
Mobil tampak melaju dengan kecepatan sedang sembari menatap ke segala arah di sudut jalanan Jacobie tampak terkejut ia begitu mengenal mobil itu.
"Berhenti!" perintah jacobie pada Delon.
"Ada apa?" tanya Delon yang dengan cepat menginjak rem mobilnya.
Tanpa menunggu lama Jacobie berlari dengan cepatnya menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan itu ia mengintip dari jendela kaca yang tertutup.
Melihat Alfy yang tertidur ia mengetuk-ngetuk kaca mobil itu tanpa sabaran beberapa kali ia berteriak di ikuti dengan Delon yang ikut mengetuk mobil itu.
"Tuan..."ucap Jacobie.
"Tuan, bangunlah." teriak Delon yang menyusul teriakan Jacobie.
Alfy merasa ada yang mengganggu indra pendengarannya perlahan membuka matanya mengusap kasar kedua mata itu dengan punggung tangannya.
Menyadari kehadiran dua pria itu Alfy dengan segera membuka pintu mobilnya wajahnya terlihat sangat lelah malam itu.
Akhirnya mobil Alfy di bawa oleh Delon sambil beriringan dengan Jacobie yang kini sudah bersama Alfy di mobil yang satunya.
Alfy yang terus berusaha menatap segala arah untuk mencari istrinya namun tetap saja hasilnya nihil malang sekali nasib pria itu mungkin ini kali terkahirnya ia untuk menutupi sesuatu pada istrinya.
Semua orang di rumah Syein Biglous tampak khawatir sudah jauh malam mereka belum ada yang tidur seluruh keluarga, pelayan, dan termasuk Dokter Adeline juga begitu mencemaskan orang-orang yang masih di luar rumah.
Yah tentu Dokter Adeline sangat mencemaskan Jacobie bukan memangnya siapa lagi yang membuatnya bisa secemas itu tidak mungkin pasiennya yang hanya sekedar pasien begitu amat ia cemaskan.
Dokter Adeline sudah mengetahui kejadian hari ini dari Nyonya Flora karena seisi rumah itu tahu melalui Jacobie yang berusaha memberi penjelasan.
Baginya sudah cukup Nona Jee yang salah paham karena adiknya jangan sampai keluarga juga ikut salah paham pada Tuan mudanya sungguh ia akan merasa bersalah seumur hidupnya telah memberi masalah pada Tuan mudanya.
Tugas seorang Jacobie adalah menyelesaikan masalah Tuannya bukan justru sebaliknya membuat masalah pada Tuan mudanya.
Di kediaman mewah tepat di sebuah kamar tamu seorang pria sedang sibuk berkutik dengan ponselnya ia terus mencari informasi mengenai Dokter terbaik yang menangani penyakit Leukimia itu.
Saat tidak lama kemudian ia mendapat informasi dari Dokter Risya mengenai Dokter yang bisa membantunya untuk merawat Jee.
Dengan segera Narendra menelfon nomor yang di berikan oleh Dokter Risya padanya tidak memperhatikan waktu memang pria itu begitu antusias sampai masa bodoh jika harus mengganggu istiraha orang lain.
Tiba-tiba terdengar dering ponsel Dokter Adeline yang membuat semua keluarga tampak menatapnya di ruangan ini dengan cepat Dokter Adeline meminta ijin untuk ke kamar menerima telefon itu.
__ADS_1
"Halo..." ucap Dokter Adeline dengan lembutnya.
"Ini Dokter Adeline?" tanya Narendra tanpa basa basi dulu.
"Iya, ini siapa?" tanya balik Dokter Adeline.
Akhirnya Narendra memperkenalkan dirinya dan dengan cepat ia menceritakan keluhannya jika ia memiliki kekasih yang sedang sakit dan membutuhkan pengobatan dari Dokter Adeline saat ini.
Dokter Adelin yang bingung dengan pekerjaannya selama ini akhirnya meminta waktu untuk mempertimbangkannya terlebih dahulu.
Perlahan wanita itu kembali duduk ikut bergabung dengan keluarga yang dari tadi tampak cemas menunggu kabar.
Dengan berani ia meminta ijin untuk keluar besok karena ada pasien yang membutuhkannya Tuan Reindra yang merasa itu adalah hal kebaikan tentu memberikannya ijin terlebih lagi saat ini Jee tidak di rumah namun dengan syarat jika Jee kembali dan membutuhkannya, ia harus cepat datang.
Akhirnya Dokter Adeline pun menyetujuinya dan merasa legah karena tidak perlu ada yang ia bebani dengan keputusannya itu.
Waktu menunjukkan hampir subuh keluarga yang entah sejak kapan sudah menunggu di ruangan itu tertidur di sofa dengan keadaan dudukĀ menunggu kepulangan anak-anaknya.
Namun sampai pagi pun belum ada menandakan seseorang akan hadir di rumah itu sementara Dokter Adeline yang sudah bersiap untuk mengunjungi rumah pasien melangkah perlahan karena takut akan mengganggu istirahat mereka.
Di kediaman Narendra Jee yang baru saja bangun memutuskan untuk segera pulang ke rumah orangtuanya bukan ke rumah Alfy.
"Jee, kau mau kemana?" tanya Nyonya Rosa yang melihat Jee sudah bersiap dengan rapi.
"Oma, Jee pamit pulang yah karena Mami sama Papi pasti mengkhawatirkan Jee." jawab Jee dengan suara lemasnya.
"Tapi kata Narendra kau belum boleh kemana-mana kondisimu masih lemah dan sebentar lagi Dokter akan datang." Nyonya Rosa berusaha menahan wanita itu dengan alasan mengkhawatirkannya.
Padahal besar harapannya jika wanita cantik itu bersedia tinggal bersamanya tidak peduli jika ia sudah hamil rasa kesepian wanita itu sungguh membuat matanya buta akan istri untuk cucunya.
"Tapi Oma..." ucapan Jee menggantung saat melihat kedatangan Narendra yang sudah tampak rapi dan segar pagi itu.
"Mendengarlah pada Oma jika kau tidak ingin mendengar kataku," ucap Narendra sambil tersenyum.
Jee yang merasa tidak enak membantah mereka karena sudah memiliki utang budi pada kedua orang itu akhirnya memilih untuk mengalah.
Kini mereka sarapan bersama di meja makan Oma Rosa tampak tertawa ceria melihat Jee yang malu-malu saat makan.
"Kau tidak perlu sungkan anggap saja ini rumahmu," ucap Oma Rosa tertawa.
__ADS_1
"Iya Oma." jawab Jee dengan lembut.
Setelah mereka selesai sarapan Jee ikut dengan Oma Rosan untuk menyiram bunga-bunga kesayangan Oma di taman rumah mewah itu.
Mereka berdua tampak akrab tertawa bersama sambil sesekali saling memeluk tingkah manja Jee memang benar-benar membuat Oma Rosa seperti memiliki cucu perempuan.
Narendra yang melihat kedua wanita itu dari kejauhan tampak tersenyum melamun sampai akhirnya senyumannya itu hilang saat di kejutkan dengan kedatangan Dokter Adeline.
"Permisi Tuan." ucap Dokter Adeline yang sudah berdiri tegak di hadapan Narendra lengkap dengan jas putih dan tas medisnya.
"Anda Dokter Adeline?" tanya Narendra meyakinkan.
"Iya Tuan." jawab Dokter Adeline cepat.
Narendra yang melihat aktifitas Jee dan Oma Rosa masih begitu asyik tidak ingin menghilangkan begitu saja akhirnya ia meminta waktu pada Dokter Adeline sebentar untuk menunggunya.
"Dok, bisa tunggu sebentar?" tanya Narendra.
"Ada apa Tuan?" tanya Dokter Adeline penasaran.
"Lihatlah pemandangan indah itu aku tidak ingin menghentikannya dulu," ucap Narendra sambil tersenyum ke arah Jee dan Oma Rosa.
Perlahan Dokter Adeline melangkah maju matanya terbelalak menyaksikan pemandangan yang di maksud Narendra.
"Itukan Nona Jee," gumam Dokter Adeline yang terkejut.
Akhirnya tanpa berfikir lagi Dokter Adeline dengan cepatnya mengirim pesan singkat pada Jac lalu di susul dengan mengirim lokasi tempatnya berada saat ini.
Ponsel Jacobie berdering seketika dengan cepat ia mengambil dari saku jasnya membaca pesan singkat itu dengan cepat Jacobie melajukan kendaraannya yang di belakang di ikuti dengan Delon.
Alfy yang tampak bingung melihat Jacobie akhirnya penasaran.
"Ada apa Jac?" tanya Alfy antusias.
"Sepertinya kita menemukan Nona Jee, Tuan." jawab Jacobie dengan tetap fokus menyetir.
Wajah Alfy seketika cerah kembali semangat hidupnya sudah kembali hilang semua rasa letihnya saat itu dengan tegak ia duduk melihat jalanan yang mereka tuju.
Halo semuanya cerita pengara tampannya sampai di sini duluyah jangan bosan menunggu cerita selanjutnya author usahakan terus update kok. Selamat membaca semoga kalian semua suka yah salam hangat dari Marina Monalisa.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yah untuk mendukung author Assalamualaikum Wr. Wb.