Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Kena lagi kau


__ADS_3

Setelah dari kantornya, sore harinya Barley membawa Santi pulang ke rumah mewahnya.


Sesampainya di rumah, langkah mereka di hadang oleh Andini yang berdiri sambil


menyilangkan kedua lengannya di dada.


Tak hanya itu tatapan Andini tajam melihat ke arah Santi.


Santi begitu risih melihat Andini yang menatapnya.


Tanpa banyak bicara, Santi pun membalas tatapan nenek sihir tersebut sembari menggadeng mesra tangan suaminya.


"Sayang, aku lelah, bisa kah aku langsung kembali ke kamar?"ucap Santi dengan nada manja di hadapan Andini.


Ia tak ingin lebih lama berhadapan dengan wanita itu.


"Iya, kau istirahat saja di kamar, sebentar lagi aku menyusulmu." Barley.


Santi pun melepaskan gandengan tangannya dan berjalan menuju kamar mereka.


Ya ampun kenapa aku begitu tak menyukai ibu mertua ku itu, akh aku hanya takut anak ku akan mirip sepertinya.


"Amit-amit jabang bayi,"Santi mengelus perutnya.


"Barley Mommy butuh bantuan kamu," ucap Andini dengan sedikit berbisik.


"Ada apa Mommy?" tanya Barley.


"Sini Barley."


Andini pun menuntun putranya untuk duduk di ruang tamu, mereka pun duduk berhadapan.


"Barley, Mommy meminta mu untuk membujuk Daddy, agar ia memberi Mommy warisan, kau bayangkan saja selama dua puluh tujuh tahun menjadi istrinya, sepeser pun Mommy tak mendapat bagian. "bujukAndini kepada Barley.


Barley menyeritkan dahinya.


"Aku tak berani Mommy, mungkin Daddy punya alasan lain, kenapa Mommy tak mendapatkan warisan, sementara Santi dan calon bayi ku mendapatkan warisannya."


Mendengar hal tersebut Andini semakin geram.


"Apa? Bagaimana mungkin Santi mendapatkan warisannya sementara Mommy tidak Barley! lihatlah betapa tidak adilnya Daddy mu itu, aku rasa istrimu itu punya ilmu sihir, sehingga dia menyihir kalian bedua, hingga Daddy mu memberikannya warisan." cecar Andini


Barley terperangah mendengar hal tersebut, ia pun berdiri dengan penuh emosi.


"Mommy ! kenapa sih Mommy selalu berfikir buruk tentang istri ku?! ingatlah dia itu sedang mengandung anak ku Mommy, tak bisakah Mommy bersikaf baik terhadapnya?!"


"Aku juga heran kenapa Daddy tak memberi Mommy warisan sedikit pun! tapi aku tahu Daddy, dia pasti punya alasan di balik semua itu Mommy!"


Barle begitu emosi hingga ia pun berdiri dan langsung meninggalkan Andini yang mematung sendirian.


Andini menghela napas panjang melihat ke pergian Barley.


***


Di tempat lain, Amora semakin tersiksa dengan kehamilannya, selain sering muntah-muntah, nafsu makannya juga berkurang.


Amora meringkuk di dalam sel tahanannya, tubuhnya lemas dengan wajah yang pucat.


Veronica selalu datang menjenguk Amora setiap hari, kini ia sedang menyuapi Amora, ia pun menangis sedih melihat putrinya menderita.


"Amora makan lah Nak," ucap Veronica serata menyuapi putrinya tersebut.


Amora kini seperti tinggal tulang yang di lapisi oleh kulit, tak ada lagi rona kecantikan yang terlukis di wajanya,


"Mami, beri saja aku racun, biar aku mati segera. Aku tak sanggup lagi menjalani hidup seperti ini, "ucapnya lirih.

__ADS_1


Bibir Amora bergetar, wajahnya pucat dengan lingkatan hitam di bawah kelopak matanya.


Air matanya juga sudah mengering, Amora benar-benar kehilangan semangat hidupnya saat itu, seperti hidup segan mati tak mau.


Veronica selalu menangis melihat keadaan putrinya tersebut.


Tidak bisa di biarkan, aku harus bawa lari Amora dari penjara, tapi bagaimana caranya?


Veronica pun kembali menangis seraya menyuapi Amora.


"Amora kau harus bertahan setelah anak ini lahir, ibu akan bawa kau melarikan diri," bisik Veronica di telinga Amora.


"Ehm tapi itu masih lama Mami, aku sudah tidak tahan, jika Mami bisa bawa aku keluar dari penjara sekarang juga," pinta Amora.


"Tapi Nak, hanya itu satu-satunya kesempatan untuk mu kabur, saat kau melahirkan Mami akan minta supaya kau melahirkan di rumah sakit, dan setelah kau melahirkan kita pikirkan cara untuk kabur, Mami akan sewa helikopter pribadi untuk membawa kamu keluar dari kota ini, langsung menuju runah kita yang ada di Paris.


"Iya Mami, aku ngak sanggup harus berada di penjara seumur hidup ku hiks." Amora.


***


Barley menemui istrinya di kamar, saat itu Santi tengah berselonjor di atas tempat tidur.


"Kau kenapa?"tanya sambil mendaratkan bokongnya.


"Aku lelah sekali karna harus mengikuti ke kantor seharian."


Barley memijit pelan telapak kaki Santi kemudian betisnya.


Santi tersenyum.


"Bagaimana sudah baikan Nyonya?"tanya Barley seraya memijat.


"Eh lumayan Tuan, aku tak menyangka kau bisa juga memijit," ucap Santi seraya menikmati pijitan lembut suaminya.


Hm,


Santi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya menarik selimut.


Sejak ia hamil ia memang malas mengerjakan sesuatu dan lebih senang tidur.


Santi mulai memejamkan matanya namun ia merasa ada tangan nakal yang menggeranyangi tubuhnya dan langsung melepas resleting belakan dari pakaianya.


Hm, sayang kau nakal lagi," ucap Santi dengan mata yang terpejam.


Barley menarik pakaian Santi dengan perlahan kemudian membalikan tubuh istrinya hingga terlentang.


"Sayang aku lelah," rengek Santi dengan mata terpejamnya, saat itu dirinya sudah setengah sadar.


Tapi Barley tak perduli, ia terus mengerayangi tubuh istrinya, meski beberapa kali Santi menepis.


"Sayang aku sudah bilang, aku capek nanti saja ya," tolak Santi ia pun mendorong tubuh suaminya.


Namun dasar Barley tak mau kalah, ia tetap menggangu Santi dengan mencumbuinya dan tak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan.


Santi mendengus kesal ia pun buka matanya, dan membuka lebar sel*angannya dengan pasrah.


"Ah sayang, apa ini lampu hijau? aku boleh melakukannya?"tanya Barley Bersemangat, ia pun mengecup kening Santi.


Santi tersenyum, sambil meraba wajah tampan suaminya.


"Bukan sayang, ini lampu kuning agar kau berhati-hati, slow down baby," ucap Santi.


"Of course, Baby," ucap Barley seraya mulai serangannya.


Santi memejamkan matanya antara nikmat dan rasa kantuk kedua-duanya menyerangnya saat itu.

__ADS_1


Sementara Barley terus berayun ayun di atas tubuh istrinya, sesekali suara lengkuhan dan de*sahan keluar dari bibir keduanya.


Barley memompa dengan pelan, hingga membuat mata Santi semakin sayu, terkadang suara lengkuhan terdengar keluar dari bibirnya dengan mata yang terpejam.


Akh, es, Santi mende*sah, sementara Barley mencumbui mengjangkau apa yang bisa ia jangkau saat itu, satu hentakan terakhir Barley membuat Santi terpikik tertahan, Santi pun mengerang kenikmatan.


"Akh!" desah Santi seraya meremas rambut Barley.


Barley memeluk tubuh istrinya dengan erat saat ia melakukan pelepasan, sembari mengatur napasnya yang masih memburu.


"Thank you, sayang," ucap Barley seraya mengecup kening istrinya.


Barley memperhatikan wajah Santi dengan mata yang terpejam, kekhawatiran kembali melanda pikirannya, ia takut jika Santi pingsan.


Sayang! kau kenapa?" tanya Barley panik, ia pun menepuk pelan pipi Santi, tak lama kemudian terdengar dengkuran halus di telinga Barley.


"Hm, Sayang kau tertidur rupanya, mengagetkan ku saja?" dengus Barley.


"Ck, secepat itu dia tidur, padahal baru saja aku mendengarnya suaranya saat menegerang kenikmatan, " dengus Barley, ia pun merobohkan tubuhnya di samping Santi.


Santi benar-benar terlelap saat itu, Bahkan saat Barley merangkul dan menciumnya berkali-kali, tetap tak membuatnya terjaga, justru ia meneluk Barley seperti memeluk bantal guling.


Barley tersenyum menatap wajah Santi yang di penuhi oleh keringat, dengan lembut ia mengelap keringat tersebut sembali mengecup bibirnya berkali-kali.


"Dasar tukang tidur, kalau sudah tidur diapakan saja dia tak sadar," keluh Barley.


Barley pun tersenyum menyeringai," Aku mau tahu jika aku menyerangnya sekali lagi apa dia akan bangun."


Barley kembali menelentangkan tubuh Santi dan melakukan penyerangan untuk kedua kalinya.


Kali ini gerakan Barley sedikit liar dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak.


Santi menerjab-nerjabkan matanya, karna merasakan sesuatu yang menyerang dari arah bawah tubuhnya.


Ia pun mengintip melihat dengan sebelah matanya, serangan brutal Barley malah semakin membuatnya terlena antara ngantuk dan nikmat.


Sesekali Santi menedasah di alam bawah sadarnya, mungkin ia mengira saat itu ia tengah bermimpi.


Barley semakin liar tongkat saktinya dengan mudah keluar masuk menerobos liang yang sudah licin hingga membuat tubuh Santi terguncang dan ia pun tersadar.


Santi membuka matanya perlahan, dan melihat Baley yang seperti menikmati permainannya sendiri.


"Sayang, dari tadi kau belum selesai juga ya?" tanya Santi lirih suaranya parau karna baru tersadar dari mimpi indahnya.


"Belum sayang, kau tidur saja lagi," sahut Barley masih dengan mengayun gerakannya.


"Ehm Sayang, aku sudah bilang, pelan-pelan, kau membangunkan ku," ucap Santi matanya merem melek menikmati gerakan Barley di atas tubuhnya.


Barely tersenyum dan ingin tertawa, ia pun memeperlambat gerakannya sementara tangannya menyapu mengusap lebut anak rambut yang menempel di kening sang istri, hingga membuat Santi kembali terlena ia pun tertidur dengan lelap.


Tidur lah sayang," seraya mengecup kening sang istri.


Saat yang bersamaan Barley kembali melakukan pelepasan untuk yang kedua kalinya.


Akh, Barley memeluk Santi lebih erat dan memberi kecupan berkali kali di wajahnya.


"Terima kasih sayang, akhirnya aku bisa puas meski dengan berbuat curang."


Barley mengulum senyum kemudian menumbangkan tubuhnya di samping sang istri.


"Ck, istri ku, kau ini bodoh atau polos sih, sudah dua kali aku mengerjai mu," ucap Barley seraya tersenyum melihat wajah polos Santi yang terlihat lelah akibat perbuatannya.


bersambung, maaf ya klau ada yang ngak suka, karna akhir2 author lebih sering bikin adegan ranjang, namanya novel roman ya ngak greget klau ngak romantis.


Mohon dukunganya ya reader, tinggal tekan like, komentar dan vote hadiah juga boleh ( ops ngelunjak authornya)

__ADS_1


__ADS_2