Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Meminta Maaf Tidaklah Sulit


__ADS_3

Barley kembali ke gedung utama di mana kantornya berada.


"Selamat siang, Tuan," ucap Anggi menyapa Barley dengan senyum manis dan pakaian seksinya.


"Selamat siang," ucap Barley dingin tanpa melihat ke arah gadis tersebut.


Anggi melirik sinis kearah Barley yang membuka pintu ruangan-nya.


" Huh Percuma berdandan secantik ini, dilirik saja tidak pernah," guman Anggi sembari mendarat kan bokongnya ke atas kursi singgle-nya.


Barley masuk ke dalam ruangannya, kemudian menghempaskan bokongnya pada kursi dan menyandarkan tubuhnya pada sandarannya, kedua jarinya memijit bagian pelipis.


"Harus menjadi CEO di dua perusaahan yang berbeda, Akh! Sepertinya aku butuh asisiten yang handal, tapi siapa?"


Barley mengkerutkan keningnya mencari memomy di otaknya, siapa orang yang bisa di andalkannya.


Sekian lama berfikir tiba-tiba saja, bibirnya menyebut nama Arief.


"Arief?" Gumannya.


"Apa mungkin aku memintanya untuk kembali bekerja pada ku?"ucap Barley seraya memainkan ballpoint dan memutar kursi kebesarannya.


"Tidak mungkin, aku sudah membuangnya dan aku_"Barely meragu,


" Tapi Arief tak bersalah, ia hanya di fitnah, apa pantas aku meminta maaf padanya dan menundukkan kepala ku sedikit seraya berujar' maaf Arief aku telah menuduhmu' Barley mencoba mempraktekan apa dia mampu mengucapkan kata maaf pada bawahannya.


" Arief maaf karna aku_" Barley mencoba lagi untuk mengucap kata maaf pada Arief, namun lagi-lagi sikaf arogannya membuatnya sulit untuk mengakui  kesalahannya, menyadari hal itu membuatnya kesal.


" Ah sial kenapa mengakui kesalahan ku itu terasa sulit sekali, harusnya aku belajar mengucap kata maaf dan memaafkan kesalahan orang lain," dengus Barley seraya melempar ballpointnya ke arah depan.


Barley kembali memijat pelipisnya seraya menghempaskan tubuhnya bersandar pada sandaran empuk kursinya.


"Aku membenci ini,.tapi aku harus melakukannya, aku tak punya orang lain yang lebih aku percayai yang mampu mengurus perusahaan ku selain Arief."


Barely meraih handphonenya kemudian mencari nomor Arief yang sebelumnya di blok olehnya kemudian melakukan panggilan.


"Huh lagi-lagi aku harus mengucapkan kata itu," dengus Barley.


Sambungan telpon tersambung.


"Hallo tuan," sapa Arief.


" Hallo Arief bisakan kau temui aku di restoran biasa tempat kita meeting?"


Tanya Barley.


"Ada apa tuan?"Arief balik bertanya.


" Aku tunggu kau saat jam makan siang, dan aku tak suka menunggu, jadi sebaiknya kau jangan terlambat! pungkasnya dengan tegas sembari memutus sambungan telponnya.


Arief binggung dengan sikaf Barley, 

__ADS_1


"Kenapa dia bicara pada ku seolah aku ini masih bawahannya," dengus Arief seraya meletakan kembali handp honenya.


***


Barley melirik jam tangannya," Masih ada setengah jam untuk makan siang, aku telpon istri ku dulu,untuk mengetahui kabarnya."


Telpon tersambung tapi tak di angkat oleh Santi.


Barley mencoba mengulanginya beberapa kali namun tetap saja tak di angkat.


Setelah beberapa kali coba menelpon Santi dan tak di angkat Barley pun menyerah,


" Ah dia pasti masih marah pada ku, dasar perempuan selalu bawa perasaan aku kan tak bermaksud menyakitinya," dengus Barley.


Barley bangkit untuk dan segera beranjak untuk menemui Arief.


Barley keluar dari ruangan tersebut, kemudian berbapapasan dengan Anggi yang hendak masuk ke ruangan itu.


"Is, kau punya mata tidak sih?!"bentak Barley, matanya pun melotot ketika tanpa sengaja melihat dua gumpalan padat berisi seperti tesembul di balik blazer yang di kenakan Anggi.


Anggi tersenyum puas,Wah Tuan, kau pasti tertarik dengan belahan dadaky yang lebih kencang dan padat berisi di banding punya istrimu itu, aku bahkan siap melayani mu saat ini juga," guman Anggi yang tersenyum seraya menggigit bibir bagian bawahnya.


"Anggi!" seru Barley.


"Hm iya tuan," sahut Anggi mend*esah dengan lirih, ia yakin sekali jika  tuan muda tersebut menginginkannya dan mengajaknya berkencan.


Barley menatap Anggi, Anggi mulai berasksi dengan membusungkan dadanya agar kembali jadi pusat perhatian Barley.


"Jika besok kau tak merubah penampilanmu aku tak akan segan memecat mu!" Ancam Barley.


Anggi mengkerucutkan bibirnya, ia tak menyangka jika Barley akan memarahinya.


"Eh Tuan mau kemana?"tanya Anggi ketika menyadari Barley telah menjauh.


"Bukan urusan mu!" Sahut Barley.


Barley menuju mobil dan masuk kedalamnya.


Tak sampai sepuluh menit ia pun sampai di restoran mewah miliknya.


Di parkiran ia sudah melihat mobil Arief.


"Dia sudah datang," gumannya seraya membuka pintu mobil setelah memarkirkan mobilnya.


Barely menuju meja di mana biasa ia pesan, private rooms nomer satu.


Barely duduk tepat di hadapan Arief.


"Aku tidak terlambatkan Arief?"


Barley mencoba memulai dialog.

__ADS_1


"Hanya beberapa detik," jawab Arief.


"Ada apa tuan meminta ku datang kemari?"tanya Arief langsung tanpa basa-basi.


"Arief sebelumnya aku meminta maaf karna telah memecatmu tanpa memberi alasan," ucap Barley menjendah kalimatnya.


Akhirnya kalimat tersebut lolos juga dari bibirku, ternyata meminta maaf dan mengakui kesalahan tak sesulit apa yang aku pikirkan*batin Barley.


"Ehm tidak masalah," sahut Arief ketika beberapa detik hening.


"Apa itu artinya kau mau bekerja dengan ku kembali Arief?" Tanya Barley.


Arief mendengus dengan berat, Aku memaafkan mu bukan bearti aku mau kembali bekerja pada mu tuan," jawab Arief.


"Tolonglah Arief,"


Apa aku meminta tolong padanya, akh aku aku rasa aku semakin aneh saja, tapi sudalah, aku tak punya pilihan lain.


Arief menyeritkan dahinya seolah tak percaya apa yang di dengarnya.


Hm biasanya tuan muda langsung memerintah tanpa meminta, Apa aku tak salah dengar.


" Aku  yakin hanya kau yang mampu membatu ku Arief. Daddy ku memilih pensiun, dia ingin menghabiskan waktunya untuk beribadah dan aku tak mungkin menolak ke inginannya."


"Aku tak mampu mengurus perusahaan ku dan perusahaan daddy ku sekaligus, aku butuh kaki tangan untuk membantu ku," jelas Barley.


"Aku butuh waktu Tuan untuk berfikir," ucap Arief.


"Baiklah, besok jam delapan pagi aku menunggu mu di ruang direktur dan ingat aku tak suka orang yang tak disiplin," ucap Barley.


Arief menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


"Tuan kau tak berubah, ini namanya memaksa,"guman Arief sambil menyilangkan kedua lengannya kedada.


"Terserah Arief, kau tahu aku tak suka orang yang menolak, datanglah besok pagi dan aku akan pulihkan namamu di depan para staf dan direksi." Barley.


"Oh ya, kau pesan saja makan siang mu, biar billnya aku yang bayar, karna aku ada urusan" ucap Barley seraya beranjak dari duduknya.


"Tuan apa kau pikir, karna aku tak bekerja dengan aku tak mampu membayar makan siang ku sendiri?! Seru Arief.


"Ah sudalah anggap saja itu kebaikan dari ku sebagai ucapan permintaan maaf dari ku," ucap Barley tersenyum sambil mengedipkan matanya.


Arief mendengus


"Simpan saja kedipan mata itu untuk istri mu Tuan, aku bukan wanita yang pantas untuk kau goda," sahut Arief yang juga tersenyum.


Barley keluar dari ruangan itu kemudian menelpon ibu mertuanya.


Karna Santi tak menjawab panggilannya ia pun memutuskan untuk makan siang di rumah mertuanya.


Bersambung, terima kasih sudah membaca

__ADS_1


__ADS_2