Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Kemenangan


__ADS_3

Jee yang baru saja keluar kamar mandi melihat kedua pria itu membuatnya bertanya-tanya dalam hati seperti ada kecanggungan di antara mereka.


“Ada apa, Sayang? Tadi itu memeriksa apa sih mengapa seperti memeriksa kehamilan saja?” ucapnya dengan mendaratkan bokongnya di kursi ruangan.


Alfy yang melihat wajah Dokter begitu gugup dengan segera menjawabnya. “Kata Dokter kau sedang mengandung, Sayang.” jawabnya terlihat kaku.


Jee yang merasa tidak masuk akal sempat bingung. “Apa hamil? Bagaimana mungkin Dok aku saja baru kemarin tidak minum pilnya?” tanya Jee begitu tidak percaya.


Em begini Nyonya, kemunginan anda pernah lupa mengkonsumsinya sampai tidak sadar jika hal itu akan menyebabkan kehamilan saat ini.” jelas Dokter seperti tersenyum kaku.


Jee yang mendengar penjelasan itu seketika mengerutkan dalam dahinya seakan berusaha mengingat kapan ia lupa meminum pil itu, jika di ingat-ingat ia selalu meminumnya karena takut jika Alfy marah padanya. Dan bagaimana sekarang bisa terjadi, mata Jee yang menatap wajah suaminya merasa takut jika Alfy akan marah dan kecewa padanya.


“Hey, mengapa kepalamu menunduk seperti takut padaku?” tanya Alfy yang meraih dagu lancip istrinya. Jee yang tidak berani menjawab terus berusaha memalingkan tatapan pada suaminya tanpa ia sadari Alfy kini tersenyum dan mengec*p kening istrinya.


Dokter yang menikmati pemandangan itu segera memalingkan wajahnya ketika Alfy menatapnya tajam. “Ayo kita keluar.” Ajak Alfy sementara Dokter yang merasa telah lepas dari cengkraman serigala itu bersandar legah di kursinya.


“Huh ada-ada saja keluarga itu, jantungku selalu tidak normal jika menghadapi salah satu dari mereka selalu ada yang tidak masuk akal.” ucapnya dengan menyeka keringat di dahinya.


Di depan ruangan Alfy dan Jee yang sudah melihat kehadiran keluarganya bersama seorang pria dan seorang wanita cantik dan rapi. Semua menyambut Jee dengan bahagia, sementara Jee yang melihat dengan bingung suaminya berusaha tertawa meskipun ia bertanya-tanya dalam hati apakah Alfy tidak marah padanya.


“Ada apa, Jee?” tanya Tuan Reindra.


“Apa Alfy tidak marah Jee hamil?” tanyanya pada Tuan Reindra.


Alfy yang mendengarnya tersenyum memeluk istrinya seketika rasa takutnya hilang demi mempertahankan Jee tidak bekerja. “Aku tidak akan marah, justru akan sangat senang memiliki anak sekarang.” jawabnya dengan penuh tawa.


Zidan yang juga ikut tertawa membuat Jee gemas dan beberapa kali ia terus mendaratkan bibirnya pada pipi cabi bocah itu. Sementara dua orang asing yang bersama keluarga itu kini tengah ikut tertawa dan menanti waktu yang tepat untuk menyodorkan berkas pada Jee.

__ADS_1


“Oh iya ini siapa?” tanya Alfy yang penasaran.


“Ini tadi ke rumah katanya Jee memintanya menemui di rumah.” jawab Nyonya Flora.


“Oh iya berhubung semuanya di sini Jee ingin meminta restu untuk mulai bekerja di perusahaan Go Rills.” jelas Jee yang seketika membuat semuanya terdiam hening.


“Tidak,” jawab Tuan Reindra dan Tuan Indrawan bersamaan.


Semua menatap ke arah dua pria tua itu, begitu juga dengan Jee yang melongo bingung. Sementara Alfy sudah tersenyum dalam hatinya ia kali ini tidak perlu bekerja keras mengatur istrinya, biarkan kali ini kedua Ayah mereka yang memutuskan untuk kebaikan Jee dan Alfy.


“Kok tidak sih?” tanya Jee yang terlihat kecewa.


Alfy yang dengan senang hati segera memeluk tubuh istrinya memberi kekuatan. “Sayang, Papah sama Papi ingin yang terbaik untuk kita menurutlah kali ini.” bujuknya dengan mengusap pundak Jee seolah menampakkan wajah sedihnya.


“Yes, yes semua berjalan lancar haha. Maafkan aku Sayang.” ucap Alfy dalam hati bahagia penuh kemenangan.


Mereka sudah lelah jikan untuk ketiga kalinya berbelanja perlengkapan bayinya lagi. Tuan Indrawan yang melihat putrinya sedih segera mendekat.


“Sudahlah jangan bersedih seperti ini, kasihan babynya kalau mominya sedih. Papi minta Jee mengerti kekhawatiran kita semua yah.” bujuk Tuan Reindra yang membuat Jee menganggukkan kepalanya.


Akhirnya setelah perdebatan panjang kini mereka memutuskan untuk membatalkan penerimaan tawaran dari perusahaan itu. Sangat di sayangkan sebenarnya, namun apalah daya sebagai istri dan menantu Jee harus patuh terlebih lagi pada orangtuanya. Jee selalu patuh tanpa berani membantah sekali pun sampai pernikahan terjadi juga karena kepatuhannya pada Tuan Indrawan.


Kini kedua orang utusan dari perusahaan Go Rills memilih pergi kembali ke kantor, meninggalkan keluarga yang terlihat bahagia dengan berita gembira itu. Berbeda dengan Jee yang terasa berat melepaskan tawaran untuknya.


“Kalian?” tanya suster Syanin yang terkejut melihat keberadaan keluarga Syein di depan ruangan itu.


“Suster?” tanya Jee kembali yang tak kalah kaget. Karena Jee dan Alfy belum mengetahui tentang pindahnya Zeyra di rumah dan kembalinya suster Syanin ke rumah sakit.

__ADS_1


“Suster lagi rawat pasien yah?” tanya Jee dengan santainya yang moodnya terlihat sudah membaik setelah berfikir panjang untuk merelakan impiannya.


“Iya, Nyonya saya lagi rawat Tuan Jac.” jawabnya dengan sedikit sulit menyebut nama pria itu.


Alfy yang mendengar nama itu di sebut terlihat penasaran, berbeda dengan Zeyra dan Delon yang hanya saling menatap penuh tebakan. Seperti sebelum-sebelumnya mereka akan sangat mudah menebak tentang Jac yang pasti sedang mencari perhatian suster Syanin lagi.


Semua mengikuti langkah Alfy yang masuk ke salah satu ruangan di ikuti dengan suster Syanin. Jac yang masih terbaring dengan wajah tersenyum-senyum menggerak-gerakkan kakinya yang bertumpu di kaki satunya.


“Ceklek.” suara pintu terdengar tiba-tiba terbuka cepat.


Jac yang tidak sempat berpura-pura tidur terkejut melihat kedatangan para keluarga yang tiba-tiba terlebih lagi Tuan mudanya yang sudah menatap kesal padanya.


“Apa yang kau lakukan, Jac?” tanya Alfy terdengar tinggi.


“Tu-an saya-“ ucapan Jac yang terpotong ketika Alfy memegang keras tangannya.


“Tubuhm baik-baik saja kan? Aku menghubungimu beberapa kali jadi ini yang kau lakukan mencari-cari perhatian suster?” ucap Alfy yang terdengar kesal. Alfy kesal bukan karena Jac tidak bisa di hubungi tapi ia sudah tahu jika Jac sudah lama menginginkan suster namun keberaniannya menyatakan perasaan membuat Alfy kesal karena tidak memiliki nyali sedikit pun.


Suster Syanin yang mendengar begitu terkejut ia tidak percaya jika Jac hanya mencari perhatiannya setahu wanita itu Jac ke rumah sakit untuk bertemu dengan Dokter Adeline.


“Ayo pulang.” pintah Alfy yang terdengar dingin.


Jac yang mendengar pintah Tuan mudanya segera memakai sepatunya dengan cepat tanpa berani mengatakan apa pun. Semua yang melihat kekesalan Alfy hanya tercengang kecuali Tuan Reindra.


“Fy, ayo pulang biarkan Jac menyelesaikan masalahnya sendiri.” ucap Tuan Reindra.


Alfy yang tidak ingin mendengarkan hanya berdiam menatap tajam ke arah Jac seolah sedang meminta anaknya pulang karena bermain terlalu jauh. Itulah pemandangan yang terjadi di depan mereka semua. Alfy sangat tidak pernah semarah ini pada Jac.

__ADS_1


__ADS_2