
Hari ini Barley dan keluarga bersiap melakukan perjalanan menuju kampung Wati.
Berbagai persiapan pun di lakukannya termasuk memodifikasi jok belakang mobilnya agar sang istri bisa merasa nyaman sepanjang perjalanan.
Tak hanya keluarga inti mereka saja, kedua orang tua Santi pun ikut memeriahkan acara lamaran.
Anggi dan Chandra pun ikut hadir.
Mereka menggunakan lima mobil sekaligus dalam perjalanan kali ini.
Rencananya tuan Marco akan menikah secara sirih di kampung halaman Wati.
Keluarga di kampungnya juga menyiapkan acara kecil-kecilan untuk menyambut datangnya calon suami Wati, yakni pengusa minuman soda yang cukup terkenal di dunia.
Betapa bangganya para penduduk kampung, baru kali ini ia bisa melihat CEO dari sebuah produk minuman soda yang biasa mereka komsumsi.
Mereka mengadakan acara penyambutan yang begitu meriah, hingga kepala desa juga ikut andil, bahkan mereka juga mengundang pejabat penting dan pak Bupati dalam penyambutan tamu istimewa di kampung mereka.
Santi dan Barley berada di dalam mobil di di kendarai oleh supir pribadinya.
"Sayang kalau kamu lelah, kamu bisa berbaring di jok yang sudah ku modifikasi," ucap Barley seraya mengusap punggung istrinya.
"Ngak mau sayang. Pelukan kamu lebih nyaman dari apa pun, "ucap Santi seraya menarik lengan Barley agar semakin erat memeluknya.
Barley tersenyum seraya mengecup pucuk kepala sang istri.
"Sayang ada hikmahnya juga kita ikut ke kampung Wati, beberapa hari ini kita bisa terus bersama, aku juga merasa rilex karna tak di pusingkan dengan kerjaan, aku ingin menikmati perjalanan ini bersama mu," ucap Barley seraya mengusap rambut Santi.
"Iya sayang, biasanya kau selalu sibuk, meski di rumah. " ucap Santi seraya meraba dada bidang suaminya.
Perasaanya begitu nyaman karena sepanjang jalan mendapat belaian mesra dan kecupan hangat dari suaminya serasa mereka sedang berbulan madu.
Setelah beberapa jam perjalanan, mereka pun singgah di sebuah rumah makan yang terletak di daerah perbukitan yang indah,untuk mengisi perut mereka sekalian menikmati pemandangan alam yang ada di daerah perbukitan tersebut.Namun, bagi Barley ada yang lebih indah dari hal tersebut yaitu melihat Daddynya yang tengah bersuap-suapan dengan Wati di iringi tawa renyah tuan Marco yang terdengar begitu bahagia.
"Sayang lihatlah Daddy! "tunjuk Barley pada keduanya yang terlihat mesra.
Santi tersenyum, "Biar sajalah. Mereka itu sudah lama tak merasakan kasih sayang dari pasangannya. Jadi wajar saja, jika mereka seperti anak remaja yang lagi di mabuk asmara, "ucap Santi.
Santi pun tersenyum melirik ke arah Chandra dan Anggi yang juga terlihat bucin.
"Tuh ada juga yang tak kalah bucin, " tunjuk Santi ketika melihat Anggi dan Chandra tengah berselfi ria dengan mesra.
Barley menoleh dan tersenyum.
"Bahagia rasanya melihat orang yang berada di sekitar kita bahagia. " Barley.
__ADS_1
"Ayo sayang makan yang banyak, biar kamu dan putra kita sehat, aku sudah tak sabar menunggu kelahiran putra kita," ucapnya seraya mengusap perut Santi kemudian mmenyuapiny.
Barley melepas kulit udang untuk memudahkan Santi memakannya.
Mereka begitu menikmati perjalanan yang mereka lalui bersama.
***
Arief dan Dinar juga bersiap untuk pulang ke kampung halamannya.
Mereka berkerja sama menyiapkan perbekalan untuk Asyia.
Tak hanya berdua, mereka juga membawa bik Sumi ikut serta.
Betapa senangnya hati Dinar saat itu, dengan bangga ia akan memperkenalkan Arief pada keluarga dan orang-orang kampung.
Siapa yang tak bangga memiliki calon suami yang sukses dan juga baik hati.
Asyia tampak tenang ketika di gendong oleh Dinar.
Sesekali ia menimang Asyia seraya mencium pipi bayi munggil yang menggemaskan tersebut.
"Sayang, kita mau kemana nih? kerumah Mbah ya? " timangnya pada Asyia.
Eak, Asyia seolah menjawab pertanyaan Dinar terhadapnya.
Beberapa jam perjalanan mereka singgah dan beristirahat di sebuah restoran.
Karena kasihan melihat Dianar yang berjam-jam menggendong Asyia, Arief memutuskan untuk bergantian menggendongnya.
"Dinar sini aku yang menggendong Asyia," pinta Arief pada.
Dinar pun menyerahkan Asyia kepada Arief, sementara ia meregangkan otot-ototnya.
Keduanya pun bergantian menggendong Asyia pada saat makan siang, pasalnya Asyia akan rewel jika di gendong orang lain.
Setelah makan siang perjalanan kembali lanjutkan.
Tiga jam berikutnya mereka pun sampai di kampung halaman Dinar.
Kehadiran Dinar sudah di tunggu oleh keluarga dan tetangga sekitar.
Melihat mobil mewah Arief memasuki halaman rumah orangtua Dinar, tetangga sekitar mereka menjadi heboh.
Tak hanya mobil mewah Arief ,tetapi mereka juga penasaran melihat calon suaminya Dinar yang ternyata adalah majikan Sumi yang terkenal baik hati.
__ADS_1
Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi, Arief dan Dinar turun dengan membawa Asyia.
Sekali lagi mereka terpana ketika melihat sosok Arief yang terlihat tampan dan bersahaja.
"Waw, calon suami impian, beruntung selali Dinar dapat calon suami seperti itu."
"Kaya , tampan dan bersahaja," ucap salah satu gadis tetangga.
Dinar di sambut haru oleh ibu dan adik-adiknya.
Mereka saling berpelukan untuk melepas rindu sejenak.
Tak hanya Dinar, tapi Asyia juga mendapatkan sambutan baik, mereka bahkan rebutan untuk mencium bayi mungil tersebut.
Setelah berbasa-basi Arief langsung menyatakan niatnya untuk melamar Dinar, mengingat mereka tak punya banyak waktu.
Saat itu ada paman dan juga ibunda Dinar mereka semua duduk bersila mendengar penuturan Arief.
"Kedatangan saya kemari, untuk melamar Dinar, sebagai istri saya, sekiranya bapak ibu mau menerima lamaran saya, "ucap Arief dengan tenang.
Mereka pun berunding sesaat, maklum saja Dinar sudah tidak punya ayah, sehingga di walikan dengan pamannya.
"Ehm begini nak Arief, jika memang Nak Arief bersungguh-sungguh ingin menikahi Dinar, bagaimana jika pernikahan nya di segerakan? tanya paman Dinar yang menjadi Walinya
Arief menyeritkan dahi.
"Maksudnya bagaimana Pak? "tanya Arief.
"Kami sekeluarga telah berunding, dan memutuskan untuk menerima pinangan anda, tapi alangkah baiknya, jika pernikahan di segerakan.Mengingat setelah lamaran anda akan membawa Dinar kembali kerumah anda.Kami hanya tak ingin terjadi fitnah di sini, karena itu jika memang anda bersungguh-sungguh ingin menikahi Dinar. Bagaimana jika malam ini saja kita gelar akad nikah secara agama dulu. Jadi kami bisa dengan lega melepas Dinar, dengan begitupula, tak terjadi fitnah di kampung ini. " paman Dinar.
Arief syok mendengar penuturan dari paman Dinar, tapi ia juga mengerti keadaan di kampung tidaklah sama dengan di kota.
Dinar tersipu malu mendengarnya, tapi ia juga merasa senang dengan begitu secepatnya dirinya akan resmi menjadi istri dari Arief.
Ehm Arief mengganggukam kepalanya.
"Baiklah pak, tapi saya tak punya persiapan untuk maharnya, bagaimana jika maharnya hanya seperangkat alat sholat yang mudah di dapat? "tanya Arief.
Keluarga Dinar tersenyum, begitu pun paman Dinar yang melirik ke arah ibunda Dinar.
Sang ibunda mengangguk lirih seraya tersenyum menandakan persetujuannya.
"Baiklah Nak, kalau begitu kami dari pihak keluarga setuju, persiapan kan saja maharnya, biar kami yang akan mengurusnya persiapan dan memberi tahu penghulu kampung. "
Arief dan Dinar saling melirik dan tersenyum malu-malu
__ADS_1
Yey malam ini kawin.
Hai reader yang baik hati, meski acara pernikahan sederhana, atas nama Dinar dan Arief author undang reader semua, jangan lupa bawa like, vote dan hadiahnya untuk mereka ya, salam sayang selalu.