
Barley pulang kerumahnya langsung mendapat sambutan hangat dari Santi.
"Sayang, tumben kamu pulang cepat?"tanya Santi seraya menghampiri Barley dan menggandeng mesra tangannya.
Mereka pun menuju ruang tengah, Barley berbaring di pangkuan Santi, "Sayang aku ada urusan nanti malam, aku boleh pergi?"tanya Barley seraya mengelus pipi mulus sang istri.
Santi tersenyum seraya mengusap rambut Barley.
"Pergilah Sayang, tapi jangan lama-lama.Kau kan tahu, jika aku tak bisa tidur tanpa belaian mu," ucap Santi.
"Iya aku tahu itu Sayang, aku janji sebelum kau tidur aku akan pulang," ucap Barley sambil menarik tangan Santi kemudian mencium punggung tangannya.
Ehm, Santi tersenyum.
Barley bangkit dari baringnya kemudian mencium pipi Santi lagi ." Kamu memang pengertian,cup cup."
Ia pun menyandarkan tubuh Santi pada dada bidangnya, seraya mebelai rambut panjang istrinya dengan mesra.
Santi pun tersenyum dalam dekapan hangat suaminya.
***
Pukul tujuh Barley bersiap dengan pakaian santainya, dengan celana navy dan kaos kemeja berwarna hitam membuatnya terlihat tampan.
"Sayang aku pergi dulu, kau istirahatlah. Aku janji aku akan pulang sebelum kau tidur," ucapnya seraya mengecup bibir Santi.
"Iya Sayang! aku percaya pada mu," ucap Santi seraya mencolek hidung Barley mesra.
Mereka pun saling melempar senyum mesra.
Barley melangkah meninggalkan kamar seraya menutup pintu,kemudian keluar dari apartement menuju hotel, bersiap menemui Cintya, ia sudah mendapat pesan singkat dari Cintya yang sudah menunggunya.
***
Sementara itu Anggi baru saja selesai dengan ritual mandinya dan langsung menuju lemari untuk mencari gaun tidurnya.
Treet... terdengar suara smartphonesnya yang bergetar di atas nakas.
"Siapa sih?" dengusnya seraya meraih smartphone.
Mata Anggi membulat dengan sempurna melihat pesan yang tertera di salah satu aplikasi chatnya.
βfrom Tuan muda.
Anggi temui aku di Rich hotel pukul delapan malam.
" Hah! yang benar saja?! tuan muda ngajak aku chek-in ke hotel. Iyes ini pasti karna kalung dari mah Misan itu! yey!" serunya sambil berjingkrak-jingkrak.
Ia pun bersiap berdandan secantik mungkin untuk menemui Barley.
***
Barley mengetuk pintu kamar dengan nomor 303.
Tak lama kemudian seorang wanita cantik membukakan pintu, seraya tersenyum ke manis ke arahnya.
"Aku tak terlambat kan?"tanya Barley seraya tersenyum menggoda Cintya.
Senyuman dari pria tampan tersebut memang begitu mempesona, hingga membuat jantung Cintya berdegup dengan manja.
Ehm.
"Silahkan masuk Tuan," ucap Cintya, seraya membuka daun pintu lebih lebar.
Barley pun masuk ke dalam kamar hotel yang cukup mewah tersebut, ia duduk di atas sofa yang ada salah satu sudut ruangan.
Barley merentangkan salah satu lengan-nya pada sandaran sofa, sementara kakinya di angkat dan di lipat membentuk segitiga di atas lutut.
Cintya mendekat seraya menyodori sebotol minuman ke arah Barley.
"Minum Tuan?"tawarnya seraya menyodorkan sebuah gelas kecil.
Barley tersenyum, " Aku tak minum alkohol."Barley.
"Ehm, kenapa?"tanya Cintya sambil menyeritkan dahinya.
"Karna istriku tak menyukainya," cetusnya lagi.
Cintya tertawa kecil menutupi rasa cemburunya.
"Ehm, Sepertinya kau begitu mencintainya?"tanya Cintya dengan wajah tak sukanya.
__ADS_1
"Tentu saja, aku mencintainya."Cetus Barley seraya melirik kearah Cintya.
"Lalu tawaran apa yang kau maksudkan?" tanya Barley to the point.
Cintya tersenyum seraya mendekat ke arah Barley," Tuan apa kau suka bermain cinta selain dengan istri mu?"tanya Cintya menggoda.
Barley tertawa kecil mendengar ucapan Cintya, "Aku ini seorang pria, tentu saja aku menyukai hal-hal yang berbau petualangan dengan mencoba hal-hal baru, "pancing nya.
Cintya tersenyum, ia rasa Barley mulai masuk kedalam jebakannya.
"Ehm, apakah maksud mu seperti kucing yang di beri ikan, yang tak akan menolak? tanya Cintya dengan lirikan nakalnya.
"Hm, begitulah,"Barley.
Cintya tersenyum, jarinya pun mulai nakal meraba dada bidang Barley.
Matanya meredup mencoba menggoda naluri lelaki Barley.
"Tuan, aku penasaran dengan mu," bisiknya di tepi bibir Barley seraya meraba tubuh kekar tersebut.
Barley tersenyum,"Aku juga penasaran terhadap mu, berapa lama kau bisa bertahan dengan serangan ku," bisik Barley mesra, ia pun menggigit pelan telinga Cintya, membuat Cintya mengelinjang karna terang*sang ketika mencium aroma segar yang keluar dari napas Barley.
Barley begitu pandai memainkan perannya, ia begitu tahu letak kelemahan wanita seperti Cintya.
Cintya semakin mendekat menyodorkan minuman tersebut ke arah Barley.
"Kau yakin tak ingin minum ini Tuan?"tanya Cintya seraya menyodorkan gelas kecil yang berisi minuman yang di beri obat perangsang.
Tentu saja Barley sudah hapal dengan trik murahan seperti ini, karna sudah beberapa wanita yang mencoba menjeratnya dengan umpan murahan seperti ini.
"Ehm, minuman itu sebaiknya untuk mu saja. Karna, tanpa minuman itu pun aku bisa memuaskan mu selama berjam-jam, bisik Barley seraya menatap Cintya dengan tatapan nakal, kemudian ia menyodorkan minuman tersebut kepada Cintya dan menyuruh meminumnya.
"Minumlah, agar pertarungan berlangsung imbang," bisik Barley seraya mencium ceruk leher Cintya dengan mesra membuatnya bergidik, seketika bulu romanya meremang.
Tanpa pikir panjang Cintya pun meminum minuman tersebut hingga habis, karna di rayu oleh Barley.
Cyntia yang sudah terpengaruh dengan minumannya sendiri pun semakin tak bisa menguasai dirinya.
Ia menggigit bibir bagian bawahnya, karna sudah tak tahan dengan hasratnya yang mulai membuatnya gila." Tuan bawalah aku terbang secepatnya, "ucapnya dengan tatapan mata yang sendu yang begitu mendamba penyatuan mereka.
Barley tersenyum menyeringai.
"Tenang sayang, akan ku layani kau dengan baik, tapi habisi dulu minuman mu agar aku bisa membawa mu terbang melayang-layang semakin tinggi," bisik Barley dengan men*desah menbujuk Cintya kembali.
Barley kembali menuang minuman tersebut ke dalam gelas dan merayu Cintya agar ia meminum habis minuman tersebut.
Cintya terlalu percaya diri, ia pikir Barley begitu menginginkannya, Barley terus merayunya untuk menghabiskan minuman tersebut. seraya memberi sentuhan-sentuhan kecil yang membuat hasrat Cintya semakin terbakar.
Minuman yang di beri obat perangsang yang harusnya untuk Barley, justru ia sendiri yang meminumnya.
Cintya sudah di luar kendali, berkali-kali ia meminta Barley untuk melepaskan hasrat.
"Ayolah Tuan, aku sudah tak tahan," ucapnya seraya menggigit pelan bibirnya seraya meliuk-liukkan tubuhnya.
Cintya benar benar di mabuk kepayang, hingga lupa rencana awalnya.
Melihat Cintya yang tak berdaya ia pun tersenyum menyeringai.
'Cih aku pikir rencana apa yang kau buat untuk ku, ternyata hanya jebakan murahan seperti ini,'batin Barley
"Tuan, kenapa lama sekali, ayolah, " ucap Cintya seraya meliuk-liukan tubuhnya seraya menggigit pelan bibir bagian bawahnya.
"Baiklah Sayang," ucap Barley seraya menggangkat Cintya di atas ranjang.
Cintya sudah meracau, ia benar-benar di luar kendali, Barley meletakannya di atas ranjang.Cintya pun menarik tubuh Barley agar segera menindih tubuhnya.
"Ehm Tuan, lakukan sekarang!" des*ahnya karna sudah tak mampu menahan.
Barley tertawa dalam hatinya, kemudian melanjutkan aktingnya " Bersabarlah, aku ke toilet sebentar, kau bersiaplah saja," bisik Barley, yang kemudian menarik tubuhnya dari atas tubuh wanita tersebut.
"Ehm, Tuan aku tak mau di tunda lagi, lakukan lah sekarang!" pintanya dengan merengek manja.
"Iya tapi aku harus ke toilet sebentar saja." Barley mencari alasan untuk kabur.
"Ehm tapi jangan lama-lama Tuan, aku sudah tak tahan," ucapnya dengan nada merengek manja, sambil meliuk-liukkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Barley tersenyum menyeringai, melihat Cintya begitu bergairah, yang meliuk-liukan tubuhnya karna mencoba menahan hasrat.
Barley melangkah dengan pelan, ia pun menuju ke arah pintu keluar untuk kabur.
Cintya mulai resah, menunggu Barley yang tak kunjung tiba.
__ADS_1
"Tuan! Tuan!" kenapa lama sekali ? Ehm ehm, Cintya benar-benar tak mampu menahan.
"Tuan! ayo kenapa kau lama sekali, aku sudah benar-benar tak tahan, Akh!" Seru Cintya karna setelah sekian lama menanti tapi Barley tak kunjung menemuinya.
Cyntia sudah merasa lemas, ia benar tak lagi kuat menahan hasratnya, ia pun memaksakan diri memeriksa kamar mandi dan betapa kecewanya ia ketika melihat Barley tak ada di sana.
"Akh! " teriak Cintya, hasratnya semakin memuncah memuntut pelampiasan, Namun betapa kecewanya ia, saat mengetahui Barley tak ada di kamar itu lagi.
"Akh!"
Cintya berteriak, menahan hasratnya yang bergejolak, semua terasa semakin menyiksanya, Cintya mencoba untuk keluar dengan membuka pintu.Namun pintu ternyata terkunci dari luar hingga membuatnya semakin frustasi.
Ia menjambak-jambak rambutnya, tak lagi mampu menahan, akhirnya ia pun bermain solo sebagai pelepasan hasratnya.
Tak lama berselang Cintya pun pingsan, karna pada minuman terakhir Barley menambahkan obat bius dengan reaksi yang lambat.
Cintya terkapar di atas ranjang dengan keadaan mengenaskan.
Sementara Barley menunggu kehadiran seseorang di lobi hotel.
Seseorang yang di tunggu Barley sudah tiba, Anggi turun dari taxi, dengan rasa kepercayaan diri yang tinggi menemui Barley.
Dengan tubuh yang berlenggak-lenggok saat berjalan, membuatnya jadi pusat perhatian.
Anggi tersenyum ketika melihat Barley yang seperti menanti kehadirannya.
"Selam_" kata-kata Anggi terputus karna langsung di sambar oleh Barley.
"Kenapa lama sekali?!" tanya Barley membentak.
"Ehm maaf Tuan, prepare-nya lama," cetusnya memberi alasan, Anggi sudah begitu pede jika Barley akan mengajaknya chek-in, maka dari itu ia datang sedikit terlambat untuk mempersiapkan semua dengan matang.
"Mana Chandra?" tanya Barley lagi.
"Ehm, Tuan juga memanggil Chandra kemari?"tanya Anggi kecewa.
"Tentu saja!" bentak Barley lagi.
Tiba-tiba saja Chandra datang menghampiri mereka," Maaf Tuan saya terlambat!" ucapnya menunduk.
"Sudah! kalian berdua urusi wanita yang di dalam kamar hotel 303 ini kuncinya." Barley menyodorkan kunci ke Chandra, sebelumnya ia sudah memberi tahu Chandra tentang rencana mereka.
"Chandra kau sudah tau kan apa yang harus kau lakukan?"tanya Barley.
"Sudah, Tuan." Chandra.
"Baiklah, aku pulang dulu.Istri ku sudah menunggu." Barley.
Barley pun pergi dari tempat tersebut, sementara Anggi kembali kecewa.
'Huh, ku pikir tuan akan mengajak ku chek-in ternyata malah di suruh ngurusi perempuan,'batin Anggi meggerutu.
Chandra menangkap ada sinyal kecewa di balik raut wajah Anggi ia pun bermaksud mengerjainya.
Chandra berdiri di hadapan Anggi.
"Ngi kenapa ya? gue kalau lihat muke luh jadi binggung," cetusnya.
"Hah binggung kenapa Chan?" tanya Anggi lebih binggung.
"Nah itu lampu sent loh kiri kanan dua-dua nya nyala, kan binggung gue, loh mau belok ke mana, " ucap Chandra dengan wajah yang serius.Namun, dengan maksud bercanda.
"Loh ngomongin apa sih Chan?" tanya Anggi tak mengerti.
"Tuh di pipi loh!" tunjuk Chandra seraya menepuk pipi Anggi kanan kiri.
Anggi menatap sinis, seraya mengkerucutkan bibirnya.
" Ya elah loh. ini namanya blush on! tau!" sahut Anggi.
"Apa ? blo-on?"tanya Chandra pura-pura bego. ia pun tertawa terkekeh.
"Ish blush on. Yang bloon itu elo Chan,"dengus Anggi ia pun berjalan menjauhi Chandra yang seperti mengejeknya.
Chandar menatap punggung Anggi yang perlahan menjauhinya.
"Ha ha ha, Anggi-Anggi, loh jadi orang kepedean banget sih, ha ha." Chandra.
Bersambung, dulu ya reader.
Kira-kira apa yang terjadi pada Cintya ya, tunggu kejutan di episode selanjutnya. Terima kasih mohon dukungannya dengan like, vote hadiah serta saran-saran yang membangun Ya! lope u All ππ
__ADS_1
Rekomendasi nih guys novel bagus dengan judul: takdir gintani