Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Ketetapan Hati


__ADS_3

Arief menghampiri Asyia bersama seorang suster dan dokter.


"Asyia kau sudah sadar Nak?"tanya Arief.


"Hm paman." Asyia hanya berguman.


Dokter kembali memeriksa Asyia.Setelah beberapa kali pemeriksaan dokter tersemyum.


"Kau memang gadis yang kuat, "ucap okter seraya menyimpan stateskopnya pada saku jasnya yang berwarna putih.


"Denyut nadinya sudah kembali normal, di usahankan aga pasien beristirahat dan jangan terlalu banyak berfikir. Jika keadaannya stabil pasien bisa di pindahkan ke ruang perawatan.


"Terima kasih dokter," ucap Ar rief.


"Sama-sama. "


Dokter tersebut keluar dari ruangan tersebut.


Arief mendekat kearah Asyia.Kemudian membelai rambut panjangnya.


"Syukurlah kau sudah sadar Asyia. Kami semua mengkhawatirkan mu," ucap Arief seraya membelai rambut panjang Asyia.


Mendengar hal itu Asyia teringat tentang sesuatu yang membuatnya pingsan.


"Paman aku ingin duduk," pinta Asyia. Ia memang tak betah jika harus berbaring sepanjang hari.


"Iya Nak, apa saja yang membuatmu terasa nyaman."


Asyia melepas selang oksigen yang terpasang di hidungnya.


Asyia bersandar pada tubuh Arief, ia pun merebahkan kepalanya pada bahu kokoh sang paman. Hal yang itu selalu ia lakukan dari ia balita hingga saat dewasa ketika ia sakit.


Arief adalahlah tempat yang paling nyaman berbagi, ketika tak ada orang tuanya.


Bulir bening menetes perlahan di pipi Asyia.Sementara tangan Arief membelai rambut Asyia.


"Paman berapa lama lagi aku bisa bertahan dengan penyakit ku?" tanya Asyia. Dengan bulir bening mentes di pipinya.


"Kenapa kau tanyakan itu Nak. Paman mu ini bukan Tuhan," jawab Arief.


Air mata Asyia semakin deras mengalir.


"Paman, hiks apa wanita yang kita temui kemaren malam adalah ibu yang telah melahirkan ku?"tanya Asyia dengan suara parau menahan tangisannya.

__ADS_1


Deg.


"Iya Nak," Jawab Arief singkat.


"Lalu kemana dia selama ini paman hiks, apa benar jika tak mengiginkan ku terlahir di dunia ini, hiks hiks hiks. Apa salah ku paman kenapa ia membuang ku, darah dagingnya sendiri, hiks." Tubuh Asyia terguncang, ia semakin dalam membenmkan wajahnya dalam dekapan Arief, menangis sejadi-jadinya. Betapa sakit yang ia rasakan saat tahu dirinya tahu jika kelahirannya tak pernah di inginkan.


Hiks hiks


Tangisan Asyia semakin lama semakin memilukan.


Arief memeluk Asyia semakin erat, saat itu ia juga menangis dengan tubuh yang terguncang.Menahan perasaannya yang ikut terjuncang.


Arief tak bisa berkata-kata. Pertanyaan Asyia seolah membuatnya hilang kecerdasan untuk menjawab. Karna jika di lihat dari sudut pandang mana pun sama saja. Asyia tetap terluka.


Hiks hiks hiks, keduanya saling memeluk erat dalam haru.


Hiks hiks hiks.Asyia membersihkan semua cairan yang keluar ketika ia menangis, begitupun Arief.


Asyia menarik nafas panjang untuk menguasai dirinya.


"Paman apa penyakit yang ku derita adalah karma dari perbuatan orang tua ku, apa benar jika ibu dan ayah ku pernah mencelakai orang lain? " tanya Asyia lagi.Ia pun kembali sedih.


Arief masih tak menjawab ia kembali merangkul Asyia kembali.


"Tenang saja jika ibu mu tak menginginkan mu, bukannya kami selalu ada bersama mu. Selalu menyayangi mu.Menjaga mu dengan penuh kasih sayang. Lihatlah betapa khawatirnya kedua orang tua mu, Ayah, ibu, paman, dan bibik mu . Bahkan teman mu juga menyayangi mu, ia datang ketika mengetahui kau sedang sakit. Bukankah itu sudah cukup bukti betapa kami mencintaimu, hiks hiks."


"Iya Paman ! Maafkan Asyia Paman jika seumur hidup Asyia selalu menyusakan Kalian semua, membuat kalian semua khawatir hiks hiks hiks. Tapi itu bukan karna keinginan Asyia, Asyia juga ingin jadi seperti anak-anak lainya. Selalu riang gembira yang tak terbatas karna penyakit yang Asyia derita hiks hiks. Bahkan dengan penyakit yang Asyia derita, Asyia tak berani untuk bermimpi tentang cita-cita Asyia. Untuk apa sekolah tinggi dan mahal di jurusan kedokteran, jika pada akhirnya Asyia harus pergi sebelum semua itu terwujud." Tangis Asyia semakin kencang


Arief kembali memeluk Asyia. Membiarkan ia menangis, Dengan menangis mungkin Asyia bisa mengurangi rasa kekecewaannya.


Asyia kecewa, selama ini ia mengganggap jika seorang ibu adalah malaikat bagi anak-anaknya, hal itu karna ia melihat sendiri bagaimana Delia dan Dinar mengasuh dan ia menjaga anak-anak mereka. Tapi ternyata sosok ibu kandungnya di luar ekspektasinya bahkan sangat jauh yang ia bayangkan.


Asyia mengira ibunya telah meninggal, karna itu sejak kecil ia selalu berdoa agar ketika ia meninggal, ia akan bertemu dengan ibunya di surga.


Asyia masih menangis memeluk Arief.Butuh waktu untuk menerima semua kenyataan itu.


***


Andhra duduk melamun di meja makan, pikirannya melayang entah kemana. Melihat hal itu Santi pun penasaran apa yang terjadi dengan putranya tersebut.


"Andhra kamu kenapa Nak?"tanya Santi.


Mereka yang ada di sekitar Andhra langsung menoleh kearahnya.

__ADS_1


Seketika lamunan Andhra buyar.


"Ngak kok mommy!"


Santi tak ingin memaksa putranya untuk bicara.


"Ya sudah habiskan makan malam mu." Santi.


Andhra meletakan sendok dan garpunya.


"Mommy. Menurut Mommy apa yang lebih penting harta yang kita miliki atau nyawa seseorang ?"tanya Andhra.


Andhra kembali jadi pusat perhatian, namun tak ada yang menyahut kecuali Santi karna pertanyaan tersebut ditanyakan langsung oleh Andhra pada mommynya.


"Tentu saja nyawa sesorang, Kenapa?"


"Apa aku boleh menggunakan harta ku untuk menyelamatkan kehidupan seseorang?"tanya Andhra.


Santi melepas sendok dan garpunya.


"Came here! give mommy a hug."


Andhra pun menghampiri dan memeluk Santi.


"That's right. Mommy is so proud of you."


"Thank you mommy. Aku belajar semua itu dari mu," ucap Andhra dalam pelukan Santi.


Barley mengacungkan jempolnya ke arah Andhra . Ia semakin bangga melihat putranya tersebut.


Seorang calon pengusaha dunia, memang harus memiliki kecerdasan tinggi dan perasaan empati terhadap sesama, agar Andhra lebih memamfaatkan hartanya untuk jalan kebaikan. Bukan hal-hal.yang bersifat ambisi mengumpulkan harta hanya untuk suatu ajang prestasi dan prestise semata.


Sifat yang Andhra miliki adalah hasil kolabirasi didikan Barley yang tegas dan keras dan didikan Santi yang santun dan penuh kasih sayang.


Bersambung dulu gengs. Maaf ya akhir-akhir ini author selalu menyajikan kisah-kisah Asyia yang menguras emosi dan Air mata. Namun seperti pepatah mengatakan habis gelap terbitlah terang, atau badai.pasti berlalu. semoga kisah ini jadi inspirasi untuk kita semua ,Agar kita tak mudah putus asa dalam hidup ini( cie-cie sok dewasa), meski author sendiri sering putus asa apalagi kalau sudah akhir bulan sembako naik lagi😅😅Wkwkwk Jadi curhat ya.


Tapi dalam forum ini Author mengajak para reader berdoa berjamaah. Semoga kita semua di beri rezeki yang melimpah, selalu sehat dan dan bahagia untuk diri dan orang-orang yang kita sayangi. aamiin ya rabbal alamin. Terima kasih doanya terima, kasih dukungannya.


Kain songket ,si abang gondrong.


Bagi vote nya dong!


Assalammualaikum.wr.wb.😍😘

__ADS_1


__ADS_2