
Barley keluar dari kamar Santi dengan penuh emosi yang seolah membakar dadanya.
"Hm, kau pikir kau siapa, aku menyesal telah membuang-buang waktu ku untuk menuruti semua kemauanmu, jika aku bisa mendapatkan wanita lain selain dirimu." Barley menggerutu seraya turun dari tangga.
"Nak Barley, mau kemana ?"tanya Asti ketika melihat wajah Barley yang terlihat kesal.
"Maaf Bu, saya terpaksa kembalikan Santi ke ibu dan bapak, karna sudah tak ada kecocokan antara kami, saya tetap akan menafkahinya sampai pengadilan memutuskan perceraian kami secara resmi," ucap Barley dengan emosi.
Barley pergi begitu saja dari Asti, kemudian merogoh saku celananya untuk meraih handphonenya.
"Hallo Candra segera urus perceraian saya saat ini juga," titah Barley tegas.
"Cerai? maaf pak tapi kenapa buru-buru Pak?"tanya Candra asisten Barley yang lainnya, ia takut itu hanya emosi Barley sesaat.
"Sudah laksanakan saja!" bentak Barley seraya membuka pintu mobilnya.
Dari balkon kamarnya Santi melihat kepergian Barley dengan sedih.
Asti langsung menemui Santi di kamarnya, saat itu ia melihat sang putri tengah menangis di atas tempat tidurnya.
"Santi, ada apa ini Nak? kenapa tiba-tiba saja Barley memutuskan untuk berpisah dari mu?"tanya Asti yang kemudian duduk di samping Santi.
Santi menatap kearah Asti seraya menangis memeluk Asti.
"Santi ngak kuat Bu menjalankan rumah tangga bersamanya, tuan Barley tak pernah mencintai Santi, ia hanya mencintai kakak hiks hiks hiks,"ucap Santi seraya menangis kembali.
"Kamu sabar saja Nak, Mungkin Barley butuh waktu saja." Asti.
"Tapi Bu, wanita mana yang sanggup mendengar suaminya mengigau menyebut-nyebut nama wanita lain, Santi ngak sanggup bu, biar saja Santi hidup sendiri hiks hiks hiks ,1dari pada Santi setiap hati makan hati, belum lagi dari perlakuan orang tuanya yang akan menjodohkan tuan Barley kembali, hiks hiks hiks," papar Santi, ia pun menangis tergugu.
"Barley mau di jodohkan kembali?!" tanya Asti syok.
"Iya, Bu, awalnya Santi ngak keberatan jika tuan Barley di jodohkan kembali, karna Santi juga ngak punya perasaan apa pun terhadapnya, tapi setelah kami melakukan hubungan suami istri, Santi merasa tak rela jika harus di madu, apalagi ternyata tuan muda tak pernah mencintai Santi."
Hiks hiks hiks, santi menumpahkan segala curahan hatinya pada Asti.
Sebenarnya ia juga tak mengerti tentang perasaannya sejak kapan rasa cemburu itu hadir di hatinya, padahal ia merasa jika selama ini dirinya tak menyukai suaminya tersebut.
Asti menarik tubuh Santi kedalam pelukannya, Santi memang tak pernah berpengalaman tentang cinta, ia adalah anak manja yang lebih dekat dengan keluarganya dari pada teman-temannya.
"Tapi apa kamu yakin Nak dengan keputusan yang kamu ambil?" tanya Asti.
"Yakin Bu, sebenarnya Santi ngak mau menikah dengan pria kaya, Santi hanya ingin menikah dengan pria yang sederhana."Santi.
"Ya sudah, jangan ambil keputusan terburu-buru, ibu berharap rumah tangga kalian bisa rukun selamanya,"ucap Asti seraya mengusap punggung putranya.
***
Barley pulang kerumahnya dengan wajah yang terlihat masih emosi, melihat kedatangan putranya yang seorang diri, Andini buru-buru menghampirinya.
__ADS_1
"Barley kau pulang sendiri? di mana istrimu ?"tanya Andini.
Bukannya menjawab Barley bahkan tak menoleh ke arah ibunya tersebut.
Melihat perangai Barley Andini tersenyum menyeringai.
"Sepertinya hubungan Barley dan Santi mulai merenggang ini adalah kesempatan besar untuk ku."
"Aku harus segera mengatur rencana pernikahan mereka," guman Andini.
Andini menuju kamarnya, kemudian melakukan panggilan di telponnya.
📲 "Hallo Vero, bisa kita bertemu?"
📲Tentu, An, bukan kah sebentar lagi kita berbesan, tak perlu sungkan," sahut Veronica.
📲Baik Vero tunggu saja di tempat biasa kita bertemu, " ucapnya seraya menutup telpon.
***
Andini menemui sahabatnya, Veronica ibunda dari Amora di sebuah cafe.
"Hallo Andini,apa kabarnya kamu," sapa Veronika seraya cupika cupiki bersama Andini.
"Hallo juga Vero, terlihat seperti biasa, aku baik-baik saja, bagaimana dengan kamu?"Andini.
"Ngak lah, suami ku sibuk, jadi aku harus mendampinginya kemana pun ia pergi, maklum saja, arsitek terkenal sepertinya selalu di percaya menangani proyek-priyek besar bahkan hingga ke amerika." Veronica
"Wah, senang sekaki bisa keliling dunia seperti mu." Andini.
"Haha, kau sendiri sebenarnya bisa keliling dunia dengan uang yang kau punya," sanggah Veronika.
"Aku tak punya waktu, karna suami ku selalu sibuk, lagi pula aku tak mungkin meninggalkannya sendiri."Andini.
"Hm, lalu bagaimana perjodohan putra-putri kita?"tanya Veronika seraya menyulut api ke rokoknya.
"Tenang saja aku sudah mengatur semuanya," papar Andini.
"Hm.. aku harap begitu, karna putri ku selalu mengeluhkan sikaf Barley terhadapnya, kasihan Amora, ia terlalu mencintai Barley." dengus Veronica.
Andini terdiam.
"Aku heran Andini, putra mu itu selalu saja bersikaf angkuh terhadap putri ku, aku jadi penasaran apa dia akan tetap bersikaf angkuh, jika Barley tau siapa dirinya sebenarnya," dengus Veronica seraya menyesap api rokoknya dan menghembuskan nya ke udara.
Andini mulai gelisah mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Veronica.
"Jangan Vero, Barley jangan sampai tahu jika dia bukan anak kandung Hasta Raja Prawira," pinta Andini mengiba.
"Selama ini hanya kau dan aku yang mengetahuinya," ungkap Andini.
__ADS_1
"Ha ha ha, aku tak percaya tuan Hasta sebodoh itu, dengan mudahnya ia percaya jika anak yang kau kandung adalah anaknya, dan semudah itu dia menikahi mu," gelak Veronica seraya tersenyum menyeringai.
Andini mencondongkan sedikit tubuhnya kearah depan dengan sedikit berbisik mengatakan sesuatu.
"Karna aku telah membuatnya jatuh cinta pada ku, sampai saat ini, suami ku itu selalu menuruti ke inginan ku, "papar Andini dengan senyum menyeringai.
"Hm, kau memang beruntung, " guman Veronica seraya melempar puntung rokoknya kesembarang tempat.
"Jika begitu, pastikan putriku menikahi putramu itu, dengan demikian, harta warisan Hasta Raja Prawira bisa kita bagi, sesuai perjanjian yang sudah lama kita sepakati, jika tidak kau tahu apa akibatnya!" ancam Veronika.
"Kau tenang saja, apa pun akan kulakukan, agar Barley bisa menikah dengan Amora," papar Andini meyakinkan Veronica.
Mereka berdua saling melempar senyum mengeringai penuh tipu daya.
***
Sudah tiga hari Santi pisah ranjang dari suaminya, rasa bosan mulai menghampiri,
Santi berdiri di depan cermin rias menatap wajahnya yang terlihat sendu.
"Ada rasa di rindu di hatinya kepada Barley yang coba untuk ia redam," Aku tak bisa hanya berdiam diri saja di rumah, aku harus mencari kesibukan agar bisa melupakannya sesegera mungkin."
Santi turun menemui Asti dengan berpakaian rapi dan beberapa berkas yang ada di tangannya.
"Bu, Santi keluar sebentar ya," ijinnya pada Asti.
"Mau kemana kamu Nak?"tanya Asti ketika melihat Santi berpakaian rapi dan resmi.
"Santi ingin melamar pekerjaan Bu, di sebuah perusahan jasa eksport dan import,"paparnya.
"Kamu mau bekerja, bagaimana jika suami tak memberi ijin?"cegah Asti.
"Bu, Santi tahu apa yang terbaik bagi Santi, dan tuan muda itu tak berhak mengatur hidup Santi."Santi mendengus.
"Santi, Barley itu suami kamu, di berhak atas diri kamu, lagi pula kalian belum resmi berpisah." Asti.
"Iya Bu, Santi pergi dulu," ucapnya seraya meraih tangan Asti kemudian mencium punggung tangannya.
Asti menatap kepergian putrinya seraya menggelengkan kepala," Dasar keras kepala," gumannya.
Santi memesan taxi online menuju sebuah perusahan, setelah mengantar berkas CVnya ia pun bermaksud untuk pulang dan kembali memesan taxi On line.
Santi menunggu taxi pesanannya di pinggir jalan, saat itu Aldo sudah bersiap menjalankan eksekusinya.
Mobil Aldo melaju hendak menabrak Santi, menyadari ada mobil yang mengarah kearahnya ,Santi berteriak seraya menutup telinganya.
"Akh!"
Bersambung, jangan lupa setelah baca tekan like, komennya ya, vote juga biar author makin semangat up nya.
__ADS_1