
Liburan semester Jee sudah di lewati selama seminggu dengan rutin terapi olahraga bersama Dokter Adeline.
"Cup," ciuman mendarat berkali-kali di wajah wanita cantik yang masih tertidur.
"Emmhhh." Suara Jee mengusap wajahnya lalu kembali tidur lagi.
"Han, ayo bangun," ucap Alfy sambil mengelus wajah istrinya.
Jee yang terkaget mendengar suara Alfy dengan cepat terbangun dari tidurnya, matanya terbuka sangat lebar menatap jendela.
Ia memastikan jika hari ini tidak bangun kesiangan karena harus terapi, wajahnya kembali menatap Alfy yang tersenyum manis.
Lalu mencari-cari ponselnya di bawah bantal, Jee memang suka sekali menaruh ponselnya di bawah bantal meskipun sering kali Alfy menegurnya.
Setelah menemukan ponselnya ia melihat jam di layar ponsel dengan tampilan foto mereka berdua yang sedang besentuhan bibir saat di pulau White.
"Kenapa?" tanya Alfy tersenyum.
"Kenapa kau bangun cepat sekali?" tanya Jee balik.
Alfy yang enggan menjawab langsung bergegas menggendong istrinya ke depan pintu ruang ganti baju, di sana sudah terlihat satu pasang baju olahraga Jee yang di pakai biasanya.
"Berhenti!" suara Alfy mengejutkan Jee.
"Ada apa?" tanya Jee yang terkejut.
Alfy lagi-lagi tidak menjawabnya dan langsung melucuti satu persatu baju istrinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jee yang terlihat panik beberapa kali menepis tangan suaminya.
Wajahnya sangat memerah Alfy benar-benar membuatnya malu karena kedua benda padat milik Jee terpampang nyata, dengan segera ia tutupi dengan tangannya.
Namun Alfy yang melihatnya tertawa karena tangan mungil Jee tidak cukup untuk bisa menutupi penuh benda itu.
"Lihatlah milikmu sangatlah besar tanganmu saja tidak mampu menutupinya." ejek Alfy.
“Ih dasar.” gerutu Jee yang kesal.
Setelah usaha keras Jee mempertahankan baju yang berakhir sia-sia kini Jee sudah tidak memakai sehelai kain pun. Dan saat ini Jee hanya bisa berdiri mematung berusaha melindungi semua miliknya dari tatapan nakal Alfy.
"Cepat berikan bajuku." ucap Jee yang tidak mau menatap wajah Alfy.
"Sebentar dulu, Han." ucap Alfy tertawa jahat.
Perlahan pria itu melangkah mendekat tepat di hadapan istrinya ia menatap Jee begitu intens sampai istrinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi hanya berdiri mematung.
Saat Jee hilang fokus dengan tatapan Alfy tiba-tiba ada yang Jee rasakan seperti pencetan nakal yang di buat Alfy pada dua benda milik Jee.
"Aw..." ucap Jee berteriak geli.
"Hahaha aku bisa memainkannya kan?" Alfy yang beberapa kali memencet benda itu lagi karena tangan Jee sudah di jepit oleh ketiak Alfy.
Alfy terus tertawa mengerjai istrinya ia tidak henti-hentinya memencet berulang kali benda padat milik Jee sampai akhirnya perutnya sakit tertawa.
Jee yang kini sudah tidak bisa melepaskan kedua tangannya hanya terus memberontak kesal.
"Lepasin! ih jorok tau." teria Jee yang melihat tangannya terjepit di ketiak suaminya.
"Biarin aja, kalau kau jijik pada ketiakku tunggu saja aku akan memberikanmu yang lebih jorok lagi, mau?" ancam Alfy dengan mengedipkan matanya menggoda Jee.
Setelah lama Alfy bermain-main dengan puas akhirnya ia menyudahi permainan itu lalu mengantar Jee ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajah dan sikat gigi.
"Berhenti! kau diam saja biar aku yang akan melakukannya." ucap Alfy yang sudah mengoleskan pasta gigi di sikat gigi.
"Tapi...." suara Jee belum sempat terlanjutkan sudah lebih dulu Alfy mengecup bibir istrinya.
__ADS_1
"Ku bilang diamlah." ucap Alfy yang sudah memasukkan gosokan gigi di mulut kecil istrinya.
Dengan penuh kelembutan Alfy membersihkan segala sudut area di dalam mulut Jee. Kali ini Alfy benar-benar membuat Jee seperti seorang ratu memperlakukannya dengan semua kemampuannya.
"Berkumurlah." ucap Alfy yang sudah mengoleskan tangannya pada mulut Jee dengan air lalu memberikan Jee air di dalam gelas.
Jee yang di perlakukan oleh suaminya begitu baik hanya terdiam meskipun di dalam hatinya sangat merasa senang. Andai saja ia tidak malu tentu akan berloncat-loncat kegirangan.
Setelah selesai drama di kamar mandi kini Alfy menggendong istrinya menuju ruang ganti baju. Selama perjalanan ke ruang ganti baju yang sangat dekat Jee terus menutupi bergantian bagian-bagian tubuhnya dengan telapak tangan kecilnya.
Awalnya Alfy berdiri di belakanganya melihat Jee yang melangkah di hadapannya. Mendadak mata Alfy menatap belahan di bawah tepatnya belakang istrinya.
Matanya lagi-lagi tersenyum dan segera ia menepuk benda itu dengan gemasnya.
"Aw...sakit Han." teriak Jee yang kesal lalu menutupi bokongnya.
Jee hanya menggelengkan tingkah suaminya pagi itu entah setan apa yang masuk dalam fikirannya saat tidur semalam.
Mengapa pagi-pagi sudah segila itu tingkahnya dan benar-benar bukan seperti seorang Alfy yang Jee kenal dahulu.
Kini Alfy memakaikan pakaian istrinya seperti seorang anak kecil yang berdiri diam namun Jee yang tidak percaya diri hanya terus berusaha menutupi area-area tertentu yang bergantian mendapat tatapan lapar dari suaminya.
Cukup lama Jee melewati moment gila itu sampai akhirnya Alfy mengajaknya untuk turun ke lantai dasar, disana sudah ada Dokter Adeline yang menunggu mereka.
"Selamat pagi Tuan Alfy dan Nyonya Jee." sapa Dokter Adeline ramah.
"Pagi Dok." jawab Jee tersenyum dengan wajahnya yang masih pucat.
Sedangkan Alfy sudah kembali dengan sifat biasanya yang tanpa ekspresi dan enggan menjawab sapaan Dokter Adeline.
Mereka bertiga melangkah menuju halaman rumah yang biasa Jee dan Dokter Adeline melakukan terapi.
Pemanasan pun di mulai Dokter Adeline yang berada di samping Jee mulai melakukan gerakan perlahan untuk pembuka.
Ia takut jika Jee akan pingsan atau akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Sebenarnya Jee yang melihat keberadaan suaminya di belakang merasa risih namun rasanya percuma jika melarang.
Tentu Alfy tetap akan bersih keras berada di belakangnya, alasannya mengapa pasti Jee sudah lebih paham hal itu.
Di sudut taman tampak seorang pelayan laki-laki yang mengurus taman memperhatikan gerakan-gerakan kedua wanita itu.
Alfy yang tidak sengaja melihatnya dengan cepat menutupi bokong Jee yang terlihat sangat padat. Karena saat ini posisi Jee sedang membungkuk sambil mencondongkan badan atasnya ke depan.
"Iya satu, dua, tiga, emp-" (Suara Dokter Adeline terpotong ketika Jee bersuara).
"Ada apa sih, Han?" tanya Jee bernada sedikit tinggi.
Alfy yang menempelkan tubuhnya tepat di bokong Jee tadi, membuat istrinya terkejut apa iya suaminya meminta hal itu di tempat terbuka dan ada orang lain tentunya di situ.
"Aku hanya menutupi tubuhmu saja." jawab Alfy dengan wajah datarnya.
"Maksudmu menutupi bagaimana? celanaku baik-baik sajakan?" tanya Jee yang terlihat panik.
"Tuh." ucap Alfy yang menunjuk ke arah bapak-bapak yang sedang tersenyum ke arah mereka.
Jee yang tidak mengerti maksudnya masih penasaran.
"Memangnya kenapa jika ada bapak itu?" tanya Jee lagi.
"Pant*tmu terlihat menggodanya." jawab Alfy tanpa malu.
Dokter Adeline yang mendengarnya tertawa dengan segera ia menutup mulutnya sambil menggelengkan kepala.
"Astaga...jadi karena itu." ucap Jee yang kesal sambil menghela nafas dengan kasar.
"Tentu saja, memangnya apa lagi?" sambung Alfy dengan polosnya.
__ADS_1
Akhirnya Jee yang merasa tidak bisa berdebat dengan Alfy dengan cepat ia melangkah mendekati bapak yang tidak begitu jauh dari mereka.
"Pak," panggil Jee.
"Iya Nyonya." jawab pria itu.
"Bapak tolong ngurus tanaman yang di belakang dulu yah, yang di sini nanti sore saja." ucap Jee sambil tersenyum.
"Baik Nyonya," jawab pria itu dengan segera bergegas melangkah ke belakang rumah yang juga sangat luas tanamannya.
Akhirnya Alfy yang melihat kini sudah tidak was-was lagi tugasnya hanya menjaga Jee jika kelelahan.
Nyonya Syein dan Tuan Reindra yang baru melangkah ke depan pintu tampak terkejut melihat ketiga orang di halaman rumahnya.
"Pah, Alfy ngapain tuh ngekor di belakang Jee?" tanya Nyonya Syein.
"Hehehe anak kita memang suka aneh-aneh Mah." jawab Tuan Reindra sambil menggelengkan kepalanya.
"Ada-ada aja sih Alfy ini, Pah." ucap Nyonya Syein.
"Mereka lucu yah, Mah." Tuan Reindra yang terus menatap ke depan sambil tersenyum bahagia.
Setelah lama mereka berdiri memperhatikan anak-anaknya akhirnya Tuan Reindra teringat kembali dengan cucu yang ia impikan.
"Mah, kira-kira kapanyah kita dapat cucu?" tanya Tuan Reindra sedih.
"Sabar Pah, nanti pasti ada mungkin belum waktunya." jawab Nyonya Syein mengelus lengan suaminya.
"Papah takut nggak sempat menggendongnya, Mah." Suara Tuan Reindra tampak putus asa.
Nyoya Syein yang mendengarnya dengan cepat ia bergegas pergi meninggalkan suaminya berlari ke kamar.
"Mah...mah.." teriak Tuan Reindra sambil mengejar istrinya dengan melangkah cepat.
Setibanya di kamar, belum sempat Tuan Reindra duduk di kasur Nyonya Syein sudah melemparinya bantal dan menangis.
"Papah jahat...papah jahat," teriak Nyonya Syein.
"Maafin Papah, Mah." ucap Tuan Reindra.
"Papah nggak mikirin Mamah yang gimana kalo sendirian? kenapa Papah pengen banget tinggalin Mamah sih?" suara tangis penuh di kamar itu.
Dengan cepat Tuan Reindra memeluk tubuh istrinya ia menyesalii atas ucapannya barusan, mengapa begitu egoisnya dia bicara pergi sementara tidak memikirkan istrinya ketika harus hidup sendirian di dunia ini.
Nyonya Syein tidak henti-hentinya menangis di pelukan suaminya, dengan lembut tangan Tuan Reindra mengusap air mata istrinya lalu mengecup kening Nyonya Syein.
"Mamah mau Papah ada terus kan?" tanya Tuan Reindra tersenyum.
"Iya dong, kok Papah nanya gitu?" Nyonya Syein yang kesal.
"Berarti kalo Papah dapat semangat dari Mamah nggak papa dong?" tanya Tuan Reindra lagi.
"Iya pasti dong Pah." ucap Nyonya Syein yang tampak bingung.
Mendapat jawaban dari istrinya tanpa menunggu lama Tuan Reindra mulai merebahkan tubuh Nyonya Syein ke kasur.
Ia menyentuh dengan penuh kelembutan pada tubuh wanitanya itu. Nyonya Syein yang mulai menikmati sentuhan demi sentuhan akhirnya mulai merespon sikap Tuan Reindra.
Akhirnya pagi itu mereka lakukan hal yang membuat kedua orang menyalurkan hasratnya dengan penuh kasih sayang.
Tuan Reindra tidak di ragukan lagi jika soal ranjang, ia masih memperlakukan istrinya layaknya pasangan muda yang baru menikah.
Nyonya Syein selalu menerima perlakuan dari suaminya dengan baik mereka sering kali melakukannya berulang kali.
Halo semuanya selamat membaca yah, jangan lupa dukung terus author dengan komentar-komentar terbaik kalian dan juga berikan penilaian kalian di vote karya ini yah. Salam sukses dari author Monalisa salam sayang buat readersku yang setia.
__ADS_1