Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Kue Bukan Untukku


__ADS_3

Nyonya Syein hanya ikut tersenyum tanpa mampu berkata apa-apa lagi wajahnya begitu bahagia bisa melihat pernikahan kedua kali setelah putranya menikah dengan ijin mereka. Mereka sudah menganggap Delon juga saudara Alfy.


Setelah cukup lama mereka berbicara tentang terimakasih, kini Tuan Reindra memberikan cuti pada Delon untuk berbulan madu.


“Jadi kemana kalian akan pergi bulan madu?” tanya Tuan Reindra.


Delon yang menatap Zeyra kemudian kembali tersenyum menatap Tuan Reindra dan Nyonya Syein.


“Kami hanya ingin di rumah saja, karena Zeyra ingin kami menghabiskan hari libur di rumah dulu Tuan.” jelas Delon.


Zeyra yang memang memintanya saat perjalanan menuju rumah utama jika ia ingin di rumah dulu sebab itulah Delon mengundur bulan madu mereka untuk saat ini.


“Baiklah jika itu keinginan kalian, tapi nanti jika ingin bulan madu katakan saja.” jawab Tuan Reindra.


Cukup lama Delon dan Zeyra berada di rumah utama berbicara panjang lebar dengan kedua orang tua itu sampai akhirnya Delon meminta ijin untuk pulang karena Zeyra tentu harus istirahat.


“Zeyra yang ingin istirahat atau kau Delon yang tidak sabaran lagi?” tanya Tuan Reindra yang membuat Delon jadi salah tingkah.


“Papah.” Tegur Nyonya Syein yang tertawa bersama suaminya.


Sedangkan Delon dan Zeyra sudah menunduk malu menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.


Akhirnya mereka pergi dari rumah itu setelah mendapat persetujuan dari Tuan Reindra untuk pulang.


***


“Hah...rasanya sangat bosan, Delon di rumah bersama istrinya, Tuan Alfy juga di rumah bersama istrinya sedangkan aku bekerja sepanjang hari sendirian, tidak ada wajah orang yang bisa ku lihat sepanjang hari lama-lama aku lupa cara melihat manusia kalau begini, pulang juga tidak melihat siapa pun yang ada hanya Bi Ria dan pelayan lainnya.” gerutu Jac yang sedang mengumpat kekesalannya sembari menyandarkan kepalanya pada kursi kerja.


Wajahnya begitu terlihat sangat bosan hari itu, tangannya yang tergerak menutup laptop di depan dan mengambil jas kemudian beranjak pergi dari kantor. Pria itu menuju mobil yang terparkir di gedung parkiran.


“Aku mau kemana ini?” tanya Jac yang bingung melihat dirinya sudah tiba di mobil.


Seketika tangannya meraih ponsel di saku jasnya dan mencari nomor ponsel Zeyra kemudian jemarinya menekan tombol panggilan itu.

__ADS_1


“Halo, Bang.” ucap Zeyra.


“Kau di mana?” tanya Jac.


“Ini di jalan pulang, ada apa Bang?” Zeyra yang nampak penasaran.


“Em kalian tidak kemana-mana?” Jac bertanya lagi.


“Tidak Bang, kami akan ke rumah saja dan tidak pergi ke mana-mana.” jelas Zeyra.


Jac yang merasa ada pertolongan kali itu terlihat senang karena bisa mengunjungi adiknya yang baru saja menikah. Dengan cepat pria itu mematikan ponsel lalu melajukan mobilnya ke rumah Zeyra begitu terpancar wajah semangatnya.


Sepersekian menit tibalah mobil Jac yang sudah terparkir dengan sempurna di depan rumah Zeyra dan segera ia masuk ke dalam rumah.


“Ada apa, Tuan?” tanya suster Syanin yang terkejut melihat kedatangan pria itu.


“Mau bertemu ,Zey.” jawab Jac dengan datar.


“Tapi mereka di hotel, Tuan.” sahut suster Syanin.


“Kau sedang apa?” tanya Jac yang penasaran melihat suster Syanin sedang mencetak adonan.


“Ah ini saya ingin membuat kue, Tuan.” jawab suster Syanin yang terkejut melihat kehadiran pria itu.


Jac yang mendengar tersenyum kecil merasa senang melihat wanita itu menyambutnya dengan baik saat mengunjunginya.


“Baiklah, aku ke luar.” ucap Jac yang kembali melangkah ke ruang tengah.


Kini pria itu berbaring sambil sesekali wajahnya tertawa tanpa mampu menahan senyum bahagianya sejak tadi. Setelah beberapa menit ia berbaring di sofa tiba-tiba Zeyra dan Delon terlihat baru saja tiba dan memasuki rumah. Begitu terlihat jelas Delon yang memegang tangan istrinya sambil memegang perut Zeyra yang membesar.


“Hati-hati jalannya jangan terlalu laju, Zey.” Ucap Delon yang merasa takut.


“Memangnya kenapa sih ? ini tidak apa-apa.” Ucap Zeyra yang lelah jika terus di halangi untuk bergerak.

__ADS_1


“Perutmu sangat besar, aku takut jika kau jalan laju-laju nanti perutmu bisa jatuh tentu sangat beratkan?” ucap Delon yang terdengar sangat konyol di telinga Zeyra.


Jac yang mendengar percakapan Zeyra dan Delon merasa muak sampai tadinya ia yang beraring kini berdiri.


“Itu perut bukan bungkusan air, kau fikir semudah itu yah jatuh.” ucap Jac yang membuat keduanya terkejut bersamaan.


“Abang di sini?” tanya Zeyra yang tidak menyangka.


“Memangnya ini siapa jika bukan aku yang di sini.” Jawab Jac.


Entah mengapa hari itu Jac benar-benar menyebalkan mulutnya bagaikan ucapan Ibu tiri yang terus menjawab dengan ketus. Apakah karena rasa bahagianya ia menjadi seenaknya bicara pada orang? kemana sifatnya yang biasanya sangat tidak suka bicara.


Zeyra yang mendengar hanya tersenyum sepertinya dia tahu apa alasan Kakaknya di rumah itu, tentu bukan untuk adiknya melainkan wanita manis yang selalu menjaganya.


“Syanin kemana, Bang?” tanya Zeyra.


“Sedang membuatkan ku kue.” Jawab Jac.


Zeyra yang baru saja ingin melangkah masuk melihat suster Syanin dengan segera di tahan oleh Jac dengan merentangkan kedua tangannya.


“Ada apa, Bang?” tanya Zeyra yang menatap bingung pada pria itu.


“Jangan di ganggu.” Pintah Jac.


Zeyra yang merasa kesal hanya menghela nafasnya dengan kasar kemudian duduk di sofa bersama Delon. Di ruangan itu tampak sunyi, Jac yang terus sesekali melempar tatapannya pada pintu yang mengarah ke dapur menunggu kedatangan wanita itu. Sedangkan Delon yang tengah sibuk terus mengelus-elus perut Zeyra tidak menghiraukan keberadaan Kakak iparnya. Zeyra yang hanya duduk pasrah saja dengan perlakuan suaminya.


Setelah cukup lama kini pelayan di rumah itu mengantarkan minuman yang baru saja di buat untuk Zeyra, Delon dan juga Jac. Tidak lama kemudian sosok wanita yang sejak tadi di tunggu-tunggu oleh Jac akhirnya tiba dengan membawa satu piring makanan yang terlihat berwarna warni.


“Ini Zey, makan aku membuatkanmu banyak loh ini sangat baik untuk kesehatan ibu hamil.” Jelas suster Syanin yang menyodorkan piring.


Tanpa ia sadari raut wajah Jac yang sejak tadi tampak cerah kini berubah menjadi gelap padam, Jac merasa sangat kecewa dengan perlakuan suster Syanin padanya. Begitu pun juga Zeyra yang melihat Jac tampak lemas merasa kasihan.


“Apa kau tidak membuatkan untuk mereka, Sya?” tanya Zeyra.

__ADS_1


Suster Syanin yang tertawa terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya merasa aneh dengan pertanyaan Zeyra.


“Tentu saja tidak, ini khusus untuk wanita yang sedang hamil apa mereka juga hamil hehehe.” Sahut suster Syanin yang dengan polosnya.


__ADS_2