
Setelah dari kamar Amora, Arief kembali lagi ke ruangan perawatan bayi intensif selama di perjalanan ia memikir kan nama untuk bidadari kecilnya tersebut.
"Aku ingin memberinya nama yang indah namun memiliki arti yang baik, semoga kelak ia akan jadi wanita yang sholeha," guman Arief.
Ia menghubungi suster jaga agar bisa masuk kedalam ruangan bayi dan menemui bayi Amora.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?"tanya suster tersebut kepada Arief.
"Maaf suster, apa saya bisa menemui keponakan saya?"tanya Arief.
"Ehm, ada perlu apa Pak?" tanya suster.
"Saya ingin meng-azankannya Suster," jelas Arief.
"Iya silahkan sterilkan diri anda dengan semprotan anti septik pada telpak tangan dan gunakan pakaian ini," ucap suster tersebut seraya menyerahkan jubah, masker dan penutup kepala bewarna hijau.
Arief pun mengenakan jubah, masker sarung tangan dan penutup kepala, ruangan tersebut harus selalu bersih dan streril mengingat ruangan terebut merupakan kamar perawatan bayi berkebutuhan khusus.
Arief melepaskan sepatunya dan hanya bertelanjang kaki masuki ruangan tersebut.
Dengan perasaan bahagia ia menghampiri malaikat kecilnya.
Sebenarnya Arief sudah pernah berencana untuk menikah, namun calon istrinya justru meninggal karna kecelakaan, sebulan sebelum pernikahan mereka di langsungkan, dan hal itu yang membuat Arief susah move on, Arief adalah sosok yang bersahaja dan penyayang.
Setelah beberapa langkah ia pun tiba di depan inkubator malaikat kecilnya.
Arief kembali mendekat kearah bayi tersebut, "Asiya Khairunnisa,," ucapnya lirih memberi nama pada bayi tersebut.
Nama tersebut langsung terinspirasi ketika Arief melihat malaikat kecilnya yang tertidur pulas, ada berapa makna di balik pemberian nama tersebut.
Arti Asiya sendiri adalah kehidupan yang di lindungi, sedangkan khairunnisa bearti wanita terbaik.
Asiya juga nama istri firaun yang rela di siksa oleh fir'aun hingga mati demi mempertahan ke imanannya.
Arief berharap Tuhan bisa memelihara kehidupan malakaikat kecilnya tersebut dan menjadikannya wanita terbaik.
Begitupun tentang Asiya sang istri fir'aun yang tetap memegang kebenaran di antara kezaliman yang ada di sekelilingnya, ia berharap meski pun ayah biologis dan ibu kandung Asiyah bukanlah orang baik dan mereka pernah berbuat Zalim, tapi Asiya akan menjadi cahaya di balik dua kegelapan yang mengapitnya.
Arief membuka tabung kaca tersebut dan mendekat kearah telinga bayi mungil yang malang itu.
Suara iqomah terdengar lirih di tabung kaca tersebut, dengan tetesan air mata Arief dengan penuh penghayatan mengucapka lapal demi lapal.
Bayi tersebut terlihat tenang, mendengar suara merdu yang tersedar sayup-sayup.
__ADS_1
Bayi tersebut pun menangis lirih ketika Arief selesai meng iqomahkan nya.
Uek uek, kali ini suara baru terdengar dari mulut munggilnya meski lirih.
"Sayang, kau senang ya karna paman mengunjungi mu lagi?" Arief berbisik, ia pun tersenyum sembari menghapus titik air matanya, mereka seperti seolah punya ikatan batin yang kuat, karna kasih sayang yang tulus, yang Arief berikan, Arief menyanyikan lantunan lagu sholawat yang membuat bayi tersebut kembali tenang.
Bayi tersebut kembali tidur dengan tenang, setelah beberapa lirik shalawat di lantunkan Arief dengan suara lirih.
Arief tersenyum, dan menutup tabung kacanya, rasanya ia betah berlama-lama dengan malaikat kecilnya tersebut.
"Kamu tidur yang nyenyak Ya, besok paman datang lagi, menyanyikan kamu sholawat pengantar tidur hiks." Arief merasa begitu sedih karna harus meninggalkan bayi tersebut sendiri.
Arief melangkahkan kakinya, baru beberapa langkah ia kembali menoleh.
Bulir bening kembali menetes pada pipinya, ia merasa sedih melihat malaikat kecilnya yang tinggal sendiri.
Saat bayi lain berada hangat dalam pelukan sang ibunda, malaikat kecilnya justru terbaring lemah, sepi dan sendiri, yang lebih menyakitkan seorang ibu yang membuatnya terlahir ke dunia justru membenci dan tak menginginkannya.
Sungguh bayi yang malang."
Arief berjalan tertatih dengan langkah kaki longkai, tubuhnya terasa lemas, hingga sore hari ia belum juga makan siang.
Setibanya di rumah sakit, Barley dan Santi mencari keberadaan Arief, kebetulan saat itu Arief hendak mencari makan untuk mengisi perutnya yang terus berbunyi.
Setelah melewati koridor keduanya pun berpapasan dengan Arief.
"Tuan."
"Arief, di mana Amora?"tanya Barley langsung.
Meski bibir Santi kembali manyun.
"Mari saya antar Tuan!"
Keduanya pun menuju ruang VIP.
***
Amora merasakan sakit di sekujur tubuhnya, begitupun bekas sayatan di perutnya.
Tak ada siapa pun yang berada di sampingnya kini, menjaganya atau pun merawatnya.
Seorang suster membawakannya obat-obatan yang harus ia minum.
__ADS_1
"Permisi Nyonya, ini obat yang harus anda komsumsi."suster
"Ehm Suster, mengapa tubuh saya terasa sakit semua? terutama bagian payu*darah saya, terasa membengkak?"tanya Amora.
Amora merasa ada yang menetes pada dua puncak bukitnya, yang terasa menerik.
"Oh, itu biasa Bu, setelah melahirkan biasanya terjadi pembekakan pada area tersebut, itu hal yang alamia sebaiknya anada menyusui anak anda, karna asi yang keluar pertama kali tersebut mengandung kolestum yang berguna untuk daya tahan tubuh sang bayi, papar suster.
Mendengar penuturan suster tersebut Amora menyunggingkan bibirnya.
Cih ngak sudi menyusui anak haram itu.
Sementara di ruang perawatan bayi, bayi Amora menamgis lirih, suster pun menduga jika bayi tersebut haus.
Suster membuatkan susu formula untuk bayi tersebut.
Karna kondisinya lemah, ia tak bisa minum dari botol susu tapi dengan menggunakan sendok khusus agar sang bayi tidak tersedak, setetes demi setetes.
Suster memeriksa keadaan Amora kemudian berlalu darinya.
Tak lama kemudian Amora di kejutkan oleh kedatangan Barley dan Santi.
Ia pun menjadi gelisah.
"Mau apa kalian?!"tanya Amora.
"Ehm kenapa kau ketakutan seperti itu Amora? kedatangan ku hanya ingin tertawa di atas penderitaan mu!"cecar Barley.
"Bangsat! lihat saja jika aku punya kesempatan aku akan membunuh semua keturunan mu Barley!"
"Kau telah membuat hidup ku menderita, jangan pikir aku akan diam saja!" cecar Amora ia pun meludah ke arah Barley tentu saja tak mengenai Barley.
Santi memgelus dada, "Sayang lebih baik kita pergi dari sini, aku takut mendengar ancamannya, "ucap Santi sambil menarik lengan Barley.
Amora memandang lekat ke arah perut Santi," Cuih, semoga kesialan selalu menimpa keturunan mu!"cecar Amora.
Santi syok seketika ia menangis.
"Sayang aku sudah bilang jangan temui dia, aku takut." Santi ketakutan ia melihat Amora seperti nenek sihir yang sedang mengucapkan mantra kutukan, ia pun menangis memeluk Barley.
"Wanita laknat! gertakan mu itu tak akan mempengaruhiku sedikit pun, rasakan lah akibat dari perbuatan mu itu!" Cecar Barley.
"Aku rela membayar orang hanya untuk mengawasi mu agar kau tak kembali kabur melarikan diri Amora!, kurasa dua puluh tahun penjara cukup bagimu untuk berpikir dan menyesali semua perbuatanmu!" seru Barley.
__ADS_1
"Ayo sayang, jangan pedulikan dia, ucap Barley yang merangkul Santi dan menuntunnya untuk keluar dari tempat tersebut.
Bersambung, like komen, votenya dong reader, episode berikitnya akan semakin seruh loh 😊