
Arief baru pulang dari kantornya.
Setiap pulang sudah kebiasaannya untuk lanhsung melihat keadaan Asyia.
Wajah Asyia yang lucu dan menggemaskan, membuat Arief selalu ingin cepat pulang.
"Assalamualaikum," ucap Arief . Tapi tak ada siapa pun yang menjawab.
Arief menuju kamar Asyia tapi tak mendapatinya.
Ia pun mencari keberadaan Asyia dari taman, hingga dapur hingga tiba di sebuah ruangan kerja bik Sumi.
Arief mendengar suara orang yang sedang ngobrol di kamar tersebut, menyebut namanya dan nama Asyia.
Karna penasaran dengan apa yang di bicarakan mereka, Arief menahan langkah-nya untuk tak masuk ke dalam kamar tersebut, ia berada di luar kamarnya dan memperhatikan kedua orang tersebut ngobrol.
***
Dinar tengah menggendong Asyia, menimangnya serta membawanya menghampiri bik Sumi yang sedang menyetrika.
"Hai Mbah," sapa Dinar pada bik Sumi.
Bik Sumi menoleh, "Eh cucu mbah ada di sini," ucap bik Sumi seraya mencium pipi Asyia, ia pun melanjutkan pekerjaannya.
"Mbok, lihat deh, Asyia makin lucu ya? tanya Dinar seraya menyodorkan Dinar ke hadapan bik Sumi.
"Iya Din, mirip seperti mas Aldo, ganteng. " bik Sumi.
"Hm, pak Arief juga ganteng kok Mbok, Dinar saja suka," ucapnya dengan tersipu.
"Kamu jangan mengkhayal terlalu tinggi Din, mana mungkin orang seperti kita-kita ini bisa menikahi majikan, " ucap bik Sumi seraya mendorong setrikaan.
"Iya juga sih Mbok, tapi aku kasihan pada Asyia.Kalau pak Arief menikah dengan gadis yang setara dengannya dari kalangan orang kaya. Trus istri pak Arief ngak menerima Asyia gimana? " ujarnya dengan sedih.
"Alah itu alasan kamu saja kali. Sayang Asyia atau sayang pak Arief? " tanya bik Sumi memberikan pilihan.
"Sayang dua-dua-nya, hi," ucapnya malu, Dinar pun tertunduk.
Arief yang mendengar semua pembicaraan antara bik Sumi dan Dinar pun ikut malu.
Iya tak menyangka jika Dinar serius, Arief pikir itu hanya perasaan sesaat dari gadis tersebut, apalagi Dinar benar-benar mengkhawatirkan nasib Asyia.
Itu bearti Dinar adalah kandidat yang patut di pertimbangkan, sebagai seorang lelaki yang dewasa harusnya ia berani menanyakan keseriusan gadis tersebut secara langsung.
Hm, Arief berhemem seketika mereka semua kaget menoleh ke arah belakang.
Apalagi Dinar, jantungnya memompa lebih kencang, ia takut jika Arief mendengar semua penuturannya.
"Dinar, bawa Asyia ke kamarnya!" perintah Arief.
__ADS_1
Dinar masih gemetar karna merasa gugup saat itu, ada rasa was was di hatinya jika Arief mendengar obrolannya bersama bik Sumi.
"Ba-baik Pak, "ucap Dinar, dengan sedikit gugup.
Arief berjalan terlebih dahulu, jujur saja saat itu Arief juga nervous.
Tapi sebagai orang yang dewasa, ia juga tak ingin menunda waktu lagi. Apalagi terkadang ia dan Dinar berada di satu ruangan meski pintu kamar Asyia selalu terbuka, tapi rasanya ia tak enak hati jika terus bersama satu rumah dengan seorang gadis yang bukan mahramnya.
Sudah beberapa kali Arief mendengar pernyataan tulus dari Dinar, jika ia memang menyayangi Asyia.
Bukankah semua syarat yang ada pada Dinar sudah terpenuhi secara keseluruhan sebagai kandidat calon istri untuknya.
Keduanya sampai di kamar Asyia hampir bersamaan.
Arief menoleh ke arah belakang menghalangi langkah Dinar yang hendak masuk.
Ehm,
"Sini Asyia biar saya yang gendong,"ucap Arief.
Dinar pun menyerahkan Asyia kepada Arief.
Dinar hendak melangkah memasuki kamar,tetapi di tahan oleh Arief.
"Dinar! bisa bicara sebentar? " tanya Arief.
Deg, jantung Dinar berdetak kencang.
Arief menuju ruang tamu untuk menuntun Dinar duduk di sofa ruang tamu.
Mereka pun duduk berhadap-hadapan.
Deg
Sejenak suasana hening, hanya gerakan Asyia yang meliuk seraya mengumanan.
Arief mencoba mengatur kata katanya.
"Dinar, saya mendengar semua penuturan kamu baru saja." Arief menjedah kata katanya.
Deg.
Jantung Dinar berdetak semakin cepat, dengan wajah yang semakin tertunduk malu.
"Kamu yakin mau menjadi istri saya? serta merawat Asyia dengan tulus?"tanya Arief seraya menatap Dinar dengan serius.
Deg deg deg.
Jantung Dinar berdetak semakin kencang, ada rasa malu untuk menjawab pertanyaan dari Arief.
__ADS_1
Dinar meremas ujung kemeja-nya, beberapa detik diam kemudian mengangguk lirih.
Arief tersenyum melihat pipi Dinar yang merona seketika ia pun menggigit pelan bibir bagian bawahnya.
Bik Sumi yang kebetulan lewat seketika tersenyum dan kembali menguping pembicaraan keduanya.
"Ehm, kamu mau aku lamar secepatnya? " tanya Arief yang juga malu-malu.
Senyum langsung terkembang di wajah ayu gadis tersebut, dengan mengangguk lebih cepat.
Bik Sumi yang mendengar ikut tegang beberapa saat.
Arief tersenyum, ia dan Dinar sama-sama merasakan gugup saat itu.
Dinar mencoba mengangkat wajahnya yang tertunduk, seraya melirik ke arah Arief yang tengah menatapnya.
Keduanya pun saling melempar senyum dengan pipi yang merona.
"Ehm, baiklah, saya akan bilang pada bik Sumi secara langsung, karna dia orang yang terdekat dengan kamu saat ini."Arief.
"Hadir pak Arief !"Tiba-tiba saja bik Sumi langsung muncul di hadapan Arief.
"Maaf Pak Arief saya lancang. Tadinya saya hanya lewat, eh tanpa sengaja mendengar pembicaraan pak Arief dan Dinar," ucap bik Sumi yang langsung duduk di samping Dinar.
"Iya Ngak apa-apa Bik, kebetulan sekali. " Arief.
"Bik, sebetulnya ini begitu mendadak, tapi saya rasa sesuatu yang baik, harus di segerakan. Apalagi menyangkut pernikahan. Sebagai orang yang sudah dewasa, saya tidak mau bermain-main dalam urusan yang sangat serius ini."
"Saya saat ini bermaksud melamar Dinar, dengan Bibik sebagai perantara orang tuanya."
"Iya pak Arief, nanti saya sampaikan langsung kepada orangtua Dinar. Jadi kapan rencananya pak Arief akan melamar keponakan saya? " tanya Bik Sumi dengan semangat.
"Secepatnya Bik. Saya tak ingin menunda terlalu lama, agar tak terjadi fitnah, karna saya dan Dinar juga tinggal serumah. Bagaimana jika minggu ini saja kita pulang kampung menemui orangtua Dinar? "
Bukan main senangnya hati Dinar dan Bik Sumi mendengar penuturan Arief. Mereka pun saling memandang kemudian melempar senyum.
"Dinar, saya minta sama kamu, kamu tetap merawat Asyia, meski kelak kita sudah menikah. Karna itu salah satu syarat untuk menjadi istri saya. Saya hanya ingin memastikan keponakan saya mendapat asuhan yang baik dan In shaa Allah, saya akan jadi suami yang baik dan bertanggung jawab terhadap kamu," ucap Arief.
"Iya Pak! " Dinar.
Arief pun menyerahkan Asyia kembali pada Dinar.
Dinar menyambutnya bahagia bayi mungil itu, kemudian menciumnya.
Bik Sumi tersenyum.
Arief memilih pergi dari tempat tersebut.
"Wah beruntungnya kamu Ndok, punya calon suami seperti pak Arief," ucap Bik Sumi seraya menepuk pundak Dinar.
__ADS_1
"Iya Mbok, Alhamdulillah, " ujarnya seraya tersenyum.
Bersambung , author mau up lagi nih. mohon dukungannya. like, komen dan votenya dong. Terima kasih reader tersayang 😘