
Setelah beberapa hari Tuan Reindra di nyatakan sembuh kini ia mengunjungi ruangan anaknya yang berada di sebelah ruang rawatnya. Pagi itu suasana rumah sakit sudah tampak ramai dengan pengunjung begitu juga di ruangan Tuan Reindra sudah ramai dengan keluarga kecilnya bersama baesannya telah bersiap untuk meninggalkan ruangan itu.
"Papah sudah merasa baik-baik saja?" tanya Nyonya Syein yang masih tampak khawatir pada suaminya.
"Tentu saja Mah rasanya tidak sabar Papah sampai di rumah dan keluar membelikan perlengkapan cucu kita," ucap Tuan Reindra dengan penuh antusias.
"Yasudah ayo kita ke ruangan Alfy," Ajak Tuan Indrawan yang sudah menggandeng tangan sebelah sahabatnya.
Kini mereka melangkah bersama menuju ruangan Alfy terlihat beberapa penjaga masih sangat antusias berdiri dengan tegaknya setelah melihat kedatangan Tuan dan Nyonya mereka tertunduk memberi hormat dan membukaka pintu ruang rawat Alfy. Ketika pintu terbuka mereka melihat sepasang di depan sana yang masih tertidur lelap dengan berpelukan erat. Melihat pemandangan indah itu para orang tua yang berdiri di depan pintu tampak tersenyum lebar.
"Perjodohan yang kita buat sukses kan?" tanya Tuan Reindra pada sahabatnya.
"Hahaha kau benar Reindra mereka tampak bahagia saat ini," Tambah Tuan Indrawan tersenyum menepuk pundak sahabatnya dengan pelan.
"Ayo kita masuk," ajak Nyonya Flora.
Ketika mereka sudah berada di ruangan itu masing-masing mendaratkan bokongnya ke kursi empuk di dalam ruangan itu sambil terus tersenyum menatap dua manusia yang seperti larut dalam aliran air berdua tanpa berhenti berpelukan.
"Sayang bangun," Dengan memegang lengan Jee Nonya Flora sangat pelan menggerakkannya.
"Eh Mami," ucap Jee sambil mengusap-usap matanya dan perlahan membuka lebar kedua mata indahnya.
"Kau tidak lelah sayang?" tanya Tuan Reindra pada menantu kesayangannya itu.
"Papah sudah sembuh?" tanya balik Jee yang tampak bahagia melihat Papah mertuanya sudah terlihat segar tanpa memakai baju pasien.
"Yah seperti yang kau lihat ini," jawab Tuan Reindra tersenyum dan mengangkat sekali bahunya lalu menatap tubuhnya sendiri.
"Tentu saja Jee tidak lelah Pah Alfy sepanjang hari hanya menyuruh baring di sampingnya saja tanpa boleh turun dari kasur," Dengan mulut manyunnya seolah mengadu kekesalannya pada Papah mertuanya.
Namun mendengar hal itu lagi-lagi mereka bukannya memberi pembelaan pada Jee tetapi tertawa bahagia karena mereka tahu bagaimana saat ini Alfy yang tidak bisa jauh dari istrinya sampai harus mendekam Jee di kasur bersamanya. Padahal saat ini seharusnya Jee sudah aktif kuliah di kampus tapi apa boleh buat karena suami melarang mau tidak mau Jee hanya menurut.
"Kau tidak perlu khawatir soal kuliahmu sayang," ucap Nyonya Syein.
"Bagaimana Jee tidak perlu khawatir Mah minggu ini kan sudah mulai aktif perkuliahan," Jelas Jee yang tampak khawatir.
__ADS_1
"Delon sudah mengurusnya semua jadi nanti kau hanya perlu belajar tambahan di rumah dan menyelesaikan beberapa tugas untuk mengejar materi di kelasmu," Dengan santai Nyonya Syein menjelaskan.
Yah selama akhir-akhir ini Nyonya Syein tampak khawatir pada menantunya karena fisiknya yang masih belum terlalu kuat di usia kehamilan yang masih muda ini dan ia berinisiatif untuk Delon membantu mengurusnya. Untuk soal absensi keaktifan Jee di dalam kelas semua sudah bisa di atasi oleh Delon tanpa susah payah karena memang tidak banyak orang yang mengetahui pemilik saham terbesar sekitar enam puluh lima persen kampus itu adalah Tuan Reindra Syein. Termasuk menantunya sendiri pun tidak mengetahui hal itu rasanya memang tidak perlu di bicarakan hal seperti itu cukup orang-orang yang tahu saja yang mengerti dan itu memang sama sekali tidak penting bagi keluarga Syein Biglous untuk mempublikasikannya.
"Terimakasih yah Mah," ucap Jee tersenyum legah setelah mendengar Nyonya Syein berbicara kini ia bisa sedikit legah jika tidak harus berusaha keras untuk mengejar semuanya yang tertinggal.
"Mamah," ucap Alfy yang baru bangun terkejut melihat di ruangannya sudah ramai.
"Apa kau tidak bisa lebih sopan ketika tidur Fy?" tanya Tuan Reindra yang bergeleng kepala melihat anaknya tidak memakai baju ketika tidur.
"Papah kan tahu Alfy tidak suka memakai baju kalau tidur," jelas Alfy yang mengingatkan dirinya mulai kecil memang memiliki kebiasaan gerah saat tidur.
"Tapi sekarang kau tidak tidur sendirian," jawab Tuan Reindra memberi peringatan.
"Jee akan jauh lebih suka seperti ini Pah," ucap Alfy sambil tertawa melirik pada istrinya.
"Dasar kau ini," Menghela nafas kasar ketika mendengar anaknya berbicara semaunya di hadapan mertuanya Tuan Reindra sedikit kesal.
Mendengar pertengkaran kecil antara orang tua dan anak di ruangan itu sukses membuat semuanya tertawa lucu melihat mereka berduda tidak ada yang mau mengalah.
"Oia Papah kapan pulang?" tanya Alfy penasaran.
"Hari ini dan Papah langsung menuju mall bersama yang lain," jawab Tuan Reindra kembali tersenyum setelah merasa kesal pada anaknya namun mengingat calon cucunya moodnya sudah kembali lagi.
"Untuk apa Papah ke mall di kondisi yang masih belum begitu pulih?" tanya Alfy lagi yang tampak bingung.
"Papahmu tidak bisa di larang Mamah sudah berusaha mencegah namun tetap saja bersikeras mau membelikan perlengkapan anak kalian," Jelas Nyonya Syein yang terlihat tampak sabar yah wanita itu sangat tahu suaminya jika ada yang ingin ia lakukan tidak di setujui justru bisa membuat masalah besar untuk mereka tentunya kapanpun Tuan Reindra akan pergi sendiri tanpa ijin dari mereka.
Mendengar hal itu Alfy hanya bergeleng kepala bagaimana bisa pria tua di hadapannya itu keras kepala seperti itu bukankah dia pria yang paling bijaksana dan selalu mendengar ucapan orang di sekelilingnya terutama istrinya sendiri namun apa ini tingkahnya justru seperti anak bayi yang tidak mau tahu.
"Baiklah kalau begitu kalian hati-hati dan biarkan Delon mengawasi kalian," ucap Alfy yang pasrah.
"Permisi Tuan," ucap suster Syanin yang masuk perlahan ke ruangan itu dengan membawa beberapa obat bersama sarapan yang sudah di sediakan rumah sakit.
"Iya masuk sus," jawab Jee tersenyum ramah.
__ADS_1
Lagi-lagi suster Syanin menerima tatapan entah apa arti dari tatapan itu dari luar pintu ia hanya menunduk dan bergegas pergi rasanya bercampur aduk karena tidak mengerti apa maksud tatapan itu. Yah Jac menatapnya seperti seakan menginginkan wanita itu namun berlawanan dengan yang wanita itu lihat seperti mendapat tatapan akan menerkam. Memang mata Jac suka berubah-ubah terkadang terlihat hangat dan terkadang juga terlihat memunculkan tatapan yang sangat tajam semua tergantung dari bagaimana dirinya menyatukan hati dan fikirannya. Saat itu Jac sedang sibuk bertengkar dengan hatinya sendiri.
Apa yang kau lihat Jac wanita seperti itu tidak kau hanya salah melihat saja tidak mungkin kau menyukainya bukankah kau pria yang tidak mudah jatuh cinta pada wanita dan apa itu suster yang kau tidak kenali sama sekali dirinya bagaimana bisa matamu tertuju padanya. Ah tapi memang dia sangat manis dan lagi hatinya yang begitu baik merawat para pasien rasanya sangatlah indah ketika di pandang mungkin wanita itu sudah mencuri hatiku. Tidak-tidak aku tidak boleh sembarang menaruh hati pada wanita yang belum aku kenali bisa saja memang dia hanya luarnya saja baik.
Setelah hampir setengah jam Jac berdiri di depan pintu dan terus menatap ke arah suster Syanin yang sudah menghilang di hadapannya seketika lamunannya terpecahkan saat Alfy memanggilnya.
"Kau melamun apa?" tanya Alfy yang tampak penasaran.
"Tidak ada Tuan," jawab Jac berusaha menutupi sambil sesekali meremas ujung bajunya yang terlipat masuk ke dalam celananya.
Melihat hal itu Alfy sangat paham pria itu telah berbohong namun rasa penasaran Alfy tidak berhenti di situ saja ia melihat bola mata Jac yang berputar tidak beraturan mencoba menghindari tatapan tajam Alfy.
"Kau berbohong Jac?" tanya Alfy yang tidak mudah menyerah.
"Tadi aku melihatnya menatap wanita itu," Sambung Jee tersenyum.
"Tidak Nona anda salah lihat," ucap Jac berusaha menyangkal.
"Benarkan istriku?" tanya Alfy lagi.
"Iya tadi Jacobie menatapnya saat masuk ke dalam ruangan sampai wanita itu pergi dari ruangan ini suamiku," Jelas Jee dengan berusaha membongkar hal yang di sembunyikan Jac.
Semua orang di dalam ruangan itu tampak tertawa melihat perdebatan ketiga orang di hadapannya itu yang terlihat seperti anak kecil yang di sidang oleh orangtuanya sendiri.
"Jika menyukainya cepatlah ambil tindakan sebelum di ambil orang," Tambah Tuan Indrawan.
"Ah tidak Tuan ini hanya kesalah pahaman saja," ucap Jac yang masih mengelak.
"Terserah kau sajalah Jac jika tidak ingin jujur," jawab Alfy yang menyerah.
"Maafkan saya Tuan," Dengan rasa legah Jac menunduk.
"Kau beritahu Delon untuk mengawasi mereka ke mall yah!" Perintah Alfy dengan cepat.
"Baik Tuan," jawab Jac yang segera beranjak dari ruangan itu untuk menelfon Delon segera.
__ADS_1
Wah sepertinya Jac sudah mulai menemukan tambatan hatinya nih ayo saksikan terus ceritanya yah jangan sampai ketinggalan. Terimakasih untuk pembaca telah setia menunggu update cerita-cerita selanjutnya jangan lupa untuk like dan komen yah. Assalamualaikum Wr. Wb.