
Di dalam kamar Alfy terus berusaha kerja keras sampai ia tidak lagi memperdulikan keluhan Jee yang mulai kelelahan.
"Sayang, sudah berhenti aku sangat lelah." ucapnya terdengar lirih. Sementara Alfy yang menatapnya dengan mata sendu tak bisa mengontrol dirinya. Wajahnya begitu terlihat merah tanpa memberikan waktu Jee istirahat ia kembali mulai menguasai tubuh istirnya.
Permainan kembali di mulai Alfy yang terlihat sangat bergairah terus melancarkan aksinya tanpa memperdulikan Jee yang hanya bisa pasrah di bawah. Wajahnya terlihat begitu lelah sampai untuk bersuara pun rasanya sudah tidak tahan lagi.
Alfy terus melancarkan goyangan tubuhnya sesekali ia mel*mat bibir mungil Jee, seolah tak terjadi apa-apa pada istrinya.
"Pi, ada apa?" tanya Nyonya Floran penasaran melihat suaminya menguping di depan kamar Alfy dan Jee.
"Sssst, diam Mi. Papi lagi pastiin kalau cucu kita jadi." Menutup bibirnya sendiri memberi isyarat pada Nyonya Flora untuk diam.
Tuan Indrawan sedang berusaha memastikan jika misinya akan berhasil jika tidak entah hukuman apa lagi yang akan mereka berikan pada kedua anaknya itu.
"Astaga Papi, itu tidak boleh. Ayo kita ke kamar saja jangan bikin malu Pi." ajak Nyonya Flora yang menarik tangan suaminya namun segera di tepis oleh Tuan Indrawan. Kini tangan pria itu memegang erat gagang pintu kamar untuk menahan tarikan istrinya.
"Ada apa ini?" tanya Tuan Reindra yang bingung melihat suami istri bertarik-tarikan seperti itu.
Seketika keduanya berhenti melakukan tarik menarik, "Em tidak ada apa-apa." Tuan Indrawan mencoba menutupi dirinya.
Belum sempat Nyonya Flora menjawab pertanyaan itu seketika terdengar suara teriakan. "Mami, Papi, siapa pun yang ada di luar tolong bukain pintunya." teriak Jee terdengar nyaring sambil beberapa kali menggedor pintu.
"Sayang, mau kemana? ayo aku masih ingin lagi nih." ajak Alfy yang kembali menarik tangan istrinya dengan tatapan penuh keinginan.
"Sayang, aku lelah berikan aku waktu istirahat." Jee yang berusaha memohon sambil merintih kelelahan. Kali ini ia benar-benar tidak tahu mengapa suaminya begitu terlihat sangat kelaparan sampai tidak bisa melihat wajah Jee yang lelah sekali.
"Aaahh aku tidak bisa menahannya sayang, ayo lagi aku tidak kuat seperti ini." bantah Alfy yang terus bermain dengan brutalnya.
__ADS_1
Di luar kamar Tuan Reindra dan Tuan Indrawan menempelkan telinga mereka di pintu kamar. Sementara Nyonya Flora yang mendengar teriakan Jee merasa kasihan.
"Pi, Mami mohon buka pintu kamarnya dong kasihan Jee sepertinya efek obatnya bekerja begitu lancar." ucap Nyonya Flora yang terlihat cemas di wajahnya.
Nyonya Syein hanya menggeleng kepala melihat tingkah dua pria itu mengapa mereka sangat tidak ada hati nuraninya pada Jee. Apa memang pria tidak tahu rasa sakitnya bagaimana jika melakukan hal itu berulang kali tanpa memberinya waktu istirahat.
"Husssttt, hentikan tingkah kalian yang seperti anak-anak ini!" teriak Nyonya Syein yang tidak lagi tega mendengar tangisan Jee di dalam kamar.
Tuan Reindra dan Tuan Indrawan yang terkejut mendengar Nyonya Syein, segera berdiri tegak menjauhkan telinga mereka dari pintu, Nyonya Syein kini tak lagi bisa menahan diri segera membuka pintu kamar anaknya matanya terbelalak melihat Jee yang tanpa busana menangis tengahb di tindih Alfy di lantai kamar. Sementara kaki Jee berada di atas sofa bersama kaki Alfy.
"Alfy, apa yang kau lakukan?" teriak Nyonya Syein yang tak lagi menghiraukan keadaan keduanya yang tanpa sehelai kain pun.
Jee terlihat lemas tanpa bisa berucap apa pun, sedangkan Alfy tidak perduli dengan kehadiran Nyonya Syein ia terus menghentakkan pinggangnya menelusuri kepemilikan Jee. Pintu yang tadinya terbuka dengan cepat Nyonya Syein menutup dan menarik Jee dari cengkraman putranya.
"Mah, apa yang Mamah lakukan?" tanya Alfy yang menarik tubuh istirnya. Nyonya Syein yang kesal segera mendoong Alfy hingga tersungkur ke pinggir ranjang.
"Ayo sayang, pakai bajumu." pintah Nyonya Syein yang membantu Jee memakai baju terusan. Ia melihat wajah lemas tak berdaya Jee sangat memprihatinkan tanda merah di beberapa bagian leher jenjangnya yang hampir berwarna biru begitu banyak menyebar.
Setelah memastikan Jee memakai pakaian Nyonya Syein segera membaw Jee keluar dari kama, Alfy yang mengejar kedua wanita itu segera di tutupi pintu oleh Nyonya Syein.
"Mah, buka pintunya Mah. Alfy sudah tidak tahan." teriak Alfy sambil menggedor-gedor pintu kamar yang sudah di pegang erat oleh Nyonya Flora.
Tuan Reindra dan Tuan Indrawan hanya berdiri diam mematung tanpa berani lagi tertawa sedikit pun, Suara Alfy terus berteriak dari dalam kamar. "Tuh kalian urus sesama laki-laki." sahut Nyonya Flora yang melepas genggamannya dari pintu kamar.
Tuan Reindra hanya menatap bingung pada sahabatnya setelah melihat Alfy keluar dari kamar dengan keadaan bugil. "Alfy apa yang kau lakukan?" tanyanya panik.
Mata Alfy sudah sangat sendu terlihat jelas hasrat yang begitu besar di balik tatapannya itu. "Pah, bawa Jee kemari Alfy sudah tidak bisa menahannya." jawabnya terdengar berat.
__ADS_1
Tuan Indrawan yang bingung harus melakukan apa hanya memandang Tuan Reindra dengan penuh tanya. Kini mereka memaksa Alfy untuk kembali masuk ke dalam kamar. Di dalam mereka panik melihat Alfy terus berusaha meminta Jee kembali ke kamar.
"Pah, Alfy mohon bawa Jee kembali ke sini. Rasanya sangat menyiksa ini." jelas Alfy menunjuk kepemilikannya yang sudah berdiri tegak.
Tuan Indrawan yang bingung melihat Alfy berlari kelaur menemui ketiga wanita yang berada di kamarnya. Nyonya Flora menatap tajam ke arahnya saat melihat sosok Tuan Indrawan berdiri tegak di depan kamar sambil membuka pintu kamar.
"Mi, Alfy tidak bisa menahan itu, dia terus meminta Jee kembali ke kamar." ucapnya dengan wajah panik.
"Papi tidak lihat keadaan Jee bagaimana? kalau Jee sakit lagi Papi mau tanggung jawab?" tanya Nyonya Flora kesal.
"Tapi Mi, obat itu kalau tidak terlampiaskan Alfy akan kesakitan nanti." bantah Tuan Indrawan dengan serba salahnya.
Nyonya Flora yang mendengus kesal menarik suaminya keluar kamar dan meninggalkan Nyonya Syein bersama Jee di kamarnya. "Sini Papi, Mami kasih tahu yah. Kalau sampai Jee kenapa-kenapa ini semua karena Papi tahu?" ancamnya lalu beranjak pergi kembali ke kamar.
"Tapi Mi, Alfy bagaimana?" teriak Tuan Indrawan.
Nyonya Flora kembali melangkah ke hadapan suaminya. "Papi saja yang membantu Alfy untuk melepaskan hasratnya." jawabnya dengan santai.
"Hah, Papi? yah tidak bisa dong Mi kan Papi tidak punya itu." sahut Tuan Indrawan yang tidak di hiraukan oleh Nyonya Flora.
"Urusan Papi." teriak Nyonya Flora dari jauh.
Tuan Indrawan yang berdiri tercengang bingung harus melakukan apa saat ini, semua memang tanggung jawabnya karena berani bermain dengan obat yang memiliki kekuatan super itu. Kini ia pun melangkah ke kamar atas menemui Alfy dan Tuan Reindra.
"Bagaimana?" tanya Tuan Reindra yang begitu antusias kepada Tuan Indrawan. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya saja memberi jawaban tidak ada hasil.
"Pah, ayo tolong Alfy sudah tidak tahan lagi." ucapnya begitu berat terdengar di telinga kedua oangtua itu.
__ADS_1