitu silahkan Tuan-tuan masuk ke ruangan saya, kita akan bicarakan,"ucap Alex.
Mereka pun masuk menuju ruangan tuan Alex, keduanya duduk saling berhada-hadapan.
Barley menyandar kan punggungnya pada sandaran sofa yang empuk dengan tangan kiri yang merentang pada sandaran sopa bagian atas, seraya melipat kakinya.
Barley memang terlihat angkuh dan sombong jika berhadapan pengusaha licik seperti tuan Alex.
"Langsung to the ponit saja Tuan," ucap Barley tegas.
Barley tertawa kecil mendengar ucapan tuan Alex.
"Maaf Tuan bisnis tetap bisnis, jika harga saham dan perusahaan anda sedang mengalami kritis, kenapa saya harus repot membeli saham pada perusahaan yang hampir bangkrut ini ! jika saya bisa memilih dan membeli saham perusahaan besar dan tengah berkembang, tentu ini hanya membuang waktu, uang dan tenaga saya Saja!" papar Barley dengan tegas., ia pun menatap tajam kearah tuan Alex yang seperti kebinggungan menghadapi Barley.
'Benar kata orang tuan muda ini tak gampang di taklukan' batin tuan Alex.
"Tapi Tuan saya sudah sepakat dengan tuan Marco, tentang hal ini," sahut tuan Alex.
Iya pun gelisah karna jika rencananya gagal, perusahaannya bisa gulung tikar dan rumahnya pun bisa di sita oleh bank, mereka bisa benar-benar jadi gembel.
"Lalu apa mau mu Tuan ?"tanya tuan Alex dengan jantung yang bedetak kencang.
"Jika bisa, aku ingin memiliki 60 % saham mu biar aku yang ambil alih perusahaan mu, dengan demikian perusahaan ini akan tetap beroperasi dan kau tak kehilangan rumah juga usaha mu bukan? jika kau suatu saat kau punya uang dan ingin mengambil perusahaan mu kembali, aku persilahkan," ucap Barley.
Tuan Alex menjadi kelabakan sungguh sebuah pilihan yang sulit baginya, jika Barley memiliki saham terbesar, kemungkinan besar dia yang akan mengambil alih perusahaannya tersebut, tapi jika tidak, maka perusahaan tersebut akan bangkrut dengan menyisakan hutang hingga ratusan miliar, rumah dan seluruh aset akan di sita untuk melunasi hutang, mereka pun akan menjadi gelandangan.
Tuan Alex semakin resah.
Barley tersenyum menyeringai melihat tuan Alex yang gelisah.
"Tak perlu terburu-buru Tuan, pikirkan dulu, setelah itu baru kita bicarakan langkah selanjutnya, "ucap Barley.
"Baiklah," sahut tuan Alex.
"Kalau begitu kami permisi dulu," ucap Barley seraya berdiri menyalami tuan Alex.
Keduanya pun menyambut jabatan tangan kedua pria tampan tersebut.
__ADS_1
Arif dan Barley keluar dari ruangan tersebut.
Tuan Alex emosi ia menendang kaki meja dengan kuat"Sial! berani-beraninya ia berkata seperti itu! dia justru ingin menguasi perusahaan ku! benar-benar licik!" dengus Alex yang kembali menendang apa saja yang ada di hadapannya untuk meluapkan emosinya tersebut.
Melihat tuan Alex mengamuk Cintya coba menenengkannya.
"Papi tenang saja, biar aku yang merayunya, lagi pula sepertinya ia menyukai ku," ucap Cintya dengan penuh percaya diri.
Tuan Alex melirik ke arah Cintya kemudian mendekati putrinya," Kali ini kau harus bisa di andalkan Cintya! ini satu-satunya cara agar perusahaan ini tetap jadi milik kita!"
Cintya tersenyum," Sudahlah Papi serahkan saja pada ku," ucap Cintya menatap penuh keyakinan .
"Baiklah! lakukan apa saja asal tujuan kita berhasil! tuan Alex.
Cintya pun tersenyum menyeringai, ayah dan anak ini sama-sama licik.
***
Di dalam mobil,
Barley tertawa kecil.
Arief apa kau tak lihat wajah tuan Alex, ketika aku mengatakan ingin memiliki psrusahaannya?"tanya Barley dengan senyumnya.
"Tentu saja lihat Tuan, aku heran kenapa kau terlihat berambisi memiliki perusahannya tuan Alex, ku pikir kau tak berminat."
"Ha ha, jujur saja aku tak berminat Arief, aku hanya ingin mempermainkannya, sebagaimana ia pernah mempermainkan Daddy Hasta dulu, dan sekarang dia datang pada Daddy ku untuk meminta suntikan dana, kau tak tahu betapa liciknya Alex, dunia bisnis ini kejam hanya ada dua pilihan, memakan atau dimakan!" Barley.
Hm, Arief mendengar penuturan Barley seraya menyetir.
"Aku pikir dia akan menjodohkan mu dengan putrinya," cetus Arief.
"Hm, Sepertinya itu rencana Alex selanjutnya Rif, dia pikir aku mudah tertipu dengan bujuk rayu wanita," guman Barley seraya melirik ke arah Arief.
"Bagaimana kalau kau saja yang menikahi putrinya tuan Alex?" tanya Barley seraya melirik ke arah Arief kembali, tiba-tiba saja tercetus ide di kepalanya.
"Ha ha, aku butuh seorang istri untuk melayani ku Tuan, bukan aku yang melayaninya, wanita sepertinya tak akan sudi mengurus keponakanku," sahut Arief sambil tersenyum.
Barley pun tersenyum," Apa lagi aku Rif, aku tak akan merusak kebahagian ku hanya untuk memuaskan hasrat sesaat ku, satu istri ku rasa sudah cukup, apalagi sebentar lagi kami memiliki putra, rasanya kebahagiaan ku sudah lengkap, jadi buat apa cari masalah."Barley.
Orang seperti mereka biasanya akan menggunakan cara licik Tuan, sebaiknya kau hati-hati, dengan apa yang kau miliki sekarang akan semakin banyak orang yang ingin menghancurkan mu dari pada melihat mu bahagia," nasehat Arief.
"Hm, aku ini buaya Rif ,jadi tak akan mudah untuk di kadali, aku sudah sering menghadapi trik murahan seperti ini, tapi tak ada salahnya kita bermain-main dengan mereka sebelum menghancurkannya. " Barley.
" Hm Kenapa ya seorang pengusaha rela menikahkan anak mereka dengan orang yang tak mereka kenal demi menyelamatkan perusahaan mereka?"Barley.
"Entalah Tuan aku bukan pengusaha," sahut Arief.
"Hm Dulu sebelum aku menikah, banyak sekali pengusaha yang ingin menjodohkan putrinya kepada ku, untung saja Daddy tak pernah memaksa ku untuk menikah, dia membiarkan aku memilih apa yang ku mau," papar Barley.
Arief tersenyum melirik ke arah Barley.
" Kau sungguh beruntung Tuan! memiliki dua Daddy yang menyayangi mu," cetus Arief.
"Kau benar Rif, ini suatu keberuntungan bagi ku."
Keduanya pun tersenyum.
Bersambung.
__ADS_1
Nantikan terus episode selanjutnya ya reader, tekan ikon ♡ favorite in maka akan ada notifikasinya, agar tak ketinggalan episode terbarunya, terima kasih semoga sehat selalu untuk kita semua.