Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Kehilangan


__ADS_3

Sisil yang merasa Wajahnya memerah karena malu bagaimana bisa ia terbawa suasana sampai berani menggenggam tangan Fiky.


Namun Fiky yang tidak merasakan apa-apa hanya biasa saja menanggapi tingkah Sisil yang kini terus menunduk.


“Ada apa, Sil?” tanya Fiky bingung.


“Em...anu...em tidak Kak, Kakak sudah makan?” tanya Sisil mencoba mencairkan suasana hatinya.


“Belum.” Jawab Fiky tersenyum.


 


Astaga lihatlah wajahnya tersenyum sungguh manis sekali rasanya aku ingin meraih pipinya dan


mencubit gemas. Aduh mengapa aku semakin tidak bisa mengontrol diri seperti ini sih Sisil kendalikan dirimu.


Fiki yang melihat Sisil bengong menatapnya merasa aneh akhirnya ia membuyarkan lamunan wanita itu.


“Sil, kau baik-baik saja?” tanya Fiky.


“Eh...iya Kak, sebentar yah Sisil ambilin makannya.” Dengan cepat Sisil menuju meja di ruangan itu untuk mengambilkan bubur Fiky.


Saat Fiky ingin meraih piring kecil itu tangan Sisil sudah lebih cepat menepisnya.


“Biar aku saja yang suapin Kakak,” ucap Sisil tersenyum.


Fiky yang mendengarnya hanya menerima karena memang keadaan tubuhnya belum terlalu kuat masih sedikit bergemetar jika harus memegang sesuatu.


Satu demi satu suapan Sisil mendaratkan ke mulut manis Fiky yang dengan lahapnya menghabiskan bubur satu piring.


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat sudah tiga hari kedua orang itu di rawat bersebelahan Nyonya Syein dan Tuan Indrawan yang baru menjenguk Fiky.


Mereka berdua sudah menganggap Fiky anaknya juga dengan tersenyum pasangan suami istri itu menghampiri Fiky. Wajah Fiky sudah jauh lebih baik dari beberapa hari yang lalu.


“Kau sudah sarapan?” tanya Nyonya Syein pada Fiky.


“Iya Mi, sudah baru saja selesai.” Jawab Fiky tersenyum.


“Memangnya bisa berdiri mengambil sarapanmu?” tanya Tuan Indrawan terkejut.


Tidak lama kemudian Sisil baru saja keluar dari kamar mandi Tuan Indrawan dan Nyonya Flora terkejut melihat kehadiran wanita itu.


“Sisil...” Nyonya Syein yang terkaget.


“Eh Tante Flow...” Wajah Sisil yang malu karena kepergok oleh Nyonya Flora dan Tuan Indrawan.


“Wah sepertinya ada yang punya status baru nih.” Nyonya Flora mengejek.


“Ah Tante Flow bisa aja sih.” Sisil yang merasa malu namun ada perasaan senangnya juga.


“Mi, apaan Sih? Sisil ini udah Fiky anggap kayak adik Fiky sendiri kok.” Jelas Fiky dengan santainya.


Deg....


Jantung Sisil dengan secepat kilat terhenti wajahnya yang tersenyum kini sudah tampak kaku begitu terkejutnya ia mendengar pengakuan Fiky tentangnya.


Rasanya hancur sekali harapan yang begitu besar ia inginkan tiba-tiba dengan seketika pupus. Bukan statu adik yang Sisil inginkan dari Fiky tapi kekasih, yah sebagai pasangan hidupnya kelak.

__ADS_1


“Tidak Sil, ini masih belum berakhir kamu pasti bisa.” gumam Sisil yang berusaha menguatkan dirinya untuk terus maju.


Selama Fiky belum memiliki status pada wanita mana pun tentu Sisil masih memiliki kesempatan untuk mendapatkannya.


Sebaliknya Fiky sampai saat ini masih terus menunggu harapan palsu dari Jee. Tidak perduli seberapa lamanya menunggu ia tidak akan menyerah bila Tuhan menakdirkannya menunggu empat puluh tahun lagi pasti akan tetap menunggu dengan senang hati.


Rasa cintanya pada Jee sangatlah besar sayang semua sudah terlambat Jee tidak lagi menganggapnya sebagai belahan jiwanya seperti dulu.


Yang Jee anggap saat ini Fiky adalah seorang Kakak yang ia sayangi. Alfy adalah satu-satunya pria yang Jee cintai saat ini sampai seterusnya ia akan membangun keluarga kecil bahagia dengan pria yang ia cintai.


Sementara di ruangan sebelah Jee yang sudah mulai sadar membuka matanya perlahan yag tampak samar-samar.


Ia melihat suaminya yang tertidur di kursi sampingnya dengan tangan yang terus menggenggam tangannya.


Jee yang melihat Alfy tersenyum dan menggerakkan tangan sebelahnya mengelus rambut suaminya.


Alfy merasa ada yang menyentuh kepalanya dengan segera terbangun betapa senangnya ketika meliat istrinya sudah sadarkan diri.


“Dok...Dokter istri saya sadar.” Suara Alfy yang berteriak-teriak ke depan pintu.


Lalu kemudian kembali melangkah mendekati Jee ia mencium punggung tangan istrinya dengan senang.


Namun kesenangan itu tidak berlalu dengan lama saat Jee menatap perutnya yang sudah rata kembali. Matanya menatap Alfy meminta penjelasan pada suaminya, Alfy yang melihat tatap Jee mendadak


teringat kembali dengan kejadian beberapa hari yang lalu.


Air matanya kembali menetes lagi.


“Anak kita sudah tidak ada, Han.” Ucap Alfy lirih.


“Hah, tidak ada apa maksudnya Han?” tanya Jee yang terkejut.


“Tidak...anakku tidak boleh pergi ku mohon.” Suara Jee yang menangis membuat semua yang duduk di luar kembali berlari masuk.


Nyonya Syein yang terkejut segera memeluk tubuh menantunya dengan lembut ia berusaha memberi Jee ketenangan.


Jee terus memberontak menangis rasanya tidak terima jika harus kehilangan anaknya karena pria


brengs*k itu.


Sudah bisa di pastikan saat ini Narendra tentu tidak akan mendapat hukuman ringan. Ia sudah sangat salah besar dalam mengambil tindakan berurusan dengan Alfy.


“Han, ku mohon tenanglah jangan membuatku semakin tidak kuat.” ucap Alfy yang juga ikut memeluk tubuh Jee.


Kini mereka berpelukan sambil menangis bukan hanya Jee dan Alfy yang merasakan kesedihan itu semua keluarga merasa kehilangan bayi yang ada di dalam perut Jee. Sudah begitu lama mereka menantikan momen suara bayi di


rumah yang membuat ramai namun saat ini tampanya belum di ijinkan.


Di ruangan yang berbeda Zeyra yang sedang terbaring sudah mulai membaik dengan suster Syanin yang setia berada di sampingnya.


Karena Jacobie harus mengurus kasus Narendra untuk membantu Alfy. Saat seperti ini Alfy tidak mungkin mau meninggalkan Jee sendiri beruntung ia memiliki orang-orang


yang dapat di percaya.


Delon yang di luar ruangan Jee merasa bingung akhirnya ia memutuskan untuk ke ruangan Zeyra. Sudah beberapa hari ia tidak melihat keadaan wanita itu dan pasti tujuan utamanya adalah bertemu dengan suster


Syanin.

__ADS_1


“Tok...tok...tok...” Suara pintu terdengar dari luar ruangan Zeyra.


Tidak lama kemudian tampak wajah Delon yang masuk lebih dulu dari pada tubuhnya ia mengintip untuk memastikan ada orang di dalam.


“Hai Sya.” Ucap Delon dengan akrabnya memanggil suster Syanin sambil tersenyum.


“Kau sedang apa ke sini?” tanya suster Syanin heran.


“Memangnya tidak boleh yah,” goda Delon sambil mengedipkan matanya.


Zeyra yang melihat tingkah Delon yang tersenyum menggeleng kepala merasa tidak di anggap jika ada di dalam ruangan itu.


“Ehem...” Suara Zeyra yang berdehem.


“Eh Nona Zeyra sudah baikan yah?” tanya Delon terkejut.


“Iya.” Jawab Zeyra singkat.


Suster Syanin yang kesal melihat tingkah Delon hanya terdiam sesekali memainkan bola matanya lalu membuang wajahnya.


Entah sejak kapan Delon memiliki sifat yang lebih humoris dari sebelumnya. Setelah kehadiran Delon di


ruangan itu akhirnya suster Syanin meminta tolong pada Delon untuk menemani Zeyra sebentar.


“Delon, apa aku boleh keluar sebentar?” tanya suster Syanin.


“Mau kemana? Ayo aku temani.” Ucap Delon dengan tersenyum senang.


“Ada perlu, kau tolong bantu Nona Zeyra untuk menjaganya.” Jawab ketus suster Syanin.


Zeyra yang melihat mereka berdua hanya tertawa lucu.


“Sus, aku tidak papa jika suster mau keluar dulu.” Zeyra yang merasa tidak perlu di jaga.


“Oke baiklah aku akan menemaninya.” Delon mengalah.


Suster Syanin dengan cepat keluar dari ruangan lalu menjenguk keadaan Jee ia merasa khawatir dengan mantan pasiennya.


“Tok...tok...tok” Suara pintu terdengar.


Perlahan suster Syanin membuka pintu ruangan itu ia melihat wajah-wajah sedih tampak menatapnya.


“Suster.” Ucap Jee lemas.


“Bagaimana keadaan Nyonya muda?” tanya suster Syanin dengan penuh hati-hati.


“Aku baik, Sus.” Jawab singkat Jee.


Suster Syanin perlahan mendekat ke arah Jee lalu menunduk hormat.


“Saya minta maaf tidak bisa membantu anda banyak Nyonya.” Ucap Suster Syanin merasa bersalah.


“Tidak apa Sus, semuanya sudah terjadi dan bukan salah Suster kok.” Jawab Jee yang mulai membaik.


Cukup lama suster Syanin berada di ruangan itu berbicara dengan Jee tentang keadaannya sampai akhirnya ia meminta ijin undur diri.


Sampai saat ini keluarga Syein Biglous tidak tahu tentang kehamilan Zeyra. Setelah suster Syanin mengatakan akan kembali menjaga Zeyra semua baru sadar jika Zeyra sudah lama tidak ada di rumah.

__ADS_1


Ceritanya di episode ini sampai di sini duluyah readersku sayang jangan bosan menunggu yah author sangat senang kalian sudah setia memberikan dukungan.


__ADS_2