Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Makan Malam


__ADS_3

Santi menerjabkan nerjabkan matanya kemudian melirik ke arah penunjuk waktu yang menunjukan pukul setengah lima sore.


"Ehm, sudah sore rupanya." ia pun melirik kearah Barley yang masih terlelap.


Santi melepaskan lingkaran tangan Barley yang melingkar di tubuhnya, kemudian menyibak selimut yang menutupi tubuh polos mereka.


Ia langsung menuju kamar mandi untuk melakukan rutinitas mandi, setelah selesai dan memakai pakaian lengkap, ia pun turun keluar dari kamar untuk menuju dapur.


Santi berniat memasak makanan untuk makan malam mereka.


Ketika mendekati dapur ia malah bertemu dengan tuan Hasta.


Wajah tuan Hasta terlihat ceria saat itu.


"Ehm Daddy baru pulang ternyata."


Santi menghampiri tuan Hasta," Selamat sore Daddy," sapa Santi ramah.


"Selamat sore Santi," sambut tuan Hasta dengan wajah yang berbinar dan senyum lepas.


Tuan Hasta berlalu begitu saja dari hadapan Santi.


"Ehm, Daddy kenapa seperti itu ya?" guman Santi yang melihat perubahan sikaf tuan Hasta.


"Ehm jangan-jangan Daddy justru senang karna Mommy di penjara," terka Santi.


Ia pun mengangkat kedua bahunya.


Santi menuju dapur untuk memasak sendiri makan malam suaminya.


"Mbak makanan kegemaran tuan muda apa ya?"tanya Santi pada salah satu juru masak.


"Ehm ngak ada yang spesial sih Nyonya, tuan muda ngak pilih-pilih makanan, hanya saja ia lebih suka dengan makanan yang mengandung serat dan sedikit minyak dan lemak,"papar juru masak tersebut.


"Ehm kalau gitu terima kasih ya Mbak, ucap Santi, ia pun menuju kulkas tempat menyimpan bahan makanan,"


Santi menemukah beberapa lembar potongan daging as dalam, kemudian ia meng grill nya bersama beberapa sayuran untuk membuat steak.


Setelah itu ia memotong sayuran segar memasukannya ke dalam mangkuk dan menambahkan minyak zaitun dan mayoneise untuk membuat salad spesial.


Santi memang tak terbiasa makanan seperti itu, tapi dirinya meras harus beradaptasi dengan lidah sang suami.


Setelah semua siap, ia pun menuju kamarnya dan mendengar suara di kamar mandi.


Santi mengangkat sebuah meja persegi empat dan membawanya menuju balkon rumah mereka.


Setelah meletakan meja, ia kembali menuju kamar dan mendengar suara orang yang muntah-muntah di kamar mandi.


"Ya Tuhan, kasihan suami ku di saat beban pikirannya bertumpuk, ia justru mengalami ngidam simpatik," guman Santi.


Ia pun berjalan menghampiri kamar mandi, kebetulan mereka tak pernah mengunci pintu kamar mandi ketika berada di dalamnya.


"Sayang kau kenapa?"tanya Santi.


"Entalah aku sering merasa mual dan berasa hendak muntah akhir-akhir ini." paparnya.


"Kita periksa saja sayang, aku takut kau akan jatuh sakit." Santi.


"Ehm ngak perlu, mungkin jika di bawa istirahat, paling sembuh sendiri."Barley.


"Terserah kau saja, baiklah aku siapkan makan malam untuk kita saja, aku masak sesuatu yang spesial untuk mu," ucap Santi sambil memilih pakaian yang akan di gunakan oleh Barley.

__ADS_1


"Kau masak apa pun akan terasa spesial bagi ku," ucap Barley seraya mengenakan pakaiannya.


Santi tersenyum melihat betapa manisnya sikaf Barley terhadapnya.


"Sayang aku turun dulu ya."Santi


"Iya aku juga akan keruang kerja ku."


"Ke ruang kerja? kau bilang ingin beristirahat?"


"Mana bisa aku beristirahat, sudalah kerjaan ku menumpuk, kau siapakan saja makan malam untuk ku, semoga saja kali ini aku tak memuntahkannya lagi."Barley


Ehm.


Santi keluar dari kamar dan kembali menuju dapur.


Karna Barley berada di ruang kerjanya, Santi pun bebas untuk mempersiapkan makan malam spesial.


***


Tuan Hasta kembali ke kamarnya, setelah melepas sepatu ia langsung mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur.


Benar saja, kesepian kembali menghantui perasaannya itu, meski istrinya itu bawel namun tuan Hasta tak pernah merasa kesepian karna kehadiran Andini.


Tuan Hasta meraih handphonenya kemudian mencari kontak seseorang di layar ponsel.


Seketika senyum terkembang di wajahna ketika seseorang menyapanya lewat sambungan telpon.


"Hallo selamat sore Mas,"sapa Hana di sambungan telpon.


"Hallo, juga Hana, apakah punya waktu malam ini, aku ingin mengajak mu untuk makan malam," tuturnya dengan pengharapan yang besar.


"Ha ha ha, "tawa bahagia.


"Ya hanya sekedar mengenang masa masa indah saat kita muda dulu,"ucap tuan Hasta malu-malu, rasanya jiwanya kembali muda saat itu.


"Ehm, baiklah aku tunggu kau di restoran tempat biasa dulu kita biasa bertemu." Hana.


"Asiap Honey! "seru tuan Hasta bersemangat.


"Apa Honey? sadar dirilah pak tua, ini bukan jaman mu lagi, aku malu mendengarnya," ucap Hana di iringi tawa kecil yang terdengar di sambungan telponnya.


"Ha ha, raga boleh saja tua tapi jiwa harus tetap muda, agar tetap semangat menjalani hidup ini," papar tuan Hasta dengan sumringah.


"Terserah kau saja pak tua, ucap Hana dengan tawa kecilnya."


"Ok Baby, pukul setengah delapan aku sudah ada di sana."tuan Hasta.


"Ehm, jika kau terlambat maka aku tak akan menunggu mu,"ucap Hana seraya menutup telponnya.


"Tenang saja Beiby, aku tak akan mengecewakan mu di kencan pertama kita."


"Ehm, lihat saja nanti." Hana.


"Yes !"seru tuan Hasta seraya menutup telponnya.


Waw aku seperti muda kembali! seru tuan Hasta dengan penuh semangat.


***


Santi menyiapkan makan malam spesial nya di balkon kamar mereka, sepasang benda glow in the dark di pasangnya di balkon kamar untuk menambah romantisnya suasana dan sebuah lampion berukuran jumbo dengan bentuk hati menggantung di plafon, lampu plafon sengaja tak ia hidupkan dan hanya mengandalkan dari cahaya pelita dan lampion, sederhana tapi cukup membuat semua terlihat istimewa.

__ADS_1


Untung saja langit malam pada saat itu begitu cerah, jadi mereka bisa menikmati angin malam yang sepoi-sepoin dengan hamparan langit malam bertaburan bintang serta bulan yang sedang purnama sebagai pemandangan.


Setelah menata meja makannya dan meletakan hidangan makan malam mereka, Santi memanggil Barley untuk mengajaknya makan malam.


Santi masuk ke ruang kerja suaminya dan melihat Barley tengah sibuk mengkutak katik laptopnya, ia pun memeluk pria tampan tersebut dari arah belakang.


"Sayang, aku sudah siapkan makan malam untuk kita," ucapnya dengan lembut.


Barley menarik tangan Santi dan memeluknya, Sebentar lagi ya Sayang, aku sedang sibuk," Barley.


"Ehm, apa aku tak lebih penting dari pekerjaan mu itu?"tanya Santi dengan nada manja.


Barley tersenyum seraya memutar tubuhnya," Jangan khawatir, kau lebih penting dari apa pun," ucapnya seraya mengecup lening Santi.


"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita makan, anak mu yang di dalam perutku pasti sudah lapar."Santi.


Alangkah bahagianya Santi saat itu,perasan berbunga-bunga.


Ia pun menarik tangan Barley agar pria tersebut beranjak dari duduknya.


Mereka keluar dari ruanga kerja Barley dan langsung menuju balkon kamar mereka.


Barley tersenyum karna sedikit kaget melihat meja kecil yang Santi persiapkan untuk makan malam mereka.


"Apa ini sayang?"tanya Barley yang melihat meja tempat makan malam mereka.


"Aku sengaja membuat ini sebagai kejutan untuk mu, moga dengan suasana seperti ini kau bisa berselera untuk makan,"papar Santi.


Barley menarik tubuh Santi dan merangkulnya, "Ehm terima kasih, kau memang pengertian ayo kita makan, pasti masakan mu enak,"ucap Barley kemudian mencium kening sang istri.


Keduanya duduk berhadapan untuk menikmati makan malam mereka.


***


Di dalam sel tahanan, petugas datang membawa tiga bungkus nasi yang mereka beli di warteg.


"Makan malam untuk kalian!ucap petugas tersebut seraya menyodorkan makanannya.


Ketiga orang itu memang merasa lapar, tak berbuat apa-apa di penjara, justru membuat mereka selalu lapar dan ingin makan sesuatu.


Dengan berjingkat-jingkat Andini meraih nasi bungkus tersebut, begitu pun Amora dan Veronica.


Setelah mendapat jatah, ketiga orang tersebut, membuka bungkusan nasi.


Andini duduk di pojok pada satu sisi, sementara Amora dan Veronica berada pada sisi lainya.


Mereka pun membuka bungkusan nasi tersebut, dan alangkah kecewanya mereka melihat isi dari bungkusan nasi tersebut.


"Makanan apa ini, aku tak bisa memakannya!" teriak Andini ketika melihat nasi yang bercampur tempe dan sayur berkuah santan menjadi satu dalam satu bungkus.


Amora dan Veronica pun demikian, mereka merasa geli, karna biasanya mereka memakan makanan yang enak dan berkelas.


Hiks hiks, Daddy, Barley! Kalian sekarang pasti tengah makan enak, sementara aku disini hiks hiks hiks," keluh Andini seraya menangis.


Veronica memutar bola mata malasnya.


"Eh nenek tua! mulai sekarang sepertinya kau harus terbiasa dengan makan itu!" cecar Veronica.


Andini mengkerucutkan bibirnya, mau tak mau dia harus makan, karna ia masih mengkomsumsi obat-obatnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2