Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Selalu Memaksa


__ADS_3

Wati mendatangi kamar Santi," ini sarapannya Nyonya," ucap Wati seraya meletakan nampan di atas nakas.


"Terima kasih mbak, tapi ngak usah repot-repot mbak, saya bisa turun ke bawah untuk sarapan sendiri " ucap Santi sopan.


"Tapi Nyonya ini perintah Tuan muda agar mengantar sarapan Nyonya langsung ke kamar," papar Wati.


"Ehm apa sepeduli itu tuan muda terhadapku," guman santi seraya meraih rotinya.


"Oh iya, Nyonya Andini berpesan agar nanti sore nyonya bersiap berdandan dengan cantik,"' ujar Wati seraya mengeluarkan pakaian kotor mereka untuk di cuci.


"Ehm, memang mau kemana Mbak?" tanya Santi.


"Ehm katanya sih, hari ini mereka sekeluarga akan melamar nona Amora untuk tuan muda."Wati.


"Apa? secepat itu?"tanya Santi syok.


"Belum resmi berpisah saja dari ku saja, Barley sudah mengadakan lamaran dengan wanita lain, apa dia tak sedikitpun memikirkan perasaan ku," gumannya kesal.


Santi kembali meletakan roti yang baru beberapa kali ia gigit, dan hanya sepotong yang ia makan,wajahnya tertunduk lesu, seketika itu ia kehilangan selera makannya.


Setelah membersihkan keranjang pakaiannya kotornya dan menaruhnya di luar kamar, Wati kembali menghampiri Santi.


"Nyonya apa anda sudah selesai sarapannya?"tanya Wati.


"Sudah," jawab Santi.


Setelah membereskan nampan, Wati kembali keluar dari kamar tersebut kemudian menutup pintu kembali.


Santi bersandar pada headboard, hatinya terasa begitu sakit, perlahan titik air mata jatuh menetes di pipinya.


Kenapa nasib ku seperti ini, kenapa aku harus melihat suami ku melawar wanita lain, sementara kami belum resmi berpisah.


Hiks hiks, untuk beberapa saat Santi menangisi nasibnya.


***


Petunjuk waktu berada di pukul lima sore harinya, Setelah melakukan rutinitas hariannya, Santi keluar dari kamar menuju balkon dengan mengenakan busana seadanya.


Netra beningnya mengedar keseliling tempat tersebut sembari menikmati pergantian waktu, Santi berusaha menetralisir perasaannya, agar tak terbawa emosi, karna saat itu ia merasa sedih cemburu dan marah, namun lagi-lagi tak ada tempat baginya untuk mengadu.


Santi tak mungkin mengadukan masalahnya kepada kedua orang tuanya, karna tak ingin kedua orang tuanya ikut sedih apalagi ayahnya, yang baru saja sembuh dari stroke ringannya.


Langit senja yang berwarna jingga merupakan pemandangan yang sayang untuk di lewati, detik-detik pergantian waktu ia nikmati sendiri seraya menghapus sisa-sisa titik air mata yang jatuh sesekali menetes di pipinya.


Selang beberapa lama berada di balkon kamarnya, tiba-tiba saja ia mendengar suara Barley yang memanggilnya.


"Santi!" seru Barley seraya mencari keberadaan Santi.

__ADS_1


Mendengar suara suaminya, Santi menghampiri asal suara yang memanggilnya dengan nada tinggi tersebut.


"Ada apa tuan?" tanya Santi ketika dirinya berada tepat di belakang Barley.


"Aku bawa pakaian untukmu, kau bisa gunakan untuk acara lamaran nanti malam," ucap Barley tanpa menoleh kearah Santi.


Barley baru saja tiba, namun ia kembali ke ruang kerjanya sembari membawa beberapa berkas.


Santi mendekati paper bag yang di letakan Barley di atas tempat tidur mereka.


Setelah membuka paper bag tersebut, ia menemukan beberapa gaun malam dan mini dress, juga beberapa tas dan sepatu branded.


Setelah mengeluarkan satu persatu barang-barang yang ada di dalam paper bag tersebut, ia langsung menyimpannya ke dalam lemari, dan kembali duduk di atas tempat tidur dengan kepala bersandar pada headboard.


Dengan tatapan kosong Santi menatap kearah depan.


Setelah beberapa saat berada di ruang kerjanya, Barley kembali ke kamar dan menemukan Santi yang sedang duduk melamun di atas tempat tidur.


"Santi, kenapa kau belum siap-siap?!"tanya Barley.


"Kenapa aku harus pergi Tuan, bukannya kau yang akan bertunangan, lalu apa hubungannya dengan ku?" tanyanya dengan wajah datar.


Barley mendekat kearah Santi," Hei dengar kan aku, kau harus menurut semua perintahku," ucapnya menarik tangan Sania agar wajah Santi menghadap langsung wajahnya.


Santi memandang wajah Barley sekilas kemudian membuang wajahnya kembali.


"Kalau aku tak mau? apa yang akan kau lakukan terhadapku, menghukum ku lagi?"tanyanya dengan nada sinis.


"Kalau aku bilang kau harus ikut, kau harus ikut, sekarang kau pilih salah satu pakaian itu dan bersiap lah, aku tak mau mendengar suara mommy yang teriak-teriak di kamar ini karna kau belum siap juga." rungut Barley.


"Ih kalian ibu dan anak suka sekali memaksakan kehendak, kalau aku tak ingin pergi emangnya kenapa? toh kau tetap bertunangan dengannya kan? meski aku ada atau pun tak ada," dengus Santi seraya menepis tangan Barley.


Barley kembali menarik tangan Santi, "Sekarang kau pilih pakaian itu, kau harus ikut!, atau kau ingin aku yang memakaikan mu dengan paksa!" Barley kembali memaksa kehendaknya.


"Lepaskan" Santi meronta, ia pun melepaskan cengraman Barley.


Karna tak mau berdebat, ia memilih mengalah dan menuruti keinginan Barley.


Santi menuju lemari dan memilih salah satu gaun yang di bawa oleh Barley, kebetulam saat itu ada gaun yang berwarna magenta.


Pilihannya jatuh pada mini dress tersebut, kemudian ia menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Beberapa saat kemudian ia keluar dengan telah mengenakan mini dress tersebut.


Tak hanya cantik, santi juga terlihat seksi menggunakan pakain tersebut, dengan leher rendah memperlihatkan belahan dada yang dia apit dua gumpalan yang terlihat padat dan menggiurkan bagi Barley.


Santi langsung menuju meja riasnya, sementara Barley matanya tak berkedip melihat kearah Santi, lagi-lagi Santi terlihat seperti Sania di matanya.

__ADS_1


Barley menatap punggung Santi, hingga Santi mendarat kan bokong nya di atas meja rias.


Semakin hari kenapa aku melihat Santi semakin mirip dengan Sania, oh tuhan ini ilusi ku saja, atau memang benar adanya jika mereka memang mempunyai banyak kemiripan.Batin Barley.


Pukul tujuh malam mereka pun siap, Barley dan Santi keluar dari kamar, dengan make-up tipisnya Santi terlihat lebih cantik dan anggun dengan rambut bergelombang yang di biarkannya tergerai dan di jepit ke atas pada bagian poni membuat mata Barley tak beranjak menatap seraya menganguminya.


Santi dan Barley berjalan beriringan meski tak bergandengan dengan menggunakan lift mereka langsung turun menemui Andini dan Hasta.


Melihat Santi yang juga ikut bersama mereka, Andini merasa senang.


Bagus jika Santi ikut, dengan demikian ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri lamaran dan pertunangan Barley.


"Ayo kita berangkat, sekarang !" ucap Andini.


***


Sementara itu di rumah Veronica, Amora sedang di rias dengan menggunakan jasa MUA, meski hanya lamaran biasa, tapi Veronica ingin Amora terlihat cantik dan lebih segar, agar wajah pucatnya bisa tertutupi dengan sempurna.


Veronica mengawasi Amora yang sedang di tata rambutnya.


Amora menutup mulutnya dan langsung berlari ke kamar mandi tanpa permisi.


setibanya di wastafel, ia segera memuntahkan isi perutnya kembali.


Ini sudah yang ke tiga kalinya, ia muntah saat di rias, tubuhnya pun terasa lemas.


Veronica mendekati Amora kemudian memijit tengkuknya.


Uek. Uek, cairan putih bening keluar dari mulut Amora ketika sudah tak lagi yang bisa di muntahkannya.


Ha ha ha, Amora mengatur nafasnya, seketika sekujur tubuhnya terasa dingin.


"Amora bagaimana keadaan mu?"tanya Veronica.


"Mami, tubuhku lemas sekali, apa tidak bisa acara lamaran di tunda?" tanya Amora.


"Apa katamu? Keluarga Hasta Raja Prawira itu orang penting, mereka bisa tersinggung jika kita menundanya, apalagi mereka sekarang sudah berangkat dari rumah mereka dan sedang dalam perjalanan menuju ke sini," papar Veronica.


"Tapi tubuhku terasa lemas sekali Mami, apa mereka tidak curiga, jika aku seperti ini?"keluh Amora sambil menyentuh bagian perutnya yang terasa pedih.


"Begini saja, kau tetap berada di kamar sampai Mami memanggilmu, dengan demikian, kau hanya keluar saat Barley akan menyematkan cincin tunangannya kepadamu," papar Veronica.


"Iya, aku setuju Mami," sahut Amora.


"Sekarang selesaikan dandanan mu, kau kahus terlihat cantik dari istri Barley," ucap Veronica sembari menyunggingkan senyum smirk-nya.


Di dalam mobil, Barley tak henti-hentinya melirik ke arah Santi, sesekali ia tersenyum melihat wajah cantik Santi yang terkesan jutek.

__ADS_1


Aku mau lihat, apa ada rasa cemburu di hatimu, saat melihat ku bertunangan dengan gadis lain.Batin Barley


Bersambung, tinggalkan jejak ya reader,.like komen, vote dan hadiahnya


__ADS_2