
Kini semua sudah terlihat begitu banya pemberitaan buruk tentang pengacara yang selama ini namanya sangat terkenal di kalangan masyarakat luas.
Di dalam ruang kerja Jac sudah menyiapkan stategi untuk Nona Friska sementara Delon sudah menyiapkan surat panggilan dari pengadilan atas kasus Nona Friska yang telah merusak nama baik Tuan Alfy Syein beberapa kali.
"Rupanya kau tidak melepaskan wanita itu yah?" tanya Alfy tersenyum lirih pada Jac.
"Tentu saja Tuan buktinya ia mencoba melakukannya lagi kan." jelas Jac yang percaya diri.
"Iya kau benar Jac." ucap Alfy mengerti.
Sementara di kediaman Syein wajah Tuan dan Nyonya Syein tampak bingung karena televisi di ruang itu tidak bisa mendapatkan koneksi.
"Ada apa yah Mah?" tanya Tuan Reindra bingung.
"Iya Pah tumben sih televisinya nggak ada koneksi gini." sambung Nyonya Syein.
Tidak begitu lama muncul Jee yang baru saja ikut bergabung di ruangan itu dengan wajahnya menekuk merasa ada sesuatu yang mengganggu di fikirannya.
"Ada apa denganmu sayang?" tanya Tuan Reindra pada menantunya.
"Jee bosan Pah." jawab wanita itu sambil menunduk sedih.
"Memangnya kau ingin apa?" tanya Nyonya Syein dengan duduk mendekat ke samping Jee.
"Jee pengen kuliah lagi." Dengan suara ragu Jee mengatakan keinginannya.
Tiba-tiba saja terdengar suara rame dari arah pintu luar ternyata itu adalah kedua orangtua Jee yang sudah datang bersama beberapa pelayan dari rumah mereka. Tampak terlihat barang bawaan mereka beberapa koper yang di pegang masing-masing oleh para pelayan itu.
"Kalian sudah sampai rupanya." Tuan Reindra berdiri melangkah ke arah mereka dengan menyelipkan tangan di kedua sakunya.
"Yah ini kan kemauanmu." Sambil tersenyum dan menaikkan kedua bahunya Tuan Indrawan tertawa.
Kini mereka berkumpul di ruang keluarga sedangkan Jee masih tetap menekuk wajahnya dengan tertunduk memperlihatkan aksi protesnya pada keluarganya.
"Ada apa Jee?" tanya Papi Indrawan memegang kepala putrinya.
"Jee ingin kuliah lagi Pi." jawab Jee tanpa menatap wajah Tuan Indrawan.
"Sayang, keadaan tubuhmu belum terlalu kuat, bagaimana kalau kau kelelahan?" tanya Nyonya Flora sambil mengelus rambut panjang miliki Jee.
Kini air mata yang sejak tadi wanita itu pertahankan akhirnya gugur juga di pipi mulus miliknya dengan segera ia berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Di dalam kamar ia tanpa bisa henti terus menangis semua orang yang melihatnya tampak khawatir tapi mau bagaimana lagi tidak mungkin mereka merelakan nyawa Jee terancam.
"Bi, tolong panggilkan Dokter Adeline kemari yah." pintah Nyonya Syein pada Bi Ria.
__ADS_1
"Baik Nyonya." jawab Bi Ria menunduk sopan dan bergegas menuju kamar Dokter itu.
Setelah mendengar ucapan Bi Ria dengan segera Dokter Adeline menuju ke ruang tengah yang terlihat semua berkumpul dengan wajah yang entah menunjukkan ekspresi apa karena seperti terlihat bercampur aduk.
"Anda memanggil saya ?" tanya Dokter Adeline dengan Tuan Reindra.
"Iya Dokter kemari saya ingin menanyakn sesuatu." jawab Tuan Reindra.
Perlahan Dokter Adeline ikut duduk bersama keluarga itu dengan wajah datarnya meski penuh dengan tanya di setiap tatapan mereka Dokter Adelien tetap menunjukkan ekspresi biasa saja.
"Dok, jika menantu saya tetap melanjutkan kuliahnya bagaiamana?" tanya Tuan Reindra.
"Saya khawatir Tuan jika Nona Jee kelelahan akan berdampak buruk pada proses terapi yang kita lakukan saat ini." jelas Dokter Adeline dengan cepat.
"Apa tidak bisa jika di kurangi waktu kegiatannya Dok?" tanya Tuan Reindra lagi.
"Yah semuanya tergantung pada kalian Tuan karena saya sebagai Dokter hanya bisa memperingatkan tetapi keputusan tetap ada pada kalian, jika Nona Jee sering kelelahan mungkin kekebalan tubuhnya akan semakin menurun." jelas Dokter Adeline yang sedikit kecewa mendengar hal itu.
Semua wajah mereka tampak merasa serba salah karena khawatir pada Jee tapi tidak mungkin tega untuk memaksakan Jee tetap berada di rumah sepanjang harinya.
"Apa Nona Jee merasa stress kita di rumah Tuan?" tanya Dokter Adeline lagi.
"Iya Dokter dia sangat ingin kuliah dan beraktifitas di luar." Nyonya Syein menjawab dengan antusiasnya.
Kini semua tampak legah mendengar ucapan Dokter itu mereka tinggal meminta persetujuan satu orang lagi untuk menolong Jee yaitu Alfy. Mungkin sedikit lebih sulit untuk menghadapi pria itu jika mengenai istrinya tentu tidak mudah membujuk Alfy agar memberikan ijin Jee berkuliah. Selain Alfy takut dengan kesehatan istrinya sebenarnya Alfy merasa tenang jika Jee di rumah saja dari pada harus bertemu dengan Fiky.
Di rumah besar yang menampilkan keindahan di sekelilingnya memperlihatkan bunga indah di sekeliliing rumah itu yang sangat luas tampak terlihat wajah wanita yang terkejut bukan main. Nona Friska Brain yang saat ini duduk di kursi santai sambil bersandar menikmati udara sejuk di ruang terbuka itu kini sedang memegang surat panggilan dari pengadilan.
"Apa-apaan ini apa yang telah aku lakukan?" gumam wanita itu dengan wajah marahnya tidak percaya entah kasus yang mana yang mereka bawa ke jalur hukum sebenarnya.
Tangannya meremas kuat selembar kertas itu hingga terkumpul menjadi kusut di genggamannya matanya semakin penuh amarah bagaimana bisa ia mendaparkan surat panggilan seperti ini selama ia hidup tidak pernah ada yang berani melaporkannya satu pun.
Berita di semua televisi sudah menyebar luas Alfy yang memperhatikan itu di ruang kerjanya hanya terdiam dengan tatapan teduh karena di balik berita ini sudah ada jalan yang jauh lebih baik untuknya ke depannya dan untuk para masyarakat sekaligus.
"Jac, persiapkan pabrik parfume untuk kita buka di tempat itu dan untuk para masyarakat yang memiliki lahan bunga itu minta untuk bekerja sama dalam hal ini." perintah Alfy cepat.
"Baik Tuan." jawab Jac lalu melangkah ke meja kerjanya.
Dengan jari bergerak mendorong layar ponselnya Jac mencari nomor salah satu toko masyarakat desa itu dan segera menelfonnya.
"Tuan Jac, ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu.
Mendengar hal itu dengan segera Jac menjelaskan pada pria itu untuk rencana Tuan Alfy ingin membantu perekonomia mereka asalkan mereka setuju dengan menjadi saksi atas gugatannya pada Nona Friska. Dengan kerugian yang selama ini mereka tidak mendapatkan pembagian hasil Alfy bertujuan untuk membantu pembangunan pabrik di daerah itu karena sudah bisa di pastikan Nona Friska akan mendekam di penjara dan tentu semua produksi di pegunungan itu tidak akan beroperasi lagi.
__ADS_1
Setelah mendengar semua dari Jacobie pria itu dengan senang hati membantu untuk hadir di persidangan nanti mendengar itu Jac sudah tersenyum legah masalah kali ini akan cepat selesai lagi tanpa menunggu lama.
"Tuan, semua sudah beres." Laporan yang di berikan Jac membuat Alfy membuyarkan lamunannya.
"Oh iya baiklah." jawab Alfy singkat dan berdiri mengambil jasnya yang ia letakkan di kursinya.
"Tuan mau kemana?" tanya Jacobie penasaran.
"Wah sepertinya kau sedikit bawel belakangan ini," ejek Alfy yang tertawa lalu meninggalkan Jacobie seorang diri.
Berapa lama pria itu bekerja denganku baru kali ini seperti seorang istri dasar ada apa dengannya apa karena terlalu sering bertemu suster Syanin.
Dengan semangat Alfy melangkah menuju mobilnya kini ia melajukan kendaraan itu sambil tersenyum ingin cepat sampai di rumah lalu mencium istrinya. Ketika sudah sampai di rumah Alfy melihat keluarganya yang sudah berkumpul di ruangan tengah itu.
"Kau sudah pulang Fy?" tanya Tuan Reindra.
"Iya Pah." jawab Alfy sambil melirik mencari keberadaa istrinya.
"Jee di kamarnya." Nyonya Syein yang sudah mengetahui isi tatapan Alfy.
Memangnya siapa lagi yang ia cari selain istrinya tidak mungkin ia mencari suster atau Bibi tentunya di dalam hidupnya hanya ada dia dan Jee saja kan orangtua ataupun yang lainnya hanya sebagai pelengkap hiasan hidup pria itu saja sepertinya.
Alfi dengan tergesah-gesah berlari menaiki anak tangaa belum sempat Tuan Reindra mengatakan sesuatu sudah keburu anaknya pergi meninggalkan mereka.
"Istriku, mengapa kau menangis?" tanya Alfy bingung.
Belum sempat Jee menjawab Alfy sudah berlari kembali ke bawah dengan wajah marahnya.
"Apa yang kalian lakukan pada Jee?" tanya Alfy dengan nada kesalnya.
"Kemarilah." panggil Tuan Reindra dengan sabarnya.
Alfy yang tetap berdiri tanpa mau duduk membuat semua orang di sekitar itu merasa seperti kehilangan kesabaran juga.
"Jee meminta untuk kembali kuliah lagi Fy," Nyonya Syein yang berusaha bersikap tenang.
"Apa karena itu Jee menangis?" tanya Alfy mencari kepastian.
"Iya tadi Papah dan Mamah belum berani kasih jawaban ini baru saja berdiskusi dengan Dokter Adeline dan setelah ini kami akan meminta persetujuanmu dulu." jelas Nyonya Syein.
Mendengar hal itu Alfy tampak kesal mengapa lagi-lagi istrinya keras kepala seperti itu sih ini kan demi kesehatannya dan juga calon bayinya. Apa Jee memang tidak benar-benar ingin mengandung dulu di usianya yang saat ini atau sebenarnya Jee ingin bertemu dengan Fiky yah karena jika ia tidak kuliah tentu Jee selalu berada dalam pengawan Alfy bukan.
__ADS_1