Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Kelahiran Putra Mahkota


__ADS_3

Santi menerjab-nerjabkan matanya diriliknya sang suami yang tertidur dengan memeluknya.


Ia pun mengedar pandangan mencari petunjuk waktu yang ada di dinding kamarnya.


Waktu menunjukkan tepat tengah malam.


"Akh!" ia pun meringis merasakan sakit pada bagian perutnya.


Barley merasakan gerakan Santi yang tiba-tiba, ia pun membuka matanya dan langsung melirik ke arah Santi.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Barley panik


Ia pun menghidupkan lampu tidurnya.


"Akh! Sayang, perut ku sakit," ringis Santi.


"Mungkin kamu mau melahirkan kan Sayang, tapi kenapa cepat sekali? taksirannya masih dua minggu lagi kan? " Barley.


Barley bangkit ia pun menata bantal di tempat tidurnya untuk membantu Santi bersandar dengan Nyaman.


"Aku siapkan pakaian kita dan bayi kita dulu Sayang," Barley.


Ia pun beranjak dari tempat tidurnya kemudian menarik koper untuk dan memasukan beberapa potong pakaiananya.


"Akh! "ringis Santi lagi dengan menyentuh perutnya yang buncit ,membuat Barley semakin khawatir.


"Tunggu sebentar Sayang!"


Setelah semua siap ia menarik kursi roda dan menuntun Santi untuk duduk di kursi roda tersebut.


Barley sedikit kerepotan, karna ia terbiasa menggunakan asisten untuk membantu memenuhi kebutuhan istrinya.


Sambil mendorong kursi roda Barley juga mendorong koper mereka menuju lift.


Sesampainya di garasi ia meminta sopir pribadinya untuk menyiapkan mobil.


Mereka pun bergegas menuju rumah sakit.


Dalam perjalanan sesekali Santi meringis merasakan sakit pada bagian perutnya.


Keringat dingin mulai mengucur di sekujur wajahnya.


Dengan lembut Barley menyapu keringat yang membasahi wajah istrinya.


"Sayang sabar Ya," ucapnya sambil mengecup kening Santi, ia pun menggenggam erat tangannya.


Santi bersandar pada tubuh Barley ia mencoba untuk mengatur napasnya seperti yang di pelajarinya.


Meski merasa sakit,tetapi ia mencoba untuk tetap tenang, seperti Barley yang meski ia khawatir.Namun, ia tetap tenang.


Mereka pun tiba di salah satu rumah sakit terbesar di kota tersebut.


Sesampai di ruang UGD, Santi langsung di periksa dan langsung di pindah kan ke ruangan persalinan.


Barley merasa begitu resah dan khawatir menunggu hasil pemeriksaan.


"Bagaima suster?" tanya Barley yang langsung menghampiri seorang petugas kesehatan.


"Istri anda sebentar lagi melahirkan karna pembukaannya sudah lengkap, Anda ingin berada di kamar bersalin atau menunggu di sini?"Tanya Suster tersebut.


"Saya ingin menemani persalinan istri saya." Barley.


Barley masuk ke ruangan tersebut sementara suster menutup pintunya.


Santi terlihat meringis merasakan sakit, ia pun menangis seraya menggenggam sprey karna rasa sakit yang luar biasa.


Barley menghampiri Santi kemudian mengenggam erat tangannya.

__ADS_1


"Sayang kamu harus kuat, aku ada di sini bersama kamu, " ucap nya sambil mencium punggung tangan Santi kemudian mencium keningnya juga.


"Akh !" jeritan Santi tertahan, Ia pun menggigit bibir bagian bawahnya hinga berdarah.


Barley kaget melihat darah yang keluar dari bibir istrinya.


"Sayang jangan begitu, kau menyakiti diri mu," ucap Barley seraya mengambil tissue.


"Akh! ini sakit sekali sayang, akh!" ringis Santi sambil menutup matanya.


Rasa sakit yang tak tertahan membuatnya ingin memberontak.


"Akh!" ringis Santi berkali-kali.


"Sayang, sabar ya. "Barley mengusap kening Santi yang di penuhi dengan kucuran keringat wajahnya pun memucat.


Suster memeriksa kembali keadaan Santi, karna air ketubannya yang sudah pecah.


"Pasien segera melahirkan!"ucap seorang bidan yang membantu persalinan Santi.


"Ambil napas ya Bu dan hembuska perlahan, persalinan segera di mulai." Bidan.


Santi menarik napas panjang kemudia mengejan


Hek.. Dorong pertama gagal, ia pun menarik napas kembali dan kembali mengejan, mendorong dengan tenaga yang lebih besar.


Hek... ha ha, Santi kembali menarik napas panjang.


Barley menggenggam erat tangannya," Ayo sayang kamu pasti kuat, aku mencintai mu, " ucap nya seraya mengecup lekat kening istrinya.


Barley menakup kedua telapak tangan Santi menciumnya berkali-kali seolah menyalurkan tenaga dalamnya.


"Ayo Bu! lanjutkan sedikit lagi!" seru bidan tersebut memberi semangat.


Santi kembali mengatur napasnya dan mencoba untuk kembali mengejan.


Oek Oek, suara bayi terdengar memenuhi ruangan tersebut.


Setelah mengejan Santi mengehpaskan tubuhnya kearah belakan, ia pun mengatur napas.


Senyum terbit di wajahnya yang telah basah oleh keringat.


"Allamdullilah," ucap Barley, ia pun mencium kening istrinya.


"Terima kasih sayang, aku mencintai mu," ucap Barley haru, ia menitikan air matanya merasa haru menyaksikan perjuangan sang istri dalam melahirkan buah hati mereka.


Berkali-kali ia mencium keningnya, seraya mengusap keringat yang membasahi wajah istrinya.


Oek oek bayi tersebut menangis semakin lantang.


Barley memeluk Santi, kedua melempar senyum bahagia melihat bayi munggil dengan gerakan lincah dan suara tangisan yang lantang.


?Selamat Tuan-Nyonya, bayi anda laki-laki." Suster


Keduanya saling memeluk dengan haru dan bahagia yang tak dapat di lukiskan dengan kata-kata.


Setelah ibu dan anak itu di bersihkan, Barley menggendong putranya mengadap kliblat, kemudian mengazan kannya.


Setelah di azankan Santi di bawa ke ruang perawatan.


Dengan bahagia ia menggendong putranya tersebut keluar dari ruang persalinan.


Petugas mendorong tempat tidur Santi, ketika pintu ruang bersalin terbuka, ketiga pasang orang tua telah menunggu mereka di luar ruangan.


Santi kaget sekaligus senang atas kehadiran para orang tua tersebut.


Siapa lagi kalau bukan, Tuan Hasta, tuan Marco dan Harjo,masing-masing mereka di dampingi oleh para istri.

__ADS_1


Mereka semua mengiringi Santi kemana saja suster membawanya.


Santi masuk ke ruangan perawatan super VIP.


Setelah membenarkan letak posisi brankar dan mengecek kesehatan Santi ,suster keluar dari ruangan tersebut.


Senyum dan kegembiraan tak lepas dari wajah pasangan suami istri tersebut.


Barley menciumi putranya di pelukan Santi.


"Sayang Akhirnya Daddy bisa melihat wajah tampan mu," ucap Barley sambil mencium pipi sang putra.


Santi pun tesenyum sambil menitikan air matanya.


"Lihat lah sayang putra kita begitu tampan seperti mu," ucap Santi.


"Siapa dulu dong kakek nya," sahut tuan Marco.


Keduanya pun tersenyum.


"Sini biar kakek gendong," ucap tuan Hasta seraya meraih bayi tersebut dari Barley.


Tuan Hasta pun menggendong bayi itu mencium-ciumnya.


"Lihat lah Mommy , dia begitu mirip dengan Barley waktu masih kecil."ucap tuan Hasta pada istrinya.


Hana tersenyum mencium bayi mungil yang terlihat tampan sejak bayi tersebut.


"Ehm, aku jadi ingat cucuku," guman Hanna.


mereka pun terlihat asik menimang cucu mereka, hingga melupakan kedua pasangan yang ikut mengantri ingin menggendong cucu mereka juga.


Lama menanti.Namun, tuan Hasta sepertinya tak memberinya kesempatan untuk menggendong cucunya membuat tuan Marco protes.


"Tuan Hasta, sudah! waktu mu sudah habis, sekarang giliran ku untuk menggendong cucuku," protes tuan Marco dengan wajah yang mengkerut.


"Tunggu sebentar tuan Marco, aku belum puas menimangnya, bagaimana kalau hari ini jatah ku yang menggendongnya. Jatah mu besok saja," sahut tuan Hasta yang masih enggan memberi kesempatan pada tuan Marco, ia masih belum puas menggendong dan mencium bayi tersebut.


"Huh, enak saja kau! giliran ku pula, giliran mu besok lag," desak tuan Marco, ia pun meraih bayi tersebut dari tangan tuan Hasta.


Tuan Hasta hanya bisa mengkerucutkan bibirnya.


Santi dan Barley saling melempar senyum, melihat Keduanya saling berebut untuk menggendong putra mereka.


"Sayang, sepertinya, kita harus bikin anak yang bayak biar daddy daddy itu tak rembutan," bisik Barley mesra di telinga Santi.


"Sayang aku saja masih merasa trauma karna rasa sakit setelah persalinan, kau malah bicara ingin punya anak lagi," dengus Santi.


"Maksud ku bukan sekarang Sayang.Nanti satelah trauma mu sembuh." Barley.


Sementara itu Harjo juga protes karna ia juga tak di beri kesempatan untuk menggendong putra mahkota tersebut.


Aku ingin cucu ku kelak yang akan mewarisi perusahaan ku di milan, ucap Tuan Marco sambil mencium bayi tersebut.


"Tidak bisa! lalu siapa yang akan jadi penerus perusahaan ku! " sahut tuan Hasta lagi.


"Kau minta saja pada Santi dan Barley lagi cucu, untuk mengurusi perusahaan mu. Putra mahkota tetap milik ku." tuan Marco.


"Kau saja yang minta lagi, biar cucu ku ini yang jadi penerus ku! " sahut tuan Hasta tak kalah ngotot.


Mereka pun berdebat tentang cucu mereka.


Santi dan Barley menggelengkan kepala.


"Lihat lah Sayang mereka memperebutkan putra kita sebagai pewaris perusahaannya, aku saja Daddy nya belum terpikir ke arah itu, " ucap Barley dengan tersenyum.


"Ehm , kasihan putraku.Di perebutkan seperti barang," ucap Santi sambil mengelengkan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung dulu ya. terima kasih atas dukungannya


__ADS_2