
"Halo..." ucap seorang wanita yang terdengar sedikit berat.
"Em...apakah masih belum bisa untuk sekarang?" tanya Alfy dengan nada yang sedikit terdengar ragu.
"Maaf, maksudnya belum bisa apa yah Tuan?" tanya wanita di seberang sana.
Alfy yang enggan berbicara karena merasa malu dengan cepat mengakhiri panggilan lalu kembali berbaring di sebelah istrinya.
Sementara wanita yang baru saja mendapatkan telefon itu adalah Dokter Adeline, ia yang baru tersadar dari tidurnya tampak mengingat ucapan dari Alfy barusan.
Sepertinya kali ini Dokter Adeline bisa paham maksud dari perkataan pria itu barusan setelah ia melihat cuaca yang begitu dingin mencekam.
Tangannya yang tidak bisa terkontrol kini menelusuri dua gundukan yang terpampang nyata di hadapannya dengan sangat hati-hati.
Namun belum sempat lama ia menikmati petualangannya, tiba-tiba ia di kejutkan dengan dering ponsel yang menandakan pesan singkat masuk.
"Maaf Tuan, jika untuk melakukan dengan Nyonya Jee mungkin bisa saja asalkan jangan membuat tenaganya kelelahan." ucap Dokter Adeline melalui pesan yang ia kirim.
Alfy yang membacanya dengan wajah penuh kegembiraan karena telah mendapat restu dari Dokter Adeline, namun saat ia mengingat perkataan Jee yang sedang datang tamu bulanan wajahnya seketika berubah kesal lagi.
"Apa aku tidak apa-apa melakukannya tanpa sepengetahuannya lagiyah?" gumam Alfy yang sedang merencanakan sesuatu.
Akhirnya Alfy yang berniat melakukannya diam-diam kini mulai melepaskan pakaian bawah Jee dengan sangat hati-hati.
Matanya terbelalak ketika melihat di bagian bawah Jee yang sudah terpampang dengan sempurna sebuah gundukan yang sangat bersih.
Ia terkejut karena melihat sudah tidak ada darah atau apa pun di sana dan kini Alfy bisa menebak jika Jee berbohong. Padahal tanpa ia sadari dirinya lah yang terlalu bodoh sok tahu jika Jee masih belum selesai datang tamu bulanannya.
__ADS_1
Jee yang merasa terganggu dengan sentuhan Alfy di bawah sana terkejut saat membuka matanya perlahan. Rasa nikmat yang Alfy berikan membuat Jee tidak lagi bisa menolak selain merespon perlakuan suaminya yang tanpa ia duga.
Alfy yang baru sadar ketika mendengar desahan lembut Jee semakin liar bermain di bawah sana setelah merasa cukup kini ia dengan segera melanjutkan aksinya menindih tubuh Jee lalu membenamkan kepemilikannya dengan pelan.
Kini mereka berdua tampak hanyut dalam balutan kepuasan nafsunya, cuaca yang sangat mendukung semakin membuat Alfy tampak bergairah melakukannya lagi dan lagi di bantu dengan suara derasnya hujan membuat Jee semakin tidak mengontrol suara desahannya.
Jee terlihat sangat menikmati permainannya malam itu sampai akhirnya mereka terjatuh dalam tidur yang begitu lelap setelah cukup lama melakukannya.
Malam itu semua seluruh penghuni di muka bumi sedang tertidur dengan lelap ikut menikmati suara air hujan yang turun membuat tidur semakin panjang.
Berbeda halnya dengan kedua remaja yang sedang di mabuk asmara, yaitu Dara dan Fiky. Mereka yang entah sejak kapan selesai belajar namun tetap tidak ada yang berniat mematikan sambungan panggilan video itu.
Dara terus tersenyum sambil memandangi wajah Fiky di layar ponsel miliknya dengan membaringkan tubuh di atas kasur. Sedangkan Fiky masih duduk di tempat baca bukunya yang setiap malam dan setiap hari ia duduki selain di kampus.
Setelah cukup lama mereka saling memandangi satu sama lain kini Dara tanpa sadar sudah terlelap dalam tidurnya. Wajahnya terlihat sangat manis namun Fiky yang menyadari ketika Dara mengalirkan sesuatu di pipinya tertawa sambil menutup mulutnya.
Dengan cepat tangannya menggerakkan layar ponsel untuk mengambil gambar panggilan video mereka. Di sana terlihat jelas Dara yang sedang ileran dan membuat Fiky terus tertawa tanpa hentinya.
Merasa cukup untuk tertawa kini Fiky juga ikut merebahkan tubuhnya ke atas kasur dan perlahan matanya juga tertutup dengan sempurna.
Sedangkan di rumah sakit kini begitu terasa sepi, Wenda yang sedang terbaring semakin lemah menunggu kedatangan seorang pria.
Yaitu Nakula, entah sudah sejak kapan pria itu selalu menghilang tiap kali Wenda tertidur dan kembali hanya sekedar melihatnya sebentar tanpa mau menemani lebih lama.
Wenda terus menatap layar ponselnya beberapa kali ia menghubungi Nakula namun tetap tidak ada jawaban sama sekali. Justru panggilan terkahir Nakula menolaknya dan membuat Wenda merasa semakin kesal akhirnya ia berfikir untuk melakukan sesuatu.
"Baiklah jika kau ingin bermain-main padaku, aku akan melakukan pembalasan padamu." umpak kesal Wenda.
__ADS_1
Disebuah apartemen, Nakula yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya karena alkohol tampak sedang di tuntun oleh dua orang wanita yang memakai dress sangat mini.
Kedua wanita itu adalah pekerja dari club malam yang tempatnya tidak jauh dari apartemen Wenda. Nakula enggan melepaskan pelukannya pada kedua wanita itu dan meminta mereka untuk ikut masuk menemaninya di kamar.
Wanita yang mendapat ijin masuk oleh Nakula tanpa menolak dengan senang hati mereka melayani Nakula dengan cara bersamaan.
Malam itu begitu terasa hangat yang di rasakan oleh Nakula di temani dengan dua orang wanita sekaligus tentu sangat memuaskan baginya.
Suara penuh desahan memenuhi ruangan itu dengan lihainya kedua wanita itu melahap habis seluruh hidangan yang di berikan Nakula dari tubuhnya.
Kali ini Nakula tidak perlu bekerja keras hanya perlu berbaring pasrah sambil menimati permainan kedua wanita itu saja.
Desahan suaranya terus berkejaran dengan nafas ketiga orang itu yang membuat suasana kamar semakin terasa panas. Cuaca dingin yang mengantarkan kepulangan mereka dari club malam tadi sudah berganti dengan suasana yang panas dan gerah.
Keringat kian bercucuran dari segala sumber tubuh mereka dan saling bercampur membuat Nakula semakin terus bergairah untuk mendapatkan tenaga tanpa hentinya.
Beberapa jam mereka melakukan sampai jam menunjukkan sudah hampir subuh kini ketiga orang itu ambruk dalam pelukan bersama.
Lalu teridur dengan lelapnya sambil keringat di tubuhnya terus mengalir tanpa mereka hiraukan, kini hanya rasa kantuk yang menghujani kepalanya dan tanpa terasa pagi pun sudah menyambut aktifitas seluruh makhluk di bumi itu.
Wenda yang keadaannya semakin lemah merasa tidak tahu harus melakukan apa saat ini, karena hasil pemeriksaannya semakin banyak yang harus di periksa oleh Dokter.
Dan kali ini Wenda sudah tidak bisa kembali ke Jerman di waktu yang tepat padahal kuliahnya sudah mulai aktif setelah pendaftarannya beberapa minggu lalu.
Pagi itu Wenda yang tertidur dengan air mata yang tampak sudah sedikit kering di pinggir matanya dan terlihat juga mata yang sudah sembab karena semalaman ia terus menangis.
Rasa takut dan bersalah Wenda membayangkan wajah Pamannya yang mengetahui tingkahnya di luar seburuk ini tentu membuat Pamannya sangat kecewa.
Wenda adalah wanita satu-satunya yang sangat di sayangi oleh Pamannya, meskipun Tante Melly selalu acuh padanya hal itu tidak mengurangi rasa sayang Pamannya.
__ADS_1
Bersambung...
Selamat membaca semuanya!!