
“Mana Kak?” tanya Dara yang penasaran.
Mereka yang melihat jelas Sisil sedang makan bersama seorang pria akhirnya datang menghampiri keduanya.
“Sisil.” ucap Dara yang sukses membangunkan keduanya dari kursi makan itu.
“Dara, kalian di sini juga?” tanya Sisil yang terkejut.
Akhirnya mereka berbicara cukup lama sampai akhirnya Dara penasaran dengan pria yang bersama Sisil saat itu. Dia adalah Ravindra mahasiswa yang sekelas dengan Jee, tentu Fiky mengenalnya pria yang pernah beberapa kali berusaha mengejar Jee.
“Astaga mengapa semua pria yang menyukai Jee berujung dengan sahabatnya sih?” gumam Fiky tampak tidak masuk akal dengan yang terjadi.
Sisil menceritakan jika ia mengenal Ravindra semenjak pertama kali melihatnya menjadi peserta olimpiade bersama Jee. Sejak saat itu Sisil merasa kagum dengan Ravindra, sampai akhirnya beberapa kali Sisil bertemu tanpa sengaja di kantin. Ravindra yang kebetulan belum memiliki banyak teman juga selalu sendiri ke kantin. Akhirnya mereka dekat dan sekarang sudah resmi jadian. Dara tidak menyangka jika sahabatnya diam-diam tengah berpacaran dengan pria tampan ini.
Akhirya Sisil yang mengajak Dara untuk makan bersama mereka lagi tidak bisa menolaknya. Saat ini keempatnya sedang menikmati makanan mereka sama-sama terlihat mesra. Terlebih Sisil dan Ravindra mereka sangat mesra tiada duanya. Ravindra yang beberapa kali memegangi rambut Sisil saat ingin makan karena terjatuh terus membuat Dara semakin baper. Sementara Fiky hanya sibuk menikmati cemilannya tanpa menghiraukan mereka.
Saat makan, tiba-tiba Fiky yang merasa ponselnya berdering di saku jasnya segera meminta waktu sebentar dengan Dara untuk menepi. Dara dengan santainya mengiyakan tanpa bertanya siapa yang menelfonnya.
“Halo, bro.” sapa pria dari seberang telfon.
“Hey gimana kabar lo?” tanya Fiky dengan akrabnya.
Cukup lama mereka berkomunikasi sampai Fiky tidak sadar jika meninggalkan Dara dan yang lainnya sudah terlalu lama. Dara yang merasa gelisah dengan ragu berdiri dari tempat duduknya dan menyusul keberadaan Fiky.
“Jadi gimana, kapan lo nikah?” tanya pria itu lagi.
“Ah gue mah belum kefikiran soal nikah.” Sahut Fiky dengan santainya.
“Bukannya lo balik ke Indonesia buat nikahin siapa tuh namanya?” tanya pria itu lagi.
__ADS_1
“Namanya Jee, iya tapi dia sekarang masih milik orang hahaha.” Fiky yang terdengar sangat asyik berbicara tidak sadar jika Dara sudah berada di belakangnya.
“Masih milik orang? Berarti nanti bakal lo nikahin dong hahaha.” lanjutnya lagi.
“Tunggu jandanya kali yah?” ucap Fiky mulai menikmati candaannya dengan temannya.
“Apa Kak Fiky nunggu Jee pisah sama Alfy? Jadi selama ini aku apa?” gumam Dara yang merasa kecewa mendengar ucapan yang terlontar dari mulut kekasihnya itu.
Tanpa sadar kini air matanya sudah jatuh membasahi kedua pipi mulusnya. Langkahnya perlahan mundur menjauh dari Fiky. Dara sudah tidak bisa lagi menemui Sisil dan Ravindra kini ia memilih untuk pulang menggunakan taksi. Sementara Fiky yang baru saja mematikan ponselnya kini kembali bergabung dengan Sisil dan Ravindra.
Matanya menatap sosok yang tidak ada terlihat sejak kedatangannya barusan. “Loh Dara kemana?” tanyanya.
“Bukannya tadi nyusul Kakak, yah?” tanya Sisil pada Fiky.
“Hah nyusul aku?” Fiky yang merasa bingung mendengar ucapan Sisil selama ia menelfon Dara sama sekali tidak ada bertemu dengannya.
Seketika pria itu tersadar dengan ucapannya saat di telfon sepertinya Dara mendengar percakapan bersama temannya tadi. Tanpa menunggu lama Fiky segera menuju rumah Dara untuk menjelaskan semuanya namun sayang, Dara tidak ada di rumah entah kemana perginya gadis itu.
“Akhirnya kita sampai juga, Sayang.” ucap Alfy yang tersenyum memeluk tubuh Jee di depan jendela hotel yang memperlihatkan pemandangan menara Eiffel.
Jee yang tersenyum bahagia menerima pelukan hangat sang suami sambil menikmati pemandangan indah itu. “Terimakasih yah.” ucapnya.
“Apa katamu, terimakasih? Tidak ada kata terimakasih pada suami.” sahut Alfy yang mulai memperlihatkan wajah menyebalkannya.
“Sayang, jangan mulai bertingkah aneh lagi. Pliiss ini kota yang paling romantis jangan sampai moodku rusak karena tingkahmu yang selalu menyebalkan itu.” ucap Jee yang mulai melontarkan kalimat protes pada suaminya.
“Jadi menurutmu aku ini aneh yah hah?” Alfy yang sudah menggendong tubuh istirnya dan menghempaskan pelan ke atas kasur sambil mulai menelusuri leher jenjang milik istrinya.
Perjalanan panjang tak mampu membuat mereka berdua lelah ternyata, hari pertama mereka habiskan dengan di kamar saja. Alfy memang sengaja mengajak Jee untuk menikmati suasana baru di hotel dulu. Hitung-hitung untuk beristirahat mengumpulkan tenaga.
__ADS_1
Alih-alih beristirahat justru membuat Jee semakin kelelahan menghadapi keinginan Alfy yang terus menerus meminta padanya tanpa lelah. Sampai tiba waktunya malam mereka bersiap untuk berjalan-jalan. Alfy yang terlihat sangat tampan mengenakan sepatu coklat celana hitam dan mantel senada dengan sepatunya warna coklat.
“Astaga sejak kapan suamiku setampan ini?” gumam Jee sambil memandangi Alfy begitu polosnya.
“Sudah puas memandangi ketampananku?” tanya Alfy yang membuyarkan lamunan Jee seketika.
“Ih geer, siapa yang memandangimu, Sayang. Bantah Jee yang memiringkan bibir bawahnya seolah jijik mendengar ucapan suaminya. Alfy hanya tertawa geli melihat istrinya yang begitu gengsi mengakui dirinya tampan.
“Hati-hati yah di luar sana banyak yang melirik suamimu nanti, jangan sampai lengah.” goda Alfy yang sudah menyemprotkan parfum di beberapa area lehernya.
Jee yang mendengarnya merasa kesal, “Kau untuk apa memakai parfum itu?” tanya dengan perasaan yang sudah mulai tidak enak.
“Biasanya kan aku juga memakainya.” jawab Alfy santai.
Jee hanya cemberut saja mendengarnya, kini mereka keluar dari hotel dan masuk ke mobil yang sudah bersedia mengantar tujuan mereka. Alfy berhenti dan mengajak Jee untuk berjalan mendekat ke menara Eiffel. Jee yang terus menggandeng tangan suaminya sambil beberapa kali melirik mata wanita yang terus menatap dengan penuh keinginan pada Alfy membuat Jee semakin was-was.
Alfy bisa merasakan genggaman Jee yang semakin erat di lengannya. “Lucu juga jika wanita terlihat cemburu, rasanya aku ingin sekali membuatnya cemburu seperti ini terus padaku. Apa aku menebar pesona pada semua wanita yah biar dia semakin menempel padaku hahaha.” ucap Alfy dalam hati.
Baru kali ini ia merasa sangat bahagia melihat ekspresi Jee yang sangat over padanya. “Berdiamlah di sini.” ucap Alfy yang menghentikan langkahnya dan menyuruh Jee berdiri.
Posisi mereka tepat berada di depan menara romantis itu, Jee yang bingung dan merasa berat hati melepas genggamannya pada lengan Alfy terpaksa menurutinya. Alfy yang mulai berdiri tegak di hadapan sang istri perlahan merogoh saku mantelnya.
Kini tangan pria itu tepat berada di atas kepala Jee dan seketika matanya istrinya membulat saat melihat benda cantik tergantung tepat di depan matanya. Kalung, yah kalung berlian yang Alfy sudah persiapkan untuk istri tercintanya.
Senyuman bahagia saat itu terpancar lebar di bibir manis Jee ia menatap Alfy tidak percaya melihat kalung mewah yang sangat indah. “Ini...untukku?” tanyanya tidak percaya.
Alfy yang juga tersenyum tanpa menjawab segera melingkarkan di leher istrinya dan mengecup kening Jee bersamaan dengan selesainya kalung indah itu di kaitkan. “Kau suka?” tanya Alfy.
Jee yang sudah tidak bisa menjawab lagi karena terlalu bahagia saat ini hanya bisa memeluk tubuh suaminya dengan bahagia beberapa kali ia kembali terus mengeratkan pelukannya sampai benar-benar merasa selesai momen pelukannya baru Jee melepaskannya.
__ADS_1
“Sayang, aku tidak bisa mengira jika mencintaimu sebahagia ini.” ucap Jee terdengar begitu tulus sambil memegang kedua tangan suaminya dan kini mereka saling menatap tersenyum.
Senyuman masih terus menghiasi wajah gadis itu. Malam yang begitu sempurna menyambut kebahagiaan yang lagi dan lagi datang pada mereka berdua.