
Hai para readers sebelum membaca bantu author untuk kasih rate 5 yuk.
Setelah lamanya perjalanan karena macet akhirnya Alfy dan Jee tiba juga di kediaman Syein Biglous para pelayan dengan rapinya berjejer menyambut kedatangan mereka begitu juga dengan suster Syanin dan Dokter Adeline. Sedangkan Tuan dan Nyonya Syein sudah tidur sejak tadi karena kelelahan beberapa hari ini mereka tampak membuang tenaganya.
Kini Alfy dan Jee melangkah masuk ke rumah wajah wanita di sampingnya itu tampak tersenyum bahagia tanpa bisa menutup kebahagiaannya itu.
"Ada apa istriku?" tanya Alfy yang tampak heran melihat tingkah istrinya.
"Aku mencintaimu suamiku." jawab Jee sambil mengeratkan gandengan tangannya di lengan suaminya.
Mendengar ucapan itu Alfy tersenyum dan langsung tanpa bicara menggendong tubuh istrinya menuju kamar para seisi rumah melihat hal itu terkejut lalu hanya bisa menggelengkan kepala saja melihat tingkah pasangan itu.
"Ayo kita buat kaki anak kita," ucap Alfy tanpa dosa di wajahnya.
"Hah kaki?" tanya Jee terkejut heran.
Yah semenjak Alfy mendatap pelajaran yang di berikan Jac sekilas saat di rumah sakit ia sudah memahami tentang perkembangan bayi yang di mulai dari segumpalan saja.
"Kau mencintaiku kan?" tanya Alfy lagi.
"Iya." jawab Jee masih tidak paham.
"Kalau begitu buat aku semakin mencintaimu malam ini," ucap Alfy yang sudah mendaratkan tubuh istrinya di kasur.
Akhirnya kali ini Jee tidak melakukan perlawan dan mereka pun melakukannya hingga hampir satu jam lamanya saat tengah asyik terdengar suara Jee yang sampai di telinga Jac saat ingin mengetuk pintu kamarnya.
Mendadak mata pria itu melotot terkejut bagaimana bisa Nona mudanya sekuat itu suaranya bukankah dia sedang tidak sehat astaga apa yang Tuan Alfy lakukan apa dia tidak merasa khawatir pada istrinya.
"Ada apa Tuan?" tanya suster Syanin yang berada di belakang Jac menatap bingung melihat wajah Jac yang tampak melamun.
"Em ini anu." ucap Jac yang setengah gugup sampai tidak bisa berbicara.
"Biar saya bantu mengetuk pintunya Tuan," Dengan mendekatkan diri ke arah pintu yang sudah tidak bisa Jac cegah.
Seketika wajah suster itu tertunduk malu ketika mendengar suara wanita dari ruangan itu kini wajah suster dan Jac sama-sama terlihat memerah menahan malu. Dengan segera suster Syanin menarik tangan pria itu tanpa sadar membawanya untuk menjauh dari kamar itu.
"Kita tunggu di sini dulu saja Tuan," ucap suster Syanin yang masih memegang tangan Jac tanpa melepasnya.
"Baiklah." jawab Jac yang tersenyum melihat tangannya di pegang oleh wanita manis di depannya itu.
Suster Syanin yang menyadari tatapan pria itu ke arah tangannya dengan segera melepaskan genggaman itu merasa malu.
"Maafkan saya Tuan." ucap suster Syanin menunduk.
"Iya tidak apa-apa Sus." Jawab Jac masih tersenyum.
Sementara mereka berdua tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan tingkah mereka sejak tadi dengan tatapan tajamnya yah Dokter Adelin ia tadinya ingin pergi ke dapur namun saat tidak sengaja melihat mereka berdua tengah berbicara akhirnya langkahnya terhenti.
"Kalian ngapain?" tanya Dokter Adeline yang tidak bisa membiarkan mereka berduaan lebih lama.
__ADS_1
"Kami mau bertemu dengan Nona dan Tuan," jawab suster Syanin.
"Kau belum tidur?" tanya Jacobie pada Dokter Adeline.
"Belum." jawab ketus Dokter Adeline karena cemburu.
Namun mau bagaimana pun tingkah dan ekspresinya tentu tidak akan membuat Jac mengerti akan perasaannya itu karena memang Jac pria yang sama sekali tidak mengerti perasaan wanita. Jangankan perasaan wanita, perasaannya saja ia tidak tahu saat ini bagaimana.
Merasa kesal Jac tidak perduli dengannya akhirnya dengan wajah kesalnya Dokter Adeline melangkah sambil menghentakkan kakinya keras ke dasar lantai layaknya anak kecil yang sedang ngambek menuju ke kamar. Melihat tingkah Dokter Adeline seperti itu Jac hanya menggelengkan kepalanya saja sedangkan suster Syanin merasa tidak enak pasti wanita itu cemburu padanya.
"Lihatlah tingkahnya seorang Dokter bahkan seperti anak kecil," ucap Jac sambil tertawa kecil.
"Apa anda tidak tahu mengapa Dokter bersikap seperti itu?" tanya suster Syanin pada Jacobie.
"Memangnya ada apa jika dia seperti itu Sus?" tanya Jac balik yang memang tidak mengerti.
"Entahlah Tuan." ucap suster Syanin yang berusaha tidak ikut campur.
Namun di dalam fikirannya merasa tidak habis fikir dengan pria yang ada di hadapannya itu bagaimana bisa ia tidak peka sama sekali jika wanita itu cemburu.
Sedangkan Dokter Adeline yang berdiri di depan pintunya menunggu pria datang menyusulnya tampak merasa sangat kesal. Harusnya pria itu datang mengejarnya untuk menghilangkan rasa cemburunya paling tidak menghiburnya namun hal itu tidak terjadi.
"Dia sama sekali tidak perduli denganku." gumam Dokter Adeline sambil menoleh sesekali ke luar memastikan jika memang tidak ada yang datang menyusulnya untuk membujuk.
Lama kelamaan akhirnya Dokter Adeline tertidur dengan perasaan kesalnya yang masih belum bisa hilang dari fikirannya sedangkan Jacobie dan suster Adeline masih asyik bercerita di depan kamar Alfy yang entah sejak kapan mereka jadi akrab.
"Jac kau dari tadi?" tanya Alfy yang sudah membuka pintunya dengan wajah yang terlihat segar habis mencuci wajahnya.
"Permisi Tuan saya akan mengantarkan obat Nona Jee," Sambil menunduk masuk melangkah ke arah kamar.
"Iya silahkan sus." ucap Alfy sambil melangkah menuju ruang kerja bersama Jac.
Kini Jac membuka lembaran demi lembaran memaparkan hasil kerjanya dengan semua pengacara di kantor dan Delon. Yah meskipun sudah tertata jelas di kertas itu Alfy selalu meminta Jac untuk memberi penjelasan sendiri hal itu ia lakukan agar semua yang bekerja dengannya akan mengerti dan lebih memahami.
Untuk malam ini Delon memang tidak hadir hanya Jacobie yang mewakilinya karena ia masih lembur di kantor mengurus beberapa berkas yang belum selesai. Setelah lama di ruangan itu akhirnya mereka selesai juga dengan segera Jac berpamitan untuk ke rumah belakang tempat para pekerja Syein Biglous tinggal.
Alfy pun melangkah menuju kamarnya kembali melihat Jee yang sudah tertidur pulas akibat kelelahan di tambah lagi efek obat yang memang membuatnya tidur lebih nyenyak. Setelah tiba di kasur ia mengecup kening istrinya sambil mengelus perut istrinya yang sudah mulai tampak membesar.
Perlahan pria itu mengangkat kepala istrinya untuk tidur di dada bidangnya yah entah sejak kapan Alfy sangat menyukai jika istrinya tidur di dadanya tanpa menggunakan bantal. Rasanya tidurnya lebih tenang jika merasakan istrinya bersamanya. Akhirnya pria itu juga tertidur dengan pulas sampai akhirnya mereka saling berpelukan entah sudah berapa jam lamanya mereka tertidur kini terdengar ketukan pintu dari luar kamar mereka. Jee yang mendengar segera bangun dan mengahmpirinya ternyata Dokter Adeline.
"Ada apa Dokter?" tanya Jee heran.
"Nona Jee mari ikut denganku kita harus teraphi di halaman rumah." jelas Dokter Adeline tersenyum wajahnya tampak cantik.
"Oh iya sebentar yah Dok saya siap-siap dulu," jawab Jee sambil kembali membersihkan tubuh dan memakai pakaian training yang terlihat mengikuti bentuk tubuhnya yah celana pendek dan baju tangtop.
Setelah ia selesai kini keluar dan kembali menemui Dokter Adeline yang sudah siap sesaat mata Dokter itu tertuju pada bentuk tubuh Nona muda itu.
"Ada apa Dokter?" tanya Jee sambil memperhatikan penampilanna apakah ada yang aneh.
__ADS_1
"Anda memang sangat sempurna Nona Jee." jawab Dokter Adeline sambil terkagum melihat wanita di hadapannya itu.
"Dokter bisa saja," ucap Jee dengan melangkah menuju halaman depan.
Sedangkan Dokte Adeline yang mengikuti dari belakang masih terheran melihat penampilan Jee bagaimana mungkin wanita di hadapannya sama sekali tidak memiliki kekurangan sepertinya.
Kini mereka memulai pemasanan beberapa menit sampai akhirnya Jee melakukan lari-lari kecil yang di hitung oleh Dokter Adeline dengan penghitunh waktu. Setelah cukup lama mereka melakukan terapi itu tiba-tiba saja Jee di kejutkan oleh mobil Ferrari berwarna putih yang terparkir sempurna di depan rumah mereka.
"Sepertinya aku mengenali mobil itu," ucap Jee tampak memeprhatikan sebelum akhirnya pria yang mengendarai mobil itu turun.
Jee tampak terkejut melihat kedatangan Fiky Pradana yang saat ini berstatus sebagai dosen di kampusnya.
"Kak Fiky?" tanya Jee meyakinkan penglihatannya.
"Iya ini aku, apa kabarmu Jee?" tanya Fiky tampak khawatir karena sudah lama Jee tidak hadir di perkuliahan.
"Baik Kak." jawab Jee sambil tersenyum.
Melihat wanita bersama Jee pria itu tampak bingung sepertinya keluarga Jee tidak ada yang tidak ia ketahui mungkin keluarga Alfy itulah yang ada dalam fikirna Fiky.
"Oh iya Kak kenalin ini Dokter Adeline," ucap Jee tersenyum.
"Dokter?" tanya Fiky tampak heran.
"Halo," ucap Dokter Adeline memperkenalkan diri.
"Fiky." jawab Fiky tersenyum.
Sambil mempersilahkan Fiky masuk Jee melangkah menuju kamarnya membangunkan Alfy dengan sekali kecupan di kening pria tampan itu.
"Morning suamiku," ucap Jee mengeratkan pelukannya pada Afly.
"Kau sudah bangun?" tanya Alfy saat membuka matanya melihat penampilan Jee.
"Iya aku habis terapi tadi." jelas Jee.
Melihat penampilan istrinya Alfy tampak membayangkan hal yang tidak-tidak lagi sepertinya memang matanya saa saja dengan pria lain yang ketika melihat Jee tidak akan bisa menutup mata dan fikirannya.
"Ayo mandilah!" perintah Jee yang menyadari tatapan suaminya itu.
Seketika fikiran Alfy buyar dan melangkah menuju kamar mandi beberapa lama kemudian ia sudah terlihat rapi dengan pakaian kerjanya yang sudah di siapkan oleh Jee.
Sementara di bawah Fiky bersama Dokter Adeline sedang berbicara tentang kesehatan Jee mendengar penjelasan Dokter Adeline rasanya tidak percaya wajah Fiky berubah menjadi khawatir matanya tampak berkaca-kaca.
"Dokter lakukan yang terbaik untuk Jee," ucap Fiky memohon.
"Tentu saja Tuan itu sudah kewajiban saya." jawab Dokter Adeline meyakinkan.
Kini terlihat kedua pasangan yang bergandengan rapi menuruni anak tangga sambil tersenyum bahagia namun seketika senyuman di wajah tampan itu berubah tertekuk melihat kehadiran pria di hadapannya yah Fiky Pradana.
__ADS_1
Wah apa yang terjadi setelah ini yah apakah Alfy akan berbaikan dengan Fiky atau justru semakin cemburu nantikan kelanjutannya di episode berikutnya yah. Jangan lupa untuk like dan komennya terimakasih Assalamualaikum Wr. Wb.