Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Kembali


__ADS_3

Di kamar apartemen yang terlihat cukup luas namun sangat tidak terawat tampak seorang pria yang sedang berbaring menatap langit-langit kamar dengan tatapan hampa.


Nakula, yah pria itu ada laga Nakula yang saat ini sedang merasa sangat tidak bersemangat entah rasanya seperti tidak ada tujuan hidup.


“Apa kabarnya yah wanitaku?” gumam Nakula sambil terbayang wajah Zeyra saat pertama kali melakukan hubungan terlarang padanya.


Lagi-lagi Nakula merasa sangat menginginkan tubuh Zeyra.


Yah hanya Zeyra satu-satunya wanita yang memberikannya keperawan*nnya.


Tanpa memikir panjang akhirnya Nakula meraih ponsel di saku celananya.


Baru saja ia hendak menghubungi Zeyra tiba-tiba Wenda sudah menghubunginya.


“Kau sedang apa?” tanya Wenda sambil menatap wajah Nakula.


Mereka sedang melakukan panggilan video.


“Tidak ada, aku rasanya sangat sepi karena kau meninggalkan ku.” ucap Nakula berbohong.


“Benarkah honey?” tanya Wenda terdengar seperti penuh dengan keinginan.


Matanya mulai terlihat menatap penuh gairah Nakula yang sangat mengerti dengan tatapan Wenda hanya tersenyum.


“Cih dasar wanita haus.” gumam Nakula yang merasa muak.


Namun biar bagaimana pun Wenda adalah sumber atm berjalannya mau tidak mau ia harus memberikan kepuasan pada Wenda.


“Sepertinya kau menginginkan sentuhanku yah?” tanya Nakula tersenyum penuh arti.


“Honey, kau yang paling mengerti diriku,” ucap Wenda dengan suara yang mulai terdengar berat.


Perlahan Wenda sudah mulai melucuti kain yang menutupi tubuh bagian atasnya.


Nakula yang melihat reaksi Wenda hanya perlu berpura-pura menikmati.


Sedangkan Wenda yang melihat Nakula sudah memperlihatkan seluruh tubuhnya dengan berbaring semakin membuat Wenda tampak bergairah.


Cukup lama mereka melakukan panggilan sampai akhirnya Wenda mengakhirinya karena sudah merasa puas.


Akhirnya Wenda menyudahi panggilan video itu dan Nakula hanya menyetujuinya.


Setelah merasa lepas dari tanggungan Wenda, Nakula mulai menjalankan rencananya yang hampir gagal barusan.


“Halo...” ucap wanita di seberang sana.


Nakula yang mendengar suara Zeyra merasa sangat senang. Sudah sangat lama ia merindukan suaranya wanita itu.


“Zey, ini kamu?” tanya Nakula.


Zeyra yang merasa bingung dengan suara pria yang seperti sudah sangat mengenalnya.

__ADS_1


“Iya, ini siapa?” tanya Zeyra yang penasaran.


Namun dalam hatinya seperti sangat familiar dengan suara pria di ponsel itu.


“Boleh kita bertemu?” tanya Nakula tanpa menjawab Zeyra.


“Tapi kau siapa?” tanya Zeyra yang masih penasaran.


“Benarkah kau tidak mengingat ku? yang pernah membuatmu melakukan hal yang tidak pernah bisa kau lupakan.” Jelas Nakula.


Zeyra yang mendengarnya begitu terkejut menebak jika pria itu adalah Nakula namun apakah benar yang ia fikirkan.


“Apa kau...?” ucapan Zeyra tergantung karena ragu menyebut namanya.


“Iya sayang ini aku Nakula, aku sangat merindukanmu.” sambung Nakula.


Mata Zeyra yang melotot tidak percaya mendengarnya.


“Kau...mau apa menghubungi ku?” tanya Zeyra tampak marah.


“Aku minta maaf karena telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku yang menyia-nyiakan dirimu.” ucap Nakula dengan suara yang tampak bersalah.


“Maaf aku sibuk,” ucap Zeyra yang buru-buru ingin mematikan ponselnya.


“Hey apa yang aku lakukan? Aku akan jelaskan padamu?” dengan cepat Nakula menahan Zeyra yang akan mematikan sambungan ponsel.


“Zey, dengarkan aku dulu aku sangat menyesal meninggalkan mu aku tidak bisa hidup tanpa mu.” jelas Nakula yang terdengar begitu menyedihkan.


Karena baginya semua sudah berakhir sejak ia mengetahui Nakula telah menipunya saat di pulau itu.


Akhirnya dengan berat hati Zeyra mendengarkan penjelasan Nakula yang lagi-lagi hanyalah tipuan yang di berikan Zeyra.


Namun Zeyra yang merasa memang masih mencintai pria itu tidak sanggup menuruti perasaan bencinya untuk bertahan.


Perasaan cintanya jauh lebih besar dari rasa bencinya.


Akhirnya setelah berbicara cukup lama Nakula terkejut ketika mendapat persetujuan oleh Zeyra untuk bertemu di luar.


Karena memang sejak tadi Nakula berusaha membujuk Zeyra untuk bertemu.


“Baiklah kau bisa menungguku di cafe x,” ucap Zeyra yang menyerah.


“Benarkah? Oke aku akan menunggumu di sana yah.” lanjut Nakula yang tersenyum penuh kemenangan.


Kini dengan cepat Zeyra mematikan sambungan ponselnya lalu bergegas bersiap untuk keluar dari rumah belakang.


“Kau mau kemana?” tanya Jacobie yang baru saja mau bergegas masuk ke dalam mobilnya.


“Em aku ingin ke toko yang di depan sebentar saja,” ucap Zeyra yang terkejut.


“Ayo bersamaku.” ajak Jacobie.

__ADS_1


“Tidak perlu Bang, aku jalan saja hanya di depan sana dekat dari sini,” Zeyra yang mulai gugup berusaha menolaknya.


Namun melihat keinginan Jacobie sepertinya sangat percuma jika ia menolak tentu tidak akan selesai begitu saja.


Akhirnya Zeyra memilih untuk mengalah dan pergi bersama Jacobie.


Di perjalanan mereka hanya terdiam tanpa kata.


“Bang, gimana kabarnya suster Syanin?” tanya Zeyra yang membuat Jacobie terkejut.


“Mengapa kau bertanya padaku?” tanya Jacobie yang acuh.


Zeyra yang mendengar jawabannya hanya tersenyum kecil.


“Jelaslah aku bertanya pada Abang, kan cuman Abang satu-satunya pria yang perduli padanya.” ejek Zeyra.


Jacobie merasa kata-kaya Zeyra tampak tidak masuk akal.


“Sepertinya kau salah berfikir tentang wanita itu,” jelas Jacobie.


“Salah gimana Bang?” tanya Zeyra yang merasa bingung.


Dengan melihat wajah adiknya yang tampak begitu penasaran Jacobie menceritakan kejadian saat ia melihat suster Syanin yang sedang asyik bercerita dengan pria lain.


Dan lebih kesalnya lagi ketika suster Syanin bersama pria itu, ia tidak menegangkan telefon dari Jacobie.


Zeyra merasa ada yang salah dengab mereka berdua.


Walaupun Zeyra tidak cukup kenal dengan suster Syanin namun perasaannya begitu yakin jika suster Syanin adalah wanita yang memang baik pada semua orang.


Termasuk pada semua pasien, ketika Zeyra mengingat Jacobie yang bercerita tentang suster Syanin bersama pasien tentu ia sangat paham.


“Bang, suster Syanin adalah suster yang sangat peduli pada setiap pasien,” ucap Zeyra yang berusaha menyadarkan kecurigaan buruk Jacobie pada suster Syanin.


Mendengar masukan dari sang adik tampaknya Jacobie kini baru mulai merasa ia sedang salah paham.


Tentu hal itu juga sudah pernah ia lihat ketika suster Syanin merawat seorang Nenek di ruang rawat.


Sejak itulah Jacobie tertarik pada suster Syanin dengan sifatnya yang begitu penyayang pada siapa pun tanpa memandang bulu.


Setelah cukup lama mereka akhirnya sampai di sebuah toko perlengkapan bayi.


Letaknya memang tidak jauh dari kediaman Syein Biglous.


“Cepatlah,” perintah Jacobie yang tidak turun dari mobil karena melihat jam sudah semakin siang.


Zeyra yang merasa gugup karena di tunggu oleh Jacobie merasa bingung.


“Tidak perlu, Abang bisa pergi bekerja aku akan sedikit lama di sini.” tolak Zeyra.


Jacobie yan melihat jam semakin mepet akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Zeyra di depan toko itu.

__ADS_1


Hai semuanya cerita Zeyra dan Nakulanya sampai di sini dulu yah. Semoga kalian suka selamat membaca.


__ADS_2