
Tuan Demian baru tiba dari luar kota kehadiran sudah di tunggu oleh putri-putri yang cantik.
"Hore Papi pulang, Papi pulang! seru Nayla Dan Nara.
"Anak papi yang cantik-cantik, Papi kangen sama kalian. Ini papi bawa beberapa boneka untuk kalian. Mainnya sama-sama ya. "tuan Demian.
"Asik! terima kasih Papi." Na dan Nay pun memeluk tuan Demian.
"Sama-sama sayang."
Meski umur tak lagi muda tuan Demian tetap bugar di usianya yang tak lagi muda.
Mendengar menantu kesayangan nya datang. Miranda dan tuan Alex buru-buru menghampri tuan Demian.
"Halo, Mami mertua, Papi mertua . Apa kabar?" tanya tuan Demian seraya menjabat tangan mertuanya.
Keadaan tuan Alex berangansur membaik.
Kini ia sudah bisa jalan, meski dengan menggunakan tongkatnya, bicara juga sudah bisa meskipun sepatah dua patah kata.
Dan semua itu berkat tuan Demian yang selalu mensuport dan membiayai pengobatan tuan Alex hingga ke luar negri.
"Baik menantu," sahut Miranda.
Mereka pun berbincang sebentar di ruang tamu.
Cintya datang membawa belanjaan.
"Hei Aa' beb, sudah pulang? " tanya Cintya.
"Iya Neng.Neng dari mana? "
"Belanja Aa, Neng mau masak makan malam spesial untuk Aa'," ucapnya sambil mengedip-ngedipkan matanya.
Tuan Demian tersenyum simpul.
'Wah kalau sudah lihat bulu mata Neng seperti itu. Mesti siap-siap Nih. ' batin tuan Demian.
Glek. Tuan Demian menelan ludahnya.
Ting ting ting, Cintya kembali mengedip ngedipkan bulu mata anti huru haranya.
Gleak.
Gleak
Gleak.
Berkali-kali menelan air liurnya, merasa ngeri dengan tatapan mesum sang istri.
"He he, Neng bisa ngak kalau mandang Aa' biasa saja? "tanya tuan Demian sambil nyengir. Beliau parno duluan.
"Ngak bisa Aa' udah gemes duluan. "
Ting ting ting. Cintya kembali mengedipkan ngedipkan matanya.
"He he, Ngeri Oi." Tuan Demian kembali begidik ngeri.
"Oh iya Aa' Neng juga sudah siapkan telur ayam kampungnya sepuluh biji plus jamu kuat lelaki perkasa. " Cintya.
Hm, tuan Demian merasa lemas duluan.
"Ya sudalah Aa' Neng tinggal masak duluan Ya."
"Iya Neng masak yang enak ya Neng. " Tuan Demian.
Sementara Miranda dan tuan Alex hanya tersenyum melihat kedua-nya. Tuan Demian memang tua. Namun, kebaikan hatinya membuat ia di sayangi oleh keluarganya.
Cintya memasak sendiri makan malam untuk keluarganya. Sejak sore ia sudah sibuk di dapur. Sementara tuan Demian bermain dengan putri-putri.
***
Pukul tujuh malam makanan sudah siap di atas meja makan.
Seluruh keluarga pun berkumpul di meja makan.
Tuan Demian menarik kursi untuk anak-anaknya.
Cintya dan asisten rumah tangganya menyiapkan hidangan.
"Eneng rajin sekali ya." sanjung tuan Demian.
"Iya don Aa'. Kan Aa jarang pulang. "
Cintya mengaut nasi untuk suaminya, setelah itu ia pun ikut makan Dengan tenang.
"Masakan Neng enak Ya." tuan Demian.
"Makasih Aa'."
__ADS_1
***
Setelah makan malam dan berbincang-bincang sebentar, mereka kembali ke kamarnya masing-masing.
Dengan bergandeng mesra mereka menaiki anak tangga. Dan langsung menuju kamarnya.
"Aa' Kenapa sih akhir-akhir ini Aa' jarang pulang. Neng kan jadi jarang di goyang."
"He he, kalau keseringan di goyang bisa ambruk Aa' Neng.Ini aja udah tiga kali isi ulang" tuan Demian.
"Ih Aa' segitunya. Galon kali isi ulang," cetus Cintya.
"Udah Aa' Neng siapkan jamu plus telur ayam kampungnya."
"Iya Neng. Aa mau olah raga peregangan dulu ya. Biar lentur dikit. " Tuan Demian.
"Okey Aa'"
Cintya meminta pada asistenya dibuat jamu untuk tuan Demian
dengan menambah tiga telur ayam kampung.
"Tambahin dosisnya, biar kuat tiga jam," guman Cintya.
Beberapa saat kemudian Inem kembali ke kamarnya.
***
Tuan Demian melakukan peregangan beberapa saat kemudian menpelkan punggungnya dengan beberapa koyo.
Cintya datang membawa jamu, ia tersenyum melihat suaminya yang sedang merenggangkan otot-ototnya.
"Ah udah lentur Aa'?" tanya Cintya.
"Udah Neng, fleksibel." cetus tuan Demian.
"Bisa mutar 360 derajat dong Aa'?" tanya Cintya sambil tersenyum simpul.
"Mana bisa Neng, itu sih bisa putus urat-uratnya kalau sampai tiga ratus enam puluh derajat mutarnya."
"Ya udah Aa' nih minum jamunya. " Cintya.
Tuan Demian pun meneguk habis jamu tersebut meski merasa mual perutnya pun terasa aneh.
Eeakkk, Tuan Demian beregak hingga bau amis tercium ke seluruh ruangan kamar mereka.
Eaakkkk. Regaknya sekali lagi.
"Aduh Neng' Neng kasi Aa jamu apa sih? " dengus tuan Demian.
Cintya juga merasa aneh tak biasanya suaminya sakit perut karna minum jamu tersebut.
"Bentar Aa' .Neng tanya Inem dulu " Cintya pun bermaksud menanyakan kepada asisten rumah tangganya yang menyeduh jamu tersebut.
"Inem! Nem ! Inem!" teriak Cintya keluar dari kamar.
"Iya Nya!" seru Inem.
"Ada apa Nya? " tanya Inem.
"Kamu bikin jamu apa untuk tuan? " tanya Cintya sambil berkecak pinggang.
" Ha! jadi jamu itu bukan untuk nyonya? " tanya Inem ketakutan.
"Iya! emangnya kamu bikin jamu apa?! " tanya Cintya dengan mata yang melotot.
"Ehm, anu Nya. Tadi yang saya bikin jamu sehat datang bulan, " jawab Inem sambil menyimpul ujung kaosnya sambil tertunduk karna takut.
"Apa?!" Bola mata Cintya melotot dan membesar.
"Ma-maaf Nya, saya pikir untuk Nyonya,"ucap Inem.
"Huh! sekarang kamu bikin lagi. Ingat jamu sehat pria," titah Cintya.
"Ba-baik, N-nya. " Inem.
Inem kembali kembali ke dapur untuk menyeduh jamu kembali.
Cintya kembali ke kamarnya, guna melihat keadaan suaminya.
Tuan Demian merasa sakit pada perutnya, ia merasa mulas.
"Aa Aa kenapa? " tanya Cintya.
"Aduh Neng. Aa mulas habis minum jamu tersebut. "
Ia pun langsung berlari menuju kamar mandi.
Terdengar suara pelepasan tuan Demian di kamar mandi.
__ADS_1
Cret **** ****** *****.
Cintya tertawa kecil mengingat tuan Demian yang salah minum jamu.
Beberapa saat kemudian tuan Demian keluar dari kamar mandi.
"Aduh tadi mulas banget Neng," ucap tuan Demian sambil mengusap perut-nya.
"Tapi sekarang ngak lagi kan Aa'. Udah ngak sabar pingin main cicak-cicak di dinding. "
"Aduh sabar atuh Neng. Masih lemas. "
Tuan Demian duduk di atas tempat tidur.
Cintya kembali tersenyum mesum kearahnya.
Tok..tok..tok..
Terdengar suara gedoran pintu.
Cintya langsung beranjak dan menuju pintu kamarnya dan ternyata Inem kembali membawa jamu untuk tuan Demian.
"Ini Nya jamu sehat prianya." Inem.
"Ini sudah benerkan? " tanya Cintya.
"Sudah Nya. "
"Bagus. Sudah sana pergi! "Cintya.
"Iya Nya. "
Cintya menutup pintu kamarnya dengan membawa segelas jamu kembali, sambil menyanyikan lagu.
"Cicak-cicak di dinding, diam diam merayap, datang seekor nyamuk hap, langsung di tangkap" sambil menangkap burung tuan Demian yang masih di berada di dalam sarung.
Tuan Demian terperanjat kaget.
"Aduh Neng napsu amat dah! " dengus tuan Demian.
Cintya meraba-raba pada bagian celana tuan Demian.
"Ih Aa' kok tetap jadi cicak sih Aa' mestinya jadi tokek atau buaya gitu biar gede dikit," dengus Cintya kecewa.
"Sabar ya Neng, reaksinya memang agak lama sekarang, ngak kaya dulu,seperti putri malu, sekali sentuh langsung bereaksi. "
"Ya kalau gitu minum ini aja Aa'." Cintya menyodorkan segelas jamu.
"Ya ampun Neng, baru saja hilang mulasnya, udah di suruh minum jamu lagi. Bisa kontraksi perut Aa' Neng," keluh tuan Demian.
"Ayo Aa' Neng sudah seminggu nunggunya nih. "
"Iya deh Neng. "
Akhirnya tuan Demian pun meminum jamu tersebut.
Gleak.
Jamu tersebut habis di teguk olehnya.
Cintya tersenyum sambil memperhatikan kearah cicak tuan Demian.
Matanya berbinar ketika melihat dari sarung tuan Demian cicak tersebut perlahan membesar menjadi tokek.
Cintya tersenyum, " Sudah tuh Aa, sudah jadi tokek, cicak nya , sebentar lagi pasti jadi crocodile," tunjuk Cintya ke arah cicak ruwo tersebut
"Iya Neng. cepat banget reaksinya ya, " ucap tuan Demian sambil menelan ludahnya, Karna merasa ngeri.
"Ampun Neng! slow down baby! " seru tuan Demian Ketika Cintya berada di atasnya dan menyerangnya tanpa ampun.
Kreak kreak bunyi tulang Demian menahan serangan Cintya. Tapi Cintya tak perduli.
Tuan Demian hanya pasrah, sambil berdoa, semoga tulangnya tak bermasalah seperti empat tahun yang lalu
Setengah jam kemudian Cintya tumbang di samping tuan Demian.
"Aduh buaya Aa ganas banget! bisa gigit-gigit. "
"Eneng lebih ganas Neng. punggung Aa' sampai keseleo. "
"He he maaf Aa' khilaf."
"Aduh besok sepertinya harus di las lagi nih tulang. " dengus tuan Demian setengah meringis karna encok.
"Sekalian di amplas ya Aa' biar licin dan mulus lagi, he he. "
Bersambung dulu ya guys. Karna Proses rivewnya lama baget reader, jd beberapa kali author author ubah kata-katanya 😀
Maaf jika ada yang ngak. suka part ini. Ini hanya hiburan semata. Terima kasih atas dukungannya. 🙏
__ADS_1