
“Tidak, aku tidak ngantuk.” jawabnya sambil mengelus rambut Jee.
Jee yang merasa malu karena seharusnya lebih bersih dari suaminya justru ia yang belum mandi saat ini. “Aku dingin sekali jadi tidak bisa bangun sepagi biasanya.” ucap Jee tersenyum malu.
Alfy yang memahami istrinya hanya tersenyum lagi dan kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh langsing Jee. “Hem aku mengerti sayang, Sini ku peluk.”
Setelah mereka merasa puas bermalas-malasan akhirnya Jee dan Alfy memutuskan untuk fitnes agar. Kini Jee dan Alfy yang baru saja selesai mengganti pakaian mereka sudah menuju ruang fitnes di hotel itu.
“Sayang, mengapa tempatnya sepi sekali?” tanya Jee dengan wajah bingung. Setelah Alfy menjawabnya dengan wajah tersenyum Jee mendadak kaget.
“Sayang, kau menyewanya lagi yah?” lanjut Jee yang terkejut dengan tebakannya.
“Kau sudah tahu itu.” jawab Alfy dengan remehnya.
Jee hanya menggelengkan kepala pusing melihat suaminya, baiklah jika Jee memang suka menghamburkan uang dengan berbelanja tapi jika Alfy menghamburkan uang untuk menyewa satu ruangan saja rasanya itu sangat di sayangkan membuang-buang uang sebanyak itu.
“Sudahlah lain kali kita tidak usah berolahraga lagi kecuali di rumah.” sahut Jee yang tampak kesal.
Alfy tidak menjawab ocehan sang istri dan memilih fokus dengan barbelnya. Sementara Jee juga mulai berolahraga. Alfy yang meyewa satu ruangan itu tentu bukan tanpa alasan ia lakukan, semua demi menjaga diri istrinya saat mengenakan pakaian olahraga. Alfy tidak mau mata para laki-laki hanya tertuju pada tubuh Jee nantinya.
Kini Alfy yang memandangi istrinya tersenyum dalam hati matanya begitu termanjakan dengan penampilan Jee yang seksi seperti saat ini. Tidak bisa di bohongi memang tubuh Jee saat ini yang terlihat semakin padat terlihat jelas semenjak ia mulai rajin berolah raga daya tarik istrinya tampak kuat.
Hampir satu jam lamanya mereka berolah raga sampai akhirnya Jee yang sedang shitup tiba-tiba terkejut saat Alfy datang menghampirinya dan mengecup keningnya dari atas kepalanya. Jee yang terkejut seketika menghentikan gerakannya dan Alfy yang perlahan membangunkan tubuh istirnya.
Alfy yang tengah memandang wajah istrinya penuh dengan keringat penuh dengan tatapan yang begitu dalam. Jee yang seperti mengerti akan terjadi sesuatu kedepannya berusaha bangun dari duduknya. Namun tangan suaminya yang sudah lebih dulu menahannya hingga terduduk kembali.
__ADS_1
“Sayang, jangan sampai kau mengatakan ingin hal itu di sini yah?” Jee yang mengeluarkan kecurigaannya.
Alfy yang tidak menjawab kini sudah mulai mendekatkan wajahnya pada istrinya dengan mata yang sayup. Jee terus berusaha menolak meskipun hal itu percuma ia lakukan suaminya tentu akan terus memaksanya. Kedua tangan Alfy sudah mulai menelusuri seluruh area kekuasaannya di dalam sana sementara Jee yang hanya bisa menerima perlakuan suaminya begitu pandai memanjakannya.
Akhirnya mereka melakukan lagi-dan lagi di ruangan itu tanpa ada yang mengetahui, sejak awal Alfy sudah bisa menduka hal itu akan terjadi dan karena itulah salah satu alasan juga ia meminta privasi tempat itu untuk mematikan cctv. Cukup lama mereka melakukan hubungan sampai akhirnya Alfy yang dikejutkan oleh suara dering ponselnya merasa kesal karena masih ingin melakukannya sampai puas.
“Ah si*l siapa sih?” umpat kesal Alfy yang segera mengakhiri permainan itu.
Jee yang terlihat memburu nafasnya merasa kini ia bisa bernafas legah lagi karena permainan telah usah. Tenaga suaminya yang begitu di akui sangatlah membuatnya semakin sulit untuk mengimbangi jika di lihat Jee mungkin harus lebih rajin lagi berolah raganya.
“Halo, Fy.” suara Tuan Reindra dari seberang sana.
“Iy-ah Pah, ada apa?” tanya Alfy dengan suara nafas yang memburu.
Tuan Reindra yang mendengar suara putranya seperti kelelahan dan berusaha mengatur nafas hanya tertawa menggelengkan kepalanya.
“Tidak Pah, memangnya ada apa?” tanya Alfy lagi.
Tuan Reindra akhirnya menceritakan pada putranya seakan menyuruh Alfy yang mengurus semuanya. Karena barusan seorang manajer hotel mereka melaporkan tentang peningkatan pendapatan di akhir-akhir bulan ini. Dan mereka menyarankan untuk kembali membuka cabang di beberapa kota lainnya. Alfy yang berusaha mencerna ucapan Tuan Reindra akhirnya mendukung hal itu bahkan ia sendiri yang akan mengurusnya tanpa campur tangan Tuan Reindra lagi. Mendengar semua tanggung jawab Alfy, Tuan Reindra benar-benar legah memiliki putra yang begitu sangat bisa di andalkan dalam segala bidang.
Setelah Tuan Reindra mengakhiri telfonnya ia tertawa gembira, “Ada apa sih Pah?” tanya Nyonya Syein yang penasaran.
Tuan Reindra yang tersenyum-senyum membuat Tuan Indrawan bisa menebak dari kalimat yang tadi ia dengar kerja keras. “Yes, kita sebentar lagi punya cucu.” Sahut Tuan Indrawan yang mengejutkan kedua wanita yang ada di situ.
Tuan Indrawan dan Tuan Reindra kini mulai kesenangan lagi. “Sekarang ayo kita bersiap untuk belanja kebutuhan cucu kita yang kedua kalinya.” ucap Tuan Reindra yang berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Dengan semangat kedua pria itu bersiap ke kamar untuk segera pergi ke mall, sementara Nyonya Flora dan Nyonya Syein hanya bisa melempar pandangan seakan datang lagi hal yang tidak mereka inginkan.
Mengingat kejadian di masa lalu jika suaminya habis berbelanja bukan untuk keperluan bayi melainkan keperluan anak yang sudah besar-besar dan semuanya tidak ada yang masuk akal.
***
Di kantor Sailis Group Wenda yang sedang duduk di meja kerjanya tiba-tiba di kejutkan dengan Tuan Adelio yang berdiri di depannya dengan gagahnya. Tangan keduanya yang di masukkan ke dalam saku celana dan wajah seolah menantang Wenda.
“Ada apa, Tuan?” tanya Wenda terkejut.
“Bukankah sudah ku katakan jangan pergi ke kantor dulu?” tanya Tuan Adelio dengan tegasnya tanpa berniat basa basi.
“Lalu maksud anda saya tidak bekerja begitu?” tanya Wenda yang merasa bingung.
“Sudah ku katakan Wenda kau boleh ke kantor jika aku sudah menjemputmu, kan?” suara Tuan Adelio yang terdengar menggelegar di telinga.
Wenda terkejut jika ucapan Tuan Adelio kemarin sore benar-benar harus ia patuhi. “Ta-pi Tuan mengapa harus seperti itu?” tanyanya ragu.
“Memang harus seperti itu, kau sekertarisku jadi kau tanggung jawabku mengerti?” sahut Tuan Adelio yang tampak geram.
Wenda semakin tidak mengerti dengan perilaku atasannnya itu, setaunya tidak ada dalam kontrak kerja menyebutkan kewajiban yang harus mengantar jemput sekertarisnya bukan. Baiklah lagi-lagi seorang bawahan harus tetap salah dan kembali ke atasan yang selalu benar apa pun itu. Dan jika bawahan merasa tidak nyaman kembali lagi pada atasan yang selalu benar jika mengambil tindakan.
Wenda hanya mendengus kasar melihat tingkah atasannya yang membuatnya bingung sendiri. “Apasih sebenarnya maksud pria gila ini hih!” umpat kesal Wenda sembari menatap kesal dengan pria di hadapannya.
“Dan nanti pulang jangan berani-berani kau pulang tanpa ku antar.” sahut Tuan Adelio yang sudah melangkah masuk ke ruangannya.
__ADS_1
Halo semua readersku sayang lama author tak menyapa kalian, semoga tetap sehat semuanya yah dan masih setia menunggu kelanjutan cerita ini. Author mau perkenalan karya baru nih yang ceritanya nggak kalah menarik dari yang ini. “Calon Istri Pengganti Tuan Abian” boleh di coba mampir jika berkenan Terimakasih.