
Di ruangan rawat Zeyra kini tampak Jacobie yang tengah sibuk di kursi sudut ruangan berkutik dengan laptopnya pria itu memang sangat jarang menghabiskan waktunya dengan istirahat.
Selama mendapat kepercayaan penuh oleh keluarga Syein Biglous dirinya menyerahkan seluruh hidupnya hanya dengan kerja keras dan melakukan yang bisa ia lakukan.
Zeyra yang sudah terbangun sejak kedatangannya tadi kini merasa harus menjelaskan pada Jacobie apa yang sudah terjadi.
"Abang..." panggil Zeyra lembut.
Mendengar suara itu Jacobie dengan cepat beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati Zeyra tentu waktu itulah yang selalu Jacobie tunggu karena Zeyra memang berhutang penjelasan padanya.
"Kau sudah bangun?" tanya Jacobie.
"Ehem." jawab Zeyra.
Pelan mereka berdua saling menatap dalam diam Jacobie yang merasa tidak kuat jika harus memulai perkataan merasa begitu berat untuk menerima kenyataan bahwa Zeyra saat ini hamil.
Sementara Zeyra yang merasa begitu memalukan telah mengecewakan Jacobie hanya bisa terdiam dengan rasa penuh bersalahnya.
Jacobie hanya mengetahui Zeyra hamil namun tidak jika ia hamil dengan Nakula hal itu tentu akan membuat Jacobie benar-benar terpukul jika mengetahuinya.
Cukup lama Zeyra berfikir jika ia tidak memberi tahu Jacobie cepat atau lambat pasti akan di ketahuinya siapa ayah dari anaknya.
"Siapa dia?" tanya Jacobie dengan tanpa basa basi.
"Dia...." Suara Zeyra menggantung ia ragu untuk mengatakannya.
"Iya pria itu, siapa dia?" Jacobie yang sudah tidak bisa mengontrol suaranya.
Zeyra yang ketakutan menangis kencang ia tidak pernah melihat Jacobie marah padanya dengan berteriak seperti itu membuat suster Syanin terbangun.
Saat melihat Zeyra menangin suster Syanin dengan segera berlari memeluk wanita itu tubuh Zeyra bergetar ketakutan.
Jacobie benar-benar menyeramkan saat marah lampu di ruangan itu sudah menyala terang saat suster Syanin bangun tadi karena ingin melihat keadaan Zeyra.
Tentu dengan begitu semakin jelas terlihat kemarahan di wajah Jacobie, saat ini pria itu sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi ia terus mendesak Zeyra.
"Cepat katakan siapa dia?" tanya Jacobie dengan mencengkram erat lengka Zeyra.
"Tuan hentikan! anda membuatnya ketakutan." Suster Syanin berusaha meraih tangan Jacobie dan mendorongnya.
Namun hal itu tidak bisa membebaskan cengkraman Jacobie pada adiknya melihat tatapan tajam Jacobie membuat Zeyra tidak bisa menahan lagi.
"Na...kula." Zeyra menjawab dengan suara bergetarnya.
__ADS_1
Jacobie mendengar nama itu mendadak wajahnya begitu bertambah marah ia meremas kasar wajanya dengan kedua tangannya.
"Brengs*k!" ucap Jacobie kesal.
Suster Syanin memang tidak mengetahui siapa pria itu namun yang jelas bisa terlihat jelas jika pria itu sangatlah Jacobie benci.
Zeyra yang terus menangis mendapat ketenangan saat berada di samping suster Syanin setidaknya malam itu ia tidak sendirian menangis.
Sudah menjadi hal biasa bagi suster Syanin jika harus mendekatkan diri dan penuh kasih sayang pada setiap pasien yang ia rawat.
Zeyra bukanlah pasien satu-satunya yang suster Syanin peluk untuk bisa tenang sudah sehari-hari pekerjaannya seperti itu pada setiap pasien wanita jika mengalami kesedihan.
Setelah memastikan Zeyra tenang suster Syanin memintanya untuk istirahat karena akan berbahaya bagi kandungannya jika ia mengalami stress berat.
Zeyra yang mendapat persetujuan dengan diamnya Jacobie perlahan akhirnya ia tertidur lelap sementara di ruangan itu hanya ada Jacocobie dan suster Syanin saja.
Suster Syanin melangkah mendekat ke arah Jacobie yang tampak duduk dengan wajah tertunduk sepertinya ia merasa syok menerima kenyataan ini.
Tidak akan mungkin jika Jacobie mengijinkan mereka untuk menikah tentu ia sangat tahu siapa pria itu dan bagaimana kelakuannya di luar sana.
Matanya berkaca-kaca seketika kristal bening itu jatuh ke dasar lantai secara terus menerus tidak ada kata yang ia ucapkan hanya ekspresi sedihlah yang terlihat saat ini.
"Aku harus bagaimana?" Jacobie memecah ketegangan itu.
Suster Syanin merasa bermimpi dengan ucapan Jacobie yang melihatkan tanda kerapuhannya pada wanita di sampingnya itu terdiam mematung.
Sesat ia sadar dengan lamunannya lalu menjawab, "Lakukan yang menurutmu baik." ucapnya.
"Kau tahu pria itu adalah pengkhianat di keluarga Syein Biglous dan bagaimana bisa Zeyra bertemu dengan orang seperti itu?" tanya Jacobie yang seperti mengajak suster Syanin bersahabat kali ini.
Sikap tegas dan dinginnya hilang saat ini pada suster Syanin karena kerapuhannya mendengar pengakuan Zeyra barusan.
"Iya Tuan siapa pun dia jika menurutmu tidak baik untuk Zeyra tentu anda paham apa yang harus anda lakukan." jelas suster Syanin.
"Benarkah, Sus?" tanya Jacobie antusias ketika mendapat dukungan dari suster Syanin.
"Benar Tuan, tetapi alangkah baiknya jika anda tidak keras pada Zeyra." ucap suster Syanin pelan.
Mendengar itu Jacobie tampak semakin yakin dengan keputusannya akan mencari keberadaan Nakula dan menyeretnya ke kantor polisi dengan tuntutan menipu adiknya.
Bukti kepergiannya selama ini sudah bisa di jadikan alasan untuk menyebutnya lari dari tanggung jawabnya karena Nakula sudah menghilang sejak Jacobie memukulnya di pulau.
__ADS_1
Kini perasaan legah sudah terlihat di wajah Jacobie setelah mendapatkan dukungan dari suster Syanin saat ini yang harus ia fikirkan lagi menemukan pria itu.
Dengan cepat ia mengerahkan pasukannya untuk mencari Nakula setelah itu ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk.
"Tuan saya menemukan rekaman cctv Nona Zeyra sedang bersama pria itu di apartemen," Itulah isi pesannya.
"Ada lagi?" tanya Jacobie.
"Iya Tuan, ternyata saat di pulau pria itu memakai barang terlarang," tambah pria itu.
Yah itu adalah sejenin obat yang membuatnya kecanduan dan mendengar hal itu Jacobie semakin tersenyum sinis kini ia mendapatkan jalan yang membantunya sepertinya.
Setelah itu Jacobie cukup lama berbicara dengan suster Syanin entah sejak kapan suasana itu sudah tidak setegang biasanya lagi.
Di pertengahan obrolan mereka tiba-tiba muncul ingatan Jacobie tentang suster Syanin yang mendadak undur diri dari rumah utama.
"Sus, mengapa kau hari itu mengundurkan diri?" tanya Jacobie dengan penasaran.
"Em...." Ucapan suster Syanin tergantung ia bingung harus menjelaskan apa.
Tentu hal itu ia lakukan karena dirinya jika tidak mana mungkin ia mengundurkan diri dari pekerjaan menenangkan baginya bisa melihat setiap hari pria yang menarik hatinya.
"Bukankah kau bilang keluargamu membutuhkanmu?" Jacobie yang kembali bertanya dan itu mambantu daya ingat suster Syanin lalu segera mengambil alasan.
"Iya, tapi saat ini keluargaku sudah tidak apa-apa." jelas suster Syanin lagi.
"Benarkah? lalu apa hubunganmu dengan Delon?" Jacobie yang semakin ingin tahu.
"Ah tidak ada Tuan, kami hanya berteman saja." jelas suster Syanin dengan malu.
Mendengar jawaban suster Syanin akhirnya membuat pria itu merasa legah setidaknya hatinya tidak merasakan luka bersamaan malam itu.
Waktu sudah semakin melewati malam dan hampir subuh menyadari waktu yang masih cukup lama Jacobie menyuruh suster Syanin untuk beristirahat besok pagi berencana akan mengantarkannya pulang.
Suster Syanin akhirnya menurut dan langsung tertidur kembali di atas sofa dengan selimut yang tidak ia sadari sejak kapan ia mengambilnya dan pindah ke sofa itu.
"Menurut sekali sungguh manisnya." gumam Jacobie yang menatap suster Syanin tertidur dari kejauhan.
Wajahnya tersenyum tenang untuk saat ini ia bisa bernafas legah namun sepertinya ia masih belum menyadari ucapannya yang menanyakan status Delon dan suster Syanin itu.
Karena memang pertanyaan itu muncul tanpa ada rasa sadar terucap dari mulut Jacobie sementara suster Syanin yang di tanya sudah merasa senang sekali.
Kali ini ceritanya sampai di sini duluyah readersku sayang semoga kalian tetap setia menunggu kelanjutannya dan author mau mengucapkan terimakasih pada kalian sudah setia menjadi pembaca dan memberikan dukungan pada author. Terimakasih yah sudah memvote, rate dan favoritkan karya author.
__ADS_1