
Jantung Andhra berdetak tepat di atas dada Asyia ketika ia memeluknya.
"Bangun Asyia, Aku tahu kau mendengar ku kan, Hiks hiks. Andhra kebali menggenggam tangan Asyia.
Beberapa saat kemudian Asyia mulai bereaksi.
Andhra merasakan pergerakan Asyia. Jemari-nya bergerak-gerak menyentuh telapak tangan Andhra.
Andhra berhenti menangis, ia pun mengamati pergerakan Asyia.
Hiks, Andhra menghapus air matanya. Ia pun tersenyum ketika melihat jemari Asyia yang menggenggam telapak tangannya.
"Asyia," panggilnya lirih dengan terus mengamati pergerakan Asyia.
"Ayo Asyia! Sadarlah. Ayo bangkit. Lawan penyakit mu itu. Aku ada di sini bersama mu!" Andhra semakin erat menggenggam.tangan Asyia.
Andhra semakin bersemangat.Ia pun menghapus sisa-sisa air matanya
"Sadarlah Asyia, kau pasti kuat," bisik Andhra di telinga Asyia.
Kelopak mata Asyia mulai bergerak, tangan mulai menggenggam tangan Andhra.
"Iya Asyia, aku di sini bersama mu. Sadarlah! bangkitlah!"seru Andhra menyemangatinya.
Bu Riska menghampiri Andhra. Ia mengamati reaksi dari Asyia.
"Andhra, Terus berikan semangat pada Asyia, Ibu yakin kamu adalah salah satu penyemangat hidup baginya,"ucap bu Riska seraya menepuk pundak Andhra.
Meski bereaksi.Namun Asyia tetap tak membuka matanya, hanya kelopak matanya saja yang bereaksi.
Bu Riska pun menghubugngi petugas medis, untuk memeriksa keadaan Asyia.
Asyia menggenggam tangan Andhra lemah. Namun Andhra menggenggamnya semakin erat.
"Asyia jangan menyerah. Aku tak ingin kau pergi secepat ini hiks,Ingat lah kita punya mimpi sama-sama. Mari kita wujudkan bersama Asyia hiks."
"Kau ingin jadi dokter spesial penyakit jantung kan. Kau sudah dapatkan tiketnya. Karna itu kau harus kuat,percayalah ini hanya untuk sementara Asyia hiks." bulir bening kembali menetes di pipi Andhra.
Begitupun bu Riska.
" Asyia kamu harus kuat. Ibu yakin ini hanya ujian untuk kamu dan setiap ujian pasti berakhir. Jadilah pemenang dalam ujian kali ini Nak," ucap bu Riska seraya mencium kening Asyia.
__ADS_1
Keduanya pun terlarut dalam sedih.
***
Pesawat Barley mendarat di bandara sekitar lima jam setelah Andhra menelponya. Dari bandara mereka langsung menuju rumah sakit tempat Asyia di rawat.
Arief duduk di mobil yang membawanya menuju rumah sakit. Namun hatinya selalu berdoa dengan hati yang lirih untuk keponakan tercintanya.
'Ya Tuhan, berikan kekuatan untuk keponakan ku. Andai saja jantung ini bisa ku tukar dengannya, maka akan ku tukar, rasa aku tak sangup melihatnya selalu menderita. Asyia bertahanlah Nak,' batin Arief lirih.
Bulir bening menetes di pipinya, dengan mata yang memerah.
Rif. Aku sudah menghubungi teman ku yang ada di Amerika. Mereka bersedia membantu kita untuk memprioritaskan Asyia terlebih dahulu. Di sana ada sebuah yayasan yang menangani donor organ dalam secara resmi. Jadi pasien yang meninggal akibat kecelakaan atau pun pasien yang meninggal kematian fungsi otak, akan di hubungi olh pihak yayasan kepada pihak keluarga pasien. Biasanya ada yang mendonor untuk amal, ada pula yang mendonor untuk mendapatkan uang yang banyak, untuk menghidupi keluar yang di tinggal."
"Maksud Tuan?"
"Kita pindahkan perawatan Asyia ke Amerika. Nanti biar aku komfirmasi dengan dokter spesialis jantung terbaik yang ada di sana."
"Asal kondisi Asyia stabil. Asyia bisa menjalani operasi kapan saja." Barley.
Arief menitikan air matanya.
"Benarkah Tuan? Jika seperti itu aku akan hubungi adik ku. Meminta persetujuannya hiks."
"Hiks hiks.Semoga saja Tuan. Terima kasih banyak hiks."
"Kita berdoa saja Rif." Barley.
"Iya Tuan. Semoga ada keajaiban untuk Asyia." Arief menghapus air matanya. Sepanjang perjalanan ia pun berdoa.
Dari bandara ke rumah sakit membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan.
Barley terus memantau perkembangan Asyia melalui sambungan telpon Andhra.
Setibanya di bandara Bangkok.Barley dan Arief segera menuju rumah sakit.
***
Sudah hampir enam jam Asyia tak sadarkan diri.Namun Andhra tak sedikit pun beranjak darinya. Andhra yang lelah terbaring lemah di samping Asyia.
Bu Riska datang menghampiri Andhra dengan membawa makanan untuk mereka.
__ADS_1
"Andhra! Makan dulu, " ucap bu Riska seraya menyodorkan rice box ke Andhra.
"Ngak lapar Bu,"ucap Andhra dengan lirih.
"Ngak usah gitulah Nak, Makan dulu, kalau kamu sakit, ibu juga yang repot. Kasihan juga Asyia, dia pasti ikut sedih kalau kamu sakit." Bu Risaka.
Andhra menatap wajah bu Riska sebentar.
Ia pun mengangguk.
Andhra melepaskan genggaman tangannya, tapi tangan Asyia kembali mengggenggam tangan Andhra.
"Asyia! Kamu sudah sadar?" tanya Andhra.
Mata Asyia masih terpejam. Namun ada gerakan tipis di bibirnya.
Asyia seperti ingin membisikan sesuatu pada Andhra.
"Asyia kamu ingin bicara apa?" tanya Andhra sembari mendekatkan telinganya pada bibir Asyia.
"Pul-ang," ucap Asyia lirih.
Matanya masih tertutup rapat.
Hiks hiks
"Iya Asyia kita pergi bersama pulang pun kita akan bersama juga.Aku tak akan pulang sendiri. Aku tetap menunggu mu di sini," ucap Andhra seraya menggenggam tangan Asyia.
Andhra kembali melihat Asyia menitikan air matanya. Meski kelopak matanya masih tertutup rapat.
"Asyia, Kamu kenapa nangis hiks?"tanya Andhra lirih, Ia pun menangis.
Asyia seperti mengatakan sesuatu,tapi tak terdengar, Andhra pun mendekatkan telinganya kembali ke tepi bibir Asyia.
"Katakan lagi Asyia, kenapa kau menangis hiks hiks?" tanya Andhra dengan air mata berlinang.
"Sa-kit, aku ngak tahan lagi, "ucap Asyia lirih dengan bibir yang gemetar. Bulir bening kembali menetes di pipinya.
"Hiks, ngak Asyia! Kamu ngak boleh menyerah. Ingat janji kamu pada paman mu, pada ayah dan ibu mu. Ingatlah cita-cita mu yang belum tercapai. Bertahan lah sebentar lagi Asyia hiks hiks.Ku mohon bertahanlah sebentar saja. Kau tak akan berjuang sendiri Asyia, kami akan berusaha yang terbaik untuk mu,hiks hiks hiks." Andhra menangis memeluk Asyia, tubuhnya bergetar dengan air mata yang tak berhenti menetes. Bu Riska sampai terharu.
Sejenak suasana kembali hening, hanya terdengar sisa isak tangis Andhra yang sesekali memanggil Asyia lirih.
__ADS_1
Bersambung dulu reader. author jadi tak bisa berkata-kata.
Assalammualaikum Wr. WbðŸ˜