
Pulang dari sekolah Andhra meminta sang sopir untuk mengantarnya menuju sebuah toko bunga.
Andhra membeli seikat kembang berwarna merah menyala. Konon menutut filsafatnya warna merah adalah warna yang melambangkan keberanian serta semangat yang membara.
Setelah di tata dengan begitu apik bunga mawar tersebut menjadi buket yang indah.
Andhra tersenyum membawa buket itu kemudian ia kembali ke mobil dan menuju ke sebuah tempat.
***
Di rumah sakit.
Keluarga Asyia menunggu gelisah, wajah mereka pun terlihat murung menunggu di sebuah kursi tunggu.
Tak hanya Aldo dan Delia, Arief dan keluarganya pun menunggu dengan gelisah.
Sudah lebih dua puluh empat jam Asyia tak sadarkan diri, keadaannya pun semakin kritis.
Delia sudah menangis di sebuah bangku tunggu memeluk Aldo. Tubuhnya terasa lemas, sejak Asyia tak sadarkan diri, tak ada sesuatu makanan pun yang berhasil lolos di tenggorokan Delia.
Pasalnya setelah belasan tahun terakhir, Asyia tak pernah koma.
Paling-paling ia di rawat karna mengalami sesak napas saja, akibat infeksi pernapasan.
Asyia masih terbaring lemah dengan beberapa alat bantu medis pada beberapa bagian tubuhnya, keadaanya semakin kritis dengan detak jantung hanya 45bpm, tekanan darahnya pun menurun.
***
Andhra melewati koridor rumah sakit. Entah apa yang membuatnya begitu peduli pada Asyia, padahal sebelumnya ia sangat tak menyukai gadis tersebut.
Ia melihat sendiri bagaimana Asyia dengan penyakitnya. Namun, Asyia tak lantas menyerah. Ia begitu ingin menjadi yang terbaik, meski dengan keadaan yang demikian. Hal itulah yang menginspirasi Andhra untuk lebih giat lagi meraih prestasinya dan mengalahkan Asyia.
Dan rasanya tak ada yang lebih menyemangatinya selain mendapat rival setangguh Asyia.
Bahkan menurut Andhra, Asyia adalah keajaiban kecil yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana tidak, tak banyak orang yang bertahan hidup sampai usia remaja ketika mengidap penyakit jantung bawaan dari lahir.
Tapi semua itu tergantung dari suratan takdir. Ajal, jodoh dan rezeki masing-maing setiap orang yang telah di tentukan.
__ADS_1
Andhra berada diujung korior dari sana ia melihat beberapa angota keluarga Asyia sedang berkumpul.
Andhra pun menghampiri Arief.
"Paman, Bagaimana keadaan Asyia?"tanya Andhra.
"Asyia masih dalam keadaan koma. Sudah lebih dari dua puluh empat jam ia tak sadarkan diri," tutur Arief sedih.
Andhra melihat wajah wajah lesu dari orang-orang yang ada di seklilingnya.
"Paman bolehkan saya melihat keadaan.Asyia?" tanya Andhra.
Arief menggangguk, ia melihat kearah buket bunga yang di bawa oleh Andhra.
Arief tersenyum simpul. Asyia memang menyukai sesuatu yang berwarna merah, yang menyala 'katanya melihat sesuatu yang merah seperti membakar semangatnya.
"Tentu Tuan muda," ucap Arief. Ia pun mengantar Andhra memasuki ruang tertutup tersebut.
Dari balik kaca ruangan, Andhra sudah bisa melihat Asyia yang terbaring dengan beberapa alat bantu medis.
Kepala ruangan hanya mengijinkan satu orang saja yang menjenguk Asyia. Kebetulan saat itu suster dan dokter telah selesai memeriksa Asyia.
"Pasien masih tak sadarkan diri, kemungkinan karna detak jantung yang lemah hingga menyebabkan peredaran darah yang mengandung oksigen terhambat. "
Kami menyarankan agar pasien segera melakukan transplantasi untuk menghindari resiko kematian mendadak pada pasien.
"Kematian mendadak?"tanya Arief syok.
"Iya memang terdengar menakukan, tapi itulah kenyataannya. Pasien bisa saja tiba-tiba meninggal karna lubang yang ada pada katup jantung semakin hari semakin membesar. Jika katup jantung dari salah satu bilik mengalami kerusakan, otomasis darah yang mengandung oksigen akan tercampur dengan darah kotor hingga mengakibatkan gagal napas, dan wajah pasien yang kelihatan membiru. Beruntung pasien masih bisa tertolong."
Seketika Arief merasa lemas.
"Tapi bukankah transplatasi jantung juga mempunyai resiko yang tak main-main dokter?" Tanya Arief.
"Setiap tindakan pasti ada resikonya Tuan."
Dokter tersebut pun berlalu dari Arief.
__ADS_1
Arief dan Andhra menyimak dengan seksama setiap penuturan dari dokter.
Keduanya pun menghampiri Asyia.
Arief mengusap kelapa Asyia kemudian menciumnya keningnya dengan lekat.
"Kau sudah janji pada paman Nak. Kau akan ke Bangkok dan memenangkan kompetensi itu untuk paman. Hiks, tapi paman tak ingin itu semua, paman hanya ingin kau tetap bertahan. Paman sudah berusaha mencari donor jantung untuk mu Nak. Paman mu tak akan tinggal diam. Asyia ku sayang, Asyia ku yang pantang menyerah hiks berjuanglah terus untuk hidup mu Nak, paman yakin semua tak akan sia-sia, " ucap Arief berbisik di telinga Asyia.Ia kembali mencium kening Asyia.
Tak terasa bulir bening menetes di pipi Andhra. Melihat perjuangan Asyia untuk hidupnya yang tak mudah.
Arief menghapus air matanya sembari menguasai emosinya.
Setelah merasa baikan ia menghampiri Andhra dan menepuk bahunya, kemudian Arief membiarkan Andhra sendiri di ruangan tersebut bersama Asyia.
Andhra mendekat dan meletakan buket merah tersebut di atas nakas Asyia.
"Asyia aku bawa bungan mawar merah untuk mu. Aku tak tahu kau menyukainya atau tidak. Yang jelas kau terlihat seperti bunga itu, punya semangat yang berapi-api."
Andhra menarik kursi yang ada di sampingnya, dan duduk di samping tubuh Asyia yang terbaring.
"Asyia kenapa kau tak hadir tadi pagi. Aku tahu kau ingin mendapatkan kesempatan itu dan biasanya kesempatan seperti itu tak datang dua kali."
Andhra melihat reaksi dari Asyia yang masih tak bergerak.
Ia pun kembali mengajaknya bicara, berharap ada respon dari Asyia.
"Asyia aku tahu kau gadis yang kuat, kata paman mu ini bukan pertama kalinya kau seperti ini. Dan selama ini kau berhasil melewati masa kritis mu."
"Ayolah Asyia, kita bertarung kembali. Untuk membuktikan siapa yang terbaik di antara kita berdua."
Andhra menjeda kata-katanya suasana masih terasa hening. Asyia masih bergeming.
"Bangunlah Asyia. Aku ingin mengajak mu ke Bangkok , kita pergi bersama, berjuang bersama demi mengharumkan nama bangsa ,sekolah, diri kita. Bukannya kau ingin mempersembahkan prestasi tersebut untuk paman mu? " tanya Andhra seraya menyentuh telapak tangan Asyia. Andhra menggenggam erat telapak tangan Asyia, beberapa saat kemudian Andhra merasa gerakan lemah dari telapak tangan Asyia, Kelopak mata Asyia pun mulai bergerak-gerak.
"Asyia, " guman Andhra lirih.
Bersambung dulu reader, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalaninya.
__ADS_1
Assalam mualaikum