Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Siapa Tuan Marco


__ADS_3

Santi sedang meminum susu khusus ibu hamilnya, setelah meneguk hingga tandas, ia pun menyimpan gelas di atas meja dapur namun tibatiba saja gelas yang ia pegang terlepas.


Prangk.


Seketika gelas tersebut pecah dan berderai di lantai.


Deg-deg.


Jantung Santi tiba-tiba berdebar dengan kencang, dadanya bergemuruh.


"Tuan!"hiks hiks.


"Ya Tuhan kenapa perasaan ku tak enak, aku takut terjadi sesuatu pada suamiku, hiks," gumannya seraya menghapus bulir bening di pipinya.


Seorang asisten rumah tangga datang menghamprinya.


"Ada apa Nyonya?" tanya pelayan tersebut ketika melihat Santi mematung sejenak.


Santi berusaha menepis perasaannya.


Ah tidak apa-apa, tolong bereskan pecahan kaca tersebut," ucap Santi, ia pun segera keluar dari dapur dan menuju lift yang langsung berada tepat di depan kamar mereka.


Santi menghampiri nakas mencari keberadaan hand phonenya.


"Aku hubungi saja dia," guman Santi ia pun mencari nomor Barley pada kontaknya.


Setelah menemukannya, Santi langsung melakukan panggilan telpon.


Telpon tersambung namun tak diangkat, Santi pun mulai khawatir.


Ia kembali mengulangi mencoba menghubungi suaminya, setelah beberapa kali mencoba tapi lagi-lagi tak di angkat oleh Barley , membuat Santi semakin merasa khawatir.


Karna begitu gelisah ia pun menangis.


"Tuan hiks hiks hiks, kenapa kau membuat ku khawatir?" Santi menangis saking khawatirnya pada Barley.


***


Barley dan Munir membopong tubuh tuan Marco membawanya kedalam mobil.


Beberapa orang pun menghampiri mereka termasuk seorang mandor.


Melihat mandor tersebut, Barley menjadi berang.


"Kenapa kalian seceroboh ini! besi itu kenapa bisa terlepas dari tempat semestinya!" teriak Barley.


Mandor tersebut hanya diam.


Barley tak punya waktu untuk marah-marah lagi, ia pun segera membawa tuan Marco menuju rumah sakit terdekat.


Untung saja tak jauh dari lokasi proyeknya tersebut ada sebuah rumah sakit.


Sekitar sepuluh menit saja mereka pun sampai, Munir mengarahkan mobil mereka memasuki kawasan rumah sakit dan langsung menuju pintu utama ruang UGD.


Melihat darah yang mengucur di kepala Tuan Marco Barley merasa sangat khawatir, Tuan Marco pun tak sadarkan diri, namun ucapan terakhirnya membuat Barley menjadi galau.


Berbagai ekspetasi pun bermunculan di benaknya, tapi ia coba tepis semua itu karna nyawa Tuan Marco lebih penting.

__ADS_1


Sesampainya di depan ruang UGD, seorang pelayan membawa brankar menghampiri mereka.


Setelah membopong tubuh tuan Marco perawat tersebut lamgsung mengadakan penangan berupa memeriksa golongan darah dari Tuan Marco, untuk mempersiapkan operasi.


Barley dan Munir menunggu dengan gelisah di luar ruangan.


Seorang suster datang menghampiri Barley.


"Maaf Tuan, bisa bertemu dengan keluarga pasien,"


"Ada apa Suster?"tanya Barley.


"Begini Tuan, setelah melakukan tes darah, ternyata pasien memiliki golongan darah yang sangat langkah yaitu Rh-null dan kemungkinan hanya keluarga korban yang memiliki golongan darah yang sangat langkah tersebut."


Barley terdiam.


Bagaimana bisa kami memiliki golongan darah yang sama.


Glek Barley menelan salivanya.


Golongan darah Rh null golongan adalah yang paling langka di dunia. Jenis darah  ini diperkirakan hanya dimiliki 1 dari 6 juta orang. 


"Saya memiliki golongan darah yang sama Suster, biar saya yang akan mendonorkan untuknya?"ucap Barley dengan detak jantung yang tak beraturan.


"Jika begitu ayo ikut saya,"ucap Suster tersebut.


Barley pun mengikuti langkah suster tersebut dengan langkah yang gontai.


Bagaimana tidak, rentetan peristiwa yang terjadi hari ini seolah mengungkap rahasia lama yang terpendam.


Ucapan tuan Marco yang terakhir sebelum ia menutup mata, masih terngiang ngiang di telinga Barley.


Kau adalah put*_


Kalimat tersebut menggantung tak sempat terselesaikan oleh Tuan Marco hingga membuat kegelisahan di hati Barley.


"Siapa? siapa aku ? siapa Tuan Marco, kenapa ia berani sekali berujar demikaian."


Barley mencoba menepis perasaannya.


Tak ada lagi yang ia pikirkan, semua waktu dan pikiranya tersita oleh perasaan penasaran tentang siapa Tuan Marco.


Kenapa? kenapa golongan darah kami sama? kenapa? kenapa aku dan dia memiliki iris mata yang hampir serupa Apakah? Apakah?.


Barley tak sanggup lagi melanjutkan ekspektasinya.


Ia pun berusaha berpikir jernih


Tiba-tiba ia teringat dengan istrinya.


"Santi! aku lupa menghubunginya dia pasti khawatir,"guman Barley.


Sementara di kamarnya Santi coba menghubungi nomor Barley mungkin sampai ratusan kali dan puluhan pesan ia kirim.


"Hua hua, hiks hiks Sayang! kenapa kau tak anggkat telpon ku, apa terjadi sesuatu pada mu Sayang! hua hua hua," Santi menangis histeris hingga mengagetkan Wati, seorang asisten rumah tangga yang Barley tugaskan untuk melayani dan menjaga istrinya.


Wati masuk dengan tergesa-gesa menghampiri kamar Santi.

__ADS_1


"Nyonya! Nyonya kenapa?"tanya Wati sangat panik.


Barley bisa saja membunuhnya jika ia lalai menjaga Santi hingga terjadi sesuatu pada majikannya tersebut.


"Hua hua hua Sayang kau kemana hiks hiks hiks!" tangis Santi khawatir.


"Nyonya apa yang terjadi?"tanya Wati sambil mengusap punggung Santi.


"Mbak Wati, aku berusaha menghubungi suami ku, tapi tak pernah diangkat olehnya, aku khawatir, perasaan ku tak enak, "terang Santi seraya menangis memeluk Wati.


"Tenangkan diri anda Nyonya, mungkin handphone Tuan tertinggal di mobil dan saat ini tuan muda sedang sibuk,"ucap Wati seraya mengusap punggung Santi.


Hiks hiks hiks, tubuh Santi terguncang beberapa saat karna menahan tangisannya.


"Tapi sejak dia berangkat, aku sudah khawatir Mbak, aku takut terjadi sesuatu pada suamiku, hiks hiks," ucap Santi dengan sisa isak tangisnya.


"Itu biasa Nyonya, mungkin itu pembawaan bayi, selama anda hamil bukankah tuan muda tak pernah meninggalkan anda, jadi ketika tuan pergi jauh dari anda perasaan was-was itu hadir, " papar Wati coba membujuk Santi.


"Sudah anda tenangkan diri dulu, tak baik terus menangis, saya siapkan makan siang untuk anda, anda berbaring saja."ucap Wati seraya melepaska pelukan Santi.


Santi benar-benar takut kehilangan suaminya.


Wati menata bantal dan membantu Santi merebahkan tubuh Santi agar berbaring.


"Jangan terlalu di pikirkan Nyonya, saya yakin tuan pasti baik-baik saja.


Wati menarik selimut menutupi tubuh Santi.


"Saya permisi Nyonya, sebentar lagi makan siang saya antar ke kamar anda saja." Wati.


Santi hanya mengangguk, tatapan matanya lurus kearah depan.


Wati menutup pintu kamar Santi.


Baru saja ia melihat Wati yang menghilang di balik pintu, tiba-tiba saja dering smartphones nya berbunyi.


Santi merasa senang karna nada panggilan Barley berbeda dengan nada panggilan orang lain, jadi ketika Barley menelponnya ia langsung tahu.


Santi tak sabar meraih handponenya dan benar saja di layar smartphonenya tetera nama 'Suami'.


Tanpa menunggu lagi ia pun langsung mengangkat telpon tersebut.


"Hua Sayang! kau mengkhawatirkan ku!" seru Santi kemudian ia menangis.


"Sayang maaf aku membuat mu khawatir," sahut Barley.


"Kau hampir membuat ku gila, karna berpikir yang bukan-bukan, hiks hiks."Santi


"Maaf Sayang, tapi aku baik-baik saja, hanya saja aku punya berita buruk, ucap Barley dengan suara yang lirih.


"Hiks hiks, berita buruk apa?" tanya Santi syok.


Bersambung.


Autor punya rekomendasi novel bagus nih cus mampir guys


__ADS_1



__ADS_2