
Masih berada di meja makan kini Alfy yang melihat istrinya dengan segera menggendongnya ke arah kamar mereka sedangkan orang yang berada di ruangan itu hanya tertawa kecil sambil sesekali menggelengkan kepalanya. Setelah sampai di kamar dengan pelan Alfy meletakkan tubuh istrinya di kasur sambil menatap tersenyum sesekali mengelus rambut istrinya yang sangat lembut dan mendaratkan sekali kecupan pada kening putih milik istrinya.
"Kau sangat menggemaskan sekali istriku," gumam Alfy sambil ikut berbaring di samping isrtrinya.
Perlahan mata pria itu meredup dan ikut tertidur juga dengan lelap karena besok mereka berdua sudah mulai akan melakukan kegiatan masing-masing seperti sebelumnya. Tentu hal yang menyenangkan untuk Jee tetapi tidak untuk Alfy karena rasanya sedetik saja jauh dari istrinya sangat menyiksa dirinya.
Di kediaman Priatmaja kini tampak sepasang suami istri yang tengah tersenyum memandangi barang-barang yang sudah tertata rapi di dalam sebuah ruangan yang baru saja selesai di persiapkan oleh Tuan Indrawan. Nyonya Flora menatap satu persatu barang yang sudah di beli oleh suaminya hanya menggelengkan kepala tanpa berkomentar sedikit pun. Melihat istrinya yang tampak tertawa kecil Tuan Indrawan merasa penasaran dan akhirnya ia bertanya pada Nyonya Flora.
"Apa ada yang salah Mi?" tanya Tuan Indrawan dengan wajah bingungnya.
"Tidak Pi, hanya bingung saja jika nanti cucu kita lahir dia akan memakai apa yah? Papi dan Tuan Reindra semuanya sama membelikan mainan saja." jelas Nyonya Flora dengan masih tertawa memikirkan nasib cucunya bagaimana kedinginan setelah lahir dan langsung harus bermain dengan kedua kakeknya yang sangat konyol itu.
"Kenapa Mami tidak beri tahu Papi saat di mall tadi?" tanya Tuan Indrawan yang tampak kesal bagaimana mungkin ia bisa melupakan keperluan pokok calon cucunya.
"Bukankah Papi sama sekali tidak memberikan Mami kesempatan bicara tadi," protes Nyonya Flora yang bergegas meninggalkan suaminya yang masih diam mematung menatapi satu persatu mainan yang ia beli sama sekali masih jauh dari umur cucunya nanti.
Di ruangan itu terlihat ranjang besar ukuran orang dewasa yang sudah di letakaan di tengah ruangan kamar baru itu yah modelnya memang seperti ranjang anak bayi namun ukurannya sudah sesuai dengan ranjang orang dewasa yang di tambah dengan pagar tidak begitu tinggi di sekeliling ranjang itu. Melihat persiapan Tuan Reindra dan Tuan Indrawan yang sangat kompak sampai memesan ranjang untuk cucu pun mereka memesan yang sama.
Hari menunjukkan pukul 13.00 kini Jee yang sudah terlampiaskan tidurnya dengan waktu yang cukup lama pun terbangung merasakan gerakan istrinya Alfy yang menyadari juga ikut terbanngun dan tersenyum ketika menatap wajah istrinya yang masih berbaing memainkan ponselnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Alfy tersenyum.
"Iya baru saja aku bangun," jawab Jee.
"Apa kau tidak ingin menyuruh Papi dan Mami kemari?" tanya Alfy menawarkan pada istrinya.
"Apa hari ini aku boleh keluar kamar?" Dengan penasaran Jee bertanya karena ia berfikir jika hari itu adalah hari terakhirnya menghabiskan waktu untuk suaminya sebelum memulai kuliah lagi.
"Tentu saja boleh," jawab Alfy menginjinkannya.
__ADS_1
"Baiklah aku akan menghubungi Mami," Dengan mencari kontak di ponsel milik Jee.
Di kediaman Priatmaja Tuan Indrawan dan Nyonya Syein yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi di kejutkan dengan dering telefon rumah. Dengan segera salah satu pelayan rumah itu meraih telefon dan mengangkatnya.
"Bi, apakah aku bisa bicara dengan Mami?" tanya Jee dengan tidak sabaran.
"Tentu saja Nona," ucap Bibi itu dengan langsung memberikan pada Nyonya Flora.
"Ada apa sayang?" tanya Nyonya Flora penasaran.
"Mami tidak ingin menjengukku?" Dengan manjanya Jee bertanya pada Nyonya Flora.
"Tentu saja kami akan menjengukmu sayang," ucap Nyonya Flora tersenyum.
"Baiklah Jee tunggu yah Mi," ucap Jee sambil meminta untuk mengakhiri komunikasi itu.
Setelah mematikan ponselnya kini Jee bergegas menuju kamar mandi tanpa ia sadari sepasang kaki melangkah mengikutinya dan akhirnya lagi-lagi Alfy meminta Jee untuk melayaninya yah memang selama istrinya hamil pria itu semakin tidak bisa mengendalikan dirinya di manapun tanpa perduli tempatnya. Sedangkan Jee yang memang selalu menginginkan belaian suaminya selalu menerima denga senang hati selama Alfy tidak kasar wanita itu merasa tidak keberatan.
"Jee apakah kau tidak memiliki sendal yang lebih rendah atau tidak ada heelsnya?" tanya Nyonya Syein.
"Tidak ada Mah," jawab Jee yang masih tidak mengerti.
"Fy kau bisa menyuruh Jee untuk berhenti memakai sepatu yang bisa membahayakan calon bayi kalian!" perintah Nyonya Syein.
"Iya Mah nanti Alfy suruh pelayan untuk membelikan Jee," jawab Alfy menurut.
"Aku ingin membelinya sendiri," ucap jee yang dengan cepatnya menyahut karena ia berfikir jika pelayan yang akan membelikan pasti akan benar-benar membosankan terlebih lagi Jee harus memakainya kemanapun termasuk kuliah.
Mendengar ucapan istrinya Alfy tampak paham pastinya Jee tidak akan terima begitu saja ketika fashionnya di ganggu oleh orang luar. Yah wanita yang bersamanya memang selalu menjaga penampilannya untuk selalu terlihat sempurna di manapun itu.
__ADS_1
"Memangnya kau mau terlihat cantik di depan siapa lagi?" tanya Alfy yang mulai memunculkan curiganya.
"Apa maksudmu?" Dengan wajah bingungnya menatap pada suaminya penuh tanya.
"Kau selalu memperhatikan penampilanmu untuk terlihat menarik di depan semua orang bukan," jelas Alfy.
"Bukan begitu aku hanya tidak terbiasa saja dengan penampilan yang biasa-biasa," ucap Jee berusaha membela dirinya.
Mendengar keributan itu Tuan Reindra mencoba untuk memberhentikan keduanya.
"Sudah mengapa kalian jadi bertengkar begini," ucap Tuan Reindra.
"Pah, aku hanya bertanya padanya," jelas Alfy dengan wajah marahnya.
"Iya Papah tahu tapi kau tidak bisa merubah penampilan seseorang Fy," Dengan sabarnya Tuan Reindra mencoba menenangkan anaknya.
Sementara Jee yang melihat wajah Alfy tanpa bisa menahan lagi air matanya berjatuhan membasahi pipi mulusnya kini ia tertunduk dengan air mata yang berjatuhan tanpa hentinya. Melihat itu Nyonya Syein mencoba mendekati menantunya dengan merangkul lalu berbicara pelan.
"Maafkan Mamah yah tadi hanya mengkhawatirkan keadaan kalian berdua maksud mama kau bisa memakai sepatu yang tidak begitu tinggi bukan menyuruhmu merubah penampilan sayang," ucap Nyonya Syein dengan perlahan.
"Tidak apa-apa Mah," jawab Jee yang berusaha menyeka air matanya.
Melihat Jee yang masih menangis Alfy merasa bersalah telah meragukan cinta istrinya perlahan ia ikut mendekat ke arah istrinya.
"Aku minta maaf," Dengan menggenggam tangan istrinya.
Mendengar hal itu Jee menoleh ke arah Alfy dan menjawabnya dengan senyuman saja kini mereka berdua berpelukan sesekali Alfy menyeka air mata istrinya yang masih berjatuhan.
Setelah keadaan membaik kini mereka duduk di ruang tengah sambil menunggu kedatangan kedua orang tua Jee, tidak lama kemudian Tuan Indrawan dan Nyonya Flora telah tiba di kediaman Syein Biglous dengan di sambut beberapa pelayan. Tuan Reindra dan Tuan Indrawan saling berpelukan sambil tertawa bahagia mereka tampak saling merindukan meski hanya berpisah beberapa hari saja. Keadaan Tuan Reindra sudah terlihat sangat sehat kali ini dari hari sebelumnya begitu juga dengan Alfy yang sudah segar tanpa wajah pucatnya. Kini mereka melangkah bersama memasuki ruang keluarga namun seketika di kejutkan ketika tubuh Jee melemas saat melangkah di samping Alfy dan seketika ia ambruk di dalam pelukan suaminya. Melihat kejadian itu semua tampak terkejut terlebih lagi ada ada yang keluar dari hidung wanita cantik itu. Alfy yang sangat ketakutan melihatnya berteriak sejadi-jadinya semua orang panik.
__ADS_1
Wah apa yang terjadi pada Jee yah sebenarnya apakah keadaannya akan baik-baik saja atau justru sebaliknya nantikan terus kelanjutan ceritanya di episode berikutnya yah. Terimakasih khususnya untuk para readers yang sudah membaca karya ini dan bersedia memberikan like ataupun koment author sangat berterimakasih jika masih ada yang kurang mohon di maklumi yah karena masih proses belajar. Assalamualaikum Wr. Wb.