
Sebelumnya,
Setelah menelpon Santi, Barley bergegas menuju laboratorium, ia sudah tak sabar untuk mengetahui hasil dari tes DNA mereka.
Sesampainya di sana Barley langsung mendapatkan hasil Tes DNAnya.
Sudah dua hari ia menunggu saat ini, rasa penasaran menghantui pikirannya setiap saat.
Tanpa menunggu dan beranjak dari tempatnya berdiri Barley membuka amplop menarik sebuah kertas yang terlipat tersebut dan membacanya.
Bola matanya membulat dengan sempurna, meski sempat menduga hal tersebut terjadi namun tetap saja hasil tes tersebut membuatnya kaget.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Barley mempercepat langkah kakinya menuju ruang ICU, perasaannya seperti tercampuk aduk, sedih, marah, kecewa.
Sesampainya di ruang ICU ia malah tak menemukan Munir, Barley masuk kedalam ruang ICU untuk menemui Tuan Marco.
Hatinya gelisah tak kala melihat Munir yang menangis histeris dengan bebetapa petugas medis yang mengelilingi tuan Marco.
"Tuan ! Tuan! jangan pergi Tuan.! seru Munir seraya menangis terisyak ada juga beberapa suster yang sedang memeriksa keadaan dari Tuan Marco mencoba menenangkan Munir.
"Tenanglah Tuan, kami sedang berusaha," ucap sesorang suster pada Munir.
Barley mendekat dengan hati yang gelisah,"Ada apa ini Munir?"tanya Barley.
"Tuan muda, tuan Marco semakin kritis, dokter sedang melakukan upaya pertolongan," ucap Munir dengan nada panik.
Barley mendekat kearah Tuan Marco dengan perasaan sedih, ia jadi takut terjadi sesuatu pada tuan Marco, seorang petugas kesehatan menempelkan alat kejut jantung pada dada tuan Marko.
Barley terdiam melihat usara para medis tersebut, air matanya mengaliri ketika melihat EKG menujukan garis lurus.
"Daddy! Daddy! sadar Daddy, apa yang terjadi Daddy?" Barley memanangis memanggil tuan Marco.
Suster menghampiri Barley.
"Anda tenang dulu tuan! kami sedang berusaha, tolong jangan bikin keributan di sini," suster
Hiks hiks hiks tubuh Barley terasa lemas .
Beberapa kali dokter tersebut menempelkan alat kejut jantung ke dada tuan Marco hingga tubuhnya sedikit terangkat.
Tubuh Barley terguncang menahan tangisnya,melihat keadaan tuan Marco.
Begitu pun Munir yang sedih melihat nyawa Tuannya berada di tanduk.
Setelah mencoba dengan beberapakali menggunakan alat kejut jantung atau defribrilator namun juga tak ada perubahan, tuan Marco tak bisa tertolong.
Barley semakin menangis melihat ekspresi dari dokter dan juga perawat tersebut.
Dokter pun meletakan alat kejut jantung tersebut pada tempat semula.
Dokter tersebut menghampiri Barley yang menangis tergugu.
"Maaf Pak, nyawa pasien tidak dapat tertolong lagi," ucapk Dokter tersebut.
Greak jedar.
__ADS_1
Tubuh Barley terasa lemas seketika nendengar penuturan dari dokter tersebut.
"Tuan! hiks hiks" Munir gemetar ia tak percaya jika Tuan Marco sudah tiada.
"Tidak! Daddy saya masih hidup," ucap Barley ia pun menghampiri Tuan Marco.
Barley begitu sedih melihat pria tua yang terbaring dengan wajah pucat tersebut, siapa yang menyangka jika orang yang pada awalnya tak di sukainya tersebut ternyata adalah ayah biologisnya, atau mungkin saja ayah kandungnya.
"Daddy bangun Daddy, kita baru bertemu Daddy tapi kau sudah ingin pergi untuk selamanya Daddy! hiks hiks hiks."
Tubuh Barley terguncang seraya memeluk tubuh tuan Marco yang masih terasa hangat.
Di sisi kanan ada Barley sementara di sisi kirinya ada Munir yang juga ikut menangis histrris.
"Tuan, jangan pergi Tuan!"seru Munir.
Suster dan perawat tercekat melihat pemandangan yang memilukan tersebut.
Beberapa saat ia biarkan keluarga pasien untuk menangis sebelum semua alat bantu medis harus mereka lepas.
Barley menangis histeris dengan tubuh terguncang seraya memanggil-manggil Tuan Marco dengan panggilan Daddy.
"Daddy bangunlah Daddy, kenapa kau tak beri tahu padaku jika aku ini putra mu Daddy?! Aku menyesal karna mengacukan mu selama ini, beri kesempantan pada ku Daddy untuk berbakti pada mu hiks hiks hiks."
Entah kata-kata apalagi yang keluar dari mulut Barley, sesekali ia memanggil Tuan Marco dengan sisa sisa isak tangisnya.
"Please Daddy jangan pergi! hiks hiks hiks," tubuh Barley tergunjang dengan lutut yang gemetaran.
"Tuan! jangan pergi secepat ini Tuan hiks hiks," Munir tak kalah sedih, Tuan Marco adalah bos yang begitu baik terhadap semua karyawannya.
Hiks hiks hiks, isak tangis kedua lelaki tersebut memecah tuangan ICU yang biasanya hening tersebut.
"Maaf Tuan, kami harus melepas alat medis yang ada di tubuh pasien,"ucap Sister tersebut.
Barley mengangkat kepakanya menatap suster yang berada di sampingnya.
"Tidak Suster! jangan di lepas dulu, aku yakin Daddy ku masih hidup, hiks."
Suster pun terdiam, Barley kembali menatap tuan Marco dengan sedih sambil menepuk pelan pipi tuan Marco.
"Daddy! katakan pada ku Daddy kenapa semua terjadi bisa terjadi hiks hiks?"
Hiks hiks
"Daddy! daddy bangunlah! bangunlah Daddy jangan pergi Daddy! aku baru saja tahu kenyaataan yang sebenarnya Daddy.! hiks hiks bangunlah Daddy buka mata mu, putra mu ada di sini!"
Hiks hiks hiks, tubuh Barley berguncang, ia akan menyesal seumur hidupnya jika saat ini Tuan Marco pergi untuk selamanya meninggalkan dunia ini.
Suster mencoba mendekat ke arah Barley kembali
"Tuan persmisi maaf ayah anda_,"
"Tidak! Daddy saya belum mati!" seru Barley dengan berapi-rapi.
"Tapi Tuan_" kata-kata Suster terhenti
Suster tersebut tergaman ketika melihat Ekg mulai menampakan garis yang bergelombang dengan lemah.
__ADS_1
Suster pun segera berlari menghampiri dokter jaga di ruang ICU tersebut.
Barley menangis putus asa, tubuhnya tergugu menangis memeluk Tuan Marco.
"Hik hiks hiks, bangun lah Daddy, aku sudah ada di sini, putramu di sini Daddy bersama mu", ucap Barley lirih karna ia sendiri sudah kehilangan suaranya.
Suasana hening beberapa saat yang terdengar hanya sisa-sisa isak tangis dari kedua lelaki tersebut.
Tiba-tiba Barley merasakan sebuah gerakan yang lirih, detak jantung tuan Marco terdengar lirih di telinga Barley.
"Daddy, Daddy,! seru Barley yang lansung bangkit dan tegak berdiri, karna merasakan tanda tanda kehidupan pada tubuh tuan Marco.
Barley memeriksa denyut nadinya dan memang ada getaran yang sangah halus di pergelangan tangan Tuan Marco.
Ia pun meraba pembuluh dara Vena yang berada di leher Tuan Marco.
Merasakan denyutan lirih.
Barley menelan ludahnya, antara syok bercampur bahagia.
"Daddy," ucap Barley lirih.
"Barley, put-ra ku-" ucap Tuan Marco lirih jari tangannya bergerak gerak.
Hiks hiks, hiks, Barley menghapus air matanya, ia merasa bahagia.
Daddy, kau sudah sadar? hiks hiks,"tanya Barley seraya menyapu rambut di kening Tuan Marco.
Tuan Marco tak menjawab, keadaanya begitu lemah kebetulan Suster dan dokter segera tiba.
"Permisi Tuan, biar kami periksa keadaan pasien, "ucap Suster tersebut.
Barley pun menepi melihat suster dan dokter melakukan tugasnya guna meneriksa keadaan tuan Marco.
Besar harapan Barley agar Tuan Marco selamat,meski ia sendiri bingung apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pertama-tana dokter membuka mata tuan Marco dan memberi nya rasangan berupa cahaya, kemudian dokter tersebut mengeluarkan stathescop untuk memeriksa denyut nadi dan detak jantung tuan Marco.
"Alhamdullilah, pasien menunjukan perubahan drastis, kemungkinan sebentar lagi pasien akan sadar dan mengakhiri masa ktitisnya, "ucap dokter tersebut dengan bahagia.
Barley bersandar pada dinding kaca, rasanya sesak mememunuhi dadanya dan kini ia bisa menarik napas dengan lega.
Suster dan perawat tersebut kembali melakukan tindakan medis selanjutnya.
Barley dan Munir merasa lega, namun masih ada rasa penasaran di hati Barley.
Kenapa semua ini bisa terjadi?
Barley menutup matanya setelah peristiwa menegangkan tersebut kali ini ia bisa bernapas sedikit lega.
Setelah dokter dan perawat tersebut selesai melakukan tugasnya, salah satu dari mereka pun menghampiri Barley.
"Selamat Tuan, masa kritis pasien sudah terlewati, mungkin sebentar lagi pasien bisa di pindahkan keruangan perawatan," papar suster tersebut.
Haaa. Barley menghempas napasnya yang terasa lega.
"Iya Suster terima kasih,"ucap Barley.
__ADS_1
Bersambung terus dukung author ya
like, komen, vote hadiah, terima kasih