
Setelah beberapa hari dirawat keadaan Asyia mulai membaik.
Ia pun kembali bersemangat untuk mengejar ketinggalan pelajaran selama ia sakit.
Delia masuk ke kamar membawakan bubur dan obat untuk Asyia.
Ia kaget ketika masuk ke kamar, Asyia sudah berpakaian rapi.
"Mbak kamu yakin mau sekolah hari ini?" tanya Delia seraya meletakan buburnya di atas nakas.
"Iya Bu. Asyia sudah banyak ketinggalan. Apalagi materi kelas sebelas dan dua belas Asyia belum belajar sama sekali," ucapnya seraya menutup resliting ranselnya.
Delia jadi serba salah,Ia tak ingin mematahkan semangat Asyia, meski ia khawatir akan keadaannya.
"Ya sudah Mbak makan buburnya biar ibu bilang ayah jika mbak mau sekolah hari ini."
"Iya Bu."
Setelah beres-beres Asyia dan peratan sekolahnya siap, Asyia punĀ duduk untuk menikmati bubur.
Asyia tersenyum. Ia mengenali bubur ayam buatan ayah.
"Terima kasih ayah. Ayah selalu berikan Asyia yang terbaik. Seperti apa pun masa lalu ayah. Asyia akan selalu menyayangi dan bangga terhadap Ayah," gumannya sambil menikmati bubur tersebut.
Asyia adalah gadis cerdas, ia tak ingin terpuruk terlalu lama dalam kesedihan yang panjang. Waktu tak mungkin menunggu dan hidup terlalu singkat untuk meratapi semua yang terjadi, Toh nyata jika ditangisi seperti apapun semua tak akan kembali. Ia merasa bentung di beri waktu dan kesempatan lebih lama dari pada orang lain yang juga memiliki riwayat penyakit yang sama sepertinya.Dan waktu yang sempit ini lah ia akan terus berjuang untuk menjadi yang terbaik sebelum waktu menarik diri dan memaksanya meningalkan dunia yang fana inu.
Aldo menghampiri Asyia ke kamarnya.
"Mbak, yakin mau sekolah?"tanya Aldo seraya mendaratkan bokongnya ke atas tempat tidur.
"Iya Yah. Asyia sudah sembuh. Tinggal di rumah justru bikin Asyia bosan."
"Ehm jadi di sekolah ngak bosan? Apa karna ada tuan muda Andhra jadi ngak bosan? " tanya Aldo menggoda Asyia sambil mencolek hidungnya.
Asyia berhenti menyendok buburnya, ia pun melirik kearah Aldo.
"Ayah! Apaan sih? Asyiakan jadi malu,"ucap Asyia searaya memukul bahu Aldo pelan.Wajahnya pun tertunduk dengan pipi yang merona.
Ha ha ha. Aldo tertawa melihat reaksi dari gadisnya tersebut, ia pun merangkul Asyia dan memeluknya" Anak ayah sudah gadis rupanya. Sudah punya pacar pula," ucap Aldo sambil mencium pucuk kepala Asyia.
"Ngak lah Yah dia cuma teman biasa kok," ucap Asyia seraya menggigit bibir bagian bawahnya.
Asyia semakin malu-malu.
__ADS_1
"Masak sih?"
"Ayah jadi ingat cerita putri tidur yang bangun ketika di cium sang pangeran tampan.Apa kamu seperti itu juga?"
Ha ha ha.
"Ayah! Jangan bikin Asyia tambah malu. Tuan muda itu memang pangeran. Tapi bukan untuk Asyia. Asyia ngak ada yang mau Yah!" Asyia semakin malu karna di ledek terus oleh ayahnya.
Aldo mengusap rambut Asyia. "Anak Ayah. Cantik seperti ini, pasti banyak yang naksir," ucap Aldo sambil menyelitkan anak rabut pada telinga Asyia.
"Hm, udah ah, Asyia juga ngak pernah mikirkan hal itu. Yuk Yah kita berangkat!"
Asyia pun beranjak.
"Obatnya minum dulu Nak." Aldo.
" Ntar ajalah Yah. Saat istirahat. Kalau minum sepagi ini lambung Asyia suka ngak enak."
"Yah sudah."
Aldo memasukan obat-obatan Asyia ke dalam tas ranselnya.
Mereka pun keluar dari kamar dengan bergandeng mesra.
"Bu Asyia pergi dulu ya."Asyia mencium punggung tangan Delia.
"Hati-hati ya Mbak. Ini bekalannya."
"Karna mendadak Ibu hanya bisa siapkan.telur ceplok yang di goreng dengan minyak zaitun."
"Ngak apa Bu. Yang penting Asyia bisa minum obat saja saat istirahat."
***
Asyia dan Aldo tiba di depan gerbang sekolah.
Keadaan sekolah memang sepi hanya ada penjaga sekolah dan beberapa petugas yang membersihkan sekolah mereka.
Di ujung koridor ia melihat Nessa yang berdiri dengan menyilangkan dua lengannya pada dada.
"Kenapa ngak istitahat saja di rumah Asyia?! Ngak usah berharap kamu bisa pergi untuk mewakili sekolah ini," dengus Nessa.
Asyia hanya tersenyum simpul." Permisi Kak, " ucap Asyia seraya berlalu begitu saja di hadapan Nessa.
__ADS_1
"Hm sombong! Lihat saja kamu pasti gagal kali ini." dengus Nessa.
Asyia menyimpan tasnya ia pun duduk di bangku yang biasa Andhra duduk selama beberapa hari ini. Sementara Nessa masuk ke kelas dengan menatapnya sinis.
"Hm, moga saja loh di semprot si Andhra karna duduk di kursinya," guman Nessa pelan.
Asyia langsung membaca buku pelajaran yang akan di bahas pada pertemuan kali ini.
Beberapa saat kemudian Andhra tiba hampir bersamaan dengan guru yang akan membimbing mereka.
Andhra tersenyum simpul melihat Asyia yang duduk di kursinya. Tanpa banyak bicara Andhra duduk di kursi yang seharusnya di duduki oleh Asyia.
Melihat Asyia yang hadir, guru tersebut pun menghampirinya.
"Asyia bagaimana keadaan kamu? tanya guru.
"Alhamdulillah pak. Saya sudah pulih."
"Hm, jita kamu masih sakit kamu bisa beristirahat. Jangan di paksakan. Kamu bisa ikut kembali untuk tahun depan."
"Ngak Pak, saya yakin saya mampu." Asyia.
Andhra tersenyum mendengar ucapan Asyia.Sementara Nessa mengkerutkan keningnya.
"Baiklah langsung saja kita bahas materi hari ini." Pak Guru.
Sang guru pun mulai menjelaskan materi dari mata pelajaran yang akan di bahas.
Suasana tampak tenang, sesakali Andhra dan Asyia saling lirik kemudian saling melempar senyum. Dan Ada yang merasa cemburu melihat mereka.
Pelajaran pun berlangsung tenang hingga jam istirahat.
***
Aldo kembali mobilnya ketika melihat sang putri sudah masuk ke ruangan kelasnya. Ia pun bermaksud untuk pulang dan akan kembali setelah Asyia pulang sekolah nanti.
Baru saja ia memutar kunci kontaknya seorang wanita berdiri dan menghadang mobilnya.
"Buka pintu ini !" Teriak wanita tersebut.
Aldo membuka kaca jendela mobil.
"Mau apa kau?!"
__ADS_1
Bersambung dulu. Next satu episode lagi.