
Masih di gedung Syein Biglous Alfy tampak terlihat sangat teliti membaca satu persatu dari point kontrak tersebut semua tampak jelas bahwa tidak ada point yang menyebutkan bahwa penghasilan tiap penjualan parfume akan di berikan oleh masyarakat yang memiliki tanah tersebut. Melihat isi kontrak itu Alfy tampak terkejut bagaimana bisa isi kontrak itu berbeda dengan pengaduan masyarakat yang ia terima.
"Maaf Nona apakah ini semua isi kontrak yang sudah di tandatangani oleh masyarakat?" tanya Alfy dengan mencari kebenaran dari wanita itu.
"Tentu saja Tuan Alfy," jawab Nona Friska yang masih menatapnya begitu dalam.
Tampaknya Nona Friksa baru mengetahui jika pengacara yang bernama Alfy itu masih sangat muda tidak seperti yang ia bayangkan selama ini.
"Tapi bagaimana bisa anda memberikan kontrak seperti ini pada mereka sedangkan tanah mereka anda pergunakan untuk mendapat keuntungan yang besar, Nona?" tanya Alfy lagi.
"Saya fikir ini adalah kontrak yang baik Tuan Alfy mereka tidak menggunakan tanahnya dengan baik ketika saya menggunakan tanah mereka saya merawat tanah itu dengan baik tentunya itu suatu keuntungan bagi mereka bukan." jelas Nona Friska dengan cerdasnya.
"Maaf jika saya perhitungkan keuntungan anda begitu sangat besar ini sangat tidak adil bagi mereka seharusnya lahan itu bisa mendapatkan penghasilan Nona." Dengan berani Alfy membantah ucapan Nona Friska.
Mendengar ketegasan Alfy wanita itu tampak merasa kesal nafasnya seketika memburu melihatkan tubuhnya yang bergerak tidak beraturan karena menahan emosinya. Mendadak fikiran wanita itu terkendali dengan baik melihatkan senyuman yang sudah mampu menguasai dirinya lagi.
"Baiklah Tuan Alfy aku memahami pendapatmu," jawab Nona Friska seketika sambil tersenyum lirih.
"Apa anda tidak keberatan dengan saran saya jika memang anda keberatan kasus ini akan saya bawa ke jalur hukum Nona?" tanya Alfy yang sedikit mengancam.
"Sepertinya saya tidak punya banyak waktu untuk hari ini apakah kita bisa bertemu di lain waktu?" tanya Nona Friska sembari menepis senyum liciknya.
"Baiklah jika memang anda menginginkannya dengan senang hati Nona," jawab Alfy sedikit legah karena tidak harus memperbesar kasus ini tampaknya akan lebih cepat selesai dari perkiraannya.
Dengan cepat wanita itu berdiri lalu mendekat ke arah Alfy yang masih duduk di kursi, Friska membungkukkan tubuhnya dan berbisik pada Alfy.
"Saya tunggu nanti malam." ucap Nona Friska pelan.
Deg, suara jantung Alfy seperti terhenti mendengar ucapan wanita itu yang tampak ingin menggodanya namun ia hanya terdiam membisu. Ketika mengingat ucapan wanita itu dengan segera Alfy membuyarkan lamunannya hendak berteriak menolak pertemua nanti malam namun wanita itu sudah bergegas pergi dari ruangan itu.
Setelah kepergian Nona Friska dari ruangan itu kini Alfy kembali ke mobil dan menuju kediamannya dengan laju ia masih tidak bisa meninggalkan istrinya dengan waktu yang begitu lama rasanya tidak tenang jika harus jauh dari Jee. Setibanya di rumah tanpa menunggu lama Alfy segera masuk ke kamar ia melihat wanita cantiknya sedang tidur dengan lelap di sana ada Dokter Adeline dan Nyonya Syein yang masih setia duduk menunggu Jee bangung.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Alfy masih mencari tahu.
__ADS_1
"Sejauh ini keadaan Nona Jee semakin membaik Tuan darah di hidungnya pun sudah tidak ada keluar lagi lebih cepat dari perkiraan saya," jelas Dokter Adeline tersenyum.
"Syukurlah Dok, saya berterimakasih sekali dengan anda." jawab Alfy membalas senyumannya.
"Besok pagi saya akan membawa Nona Jee untuk terapi di luar rumah dengan udara subuh akan membantu penyembuhan begitu cepat." Tambah Dokter Adeline lagi.
"Sayang ayo pergi makan kau belum ada makan dari tadi kan?" tanya Nyonya Syein berdiri mengajak Alfy untuk turun.
"Baiklah Mah." jawab Alfy yang mengikuti langkah Nyonya Syein.
Sementara Dokter Adeline yang berada di dalam ruangan itu bersama Jee tampak tersenyum senang sambil terus menatap wanita yang masih terbaring lemas namun tetap terlihat cantiknya.
Betapa beruntungnya anda Nona Jee mendapatkan keluarga yang begitu menyayangi anda dan mendapatka suami sebaik Tuan Alfy andai saja saya juga merasakan hal itu namun sayangnya kelaurga satu pun saya tidak tahu ada di mana.
Yah Dokter Adelin memang seorang yatim piatu tanpa ada keluarga lainnya ia besar dari panti asuhan dan mengejar cita-citanya hanya dengan mendapatkan beaiswa sampai akhirnya panti asuhan yang merawatnya dari kecil habis terbakar entah mengapa malang sekali nasib wanita itu.
Sedangkan di kantor Delon dan Jac saling menatap bingung penuh pertanyaan membayangkan tingkah Nona Friska yang sukses membuat mereka berdua penuh tanya.
"Entahlah aku juga tidak mengerti yang jelas sepertinya dia memiliki niat tersendiri pada Tuan." jawab Delon sambil mengingat-ingat tatapan wanita itu.
Seketika ponsel Jac berdering menandakan ada pesan singkat masuk. "Aku ada waktu nanti malam pukul delapan di cafe xx." isi pesan dari Nona Friska yang di tujukan pada Tuan Alfy karena memang jika seseorang akan bertemu Alfy harus melalu Jac terlebih dahulu.
Melihat pesan itu Jac merasa gelisah beberapa kali ia bolak balik melangkah di ruangan itu sampai akhirnya membuat mata Delon juga pusing.
"Hey apa yang kau fikirkan?" tanya Delon memecah ketegangan pria itu.
"Dugaanku benar." jawab Jac dengan masih mondar mandir di ruangan itu.
Delon yang tadi duduk pun segera berdiri melangkah mendekati pria itu dan bertanya, "Apa yang terjadi Jac?" tanyanya.
"Nona Friska ingin bertemu dengan Tuan Alfy malam ini." jawab Jac tegang.
"Apa Tuan akan menyetujuinya?" tanya Delon sambil berfikir.
__ADS_1
"Sepertinya kita harus memberi tahu pada Tuan Alfy dulu." ucap Jac sambil bergegas pergi dari ruangan itu menuju kediaman Syein Biglous.
Setelah beberapa menit kemudian Jac melaju ke kediaman Syein Biglous kini mobilnya sudah terparkir dengan sempurnah di depan rumah tanpa menunggu lama ia segera masuk ke dalam terlihat Alfy yang sedang makan bersama Nyonya Syein.
"Jac, kau datang kemarilah!" panggil Nyonya Syein.
"Baik Nyonya." jawab Jac menunduk dan ikut duduk di meja makan.
"Apa yang kau lihat ? makanlah denganku." ucap Alfy yang menatap dingin pada pria itu.
"Iya Tuan." jawab Jac sambil membuka piring yang sudah tertata rapi di hadapannya dan mengambil beberapa lauk.
Mereka kini tengah dengan keadaan sunyi menikmati makannya setelah semua selesai makan Nyonya Syein beranjak ke ruang tengah menyusul Tuan Reindra yang tengah asyik menonton berita kesukaannya. Sedangkan Alfy dan Jac sudah menuju ruang kerja mereka yang berada di rumah itu. Karena Alfy tahu jelas jika pria itu datang di waktu jam kerja tentu ada hal yang penting ingin di bicarakan.
"Ada apa Jac?" tanya Alfy yang baru sampai di ruangan kerja mereka.
"Nona Friska meminta bertemu anda malam ini Tuan." jawab Jac dengan ragu.
"Astaga ada apa dengan wanita itu ?" Dengan nada kesal Alfy bertanya.
"Apakah Tuan menolaknya?" tanya Jac mencari kepastian dari Alfy agar bisa membalas pesan Nona Friska.
"Tidak bisa Jac ini kesempatan untuk jalan cepat memecahkan masalah." jawab Alfy dengan yakin.
Setelah mendapat persetujuan Alfy kini Jac mengirim pesan singkat pada Nona Friska jika Tuan Alfy menyetujui permintaannya untuk bertemu nanti malam. Alfy yang sedang berfikir tentang keadaan Jee yang mengkhawatirkan dengan segera menyuru Jac meminta pihak rumah sakit untuk mengirim suster Syanin ke rumahnya.
"Apa Tuan?" tanya Jac terkejut mendengar nama itu.
"Kau tidak dengar aku memintamu untuk menyuruh rumah sakit mengirim suster Syanin ke sini agar bisa membantuku menjaga Jee." jelas Alfy yang terdengar sedikit keras.
"Baik Tuan." jawab Jac dengan cepat.
Wah akhirnya suster Syanin bisa melihat Jac lagi berkat Nona Jee kali ini ia bisa lebih sering bertemu dengan pria itu, tapi bagaimana dengannya ketika melihat Dokter Adeline yang selalu menatapnya tajam yah? Nantikan terus kelanjutan ceritanya yah jangan lupa untuk like dan komen. Terimakasih Assalamualaikum Wr. Wb.
__ADS_1